Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.
"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"
Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: High Seraphim
Lembah Cakrawala berguncang hebat saat jutaan legiun bayangan Erebus mencoba memanjat pilar-pilar langit. Di puncak barisan tempur, Elysianne berdiri di atas kereta perang cahaya. Gaun surgawinya berkibar ditiup angin kosmik, dan di tangannya, Pedang Astraea membakar kegelapan dengan api emas yang murni.
"Hancurkan kotoran ini," perintah Elysianne dingin. Suaranya bergema di seluruh medan tempur.
"YES, HIGH SERAPHIM!" ribuan prajurit langit berseru serempak, suara mereka menggetarkan dimensi.
Di tengah kemelut perang, sebuah anomali terjadi. Di perbatasan tipis antara awan dan ruang hampa, dua sosok manusia muncul. Cyprian yang menunggangi Pegasus Hitam dengan zirah yang hancur, dan Lysander yang merangkak naik dengan sihir bayangan yang tersisa.
Cyprian tertegun. Ia menatap sosok agung yang melayang di tengah cahaya. Ia tidak mengenali wajah Sybilla di sana—sosok itu terlalu tinggi, terlalu bersinar, dan terlalu... asing. Namun, saat mata emasnya bertemu dengan mata emas-biru milik Elysianne, sebuah getaran hebat menghantam dadanya. Jantungnya berdenyut menyakitkan, seolah-olah jiwanya mengenali sang pemilik cahaya itu meski ingatannya tidak.
"Sybilla...?" bisik Cyprian, suaranya hilang ditelan gemuruh perang.
Elysianne melirik sekilas ke arah "manusia" itu. Ia tidak mengenalinya, namun ada jeda sepersekian detik dalam detak jantung dewinya yang membuatnya tertegun. Siapa makhluk rendah ini? Mengapa kehadirannya terasa seperti luka lama?
"Melihat-lihat masa lalumu, Little Star?"
Sebuah suara serak dan berat muncul dari pusaran lubang hitam di tengah medan laga. Erebus, Raja Neraka, muncul dalam wujud bayangan raksasa yang mengenakan mahkota dari tulang belulang bintang.
"Kau hanyalah bayangan yang tersesat, Erebus," sahut Elysianne. Ia melompat dari kereta perangnya, melesat jatuh seperti meteor emas tepat ke arah sang Raja Neraka.
Pertarungan itu melampaui logika manusia.
Setiap kali Pedang Astraea berbenturan dengan Sabit Bayang milik Erebus, tercipta ledakan yang menghanguskan ribuan iblis di sekitarnya.
Erebus mencoba menjerat kaki Elysianne dengan rantai kegelapan, namun Elysianne mengubah wujudnya menjadi cahaya murni, menembus serangan itu dan muncul di belakang Erebus untuk memberikan tebasan mematikan.
Cahaya emas dan kabut hitam pekat beradu di udara, menciptakan gerhana abadi di langit Kayangan. Seluruh alam semesta seolah menahan napas menyaksikan duel dua kutub ini.
Di bawah mereka, Cyprian nekat memacu Pegasusnya menembus badai energi itu. Ia ingin mencapai Elysianne, ingin memastikan apakah "cahaya" itu adalah istrinya yang hilang.
"Menjauhlah, manusia!" Aetherion mencoba menghalanginya, namun Cyprian mengayunkan pedang Adamant-nya. "Aku tidak peduli dia Dewi atau hantu! Kembalikan istriku!"
Erebus tertawa melihat keputusasaan Cyprian. "Lihat, Elysianne! Manusia itu memanggilmu! Haruskah aku membunuhnya agar kau bisa fokus pada duel kita?"
Erebus mengarahkan serangan bayangan mematikan ke arah Cyprian yang tak berdaya di tengah badai sihir.
Detik itu juga, badai sihir di Langit Ketujuh seolah membeku. Serangan bayangan Erebus melesat seperti tombak hitam yang haus nyawa, mengarah tepat ke jantung Cyprian yang terombang-ambing di atas Pegasusnya.
Cyprian memejamkan mata. Ia tahu pedang Adamant-nya tak akan mampu menahan serangan level dewa. Namun, alih-alih rasa sakit, yang ia rasakan adalah ledakan kehangatan yang membutakan.
"Cukup!"
Suara Elysianne menggelegar bukan sebagai teriakan, melainkan sebagai perintah alam. Tanpa bergerak dari kereta perangnya, ia hanya melirik ke arah Cyprian. Secara instan, sebuah perisai cahaya murni berbentuk Bunga Astraea mekar di depan Cyprian, menelan seluruh serangan bayangan Erebus hingga tak bersisa.
Erebus tertawa sinis, matanya menyipit. "Masih ada sisa-sisa kemanusiaan di dalam jiwamu, Little Star? Kau menyelamatkan serangga kecil ini?"
Elysianne menatap Erebus dengan tatapan yang sangat dingin, seolah sedang melihat noda di atas kain putih bersih. "Dia bukan serangga yang kuselamatkan karena belas kasihan, Erebus," ucapnya datar, suaranya jernih tanpa emosi.
"Kematian manusia di wilayahku hanya akan mengotori kesucian Kayangan. Aku tidak mengizinkan setetes pun darah fana tumpah di atas awan suci ini."
Cyprian mendongak, napasnya memburu. Ia melihat sosok agung itu, namun ia tidak menemukan kehangatan "Sybilla" di matanya. Perisai itu bukan dibuat karena cinta, melainkan karena otoritas. Bagi Elysianne, Cyprian hanyalah elemen asing yang tidak pada tempatnya.
"Pergilah, manusia," lanjut Elysianne tanpa menoleh lagi padanya. "Kembalilah ke duniamu yang rendah. Jangan pernah menginjakkan kaki di atas cakrawala lagi, atau cahaya ini sendiri yang akan memusnahkanmu."
Dengan satu kibasan jubahnya, gelombang energi emas mendorong Pegasus Hitam dan Cyprian menjauh dari medan tempur, melempar mereka kembali ke gerbang dimensi Skyrosia.
Kini, tidak ada lagi gangguan. Elysianne kembali memusatkan seluruh fokusnya pada Erebus. Ia mengangkat Pedang Astraea tinggi-tinggi, dan langit berubah menjadi emas membara. Duel terakhir dimulai, dan kali ini, sang Dewi tidak akan menahan diri sedikit pun.
.
.
.
Pertempuran dahsyat itu berakhir dengan ledakan cahaya yang melenyapkan seluruh kabut hitam dari cakrawala Kayangan. Elysianne, sang Dewi Astraea, melayang turun dengan anggun, pedang cahayanya masih berpendar namun tidak lagi haus darah.
Di tengah kawah perak yang tercipta, wujud raksasa mengerikan Erebus telah hancur. Yang tersisa hanyalah seorang pemuda yang luar biasa tampan, dengan rambut sehitam jelaga yang berantakan dan luka-luka bercahaya emas di kulitnya yang pucat. Ia tersungkur, menatap Elysianne dengan tatapan tidak percaya sekaligus murka yang teredam rasa sakit.
Elysianne menghampiri Erebus. Langkah kakinya menciptakan riak emas di udara. Ia tidak menunjukkan kebencian, hanya otoritas absolut yang dingin. Bagi Elysianne yang sekarang, ikatan duniawi seperti cinta atau dendam sudah tidak relevan—ia adalah hukum itu sendiri.
"Kau mencoba merobek tatanan langit demi ambisi pribadimu, Erebus," suara Elysianne menggema, tenang namun mematikan. "Maka rasakanlah apa yang paling kau benci: menjadi rapuh, menjadi terbatas, dan menjadi debu."
Elysianne mengangkat tangannya, merapalkan kutukan suci yang tak tertandingi.
Eksil 70.000 Tahun: Tubuh keabadian Erebus dilucuti. Ia dijatuhkan ke Bumi, tepatnya di tengah hiruk pikuk kota London yang dingin dan penuh polusi—tempat yang dulu pernah dihuni oleh "Christina".
Selama tujuh puluh ribu tahun masa hukumannya, ia dilarang mencintai manusia atau terikat secara emosional dengan makhluk bumi manapun. Jika ia melanggarnya, ia tidak akan pernah kembali ke singgasananya dan akan membusuk sebagai manusia yang terbuang selamanya.
Dengan lambaian tangannya, Elysianne menyegel gerbang kegelapan. Kini, seluruh makhluk bayangan berada di bawah kendali langsung takhta Astraea.
Erebus hanya bisa menatap Elysianne saat tubuhnya mulai memudar, ditarik oleh gravitasi bumi menuju pengasingannya yang panjang.
Tubuh Erebus yang memudar meninggalkan serpihan abu hitam yang langsung disapu oleh badai emas milik Elysianne. Langit Kayangan perlahan kembali tenang, menyisakan keheningan yang agung namun mencekam.
Cyprian, yang baru saja mendarat dengan napas memburu di tepi kristal balairung, segera melompat dari Pegasus Hitamnya. Matanya yang emas tak lepas dari sosok Elysianne yang melayang beberapa jengkal di atas lantai. Ia tidak peduli pada luka-luka di zirahnya, tidak peduli pada aura dewa yang menekan dadanya hingga sulit bernapas.
"Sybilla!" teriak Cyprian, suaranya parau oleh keputusasaan. Ia berlari mendekat, tangannya terulur ingin menyentuh ujung jubah cahaya sang Dewi. "Aku tahu kau masih di sana... Sybilla, kembalilah!"
Namun, sebelum ia sempat mendekat lebih dari lima langkah, sebuah barikade energi transparan sewarna langit fajar muncul di depannya. Dewa Aether melangkah maju, berdiri di antara sang Duke dan putrinya.
"Hentikan, manusia," suara Dewa Aether berat dan berwibawa, membuat langkah Cyprian terhenti paksa. "Jangan mengotori kesucian kehadirannya dengan nama yang sudah tidak lagi memiliki pemilik."
"Dia istriku!" balas Cyprian dengan nada menantang, matanya berkilat marah meski tubuhnya gemetar menahan tekanan sihir sang Dewa. "Apapun identitas langitnya, dia adalah wanita yang kujaga selama sepuluh tahun!"
Dewa Aether menatap Cyprian dengan tatapan kasihan yang dingin. Ia menggeleng pelan.
"Lupakan saja dia, manusia," ucap sang Dewa tanpa emosi. "Sybilla Davenport hanyalah sebuah wadah kosong yang dipinjam oleh semesta agar Putri kami bisa terjaga. Kini, wadah itu telah hancur. Yang berdiri di depanmu bukanlah istrimu, melainkan Elysianne, Sang Penguasa Cahaya yang tidak mengenal namamu, apalagi cintamu."
Para prajurit langit serentak menghantamkan tombak mereka ke lantai kristal, menciptakan dentuman yang memekakkan telinga, lalu membungkuk dalam satu gerakan sempurna ke arah Elysianne.
"Our prayers are with you, Your Highness," gumam mereka serempak.
Cyprian beralih menatap Elysianne. Sang Dewi hanya berdiri mematung, menatap ke arah cakrawala yang jauh, sama sekali tidak menoleh ke arah keributan yang dibuat Cyprian. Matanya yang emas-biru tampak hampa akan perasaan—sebuah keindahan yang sempurna namun mati bagi hati seorang manusia.
"Elysianne... lihat aku!" pinta Cyprian sekali lagi, suaranya kini pecah.
Elysianne akhirnya melirik, namun hanya sesaat. Tatapannya melewati Cyprian seolah pria itu hanyalah debu yang lewat ditiup angin. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan menuju singgasana cahaya, meninggalkan Cyprian yang jatuh berlutut di atas lantai kristal yang dingin.