Alya Putri menjalani pernikahan kontrak empat tahun dengan miliarder Rizky Aditya, hanya karena wajahnya yang mirip dengan Kezia Angelica, cahaya bulan putih yang dicintai Rizky. Ketika Kezia kembali, Rizky segera menyiapkan perjanjian perceraian dan menawarkan kompensasi besar, menganggap hubungan mereka hanya transaksi uang dan tubuh.
Namun, Alya yang awalnya hanya mengejar uang telah jatuh cinta mendalam pada suaminya. Lebih buruk lagi, dia menemukan dirinya hamil, tetapi Rizky dengan kejam memerintahkannya untuk menggugurkan anak itu. Di tengah tekanan ipar yang membenci dan skandal wanita lain, Alya harus memilih antara menyerahkan segalanya atau berjuang untuk cinta dan anaknya, sementara Rizky mulai menyadari bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Alya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prabowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Keheningan di kamar itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum Rizky menjawab.
"Gugurkan dia."
Dua kata. Diucapkan dengan nada yang sama seperti seseorang memberikan instruksi tentang jadwal rapat atau pengiriman dokumen — tanpa jeda, tanpa pertimbangan, tanpa satu pun nada yang menunjukkan bahwa kata-kata itu memiliki bobot.
Wajah Alya tidak bergerak. Tapi di bawah permukaan itu, sesuatu runtuh.
Darahnya terasa berhenti mengalir sebentar, kemudian mengalir lagi dengan cara yang berbeda — dingin, seperti air yang baru turun dari ketinggian. Dia merasakan wajahnya memucat meski tidak ada cermin untuk membuktikannya. Bibirnya masih dalam posisi yang hampir membentuk kata, tapi tidak ada suara yang keluar selama beberapa saat.
Kemudian dia berbalik.
Senyumnya muncul — bukan senyum yang hangat, melainkan senyum yang dibangun dengan cepat dari bahan-bahan yang tersisa, seperti tembok darurat yang dipasang sebelum banjir datang.
"Kamu tidak mau punya anak?" tanyanya. Suaranya terdengar normal. Hampir.
Rizky berbaring dengan satu lengan di bawah kepalanya, menatap langit-langit kamar. "Hanya wanita yang aku cintai yang bisa melahirkan anakku." Dia menoleh ke arahnya, matanya tenang dan lurus. "Kalau kamu tidak sengaja hamil, besok aku atur dokter. Kamu pergi ke rumah sakit, selesaikan."
Empat tahun.
Angka itu berputar di kepala Alya seperti koin yang dilempar ke udara dan belum jatuh. Empat tahun dia tinggal di apartemen ini, memakai cincinnya, makan di meja yang sama dengannya, tidur di ranjang yang sama. Empat tahun, dan ternyata di mata Rizky, dia tidak pernah lebih dari sebuah kenyamanan yang bisa diakhiri dengan jadwal dokter dan satu hari di rumah sakit.
Bukan rasa sakit yang membakar. Ini lebih seperti anestesi — mati rasa yang menyebar perlahan dari pusat dada ke ujung-ujungnya.
Rizky bangkit sedikit, menopang tubuhnya dengan siku. "Lagi pula." Nada suaranya berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam, lebih kalkulatif. "Kamu ingat perjanjian kita di awal."
Alya tidak menjawab.
"Kamu datang dengan syarat yang sudah disepakati dua pihak." Matanya menyapu wajahnya. "Jangan bilang kamu berpikir untuk mengikatku dengan cara seperti ini."
Kalimat itu bukan tuduhan yang dilontarkan dengan emosi. Diucapkan dengan cara seorang pengacara membacakan klausul kontrak — presisi, tidak personal, dan justru karena itulah terasa paling menyakitkan.
Alya menunduk. Matanya tertuju ke lipatan selimut di pangkuannya. Di belakang kelopak matanya ada panas yang menumpuk, tapi dia tidak membiarkannya keluar — tidak di sini, tidak sekarang, tidak di depan Rizky.
Tangan Rizky menyentuh dagunya.
Bukan gerakan kasar. Jemarinya menangkap dagu Alya dan mendongakkannya ke atas dengan tekanan yang pelan tapi tidak memberi pilihan, memaksanya menghadap ke arahnya. Matanya menelusuri wajahnya — berhenti di ujung matanya yang sedikit merah, di garis bibirnya yang terlalu rapat, di sesuatu yang tidak berhasil disembunyikan sepenuhnya.
Ekspresi Rizky berubah. Menjadi lebih gelap, lebih serius.
"Kamu benar-benar hamil?"
Alya menatapnya. Jarak antara mereka hanya sejengkal, cukup dekat untuk melihat hal-hal kecil di wajah satu sama lain yang tidak terlihat dari kejauhan. Dia melihat alisnya yang sedikit berkerut. Melihat rahangnya yang menegang.
"Kalau benar," kata Alya akhirnya, suaranya pelan dan terukur, "kamu akan paksa aku ke rumah sakit?"
Rizky tidak ragu. Tidak ada jeda yang menunjukkan pertimbangan, tidak ada kedipan mata yang memperlihatkan keraguan.
"Anak itu tidak boleh ada." Tangannya masih memegang dagunya. "Tidak boleh membuat Kezia sedih."
Nama itu.
Alya sudah pernah mendengarnya sebelumnya — dalam potongan-potongan percakapan yang tidak ditujukan untuknya, dalam cara Rizky sesekali tidak ada tanpa penjelasan, dalam tatapannya yang kadang-kadang pergi ke tempat yang jauh bahkan ketika tubuhnya ada di ruangan yang sama. Kezia. Wanita yang belum pernah Alya lihat wajahnya, yang tidak pernah menginjakkan kaki di apartemen ini, tapi yang kehadirannya terasa seperti bayangan yang selalu ada di sudut-sudut ruangan.
Dan sekarang nama itu diucapkan di sini, di ranjang ini, sebagai alasan mengapa anaknya — anaknya, kalau memang ada — tidak boleh lahir ke dunia.
Sesuatu di dalam dada Alya seperti disayat dengan pisau yang sangat tipis. Bukan luka besar. Luka kecil yang memanjang, yang jenis sakitnya baru terasa sepenuhnya beberapa detik setelah kejadiannya.
Dia menarik dagunya dari genggaman Rizky.
"Wah." Suaranya keluar dengan nada yang hampir terdengar seperti kagum. "Ternyata kamu pria yang sangat setia."
Rizky tidak menjawab.
"Sangat mencintai satu wanita." Alya meluruskan punggungnya, menyingkirkan rambutnya yang masih setengah basah dari bahunya. "Tapi kalau begitu, kenapa kamu masih tidur dengan wanita lain? Termasuk aku?"
Pertanyaan itu menggantung di udara kamar yang remang.
Rizky menatapnya sebentar, kemudian merebahkan dirinya kembali ke bantal. "Kezia wanita yang baik," katanya. "Dia layak diperlakukan dengan baik."
Alya mendengarnya.
Menyerapnya.
Mengurai maknanya perlahan seperti seseorang yang membuka lipatan kertas satu per satu untuk menemukan apa yang tertulis di dalamnya. Kezia wanita yang baik. Layak diperlakukan dengan baik. Yang artinya — kesetiaan fisik adalah bentuk penghormatan yang hanya dia berikan kepada perempuan yang dia anggap berharga. Yang lainnya, termasuk Alya, berada di kategori yang berbeda. Kategori yang tidak perlu diberi nama karena semua orang di dalam ruangan ini sudah tahu isinya.
Alya melepas selimut dari tubuhnya dan bangkit dari ranjang.
"Aku capek," katanya. Sama seperti yang sudah dia ucapkan berkali-kali malam ini, tapi dengan infleksi yang berbeda sekarang — lebih jauh, lebih rapi, seperti seseorang yang sudah selesai membersihkan ruangan dan menutup pintu di belakangnya. "Aku tidur di kamar tamu."
"Kamu hamil atau tidak?"
Alya berhenti. Punggungnya masih menghadap ke arahnya, jubah mandinya sudah diganti dengan piyama yang diambilnya dari laci tanpa banyak gerakan. Tangannya memegang gagang pintu kamar.
Dia tidak langsung menjawab. Membiarkan keheningan itu ada selama beberapa detik — bukan untuk efek dramatis, tapi karena dia benar-benar sedang memutuskan sesuatu di dalam kepalanya, memilah mana yang akan diucapkan dan mana yang akan disimpan.
"Kalau ada," katanya akhirnya, tanpa berbalik, suaranya datar dan dingin seperti kaca jendela di musim hujan, "aku yang akan pergi ke rumah sakit. Sendiri." Jeda sebentar. "Aku tidak mau anakku lahir di tempat yang ayahnya tidak akan pernah mencintainya."
Di belakangnya, dia mendengar gerakan di ranjang.
"Alya."
Suara Rizky sedikit lebih keras dari sebelumnya — bukan marah, tapi mengandung sesuatu yang tidak biasa ada di dalamnya. Sesuatu yang terdengar hampir seperti ketidaknyamanan, seperti seseorang yang menemukan bahwa percakapan ini berjalan ke arah yang tidak dia antisipasi dan tidak sepenuhnya dia kuasai.
Alya membuka pintu.
"Apa lagi?"
Dua kata yang keluar dengan nada yang sangat tenang, sangat sopan, sangat jauh — seperti seorang asisten yang menunggu instruksi tambahan sebelum meninggalkan ruangan. Tidak ada kemarahan di dalamnya. Tidak ada tangisan yang ditahan. Hanya jarak yang sangat bersih, yang terasa entah bagaimana lebih mengusik daripada kalau dia membanting pintu atau berteriak.
Rizky tidak segera menjawab.
Alya menunggu satu detik, dua detik, kemudian melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya — pelan, hampir tanpa suara, dengan cara yang justru terasa lebih final dari apapun yang terjadi malam ini.
Kamar tamu terasa lebih kecil dari yang dia ingat. Atau mungkin bukan kamarnya yang mengecil, tapi dia sendiri yang membawa sesuatu yang terlalu besar untuk muat di dalam ruangan manapun malam ini.
Alya duduk di tepi ranjang kamar tamu dalam gelap, tidak menyalakan lampu. Di bawah telapak tangannya, seprai terasa dingin dan kering — ranjang yang jarang dipakai, yang tidak menyimpan sisa kehangatan siapapun.
Empat tahun.
Dia tidak menangis. Bukan karena tidak ingin, tapi karena ada tangisan yang terlalu besar dan terlalu dalam untuk keluar dengan cara biasa — yang hanya bisa ditahan di dalam dada sampai tubuh tahu apa yang harus dilakukan dengannya.
Di luar jendela kamar tamu, kota masih menyala dengan kehidupan yang tidak peduli pada siapapun. Lampu-lampu apartemen di gedung seberang berkedip pelan. Di suatu tempat di luar sana, ada perempuan bernama Kezia yang tidak tahu bahwa malam ini namanya disebut sebagai alasan mengapa seorang anak tidak boleh lahir.
Alya meletakkan tangannya di perutnya — perlahan, hampir tanpa sadar.
Dia tidak tahu apakah ada sesuatu di sana atau tidak. Malam ini pertanyaannya bukan tentang itu.
Malam ini pertanyaannya adalah tentang empat tahun yang dia habiskan untuk berpikir bahwa mungkin, suatu hari, ada sesuatu yang tumbuh di antara semua transaksi ini. Sesuatu yang tidak ada dalam perjanjian tapi tumbuh sendiri karena dua manusia yang cukup lama berada dalam ruangan yang sama akhirnya tidak bisa tidak saling mempengaruhi.
Tapi Rizky baru saja menjawab pertanyaan itu dengan sangat jelas, tanpa ruang interpretasi, tanpa celah yang bisa dia isi dengan harapan.
Hanya wanita yang aku cintai yang bisa melahirkan anakku.
Alya menarik tangannya dari perutnya.
Dia sudah kalah, kata sesuatu di dalam dirinya dengan nada yang tidak kejam dan tidak baik hati — hanya akurat. Dia sudah kalah bahkan sebelum pertandingan itu dimulai, melawan perempuan yang tidak pernah dia lihat wajahnya, yang tidak ada di rumah ini tapi yang lebih nyata kehadirannya dari Alya sendiri.
Dia berbaring miring di ranjang kamar tamu, menarik selimut ke bahunya.
Di kamar sebelah, kemungkinan Rizky sudah tertidur. Atau mungkin dia masih terjaga, menatap langit-langit dengan ekspresi yang tidak bisa dilihat oleh siapapun malam ini. Alya tidak tahu, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia memutuskan bahwa itu bukan masalah yang perlu dia pecahkan.
Matanya terpejam.
Kota di luar terus bersinar.