NovelToon NovelToon
PEWARIS NAGA BIRU

PEWARIS NAGA BIRU

Status: tamat
Genre:Anime / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.

Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.

Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Status Murid Luar

Pengumuman hasil akhir ujian masuk diumumkan keesokan paginya di pelataran Aula Naga Putih. Dari tujuh peserta yang masuk Gua Iblis, empat berhasil keluar dengan selamat. Dua lainnya mengalami cedera mental parah dan harus dipulangkan. Satu tidak pernah keluar.

Seol berdiri di antara Baek Ho dan dua peserta lainnya—seorang pemuda kurus bernama Yoo Jin dari klan kecil di utara, dan seorang perempuan pendiam bernama Mi Rae yang tidak pernah berbicara tentang asal-usulnya. Mereka berempat adalah satu-satunya yang lolos.

Baek Yoon berdiri di depan mereka, gulungan kertas di tangannya dibuka lebar.

“Ryu Seol, Baek Ho, Yoo Jin, Mi Rae. Kalian dinyatakan lulus ujian masuk Sekte Pedang Surgawi. Selamat.”

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorak sorai. Hanya keheningan yang diisi oleh suara angin yang berdesir di antara pilar-pilar batu.

“Tapi,” lanjut Baek Yoon, dan kata itu menggantung di udara seperti pisau yang belum jatuh, “kalian tidak akan langsung menjadi murid dalam. Sesuai aturan sekte, setiap murid baru harus memulai sebagai murid luar selama setidaknya satu tahun. Kalian akan ditempatkan di asrama murid luar, menjalani tugas-tugas harian, dan hanya akan mendapat kesempatan untuk naik ke murid dalam jika kalian menunjukkan kemajuan yang cukup.”

Ia melipat gulungan itu dan menyelipkannya di lengan bajunya.

“Kang Jin akan mengantarkan kalian ke asrama. Ikuti dia.”

---

Asrama Murid Luar

Kang Jin berjalan di depan mereka dengan langkah cepat, tidak pernah menoleh, tidak pernah berbicara. Mereka melewati gerbang utama sekte, melewati Aula Pedang Surgawi, melewati deretan bangunan megah dengan atap biru kehijauan, dan terus berjalan ke arah barat.

Semakin jauh mereka berjalan, semakin berubah pemandangan di sekitar mereka. Bangunan-bangunan megah perlahan digantikan oleh gubuk-gubuk kayu sederhana. Jalan batu yang rapi berubah menjadi tanah becek. Udara yang dulu harum dengan bunga sakura kini bercampur dengan bau tanah basah dan kayu lapuk.

Mereka berhenti di depan sebuah bangunan kayu panjang yang terlihat sudah sangat tua. Atap jeraminya berlubang di beberapa tempat, dinding kayunya retak-retak, dan pintunya miring pada engsel yang berkarat. Di halaman depan, beberapa orang dengan seragam abu-abu lusuh sedang membersihkan area, menumpuk kayu bakar, atau memperbaiki peralatan rusak.

“Ini asrama murid luar,” kata Kang Jin, suaranya datar. “Kamar kalian di ujung barat. Makan tiga kali sehari di ruang makan bersama, tapi kalian harus masak sendiri. Tugas harian akan diberikan setiap pagi oleh pengawas. Jangan terlambat, jangan membantah, jangan membuat masalah.”

Ia menatap mereka satu per satu dengan mata yang tidak menyembunyikan rasa meremehkan.

“Selamat datang di Sekte Pedang Surgawi. Semoga kalian bertahan.”

Ia berbalik dan pergi tanpa menunggu jawaban.

Baek Ho menatap asrama itu dengan mulut sedikit terbuka. “Ini… ini asramanya?”

Yoo Jin, pemuda kurus dengan kacamata bambu di hidungnya, menghela napas panjang. “Aku sudah dengar cerita tentang murid luar. Tapi tidak kira akan separah ini.”

Mi Rae diam. Ia hanya menatap bangunan itu dengan mata yang tidak bisa dibaca, lalu berjalan masuk tanpa berkata apa-apa.

Seol mengikuti. Ia sudah terbiasa dengan tempat seperti ini. Gubuknya di Desa Cheonho tidak lebih baik dari ini. Bahkan mungkin lebih buruk.

---

Hari-Hari Pertama

Kamar Seol berukuran sangat sempit—hanya cukup untuk satu tikar tipis, satu meja kecil, dan satu lentera minyak yang hampir habis. Dinding kayunya retak, membiarkan angin malam masuk dengan bebas. Lantainya tanah, lembab, dan berbau apek.

Tapi Seol tidak mengeluh. Ia menggulung tikasnya, duduk bersila di atasnya, dan memejamkan mata. Latihan qi. Setiap malam. Tidak pernah terlewat.

Pagi harinya, tugas pertama diberikan oleh pengawas—seorang pria paruh baya dengan wajah masam yang tidak pernah memperkenalkan namanya. Seol mendapat tugas membersihkan area latihan murid dalam: menyapu daun, membersihkan kotoran, dan mengangkut air dari sumur ke tempat latihan.

Tugas itu berat. Area latihan murid dalam luasnya sepuluh kali lipat dari pelataran Klan Ryu. Menyapu saja sudah menghabiskan waktu tiga jam. Mengangkut air—dengan dua ember besar di setiap tangan, naik turun bukit—membuat otot-otot lengannya terasa seperti terbakar.

Tapi Seol tidak mengeluh. Ia melakukan tugasnya dengan diam, dengan efisien, tanpa pernah berhenti untuk beristirahat lebih dari yang diizinkan.

Pada hari ketiga, Baek Ho menemukannya di sumur, sedang mengisi ember-embernya.

“Kau tidak lelah?” tanya Baek Ho, wajahnya merah karena kelelahan. Ia sendiri mendapat tugas memotong kayu bakar—pekerjaan yang cocok dengan kekuatan fisiknya, tetapi tetap menguras tenaga.

“Lelah,” jawab Seol. “Tapi tidak bisa berhenti.”

Baek Ho menghela napas. “Kau tahu, beberapa murid luar yang lebih senior bilang bahwa kebanyakan murid luar tidak pernah naik ke murid dalam. Mereka hanya menjadi… pekerja. Selama bertahun-tahun. Sampai mereka menyerah dan pulang.”

Seol mengangkat dua ember penuh, airnya hampir tumpah karena beratnya, tetapi ia menyeimbangkannya dengan qi-nya—sedikit, cukup untuk mengurangi beban.

“Maka aku tidak akan menjadi ‘kebanyakan’,” katanya.

Baek Ho menatapnya, lalu tersenyum. “Aku juga.”

---

Malam Hari – Latihan Diam-Diam

Setelah tugas harian selesai, setelah semua murid luar lainnya tidur, Seol keluar dari asramanya. Ia berjalan ke hutan kecil di belakang asrama, tempat yang ia temukan pada hari pertama—sebuah tempat terbuka kecil di antara pepohonan, tersembunyi dari pandangan, cukup untuk berlatih.

Di sini, tanpa ada yang melihat, ia berlatih.

Pedang Bayangan. Setiap malam, ia mengulang gerakan yang sama ratusan kali. Kini ia bisa menciptakan tiga bayangan sekaligus, bertahan hingga tiga puluh detik. Tidak sekuat yang Gu inginkan, tetapi lebih baik dari sebelumnya.

Ia juga berlatih mengalirkan qi ke seluruh tubuhnya, memperkuat otot-otot yang lemah, mempercepat refleks yang tumpul. Setiap tetes keringat adalah investasi. Setiap rasa sakit adalah harga yang harus dibayar.

Malam keempat, saat ia sedang berlatih, ia merasakan sesuatu.

Seperti ada yang mengamati.

Ia berhenti, matanya menyapu kegelapan di antara pepohonan. Tidak ada siapa pun. Tapi ia yakin—ia tidak sendirian.

“Mungkin hanya khayalan,” pikirnya. Tapi ia tetap waspada.

Ia melanjutkan latihan, tetapi kali ini dengan setengah pikirannya terfokus pada sekelilingnya.

Tidak ada yang muncul. Setelah satu jam, ia kembali ke asrama dengan langkah pelan, tidak pernah menoleh.

Tapi di balik pepohonan, di tempat yang paling gelap, sepasang mata hitam pekat mengamatinya pergi.

---

Hari Kelima – Kedatangan yang Tak Terduga

Seol sedang membersihkan area latihan murid dalam ketika ia mendengar langkah kaki dari belakang.

Bukan langkah kaki biasa. Langkah kaki ini ringan, hampir tidak bersuara, tetapi ada tekanan dalam setiap hentakannya—tekanan qi yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Ia menoleh.

Seol Hwa berdiri di belakangnya, hanya beberapa langkah. Hari ini ia mengenakan seragam murid dalam biru dengan sulur emas di kerah dan pinggang, rambut hitamnya diikat ke belakang dengan pita putih sederhana. Di pinggangnya, tersandang sebuah pedang panjang dengan sarung putih polos—tidak ada hiasan, tidak ada ornamen, tetapi ada aura yang terpancar darinya yang membuatnya terlihat lebih mematikan daripada pedang mana pun yang pernah Seol lihat.

“Ryu Seol,” katanya, suaranya datar.

Seol berhenti menyapu. Ia membungkuk hormat. “Sabeom-nim.”

Seol Hwa tidak membalas hormat. Ia hanya berdiri di sana, menatap Seol dengan mata yang tidak bisa dibaca.

“Kau bekerja keras,” katanya. Bukan pujian. Hanya pernyataan.

Seol tidak menjawab. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Seol Hwa berjalan mengelilinginya, langkahnya lambat, seperti sedang mengamati barang dagangan di pasar. Matanya menyapu tubuh Seol dari ujung kepala hingga ujung kaki—menilai otot-ototnya yang masih kurus, seragam abu-abunya yang lusuh, sapu kayu di tangannya.

“Tugasmu,” katanya, “membersihkan area latihan. Tugas rendahan. Pekerjaan kuli.”

Seol masih tidak menjawab.

“Kau tidak marah? Tidak kecewa?” Seol Hwa berhenti di depannya, jarak hanya satu langkah. “Setelah melewati tiga ujian—setelah mendengar nyanyian pedang, setelah menjadi yang pertama keluar dari Gua Iblis—kau hanya diberi sapu dan ember. Dan kau terima begitu saja.”

Seol mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan mata Seol Hwa—mata hitam pekat yang dingin, tetapi ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang mirip dengan… ujian.

“Aku di sini untuk belajar,” kata Seol. “Bukan untuk status. Jika membersihkan lantai adalah harga yang harus kubayar untuk berada di sini, maka aku akan membersihkan lantai. Sebaik mungkin.”

Seol Hwa menatapnya untuk waktu yang lama.

Kemudian ia tersenyum.

Bukan senyum ramah. Bukan senyum hangat. Ini adalah senyum yang dingin, tajam, dan penuh teka-teki. Senyum yang membuat Seol merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan—seperti ada pisau tersembunyi di balik kain beludru.

“Jangan harap kau bisa bertahan lama di sini,” katanya.

Suaranya tidak keras. Tidak mengancam. Tapi kata-kata itu menggantung di udara seperti pedang yang tergantung di atas kepala.

Ia berbalik dan melangkah pergi. Langkahnya ringan, hampir melayang di atas tanah, dan dalam hitungan detik, ia sudah menghilang di balik bangunan-bangunan sekte.

Seol berdiri di tempatnya, sapu di tangan, napasnya teratur. Dadanya terasa sedikit sesak—bukan karena tekanan qi, tetapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa ia kenali.

Peringatan? Tantangan? Atau…?

Ia tidak tahu. Tapi satu hal yang ia tahu: Seol Hwa bukanlah orang yang datang hanya untuk mengatakan sesuatu tanpa alasan.

Ada maksud di balik kata-katanya. Ada pesan yang tersembunyi.

Ia kembali menyapu. Daun-daun kering bergerak di bawah sapunya, berdesir pelan.

“Jangan harap kau bisa bertahan lama di sini.”

Ia akan membuktikan bahwa dia salah.

---

Malam Hari – Di Kamar Seol

Seol duduk di atas tikar tipisnya, memusatkan qi. Pusaran di dadanya berputar stabil, lebih kuat dari minggu lalu. Latihan diam-diam di hutan membuahkan hasil—perlahan, tetapi pasti.

Ia membuka mata. Tangan kanannya terangkat, dan tiga bayangan tangan muncul di depannya—padat, jelas, bertahan selama hampir satu menit sebelum menghilang.

Tiga bayangan. Tiga puluh detik lebih. Masih jauh dari cukup.

Ia membutuhkan lebih banyak waktu berlatih. Tapi tugas harian menyita sebagian besar energinya. Dan jika ia terus berlatih di hutan setiap malam, suatu saat ia akan ketahuan.

Tapi ia tidak punya pilihan.

Ia meraih Batu Giwa di sakunya. Batu itu dingin, tetapi ada denyut hangat di dalamnya—masih ada, meski lemah.

“Gu,” bisiknya. “Aku akan bertahan. Aku akan menjadi lebih kuat. Aku janji.”

Denyut itu berdetak sekali, lebih kuat dari biasanya. Seperti jawaban. Seperti dukungan.

Seol tersenyum kecil. Ia berbaring di tikar tipisnya, menatap langit-langit yang retak, dan memejamkan mata.

Besok, tugas yang sama. Sapu dan ember. Keringat dan rasa sakit.

Tapi besok juga, ia akan berlatih lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Sampai suatu hari, ia tidak lagi menjadi murid luar.

Sampai suatu hari, ia cukup kuat untuk menepati janjinya.

---

Di Kediaman Murid Dalam – Malam yang Sama

Seol Hwa duduk di beranda kamarnya, memandang ke arah barat—ke arah asrama murid luar yang hanya terlihat sebagai titik-titik cahaya redup di kejauhan.

“Kau pergi ke sana hari ini,” suara dari belakangnya.

Ia tidak menoleh. Ia sudah tahu siapa yang datang.

Kang Jin berdiri di ambang pintu, tangan disilangkan di dada, wajahnya setengah teduh oleh bayangan.

“Hanya melihat,” kata Seol Hwa datar.

“Melihat apa? Murid luar yang membersihkan lantai?” Kang Jin mendekat, berdiri di sampingnya. “Seol Hwa, kau tidak pernah peduli pada murid luar. Kenapa dia berbeda?”

Seol Hwa tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada titik-titik cahaya di kejauhan.

“Dia menarik,” katanya akhirnya. “Tidak lebih.”

Kang Jin menghela napas. “Hati-hati. Murid luar adalah murid luar. Mereka jarang yang bertahan. Dan yang bertahan pun…” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Seol Hwa tersenyum kecil. Senyum yang sama yang ia tunjukkan pada Seol sore tadi. Dingin, tajam, penuh teka-teki.

“Kita lihat saja.”

Ia berdiri, melangkah masuk ke dalam kamarnya, dan menutup pintu tanpa berkata apa-apa lagi.

Kang Jin berdiri di beranda, menatap pintu yang tertutup. Di dadanya, ada sesuatu yang mengganjal—sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Seol Hwa. Dan murid luar itu.

Ia tidak suka perasaan ini.

---

1
yos helmi
💪💪💪💪💪😍😍😍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😍😍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
👍👍👍👍🤣🤣💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍
yos helmi
💪💪💪💪👍👍👍
Daryus Effendi
sampah
R.A.N
mana author
Q. Zlatan Ibrahim: halo terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
R.A.N
halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!