Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Ibu ... mmmppp!"
Salah seorang laki-laki membekap mulut Rasya. Anak kecil itu menangis, bukan karena takut, tapi karena bahagia melihat ibunya datang.
"Diam!" desis laki-laki itu menekan tangannya agar Rasya tidak bisa membuka mulut.
Rania berjalan cepat, melewati pengemudi Van hitam itu. Matanya tertuju pada pintu kedua, suara panggilan itu berada dari sana. Ia memegang pintu dan hendak membukanya, tapi mereka mengunci dari dalam.
"Buka!" Suara Rania serak dan dingin, matanya memerah, seluruh tubuhnya memanas.
Jika benar anaknya ada di dalam sana, akan dibawa ke mana. Apakah mereka menculiknya?
"Nona, tidak ada apa-apa di sana. Kami bukan penjahat, kami hanya akan mengantar keluarga kami ke rumah sakit. Jika kau terus menghalangi maka dia tidak akan tertolong," ujar si pengemudi mencoba berbicara dengan Rania.
Gadis itu menoleh, menatap tajam padanya. Tatapan yang seketika menghujam dadanya. Pengemudi itu terhenyak, terpaku beberapa saat.
"Buka!" Suara Rania kembali memerintah, mata merahnya benar-benar membuat nyali laki-laki itu ciut.
Pengemudi itu meneguk saliva, mengusap keringat yang tiba-tiba bermunculan di wajahnya.
"Jika kami tetap tidak mau ... apa yang akan kau lakukan?" Suara laki-laki lain menyahut, terdengar mengejek dan meremehkan.
Rania mengepalkan tangan kuat-kuat, memejamkan mata untuk beberapa saat. Mengenang kembali semua kemampuan yang pernah ia miliki. Lalu, Rania membuka mata kembali, kepalan tangannya semakin kuat hingga membuat buku jarinya memutih.
Rania mundur beberapa langkah, memasang kuda-kuda sempurna. Apa yang akan dia lakukan?
Dokter Pri di dalam mobil menatap cemas sahabatnya, menerka apa yang akan dilakukan Rania. Ia sendiri pun tidak tahu ada apa di dalam mobil itu?
Lalu, Rania berjalan cepat, kemudian memutar tubuh melakukan tendangan. Ia mengerahkan seluruh tenaga menghantam pintu mobil hingga penyok ke dalam. Semua orang terkesima, Dokter Pri dan supirnya meneguk saliva, melihat kekuatan tendangan Rania.
Begitu pula orang-orang di dalam mobil, merasakan ancaman. Tiga orang laki-laki keluar, mengepung Rania yang masih berdiri di dekat pintu mobil.
"Ibu!" Rasya mendekati jendela, memukul kacanya dengan kuat agar Rania bisa melihatnya.
Namun, seorang laki-laki yang masih berada di dalam segera menahannya. Meski begitu, Rania sudah melihat wajah sang anak. Wajah yang serupa dengan sang ayah dari mata dan hidungnya.
"Anakku!" Ia melirih, darahnya mendidih.
Matanya melirik ketiga laki-laki yang mengepung dirinya. Lalu, kembali menatap ke dalam mobil di mana Rasya memberontak dari cekalan seorang laki-laki.
Dokter Pri dan sang supir yang melihat bahaya, bergegas keluar dari mobil untuk membantu Rania.
"Rania!"
"Jangan pedulikan aku. Kalian selamatkan anak di dalam mobil itu!" ucap Rania seraya mundur beberapa langkah dari mobil.
"Hai, Nona. Aku akui tendanganmu cukup kuat juga hingga membuat pintu mobil kami penyok seperti ini. Tapi, menghadapi kami bertiga apakah kau akan sanggup melakukannya?" cibir seseorang di antara mereka sembari memandang remeh pada Rania yang serupa seorang gadis kecil.
Mereka melirik pintu mobil yang penyok sampai kuncinya terbuka. Takjub dengan kekuatan gadis kecil itu. Tubuhnya mungil, tapi kekuatannya setara dengan seorang laki-laki bertubuh besar.
Dokter Pri bingung, antara membantu Rania atau menuruti perintahnya. Dia menatap ketiga laki-laki liar itu, tangannya mengepal kuat.
"Tuan, bagaimana?" bisik sang supir yang ikut bingung melihat situasi.
"Entahlah. Kita lihat dulu," jawab dokter Pri menunggu situasi.
"Hai, Nona. Lebih baik temani kami bersenang-senang malam ini. Kami jamin kau akan puas," ucap yang lain sembari menatap liar pada Rania, ia membasahi bibirnya sendiri tak sabar ingin mencicipi tubuh gadis itu.
"Itu jika kalian memang mempunyai kemampuan!" desis Rania, matanya melirik liar pada ketiga laki-laki itu.
"Cepatlah selamatkan anakku!" teriaknya disaat seorang penjahat menyerang.
Bugh!
"Rania!"
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄