NovelToon NovelToon
Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Dokter / Identitas Tersembunyi
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
​Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
​Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
​Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
​"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Ancaman di Balik Buket Bunga

​"Nata, bangun! Ini sudah jam tujuh pagi dan kamu masih meringkuk seperti kucing di sofa?"

​Suara cempreng Airine yang khas, berpadu dengan ketukan sepatu hak tingginya di atas lantai marmer, membuat Nata tersentak. Ia membuka matanya perlahan, merasakan sisa-sisa kehangatan ciuman semalam masih membekas di bibirnya. Namun, pemandangan di depannya segera mengembalikan kesadarannya: Airine sudah siap dengan setelan kerja berwarna lavender yang elegan, rambutnya disanggul rapi, dan wajahnya memancarkan otoritas seorang Direktur Utama.

​Nata meregangkan otot lehernya yang terasa kaku karena tidur di sofa ruang tengah kamar utama. "Dokter, bisakah kamu memulai pagi tanpa berteriak? Aku ini suamimu, bukan asisten pribadimu."

​Airine berkacak pinggang, menatap Nata yang rambutnya masih berantakan. "Suami atau bukan, hari ini adalah rapat pemegang saham pertama pasca penangkapan Ayah. Aku tidak mau terlambat satu detik pun. Dan kamu... kamu harus ikut denganku. Pakai setelan jas yang sudah kusiapkan di atas kursi itu."

​Nata melirik ke arah kursi kayu jati di sudut kamar. Sebuah setelan jas hitam slim-fit buatan penjahit ternama tampak bertengger di sana. "Jas? Kamu ingin tukang bakso sepertiku memakai baju semahal itu? Apa tidak takut aku akan menumpahkan kuah kaldu di atasnya?"

​"Hentikan lelucon baksomu, Nata," Airine mendekat, suaranya sedikit melunak. Ia merapikan kerah kaos Nata yang sedikit terlipat. "Di kantor nanti, semua mata akan tertuju padamu. Mereka ingin tahu siapa pria yang berhasil menaklukkan Airine Rubyjane. Setidaknya, buatlah mereka terkesan dengan penampilanmu, bukan dengan ceritamu soal resep urat."

​Nata menatap mata Airine yang jernih. "Kamu malu jika mereka tahu aku benar-benar berjualan bakso?"

​Airine terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak. Aku hanya tidak ingin mereka meremehkanmu. Aku tahu siapa kamu... setidaknya aku tahu kamu lebih dari sekadar apa yang terlihat. Sekarang cepat mandi, atau aku akan meninggalkanmu!"

​Satu jam kemudian, mereka sampai di lobi RS Medika Utama. Nata yang mengenakan jas hitam tampak seperti pria yang berbeda. Tubuh tegapnya yang atletis membuat jas itu pas sempurna, memberinya aura misterius sekaligus berwibawa. Banyak perawat dan staf yang berbisik-bisik saat mereka lewat, mengagumi betapa serasinya pasangan itu.

​Namun, langkah mereka terhenti di meja resepsionis lobi utama. Sebuah buket bunga mawar hitam yang sangat besar diletakkan di sana, lengkap dengan kartu ucapan berwarna merah darah.

​"Selamat pagi, Dokter Airine. Ini ada kiriman bunga untuk Anda," ucap petugas resepsionis dengan wajah sedikit pucat.

​Airine mengernyitkan dahi. "Mawar hitam? Dari siapa?"

​Nata segera melangkah maju sebelum Airine menyentuh buket itu. Instingnya sebagai Komandan Arnold langsung berteriak waspada. Ia memindai buket itu dengan matanya, mencari tanda-tanda kabel atau bahan peledak kecil yang mungkin disembunyikan di sela-sela kelopak bunga.

​"Jangan disentuh, Airine," perintah Nata dengan suara rendah yang sangat dominan.

​"Nata? Itu hanya bunga. Mungkin dari rekan bisnis yang ingin mengucapkan selamat," sahut Airine bingung.

​Nata tidak memedulikan ucapan Airine. Ia mengambil pulpen dari meja resepsionis, lalu menggunakannya untuk membuka kartu ucapan yang terselip di sana. Di dalamnya tertulis satu kalimat pendek dengan tinta emas:

​"Pernikahan yang indah, Komandan. Sayangnya, mawar hitam lebih cocok untuk pemakaman daripada pesta. Sampai jumpa di malam yang gelap. - S"

​Wajah Nata mengeras. Rahangnya menonjol. S. Tuan Shen. Pria itu tahu identitasnya. Sinyal bahaya level tertinggi kini menyala di kepalanya.

​"Nata, apa isinya? Kenapa wajahmu jadi seperti itu?" tanya Airine, mencoba mengintip kartu tersebut.

​Nata segera meremas kartu itu dan memasukkannya ke saku jasnya. Ia kembali memasang wajah tenang, meski matanya terus memantau setiap sudut lobi yang ramai. "Hanya penggemar rahasiamu yang sepertinya punya selera aneh. Dia bilang dia iri karena aku bisa memilikimu."

​"Benarkah?" Airine ragu. "Tapi mawar hitam itu... rasanya tidak enak dilihat."

​"Buang bunga ini ke tempat sampah sekarang," perintah Nata kepada resepsionis dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Dan pastikan mulai sekarang, semua paket untuk Dokter Airine harus melewati pemeriksaan keamanan di lantai bawah terlebih dahulu."

​Airine merasa ada yang aneh dengan sikap Nata. "Kamu terlalu berlebihan, Nata. Ini rumah sakit, bukan markas militer."

​Nata merangkul bahu Airine, menuntunnya menuju lift pribadi. "Anggap saja aku sedang cemburu, Sayang. Aku tidak suka ada pria lain yang mengirimimu bunga, apalagi bunga layu seperti itu."

​Di dalam lift yang tertutup, Airine menatap pantulan mereka di dinding kaca. "Nata, jujurlah padaku. Apa ada sesuatu yang sedang terjadi? Surat itu... apa itu ancaman?"

​Nata menghela napas, menatap Airine melalui cermin. "Dunia bisnis medis itu kejam, Airine. Musuh-musuh ayahmu mungkin belum menyerah. Aku hanya ingin memastikan kamu aman. Kamu percaya padaku, kan?"

​Airine mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di lengan Nata. "Aku percaya. Tapi jangan sembunyikan apa pun dariku. Jika ada bahaya, aku ingin menghadapinya bersamamu."

​Nata mencium puncak kepala Airine, namun pikirannya melayang jauh. Tuan Shen sudah mulai bergerak. Mawar hitam itu adalah peringatan bahwa perang terbuka telah dimulai. Ia harus memperketat penjagaan tanpa membuat Airine ketakutan.

​Begitu sampai di ruang kerja direktur, Nata memastikan Airine sibuk dengan berkasnya sebelum ia keluar ke balkon untuk menghubungi markas pusat.

​"Lapor. Tuan Shen mengirim pesan langsung. Dia tahu identitas 'Komandan'," desis Nata ke arah jam tangannya.

​"Perintah, Komandan? Haruskah kami melakukan evakuasi untuk Nyonya Airine?" suara operator intelijen menyahut dari seberang.

​"Tidak. Itu akan membuatnya curiga. Aktifkan protokol 'Shadow Guard' tingkat dua. Masukkan tim penembak jitu di gedung seberang rumah sakit. Dan cari tahu siapa yang mengantar buket bunga itu ke resepsionis. Aku ingin kepalanya di mejaku malam ini."

​Nata menutup komunikasi saat ia mendengar suara pintu terbuka. Airine muncul dengan wajah panik.

​"Nata! Kamu harus lihat ini!" Airine menunjukkan layar tabletnya yang menampilkan berita breaking news. "Gudang farmasi kita di pinggiran kota... meledak sepuluh menit yang lalu!"

​Nata memejamkan matanya sejenak. Serangan pertama sudah dimulai. Ia menatap Airine yang tampak gemetar, lalu memegang kedua bahunya dengan kuat.

​"Airine, dengarkan aku. Jangan keluar dari ruangan ini. Panggil semua penjaga internal. Aku harus pergi sebentar untuk memeriksa keadaan."

​"Tidak! Jangan pergi, Nata! Bagaimana kalau itu jebakan untukmu?" Airine memeluk pinggang Nata erat-erat.

​Nata melepaskan pelukan itu dengan lembut namun tegas. "Aku harus pergi agar kamu tetap aman di sini. Percayalah padaku, Istriku. Aku akan kembali sebelum makan siang."

​Nata berlari keluar ruangan, melepaskan jas mahalnya dan membuangnya ke lantai koridor. Di bawah jas itu, ia mengenakan kaos taktis yang sudah dilengkapi dengan sabuk senjata. Penyamaran "Bang Nata" mungkin masih ada di depan Airine, tapi di mata dunia bawah tanah, Komandan Arnold Dexter telah bangkit sepenuhnya.

...****************...

1
Abinaya Albab
beneran ini perang terakhir? duhhhh capek gk sih mereka baru mau bernafas lega ada lagi
Abinaya Albab: blm lagi bikin bakso urat ya Thor 😂🤭
total 2 replies
Abinaya Albab
baru ini aku baca novel yg tegangnya tak beesudahan... lanjut
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
kakek jahat ga
aditya rian
sekalian updatenya banyak dong soalnya jadi penasaran banget
aditya rian
keren arnold
aditya rian
jangan marah dong... di awal jug udh bilang
hidagede1
ke inget nya sama jendral andika🤭
Ariska Kamisa: eehh??? 🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
yah... thor.. ayo sih update nya yang banyak sekalian... aku ga sabaran
aditya rian: Airine mulai jeniusnya nih
total 2 replies
umie chaby_ba
ampe airine bingung manggilnya dua nama padahal satu orang 🤭🤭🫣
umie chaby_ba
waduh... judulnya aja bikin takutt... apakah... airine tidak terima dibohongi?
umie chaby_ba
hayoloh . ga bisa ngelak lagi nol
umie chaby_ba
Arnold udah demen banget nih
umie chaby_ba
bisa aja anjayy
umie chaby_ba
hayoloh....
umie chaby_ba
udah nge spill Mulu padahal Nata de Coco... tak mungkin Abang bakso seberani itu.. mikir dong airine...
Ariska Kamisa: aaa.. kaka niu bisa aja ceplosannya jadi mata de coco🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
tuan Shen musuh sapa sih lu🫣
umie chaby_ba
udah komandan... cucu jenderal pula....👍
umie chaby_ba
secara komandan cuyyy....
umie chaby_ba
Arnold Dexter 😍
umie chaby_ba
tuan Shen ini.. jangan jangan orang terdekat 🫣
Ariska Kamisa: lanjut ikutin terus yaa biar tahu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!