NovelToon NovelToon
Runtuhnya Tahta Langit

Runtuhnya Tahta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Warisan di Dasar Jurang

Cincin hitam itu terasa dingin di jari manis Xiao Chen. Bukan dingin yang menusuk seperti es, melainkan dingin yang menenangkan—seperti batu sungai yang tersentuh air mengalir selama ribuan tahun. Ia mengamati cincin itu lebih dekat. Permukaannya polos, tidak ada ukiran, tidak ada permata. Tapi di balik kesederhanaannya, Xiao Chen bisa merasakan sesuatu yang besar tertidur di dalamnya.

Cincin penyimpanan? pikirnya.

Di dunia kultivasi, cincin penyimpanan adalah benda berharga. Hanya murid inti dan tetua sekte yang memilikinya. Xiao Chen pernah melihat Zhao Ling'er memakai satu—cincin perak dengan permata biru kecil—dan ia ingat betapa irinya saat itu. Sekarang, di jarinya sendiri, ada cincin yang entah berapa kali lipat lebih berharga.

Ia menutup mata, mencoba memasukkan kesadarannya ke dalam cincin. Teknik ini disebut "Pemindaian Roh", sesuatu yang bahkan pelayan sepertinya pernah dengar. Biasanya, dibutuhkan setidaknya Alam Pemurnian Qi tingkat tiga untuk melakukannya. Tapi Xiao Chen tidak punya Qi. Ia hanya punya... tulang.

Coba saja.

Ia memfokuskan pikirannya pada simbol retak di dadanya. Simbol itu berdenyut pelan, dan tiba-tiba, Xiao Chen merasakan sesuatu mengalir dari tulang-tulangnya menuju jari manisnya. Bukan Qi. Bukan energi spiritual. Tapi sesuatu yang lebih berat, lebih padat—seperti logam cair yang mengalir di dalam sumsum.

Bzzzt.

Dunia di sekelilingnya menghilang. Xiao Chen membuka mata—bukan mata fisiknya, melainkan mata kesadarannya—dan mendapati dirinya berdiri di sebuah ruangan kosong seluas lapangan latihan Sekte Langit Pedang.

Tapi ruangan ini tidak benar-benar kosong.

Di sudut-sudutnya, ada tumpukan benda-benda yang membuat napas Xiao Chen tercekat. Pedang-pedang kuno dengan bilah berkarat namun memancarkan aura mengerikan. Botol-botol giok berisi cairan bercahaya. Gulungan-gulungan kitab yang ditumpuk setinggi pinggang orang dewasa. Dan di tengah ruangan, mengambang di udara, ada sebuah bola logam hitam seukuran kepalan tangan, berputar pelan tanpa suara.

"Ruang Warisan," suara lelaki tua dari altar tadi bergema di ruangan ini. "Semua yang tersisa dari Ras Dewa Patah. Senjata, pil, teknik, dan... Pecahan Inti Leluhur."

Xiao Chen mendekati bola logam hitam itu. Semakin dekat ia melangkah, semakin berat udaranya. Seolah-olah bola itu memiliki gravitasinya sendiri.

"Jangan sentuh dulu. Kau belum siap. Mulailah dari yang paling dasar."

Xiao Chen mengangguk, meskipun ia tidak tahu apakah sosok lelaki tua itu bisa melihatnya. Ia berjalan ke sudut tempat gulungan-gulungan kitab ditumpuk. Jari-jarinya menyentuh satu gulungan acak, dan begitu kulitnya bersentuhan dengan kertas kuno itu, informasi langsung mengalir ke dalam benaknya.

"Catatan Leluhur Pertama: Asal-Usul Tulang Patah Surga."

Xiao Chen duduk bersila di lantai ruangan kesadaran itu, dan mulai membaca.

---

"Surga menciptakan manusia dengan cetakan yang sama: Dantian sebagai pusat, meridian sebagai sungai, akar spiritual sebagai pintu. Itulah Hukum Dao. Itulah Takdir.

"Tapi kami, Ras Dewa Patah, lahir dari kesalahan. Dari retakan pertama di tubuh Semesta. Kami tidak memiliki Dantian yang sempurna. Meridian kami kacau. Akar spiritual kami retak. Di mata Surga, kami adalah produk gagal yang seharusnya tidak pernah ada.

"Namun dari kegagalan, lahirlah keunikan.

"Karena kami tidak bisa menyimpan Qi di satu tempat, kami belajar menyebarkannya. Setiap retakan di tulang kami menjadi wadah. Setiap patahan menjadi gudang. Semakin banyak kami bertarung dan terluka, semakin banyak retakan yang terbentuk, dan semakin besar kapasitas kami menyimpan energi.

"Surga menyebut kami monster. Tapi kami menyebut diri kami... Bebas."

---

Xiao Chen membuka mata. Tubuhnya—tubuh fisiknya di dunia nyata—terasa panas. Simbol di dadanya berdenyut lebih cepat.

Ia mengerti sekarang.

Selama ini, kultivator biasa berlomba-lomba melindungi tubuh mereka dari luka. Mereka meminum pil pemulihan, menghindari pertarungan yang bisa merusak meridian, dan memperkuat Dantian mereka seperti benteng. Tapi Ras Dewa Patah melakukan sebaliknya. Mereka mencari luka. Setiap patah tulang adalah kesempatan untuk menjadi lebih kuat.

Itu sebabnya aku tidak mati, pikir Xiao Chen. Tulang rusuknya yang patah—yang seharusnya membuatnya lumpuh atau tewas—justru menjadi katalis yang membangkitkan garis keturunannya.

Ia melanjutkan membaca ingatan dari gulungan itu.

---

"Teknik Tubuh Naga Chaos adalah jalan kami. Ada sembilan tingkatan, masing-masing sesuai dengan jumlah tulang utama yang 'dibangunkan'. Tingkat pertama: Membangkitkan Tulang Dada. Tingkat kedua: Tulang Punggung. Tingkat ketiga: Tulang Lengan. Dan seterusnya, hingga seluruh dua ratus enam tulang dalam tubuh manusia menjadi istana bagi Kekuatan Chaos.

"Peringatan: Jangan pernah membangkitkan lebih dari yang bisa ditanggung jiwamu. Banyak leluhur kami yang menjadi gila karena tubuh mereka terlalu kuat untuk dikendalikan kesadaran."

---

Xiao Chen menelan ludah. Dua ratus enam tulang. Ia baru membangkitkan satu—tulang dadanya—dan itu sudah terjadi secara tidak sengaja.

Ia membuka gulungan berikutnya. Kali ini, isinya adalah instruksi praktis.

"Teknik Tubuh Naga Chaos: Tingkat Pertama - Pernapasan Tulang."

"Duduk bersila. Fokus pada retakan di tulang dadamu. Tarik napas bukan dengan paru-paru, tapi dengan tulang. Biarkan udara—bukan Qi—masuk ke dalam retakan itu. Rasakan tulangmu bernapas. Rasakan ia lapar."

Xiao Chen kembali ke tubuh fisiknya. Ia duduk bersila di depan altar, meniru posisi yang digambarkan dalam ingatan gulungan itu. Serigala Bumi Beracun menatapnya dengan kepala miring, seolah bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan tuannya.

Tarik napas.

Bukan dengan hidung. Bukan dengan dada. Tapi dengan... tulang.

Awalnya tidak terjadi apa-apa. Xiao Chen merasa bodoh. Bagaimana mungkin tulang bernapas? Tulang adalah benda mati. Tulang adalah kerangka yang—

Krrrk.

Suara itu. Suara retakan kecil. Bukan retakan baru, melainkan retakan yang sudah ada—retakan di tulang dadanya—yang tiba-tiba bergerak. Melebar sedikit, lalu menyempit. Seperti mulut ikan yang terengah-engah di permukaan air.

Udara di sekelilingnya—bukan Qi, tapi udara biasa yang bercampur racun di dasar jurang—mulai tersedot ke arah dadanya. Bukan masuk ke paru-paru, tapi masuk ke dalam tulang.

Sensasinya aneh. Seperti ada seribu jarum kecil yang menusuk dari dalam, tapi tidak menyakitkan. Justru... menyegarkan.

Xiao Chen melanjutkan pernapasan itu. Tarik. Hembus. Tarik. Hembus. Setiap tarikan, retakan di tulang dadanya menyerap sesuatu dari udara. Setiap hembusan, ia mengeluarkan sisa-sisa kotoran yang selama ini mengendap di tubuhnya—racun, sisa obat-obatan murahan, bahkan sisa-sisa Qi yang dulu pernah ia coba kumpulkan dengan sia-sia.

Satu jam berlalu.

Dua jam.

Ketika akhirnya ia membuka mata, Xiao Chen merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya: tubuhnya terasa ringan. Bukan ringan karena kurus dan lemah, tapi ringan karena setiap otot dan tulangnya berada di tempat yang seharusnya.

Ia mengepalkan tangan kanannya.

Krek.

Suara buku-buku jari yang berbenturan. Tapi kali ini, ada kekuatan di baliknya. Xiao Chen memukul pelan lantai batu di bawahnya.

Duk!

Tidak ada kerusakan. Tapi ia bisa merasakan getaran pukulannya merambat lebih jauh dari yang seharusnya.

"Bagus," suara lelaki tua itu muncul lagi. "Kau lebih cepat dari yang kuduga. Mungkin karena kau sudah menjalani kehidupan yang keras. Tubuhmu sudah terbiasa dengan penderitaan. Itu modal yang baik."

Xiao Chen mendongak. "Apa yang harus kulakukan selanjutnya?"

"Bertahan hidup. Di dalam cincin itu ada cukup pil dan senjata untuk membantumu keluar dari jurang ini. Tapi ingat: begitu kau keluar, kau tidak boleh kembali ke kehidupan lamamu. Sekte Langit Pedang, Zhao Ling'er, Wei Tianxing... mereka bukan lagi urusanmu. Urusanmu sekarang adalah menjadi cukup kuat sebelum Surga menyadari keberadaanmu."

Xiao Chen terdiam. Wajah Zhao Ling'er—dingin, menghina, penuh jijik—melintas di benaknya. Wajah Wei Tianxing yang tersenyum puas saat ia jatuh ke jurang. Wajah Tetua Ma yang menamparnya tanpa alasan.

Mereka bukan urusanku lagi?

Xiao Chen mengepalkan tangannya lebih erat.

"Tidak," katanya pelan. "Mereka adalah urusanku. Mereka adalah alasan aku masih hidup. Dan suatu hari... aku akan kembali. Bukan untuk membalas dendam. Tapi untuk menunjukkan pada mereka... apa yang mereka buang."

Keheningan.

Lalu suara lelaki tua itu tertawa kecil. Tawa yang terdengar lelah, tapi juga bangga.

"Kau benar-benar keturunan Ras Dewa Patah. Dendam dan ambisi mengalir di tulangmu sama derasnya dengan darah."

Xiao Chen bangkit berdiri. Ia menatap altar, lalu menatap Serigala Bumi Beracun yang masih duduk patuh di sampingnya.

"Kau," katanya pada monster itu. "Mulai hari ini, namamu... Hui." Abu-abu. Warna kabut racun yang menjadi rumah mereka sekarang.

Serigala itu menggeram pelan, lalu menjilat tangan Xiao Chen.

Xiao Chen tersenyum tipis. Senyum pertamanya sejak ia dilempar ke jurang ini.

"Hari ini kita berdua tinggal di dasar neraka. Tapi suatu hari, Hui... kita akan naik. Dan Langit akan tahu bahwa kami, yang dibuang, adalah yang paling berbahaya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!