NovelToon NovelToon
Secret Marriage

Secret Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: JEJAK VANILA DI LANTAI DINGIN

Malam telah larut ketika suara lift pribadi berdenting pelan di lantai teratas gedung itu.

Reihan melangkah keluar dengan bahu yang terasa berat. Pertemuan dengan para investor dari Singapura berlangsung lebih alot dari yang ia perkirakan, mereka adalah orang-orang yang sangat teliti, sama seperti dirinya, dan itu menguras energi mentalnya hingga ke titik nadir.

Ia melepas dasinya dengan satu tangan sambil berjalan melewati ruang tengah yang gelap. Namun, saat ia melintasi area dapur, langkahnya terhenti. Ada sesuatu yang berbeda. Udara di apartemennya yang biasanya beraroma steril, perpaduan antara pembersih udara mahal dan aroma kulit furnitur, kini tercampur oleh sesuatu yang asing namun entah bagaimana terasa familiar.

Manis. Hangat. Seperti aroma kenangan yang sudah lama ia kubur dalam-dalam.

Reihan menyalakan lampu dapur dengan sensor sentuh.

Matanya tertuju pada sebuah tudung saji kristal di atas meja marmer. Di dalamnya, bertengger sepotong kue chiffon dengan tekstur yang tampak sangat lembut, berwarna kuning keemasan yang sempurna.

Ia terdiam selama beberapa saat. Bayangan masa kecilnya tiba-tiba melintas. Ibunya, sebelum wanita itu pergi dan meninggalkan ayahnya yang gila kerja, pernah membuatkan kue serupa.

Reihan menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran sentimentil itu. Ia meraih selembar memo kecil yang tertempel di samping tudung saji.

"Ini bukan terasi. Semoga tidak merusak 'estetika' rumahmu, L".

Sudut bibir Reihan berkedut, hampir menyerupai sebuah senyuman, namun terlalu tipis untuk disebut demikian.

Ia merasa lapar, sebuah rasa yang jarang ia gubris saat sedang stres. Dengan gerakan impulsif, ia mengambil garpu kecil dan memotong sedikit kue itu. Saat rasa manis yang pas dan tekstur selembut awan itu menyentuh lidahnya, Reihan tertegun.

"Dia benar-benar punya bakat untuk ini," gumamnya pelan.

Ia segera mematikan lampu, seolah merasa tertangkap basah sedang menikmati sesuatu yang manusiawi. Ia masuk ke dalam kamar utama dengan gerakan sepi dan hati-hati. Di bawah temaram lampu tidur yang redup, ia melihat Laluna sudah terlelap.

Gadis itu meringkuk di sisi tempat tidur, membelakanginya, dengan tangan yang memeluk bantal tambahan.

Reihan berdiri di sisi tempat tidur, menatap punggung Laluna yang naik-turun dengan teratur.

Gadis ini seharusnya hanyalah sebuah gangguan, sebuah pion dalam papan catur bisnisnya. Namun, kehadirannya yang hanya dalam hitungan hari sudah mulai meninggalkan jejak-jejak vanila di lantai marmernya yang dingin.

Pagi berikutnya, suasana kembali ke setelan pabrik, dingin dan profesional. Namun, saat mereka duduk untuk sarapan, ada sebuah kotak beludru kecil di samping piring Laluna.

Laluna menatap kotak itu, lalu beralih menatap Reihan yang sedang sibuk memotong daging asapnya.

"Apa ini?"

"Pakai itu," sahut Reihan pendek.

"Itu cincin pernikahanmu.

Aku tidak ingin kakek melihat jarimu kosong besok. Itu akan memicu pertanyaan yang tidak perlu."

Laluna membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah cincin platinum dengan berlian tunggal yang sangat jernih.

Cantik, mewah, namun terasa sangat berat saat Laluna menyematkannya di jari manisnya.

"Terima kasih," kata Laluna pelan.

"Apakah ini bagian dari biaya operasional 'Nyonya Arta Wiguna'?"

Reihan tidak menjawab sindiran itu. Ia justru menatap jari Laluna sejenak.

"Cincin itu cocok di tanganmu. Pastikan kau tidak menghilangkannya. Itu adalah salah satu koleksi bersejarah keluarga, bukan sekadar perhiasan butik."

"Aku akan menjaganya seserius aku menjaga kontrak kita, Reihan," balas Laluna, mencoba kembali bersikap tegar.

"Bagus. Sore ini, setelah kau pulang dari toko buku atau ke mana pun kau pergi untuk membunuh waktu, aku ingin kau membaca berkas yang kutinggalkan di meja kerja luar.

Itu adalah profil singkat anggota keluarga besar yang akan hadir besok. Hafalkan nama, hubungan, dan apa yang mereka sukai. Aku tidak ingin kau tampak bodoh saat bibi-bibiku mulai menginterogasimu."

Laluna menghela napas.

"Kau benar-benar mengatur segalanya sampai ke detail terkecil, ya? Apa kau tidak pernah merasa lelah menjadi sutradara untuk hidup semua orang?"

Reihan meletakkan serbetnya, lalu berdiri. Kali ini, ia tidak menatap Laluna dengan kemarahan, melainkan dengan pandangan yang kosong.

"Dalam duniaku, Laluna, jika kau bukan sutradaranya, maka kau adalah propertinya. Dan aku sudah lama berhenti menjadi properti."

Setelah Reihan berangkat ke kantor, Laluna menghabiskan waktunya dengan membaca berkas yang dimaksud. Ia mencatat nama-nama seperti Tuan Besar Surya Arta Wiguna, sang kakek yang menjadi otak di balik perjodohan ini. Dan beberapa sepupu Reihan yang tampaknya memiliki ambisi besar untuk menjatuhkan posisi Reihan dari kursi CEO.

Laluna menyadari satu hal: Reihan tidak hanya dingin, dia sedang berperang. Dan pernikahan rahasia ini adalah salah satu perisainya.

Sore harinya, saat ia sedang asyik mencatat, bel apartemen berbunyi. Itu hal yang aneh karena hampir tidak pernah ada tamu yang datang tanpa protokol ketat dari Dimas.

Laluna berjalan menuju pintu dan membukanya.

Di sana berdiri seorang wanita cantik dengan pakaian desainer yang sangat mencolok.

Wajahnya dipulas make-up sempurna, namun matanya memancarkan rasa tidak suka yang instan saat melihat Laluna.

"Siapa kau?" tanya wanita itu dengan nada angkuh, matanya menyapu penampilan Laluna dari ujung kepala hingga kaki.

"Pelayan baru Reihan? Kenapa kau tidak memakai seragam?"

Laluna tertegun sejenak, teringat poin pertama kontrak: Pernikahan ini bersifat rahasia.

"Saya... saya sedang membantu membereskan beberapa hal di sini," jawab Laluna dengan hati-hati, berusaha tidak memberikan identitas aslinya.

Wanita itu masuk tanpa permisi, meletakkan tas tangannya yang seharga satu rumah di atas sofa putih Reihan.

"Katakan pada Reihan, Clarissa datang. Aku membawakannya dokumen kerja sama yang tertinggal di kantor tadi siang."

Clarissa Mahendra. Nama itu ada di daftar yang diberikan Reihan. Rekan bisnis sekaligus wanita yang digosipkan media sebagai calon kuat istri Reihan.

Clarissa berjalan berkeliling apartemen dengan gaya seolah dia adalah pemilik tempat itu. Hingga matanya tertuju pada meja makan, di mana sisa kue chiffon Laluna masih ada.

"Bau apa ini? Manis sekali. Reihan benci makanan manis,"

Clarissa mencibir sambil menutup hidungnya.

"Kau benar-benar pelayan yang tidak kompeten jika berani memasak sesuatu yang tidak disukainya di sini. Buang itu sekarang juga."

Laluna merasakan darahnya mendidih. Ia sudah cukup bersabar dengan kedinginan Reihan, tapi ia tidak akan membiarkan orang asing menghina usahanya.

"Maaf, Nona Clarissa," ucap Laluna dengan nada yang tenang namun tajam. "Tuan Reihan sendiri yang meminta kue itu tetap di sana. Dan sejauh yang saya tahu, saya tidak menerima perintah dari siapa pun selain pemilik apartemen ini."

Clarissa berbalik, matanya menyipit penuh amarah.

"Kau... beraninya kau bicara seperti itu padaku! Kau tahu siapa aku?"

"Saya tahu siapa Anda," jawab Laluna mantap.

"Tetapi saya juga tahu bahwa ini adalah properti pribadi Tuan Reihan. Jika Anda ingin menyampaikan dokumen, silakan letakkan di meja. Jika tidak, saya harus kembali bekerja."

Clarissa tampak ingin meledak, namun suara pintu yang terbuka menghentikannya. Reihan masuk, dan ia segera menyadari ketegangan yang terjadi di ruang tengahnya.

"Reihan! Syukurlah kau pulang,"

Clarissa langsung mengubah suaranya menjadi lembut dan manja, menghampiri Reihan dan menyentuh lengannya.

"Pelayan barumu ini sangat tidak sopan. Dia berani membantahku saat aku memintanya membuang kue bau vanila ini."

Reihan menatap Clarissa, lalu beralih menatap Laluna yang berdiri dengan dagu terangkat di dapur. Mata Reihan tertuju pada cincin yang melingkar di jari manis Laluna, yang untungnya tertutup oleh jemari Laluna yang sedang menggenggam lap kain.

Reihan melepaskan tangan Clarissa dengan halus namun tegas. "Dia bukan pelayan, Clarissa. Dia adalah asisten pribadiku yang baru untuk urusan domestik. Dan mengenai kue itu..."

Reihan menjeda, menatap Laluna dengan tatapan yang sulit diartikan.

"...aku yang memintanya membuatnya. Jadi, jangan campuri urusan dalam rumahku."

Clarissa ternganga. "Tapi Reihan, kau benci manis!"

"Orang bisa berubah, Clarissa. Sekarang, jika urusan dokumenmu sudah selesai, asistenku akan mengantarmu keluar," ucap Reihan tanpa ekspresi.

Setelah Clarissa pergi dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan karena kesal, keheningan kembali menyelimuti apartemen.

Laluna masih berdiri di dapur, menatap Reihan yang kini tampak kelelahan.

"Terima kasih sudah membelaku," bisik Laluna.

Reihan menghela napas panjang, melonggarkan kerah kemejanya.

"Jangan besar kepala. Aku melakukannya karena aku tidak suka Clarissa merasa dia punya kendali atas tempat ini. Tapi kau..."

Reihan menunjuk ke arah dapur.

"...kau punya nyali juga rupanya."

Laluna tersenyum tipis, sebuah kilatan semangat muncul di matanya.

"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injakku, Reihan. Bahkan jika itu teman kencanmu yang cantik."

"Dia bukan teman kencanku," gumam Reihan sambil berjalan menuju kamarnya.

"Dan bersiaplah. Jika kau bisa menghadapi Clarissa, mungkin kau punya peluang untuk selamat dari jamuan makan malam kakek besok."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!