Seorang wanita zaman kuno yang mati akibat di bunuh oleh kekasihnya saat ia sedang membuat pil naga suci untuk menjadi abadi.
Tapi ia malah berpindah ke tubuh seorang wanita modern, seorang istri lemah, yang setiap hari di siksa oleh suaminya seorang pemabuk, KDRT dan seorang penjudi.
Yang lebih membingungkan, ia malah sudah memiliki seorang gadis kecil cantik berusia 6 tahun.
"Dasar suami sampah! Ini saatnya aku membalas suami brengksek itu karena sudah menyakiti pemilik tubuh asli ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Sesampainya mereka di lahan perkebunan sawit yang luas dan panas terik, suasana sudah terlihat ramai. Para pekerja sibuk dengan tugas masing-masing. Namun, kedatangan Ghaizka dan Gelsya seketika menjadi pusat perhatian.
Beberapa ibu-ibu yang sedang duduk beristirahat melihat ke arah mereka dengan tatapan meremehkan.
"Wah... Ghaizka! Kau terlambat sekali datang! Lihat tuh, brondolan yang mudah dikutip sudah habis diambil orang duluan!" seru salah satu dari mereka sambil tertawa mengejek. "Hari ini kalian pasti dapat uang sedikit sekali, atau malah tidak dapat sama sekali!"
Ghaizka tidak mempedulikan ejekan itu. Ia menoleh ke arah anaknya.
"Gelsya, apa tidak ada pekerjaan lain di sini yang bisa menghasilkan uang lebih banyak?" tanya Ghaizka.
Gelsya menunduk sedih, menunjuk ke arah tumpukan janjang sawit yang besar di pinggir jalan.
"Ada Ma... Kerjaan angkat janjang sawit masuk ke dalam mobil truk. Tapi itu kerjaannya laki-laki kok. Bebannya berat banget, kita perempuan nggak akan kuat angkatnya," jawab Gelsya dengan wajah memelas.
Ia tahu, jika hari ini mereka tidak mendapatkan uang, maka perut mereka akan kosong lagi. Tidak ada makan nasi untuk hari ini.
"Baiklah, tunjukkan aku di mana tempatnya," kata Ghaizka tegas.
"Hey Ghaizka! Kau serius mau angkat janjang sawit itu?!" teriak ibu-ibu tadi makin keras. "Hati-hati lho! Nanti tanganmu bisa patah atau uratmu lepas! Tubuhmu kurus kering begitu mana kuat!"
Mereka semua tertawa terbahak-bahak, menganggap Ghaizka sedang bertingkah bodoh.
Namun Ghaizka hanya menatap mereka sekilas dengan tatapan dingin dan tajam. Dalam hatinya berkata: 'Mulutnya memang besar dan pedas, tapi nyatanya fisik dan mental mereka jauh lebih lemah dari yang terlihat. Tidak perlu aku buang tenaga untuk meladeni sampah seperti mereka.'
"Mama yakin mau angkat yang berat-berat itu? Bagaimana kalau Mama terluka?" tanya Gelsya masih merasa sangat khawatir melihat tubuh ibunya yang dulu memang sering sakit-sakitan.
Ghaizka tersenyum tipis, senyum yang penuh keyakinan.
"Kau mau makan nggak Nak? Lapar kan? Kalau mau makan, kita harus cari uang sekarang juga," katanya bijak.
"I-iya... Ya udah aku temui Pak Mandor dulu ya!"
Gelsya pun berlari kecil mendekati seorang pria bertubuh kekar yang sedang mengawasi pekerjaan, dia adalah Mandor kepala di tempat itu.
"Pak Mandor! Ibu saya mau bekerja mengangkat sawit masuk ke dalam mobil, boleh kan Pak? Kami butuh uang hari ini buat makan," pinta Gelsya dengan nada memohon.
Mandor itu menoleh, menatap Ghaizka dari kejauhan dengan wajah meragukan dan sinis.
"Ibumu? Yang bener saja nak! Lihat tuh tubuh ibumu itu kurus banget, kelihatan nggak ada tenaganya. Mengutip brondolan kecil-kecil saja dia jauh ketinggalan sama yang lain, masa sekarang mau angkat janjang sawit yang besar-besar ini?"
Mandor itu tertawa mengecilkan hati.
"Nanti kalau tangannya patah atau pingsan, siapa yang tanggung jawab? Urusan saja sana cari brondolan!"
Namun, sebelum suara mandor itu selesai...
Wush!
"AKU KUAT."
Suara Ghaizka terdengar tenang namun berwibawa.