NovelToon NovelToon
KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars JuPiter🪐

Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.

Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...

Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.

Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 : TERUNGKAP

RUANG KERJA ARGA - MALAM HARI, JAM 9 MALAM.

Lampu di ruang kerja Arga masih menyala. Di atas meja berserakan print out log akses sistem dan foto Kirana & Rayhan yang sudah dicetak. Arga duduk dengan jas yang sudah dilepas. Dasi hitamnya sedikit miring. Matanya merah karena belum tidur 24 jam.

“Nggak mungkin kebetulan.”gumam Arga pelan. “File hilang. Foto palsu. Saham anjlok. Semua terjadi dalam 3 hari.”

Dia mengetuk meja dengan ujung pulpen. Pikiran nya melayang ke wajah Kirana kemarin di ruang rapat.Wajah yang pucat. Mata yang berkaca-kaca. Tapi tetap tegak.

“Kirana... Aku tahu kamu bukan tipe orang yang akan menghianati perusahaan ini.” gumam Arga.

Arga menarik napas dalam. Dia ambil ponsel dan menghubungi satu nomor.

“ Hallo, Pak Surya. Saya butuh Anda sekarang. Di ruang kerja saya.”

RUANG DIVISI IT - 15 MENIT KEMUDIAN.

Pak Surya datang dengan wajah lelah. Dia masih pakai kemeja putih yang sedikit kusut.

“Tuan Arga, ada yang bisa saya bantu ?”tanya Pak Surya pelan.

Arga menyerahkan print out log akses ke Pak Surya. “Saya butuh Anda cek log akses folder proposal Nona Kirana seminggu terakhir. Diam-diam. Jangan ada yang tahu.”

Pak Surya mengernyit. “Tuan, ini melanggar SOP. Kalau ketahuan...”

“Kalau saya tidak lakukan ini, perusahaan kita yang hancur, Pak Surya.” Arga memotong dengan suara dingin tapi tegas. “Saya tidak percaya ini murni kesalahan sistem.”

Pak Surya terdiam. Dia menatap Arga dalam-dalam. Akhirnya dia mengangguk pelan. “Baik, Tuan. Saya akan cek sekarang juga.”

2 JAM KEMUDIAN.

Pak Surya kembali dengan wajah pucat.

“Tuan Arga... saya menemukan sesuatu.”

Arga langsung berdiri. “Apa?”

“Ada login ke folder proposal Nona Kirana jam 2 pagi, sehari sebelum file itu hilang.” Pak Surya menelan ludah. “Akun ini......akun ini bukankah milik Budi Pratama.”

Arga terdiam. Alisnya bertaut.

“Budi?"

" Iya tuan dia Staf IT baru, ” jelas Pak Surya. “ Dia baru kerja 1.5 bulan di divisi saya. Tapi Tuan... akun itu bisa saja dipinjam. Kita belum bisa langsung tuduh dia.” Pak Surya buru-buru menjelaskan.

Arga mengangguk pelan. “Saya tahu. Makanya saya belum akan bertindak sekarang.”

RUANG IT - JAM 2 PAGI.

Arga berjalan pelan di koridor IT yang gelap. Hanya lampu emergency yang menyala temaram.

Dia berhenti di depan meja dengan name tag:BUDI PRATAMA.

Arga membuka laci meja itu pelan-pelan. Tidak ada apa-apa... sampai dia menemukan flashdisk hitam kecil yang tersembunyi di sudut laci.Tangan Arga berhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat.

Dia colok flashdisk itu ke laptop. "Ini...? "

FILE PROPOSAL KIRANA VERSI ASLI.

FOTO KIRANA & RAYHAN VERSI ASLI YANG BELUM DIEDIT.

Arga mengepalkan tangan. “Dapet kamu, Budi.”

RUANG SERVER - JAM 6 PAGI.

Budi berdiri dengan tubuh gemetar. Wajahnya pucat. Di depannya Arga berdiri dengan tangan disilang.

“Kamu punya satu kesempatan, Budi.”suara Arga dingin seperti es. “Siapa yang nyuruh kamu hack file itu?” Budi menunduk. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

“S-saya... tidak ada yang menyuruh saya tuan. Saya yang lakuin semua sendiri.”suara Budi bergetar.

Pak Surya yang berdiri di samping menggebrak meja. “JANGAN BOHONG! Kamu baru kerja 1.5 bulan! Dari mana kamu punya kemampuan hack level begitu?!”

Budi tetap diam. Dia hanya mengangguk. “Saya yang salah. Hukum saya, Pak.” Ekspresinya tampak seperti memohon.

Arga memperhatikan Budi dalam-dalam.

"Mata itu. Sorot mata yang penuh ketakutan itu... nggak mungkin jadi dalang utama." Ada sesuatu yang Budi sembunyikan.

Arga berbisik ke Pak Surya. “Pak Surya, saya rasa dia cuma kambing hitam.”

Pak Surya menggeleng. “Tapi buktinya ada di dia, Tuan. Semua log akses mengarah ke akunnya.”

Arga mengepalkan tangan. “Justru itu yang bikin curiga. Terlalu rapi.”

"Sebaiknya kita tunggu keputusan para direksi dan Tuan Harsono

saja Pak Arga" Jelas Pak Surya.

RUANG RAPAT DEWAN DIREKSI - PAGI HARI.

Suasana tegang. Semua direksi sudah duduk di kursi masing masing. Pak Harsono duduk di ujung meja panjang. Di samping kanan duduk Arga Dan Kirana.

Beberapa direksi mulai berbicara :

"Pelanggaran seperti ini tidak bisa di Terima. Pelakunya sudah mengakui. Dan jika sanksi hukuman tidak diberikan. Kejadian seperti ini akan terus berlanjut kedepannya. " ucap salah satu Direksi.

“Kita harus beri contoh. Biar karyawan lain tidak berani melakukan hal sama.” tambah yang lainnya.

"Budi harus menjalani sidang hukuman ini di pengadilan. Dia harus di proses secara hukum." ucap salah satu dari mereka.

Kirana yang dari tadi diam, duduk di sudut meja tiba-tiba berdiri. Suaranya tenang tapi tegas.

“Saya keberatan dengan keputusan ini.”

Seluruh ruangan terdiam matanya tertuju ke Kirana. Pak Harsono menatap putrinya kaget.

“Kirana, ini bukan saatnya emosi—”

“Ini bukan emosi, Ayah.” Kirana memotong. “Budi baru kerja 1.5 bulan. Dia tidak punya akses level tinggi, tidak punya motif, dan tidak punya kemampuan teknis untuk melakukan ini sendirian. Ini terlalu tidak masuk akal. ” kemudian dia diam beberapa detik lalu kembali melanjutkan.

“Saya yakin... ada orang lain di belakang dia.”

Arga yang selama ini diam juga ikut berdiri. Tatapannya tajam.

“Saya setuju dengan Nona Kirana. Menyerahkan Budi ke polisi sekarang sama saja dengan menutup kasus ini.” ucap Arga sependapat dengan Kirana.

“Kita tidak akan pernah tahu siapa dalang sebenarnya, harap Tuan Harsono lebih jeli lagi dalam menanggapi kasus ini.” ucapnya seraya menatap Pak Harsono.

"PAK ARGA, bukankah Anda sendiri yang menangkap pelakunya. Tapi kenapa malah anda sendiri yang ragu. Atau jangan jangan ini ada kaitannya dengan Anda...? " jawab salah satu Direksi. Jawaban yang sedikit menohok.

Ruangan sedikit riuh oleh suara suara para Direksi yang melihat Arga dan Kirana terkesan melindungi pelaku.

Pak Harsono menghela napas. “TOLONG SEMUANYA TENANG DULU....."ucap pak Harsono sedikit lantang membuat suasana yang tadinya riuh menjadi kondusif kembali.

"Arga, Kirana. Saya paham kekhawatiran kalian. Tapi reputasi perusahaan sudah terancam. Kita butuh kepastian dan tindakan cepat.” Jelas Pak Harsono.

" UNTUK KASUS BUDI INI SAYA TANYA SIAPA SAJA YANG SETUJU DENGAN PROSES HUKUM...?" Ujar pak Harsono meminta VOTE. Lalu tujuh orang mengangkat tangan. Jelas sudah timpang semuanya tidak ada yg sependapat dengan Arga dan Kirana.

“KEPUTUSAN DEWAN SUDAH FINAL. 7-2. BUDI HARUS JALANI PROSES HUKUM.”

Kemudian Pak Harsono mengeluarkan keputusan final sidang Rapat kasus Budi.

“Rapat dewan memutuskan, Budi Pratama akan diserahkan ke pihak berwajib atas kasus sabotase dan pencemaran nama baik perusahaan.” Pak Harsono menutup sidang kasus budi.

Arga hanya bisa menggertakkan gigi. Dan Kirana menunduk. Mereka kalah. "Aku yakin pelaku utamanya bukan orang sembarangan, dia punya kekuasaan. Orang-orang ini mereka terlalu gampang mengambil keputusan." Gumam Arga dalam hati seraya melirik para direksi.

Di lantai bawah, Budi dibawa tim security untuk dibawa keluar. Dia akan diserahkan ke pihak berwajib . Beberapa Karyawan berkerumun karena penasaran dengan pelaku yang sudah bikin perusahaan mengalami kerugian besar. Arga juga ada disana dia hanya bisa melihat Budi dibawa ke kantor polisi. Mobil polisi yang sudah menunggu di depan gedung. Sebelum pintu mobil tertutup, Budi melirik ke arah Arga. Ada ketakutan... tapi juga ada rasa terima kasih.

RUANG TAHAN SEMENTARA KANTOR POLISI - SORE HARI.

Arga masuk tanpa pengawal. Dia membawa secangkir kopi panas. Budi yang duduk di kursi langsung menoleh. Kaget.

“Tuan Arga... kenapa anda di sini?” suara Budi bergetar. Arga meletakkan kopi di meja. Dia duduk di seberang Budi.

“Aku tahu kamu tidak sendiri, Budi.” suara Arga pelan.

Budi langsung menunduk. “Tuan... saya yang salah. Saya lakuin semua ini karena murni alasan pribadi. "

Arga menatap dalam-dalam. “Jangan bohong lagi, Budi.”

“Aku bukan polisi. Aku bukan dewan direksi. Aku hanya mau tahu...Katakan siapa yang mengancam keluargamu?” Tanya Arga serius. Sebenarnya Arga bertanya seperti itu hanya untuk memancing Budi agar mau berbicara yang sebenarnya. Sesungguhnya dia juga tak tahu soal ancaman itu.

Budi langsung mengangkat kepala. Matanya melebar. “Tu..Tuan...Anda tahu?”

Arga mengangguk. “Budi, kalau kamu terus diam... keluargamu tidak akan pernah aman. Orang itu akan terus pakai kamu.”

Budi gemetar. Air matanya jatuh.

“Tapi kalau saya ngomong... mereka akan—”

Arga memotong. “Aku akan lindungi keluargamu, Budi. Aku janji.”

“Tapi kamu juga harus jujur. Jangan takut untuk jujur.” Budi hanya diam pikirannya tertuju pada istri dan anak perempuannya yang masih berusia 2 tahun. Dia teringat dengan semua ancaman ancaman yang pernah ia terima dari orang misterius itu. Dia tidak tau nama aslinya tapi dia tau ciri ciri fisik orang itu.

Malam itu Budi hanya diam dia tak mengatakan apapun kepada Arga. Tapi ada rasa tenang sedikit saat Arga berjanji akan melindungi Anak dan Istrinya.

PARKIRAN KANTOR - JAM 8 MALAM.

Diluar kantor hujan gerimis mulai turun. Kirana berjalan pelan sambil memegang jas di tangan. Dia baru saja keluar dari ruang kerjanya. Rasanya hari dua kali lipat lebih melelahkan dari Hari biasanya.

" Fiuhh.. Akhirnya selesai juga." gumam Kirana pelan. merasa beban dikepala nya sedikit terangkat.

Saat sampai di area parkir kantor tiba-tiba dia berhenti. Di depan mobilnya, Arga berdiri dengan jas hitam dan payung hitam di tangan. Wajahnya dingin seperti biasa, tapi matanya... ada sesuatu yang berbeda malam ini.

Kirana mengernyit. “Arga, Kamu ngapain di sini?”

Arga tidak langsung menjawab. Dia melangkah pelan ke arah Kirana, lalu membukakan payung itu di atas kepala Kirana.“ Hujan seperti ini Kamu mau pulang sendiri ?”suara Arga datar.

Kirana terdiam terpaku. Dia tidak menjawab. Tapi dia juga tidak menjauh.

Hening beberapa detik.

Arga menarik napas dalam-dalam. " Kirana " Tatapannya menunduk ke lantai. Entah kenapa dia merasa tak sanggup menatap mata kirana.

Kirana menoleh. “Hmm?” tatapannya sedikit datar. Dia masih ingat saat Arga menuduh nya tanpa bukti. Melakukan pertemuan rahasia dengan Rayhan.

“Aku... Aku minta maaf.” suara Arga pelan, tapi jelas.

Kirana terkejut. Matanya melebar. “Hah?”

Arga mengangkat wajahnya. Untuk pertama kali, dia menatap Kirana. Tanpa merasa ada dinding yang menghalangi.

“Aku minta maaf atas tuduhan yang tidak berdasar kemarin Kirana. Aku menuduhmu tanpa bukti. Aku membiarkan kemarahanku mengalahkan kepercayaan yang seharusnya aku jaga.” ucap Arga pelan. Penuh sesal.

“Aku... aku salah, Kirana.” Lanjutnya kemudian.

Kirana terdiam. Jantungnya berdetak kencang.

Ini pertama kalinya dia melihat Arga begitu merasa bersalah. Sorot mata itu, Kirana mencoba mancari kebohongan di mata itu. Tapi dia tak temukan kebohongan itu di mata Arga.

“Aku tahu satu kata maaf tidak akan menghapus semua luka yang sudah kamu rasakan Kirana.” lanjut Arga. “Malam itu, setelah kamu keluar dari ruanganku. Hatiku...hatiku terasa sakit Kirana." ucapnya lirih. Kirana membeku di tempat. "Malam itu aku berjanji... aku akan membuktikan kalau kamu tidak bersalah. Aku akan menemukan dalang sebenarnya.” lanjut Arga.

Kirana menunduk. Matanya berkaca-kaca.

“Kamu nggak perlu bilang begitu, Arga.” suara Kirana bergetar. “Aku... aku juga nggak sempurna. Aku juga salah karena terlalu terbawa emosi kemarin.” Arga terdiam. Dia tidak menyangka Kirana akan menjawab seperti itu.

Kirana mengangkat wajahnya. Dia menatap Arga lurus-lurus.

“Tapi Arga... kalau kamu benar-benar percaya sama aku sekarang, jangan berhenti di kata maaf saja.”

“Bantu aku. Sampai kita tahu siapa yang sebenarnya melakukan ini.”

Arga mengangguk pelan. “Aku janji.”

Hujan semakin deras. Tapi di bawah payung itu, suasana terasa hangat untuk pertama kalinya dalam seminggu terakhir. Kirana tidak langsung memaafkan Arga sepenuhnya. Tapi dia tidak pergi. Dia tidak menjauh darinya. Dia tidak membencinya . Arga menatap kirana begitu dalam. Hatinya hangat. Dia ingin memeluk kirana. Ingin mengatakan "kirana Aku takut kehilangan kamu. Takut kamu menjauh dariku Kirana." tapi dia urungkan.

"Terimakasih Kirana" gumam Arga pelan sedikit tersenyum. hanya itu yang bisa dia katakan.

Kirana menatap Arga dalam ."Terimakasih?" balas kirana sedikit bingung

Arga membuka pintu mobil Kirana.

“Kalau begitu ayo kita pulang.”

[BERSAMBUNG.. ]

1
Tamirah
Kirana mulai mulai membuka hati untuk Arga yg tadinya menjaga jarak mulai resfek.
Tamirah
Merasa Anak orang kaya ,merasa cantik kalau nikah dgn sopir dekil apa lagi Anak panti wah gak level banget.Itu ciri makhluk Tuhan yg gak bersyukur.Apa pun yg ada di planet ini atas izin nya.kalau sudah kehendak-Nya apa pun bisa terjadi
jadi orang kaya gak perlu sombong.
💫Mars JuPiter🪐
Kalau suka cerita ini, jangan lupa kasih like nya 😊 biar Arga & Kirana bisa terus update🙏🏻
partini
maaf Thor bacanya langsung loncat,udah baca sinopsisnya
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"
💫Mars JuPiter🪐: makasih masukan nya kak😊
total 1 replies
Ella Ella
alur cerita yg menarik
💫Mars JuPiter🪐: thanks kak.. tunggu terus update nya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!