NovelToon NovelToon
BEBAN PUNDAK AMANDA

BEBAN PUNDAK AMANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: pinnyaple

Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAGIAN 15

Aku sedang mencari surat keterangan lahirku. Sesuai semalam mba Nia katakan, aku akan mencoba melamar di toko baru. Walaupun rasanya hatiku tidak enak, tapi kan ini juga disuruh sama Mba Nia sendiri.

Setelah aku temukan berkas itu aku menaruhnya di amplop. Katanya hanya butuh surat keterangan lahir dan kartu keluarga saja. Lalu kalau punya fotokopi KTP. Tapi aku belum punya.

"Manda?"

Aku mendengar ibu memanggilku. Aku keluar kamar setelah membawa tas ku.

"Kenapa bu?"

Ibu berdiri di depan pintu kamarku. "Apa kamu masih punya uang? Ibu minta buat naik ojek nanti."

Aku diam sebentar. "Ga ada bu. Ini masih nyisa sepuluh ribu buat pegangan aku nanti di warung."

Ibu berdecak. "Kenapa cepet banget habisnya sih. Boros banget kamu."

Aku menyela ucapan ibu yang tidak benar itu. "Bukan boros bu. Kemarin kan uangku diminta kak Toni juga buat beli makan katanya."

Ibu melengos. "Jadi kamu udah ga ada uang lagi?"

Aku menggeleng. "Ga ada bu."

Ibu pergi begitu saja. Masuk ke kamarnya. Aku menggeleng pelan, heran juga dengan watak ibu yang menurutku malah seperti gadis remaja. Menurutku begitu sih.

Aku berangkat kerja dengan membawa amplop yang sudah ku isi berkas tadi. Sampai di warung aku meletakkan barangku di dalam. Membantu mba Nia yang sudah pulang dari pasar seperti biasa.

"Kamu bawa apa yang aku minta semalam, man?"

Aku mengangguk. "Hanya fotokopi akta kelahiran dan kartu keluarga kan mba."

"Iya. Pas aku bilang kamu belum punya KTP sih mereka bilang ga papa." Mba Nia tersenyum padaku. "Semoga jadi rejekimu, man."

Aku ikut tersenyum pada mba Nia. "Makasih mba. Buat semuanya yang udah mba kasih buatku."

Mba Nia mengangguk sebagai respon.

Aku benar-benar berterimakasih pada mba Nia. Dia sudah ku anggap sebagai kakak perempuan ku. Mengayomi iya, dikasih tau sesuatu yang salah padaku dengan pelan dan penuh perhatian. Sesuatu yang sekarang tidak aku dapatkan dari keluarga ku sendiri.

"Nanti siang kamu datang ke toko itu. Disana ada yang jaga, kamu kasih aja itu sama dia."

Aku mengangguk. "Mba bener-bener ga papa, kan?" Aku kembali memastikan. Takut menyinggung hatinya.

Mba Nia malah tertawa renyah. "Kamu itu tanya seperti itu terus. Mba beneran ga papa. Malah seneng kalau nanti kamu dapet kerjaan yang lebih bagus. Yang lebih dari ini dan toko itu." Ucap mba Nia panjang lebar.

Terharu tentu saja. Mba Nia beneran sosok yang baik sekali. Padaku, pada orang lain juga.

"Mba. Aku pamit dulu ya."

Mba Nia mengangguk. "Hati-hati. Semoga keterima ya."

Aku mengangguk semangat. Sambil menenteng amplop coklat dan tas bahuku aku berjalan. Dibawah teriknya matahari. Jarak antara warung bakso dan toko tak terlalu jauh. Hanya butuh waktu lima menit karena tokonya terletak di tepi jalan raya besar di depan desa.

Aku sudah sampai. Bangunan nya tidak sebesar yang aku kira. Mungkin dua kali warung bakso. Tapi bedanya toko ini punya dua lantai.

Masih ada beberapa orang yang sedang membersihkan halaman depan. Toko belum resmi di buka sepertinya.

"Bapak. Maaf. Saya mau ngelamar kerja disini. Ini berkasnya di antarkan kemana ya?" Aku bertanya pada satu orang yang sedang mengangkut sisa-sisa kayu di halaman.

"Ohhh.... Iya iya. Masuk saja. Nanti ada orang di dalam kamu tanya lagi ya."

Aku tersenyum. "Terimakasih bapak." Lalu aku kembali masuk ke dalam toko itu. Hawa dingin langsung kurasakan di kulitku ketika masuk. Rasanya segar setelah tadi terpapar matahari.

Di dalam sudah terisi berbagai macam bahan makanan dan minuman. Bahkan cemilan ringan yang tidak pernah kutemukan di warung dekat rumah juga aku temukan disini.

Aku terus masuk ke dalam sampai bertemu orang berpakaian rapi. Berkemeja biru langit. Dengan celana hitam ketat dan sepatu kulit berkilau.

"Maaf. Permisi. Saya mau ngelamar kerja disini."

Orang itu menatapku sebentar. Seperti sedang menilai penampilan ku. Apa penampilanku ada yang salah? Aku hanya memakai blous merah muda dan celana jeans saja. Tak memakai sepatu tapi sandalku cukup bagus dan bersih kurasa.

Orang itu mengangguk. "Ayo, ikut aku."

Dia mengajakku ke sebuah ruangan di belakang. Saat dibuka ruangan itu hanya berisi meja dan kursi yang saling berseberangan. Di sampingnya ada sofa panjang. Jendela yang tepat berada di belakang kursi membuat ruangan itu terasa lebar. Yang aku tebak ukuran ruangan itu tak lebih luas dari kamarku di rumah.

"Duduk."

Aku duduk di salah satu kursi yang berhadapan itu. Orang itupun sudah duduk di seberangku. Di depannya laptop dan beberapa lembar amplop tergeletak.

"Coba lihat mana berkasmu."

Aku menyerahkan amplop coklat yang dari tadi aku pegang kepadanya. Tiba-tiba saja jantungku berdetak tak karuan. Ini benar-benar pengalaman pertamaku.

"Apa kamu tidak membuat surat lamaran kerja? Atau semacamnya?"

Aku menggeleng. "Tidak."

Orang itu kembali membaca surat yang kubawa.

"Namamu. Manda Aureli Putri?"

Aku mengangguk sebagai jawaban.

"Hanya ijazah SD?"

Aku mengangguk lagi. Suaraku tertahan di tenggorokan. Dan tenggorokanku tiba-tiba kering.

"Kamu masih usia 15 tahun sekarang. Betul?"

"Iya... Betul." Akhirnya suaraku keluar. Kupaksa agar suaraku bisa keluar.

"Masih kecil ya."

Aku diam saja.

"Apa tidak apa-apa jika kamu bekerja? Orang tuamu?"

Aku menggeleng. "Aku yatim pak. Baru setengah tahun yang lalu. Aku harus kerja buat ibu, pak."

Orang itu mengangguk anggukan kepalanya. "Kamu putus sekolah berarti?"

"Iya pak."

"Apa kamu punya keinginan untuk lanjut sekolah lagi atau tidak?"

Aku mengangguk mantap. "Tentu pak. Makanya aku kerja untuk menabung juga."

Orang di depanku mengangguk lagi. "Kamu sanggup kalau kerja dibawah tekanan?"

"Sanggup pak. Aku akan belajar dengan cepat nanti jika aku diterima."

"Toko ini akan menjual berbagai bahan makanan dan camilan. Dan saya sedang mencari orang untuk menjadi kasir. Tapi, tentu saja kerjanya tidak hanya mengasir. Tapi menghitung stok, menata barang dan mencatat keuangan untuk laporan."

Aku mendengarkan dengan baik.

"Jadi tentu akan banyak tekanan dari atasan. Apa kamu siap?"

Aku berpikir sejenak. "Aku siap pak."

"Bagus." Orang di depanku memasukkan lagi berkasku ke dalam amplop. "Kamu boleh tulis nomor telepon kamu biar gampang nanti dikabari."

Aku menerima selembar kertas kosong dan bolpoin. Menuliskan nomorku di atas kertas itu. Setelah selesai aku menyerahkan kembali kertas dan bolpoin itu.

"Baik. Kamu boleh pulang dulu. Nanti saya kabari lagi."

Aku mengangguk. "Terimakasih pak." Aku melangkah pergi. Sepanjang jalan aku berdoa, semoga aku diterima kerja di toko ini. Hitung-hitung sebagai pengalaman baruku. Syukur-syukur rejekiku bisa lebih bagus disini. Kan siapa tau.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!