Dengan kasar Arga melepas manik-manik yang menghiasi kepala istrinya, melepas kasar jilbab beserta ikatan rambutnya. Banyak helaian rambut yang tercabut membuat Mawar meringis kesakitan.
“hentikan aku mohon!! Hiks hiks”
Allih-alih memperdulikan Mawar yang menangis ketakutan Arga lebih memilih meneruskan perbuatannya memaksa melepaskan kebaya putih yang menutupi tubuh mawar. Sekuat apapaun mawar melawan jelas tenaganya tak sebanding dengan Arga yang kini telah tersulut emosi. Perkataan mamahnya mengiang jelas difikirannya bukan pernikahan seperti ini yang mawar harapkan, memang dengan Arga ia ingin membangun rumah tangga tapi tidak seperti ini. Dirinya dipaksa melepas pakaian dengan kasar oleh suaminya sendiri hingga kini ia sudah pasrah karna kebaya yang menutupi tubuh atasnya telah terlepas menyisakan bra hitam yang dengan setia menutupi gunung kembarnya. Arga menghentikan aktivitasnya menatap manik mata sang istri yang segera menunduk ketakutan.
“ini pilihanmu Mawar, jangan salahkan aku”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon afrabaik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang tertunda
Mawar menatap Alif, dan malu malu mengangguk. Dengan seizinnya, alif mengangkat tubuh mawar, membawanya ke kamar dan membaringkannya perlahan.
“kamu punya wudhu??”
“punya, aku belum batal setelah solat isa tadi”
Alif beranjak dari posisinya, berjalan menuju kamar mandi dan berwudhu. Kemudian ia membuka kaosnya, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang amat indah. Apalagi basah karna tetesan bekas air wudhu di wajahnya. Alif kembali mencium kening mawar, mendo’akan sesuatu dan meniupnya.
“walau ini bukan yang pertama, tapi akan ku buat seperti yang pertama”
‘apa maksudnya bukan yang pertama?? Aku kan masih perawan’ batin mawar
Perlahan alif menurunkan wajahnya, menyapa bibir manis istrinya. Mawar terlalu terbuai dengan sentuhan alif hingga tak terasa kegiatan itu mulai memanas, entah sejak kapan mawar melucuti pakaiannya hingga sesuatu mendesak di bawah sana.
“hmmm??!!” Alif melepaskan ciumannya. Segera melihat wanita yang ia tindih menangis.
“ka kamu masih perawan??” mawar mengangguk lemas, mengingat perlakuan alif yang tanpa aba-aba menerobos masuk hingga membuat sesuatu di bawah sana robek seketika.
“maaf” alif kembali melanjutkan kegiatannya, berusaha mengalihkan sakitnya menjadi nikmat.
Malam itu mereka habiskan dengan suka cita dan penuh tenaga. Hal berharga yang ia jaga kini telah ia serahkan kepada lelaki yang paling ia sayangi. Mawar bahagia melihat alif terus tersenyum dan makin hangat setelah kegiatan itu. Apa lagi kini alif mengizinkan mawar untuk penelitian di bandung ‘waahh, manjur juga. Seminggu sebelum kepergiannya, alif terus meminta jatah tiap malamnya bahkan bisa sampai berkali-kali ‘memang lekaki, gk ada pusnya’.
“aku berangkat yah mas”
“iya, aku akan sering-sering melihatmu ke sana. Jangan lupa solat”
“iya mas”
Cuup!
Mawar pun pergi.
“mawar tunggu”
“ada apa?”
Cuuup!!
“mas ih malu” mawar memukul alif yang dengan berani mencium bibirnya di tempat umum. Yang di pukul hanya tertawa, melambaikan tangan lalu berdiam melihat kepergian sang istri memasuki RS.
Riko memanggil alif, memintanya untuk segera datang ke RS karna baru saja ada kecelakaan beruntun dan semua korban menuju RS Bakti Insani. Alif segera menutup telepon dan melaju sebisa mungkin. Tangis korban dan keluarga memekakan telinga. Satu hal yang menarik perhatiannya, selagi ia melakukan RJP di atas tandu dorong, sekilas sudut matanya menangkap sosok anak kecil yang menangis di sudut Lorong sendirian. Alif berusaha menyelamatkan bapak tua yang tertusuk belahan besi mobil di paha kiri. Memasok darah dan menyetabilkan denyut selagi ia konsentrasi melepas beberapa potongan besi yang masih bersarang di tubuhnya. Seharian mencium bau amis dan sengatan bahan kimia membuat kepalanya pusing.
“hmmmm… lepaskan!!”
Teriakan seseorang kembali membuatnya sadar, dan segera berlari mencari sumber suara.
Melinda dengan pakaian seksinya semakin membuatnya seksi akibat noda darah yang membuatnya harus melepaskan beberapa kancing baju demi membersihkan bekasnya. Salah seorang keluarga pasien yang nampak tergiur dengan kemolekan tubuhnya, mengikuti melinda sampai ke kamar mandi. Beruntung alif lewat dan mendengar teriakannya, membuat si mesum lari tunggang langgang meninggalkan melinda yang terisak.
“kamu gkpp??” alif melepas jas dokternya, memakaikannya untuk melinda dan tak lupa ia kancingkan untuk menutupi seseluruhan badannya.
“hiks hiks hiks”
“sudah aku bilang ganti pakaianmu”
alif memapah melinda menuju ruangannya. Membuatkannya teh daun hijau untuk sekedar menenangkan dari syok atas kejadian yang menimpanya.
“minumlah”
“te terimakasih mas hiks hiks hiks”
dengan sengaja ia memeluk alif erat. Alif ingin melepaskannya, tapi tak tega dengan keadaan melinda yang seperti ini.
“cha, mulailah membuka hati. Aku tidak akan pernah kembali padamu karna aku sudah memiliki mawar. Cintailah dirimu cha, akan aku bantu mencarikan seseorang yang bisa menjagamu"
“yang bisa menjagaku cuman mas! Cuman mas Alif. Aku mohon mas, aku bersedia jadi istri kedua mas”
“aku tidak mungkin menduakan mawar cha, dia terlalu berharga untukku”
“kalo begitu mas harus berjanji satu hal sama echa. Mas alif harus tetep jagain echa sebagai adik mas alif sampai echa bisa berubah dan dapetin pasangan. Mau yah mas??”
“aku harus minta izin dulu sama mawar”
“aku yakin istri mas yang baik itu gak akan keberatan kok, lagipula mas alif gak akan bisa jatuh cinta sama aku kan??”
“aku akan tetap bicara padanya”
Melinda semakin mengeratkan pelukannya membuat alif merasa terganggu dan kini berusaha melepaskannya.
“biar ku antar pulang”
“ti tidak usah mas, aku bisa pulang sendiri. Tapi tolong temani aku beberapa menit lagi”
Alif merapihkan berkas yang harus ia bawa dan segera pulang setelah mendapat pesan bahwa mawar ada di rumah. Sementara melinda meninggalkan ruangan beberapa saat yang lalu.
“mas??” mawar menyambut kedatangan alif dan membawakan tasnya.
“hmmm! Bau amis bgt sih mas, mandi gih. Kamu pasti cape. Biar aku yang beresin ini. Mas udah makan??” lanjutnya, perhatian.
“udah, mas mandi dulu yah”
“iya”
Alif menuju kamar mandi sementara mawar menata berkas bawaan alif di ruang kerja. Mawar menunggu suaminya di atas ranjang, memperhatikan tubuh alif yang masih basah sambil meneguk air putih.
“ngedip sayang”
“hemmmmm?” mawar tersedak karna alif yang tiba-tiba memergokinya yang sedang memperhatikan alif.
Alif menghampiri dan mengambil gelas bekas mawar.
“sebelah mana tadi kamu minum??”
“sebelah sini” mawar menunjuk bekas bibirnya yang pasti dihindari alif.
“biar ku ambilkan gelas yang baru saja mas. hmm?? Kok minum di bekas bibirku??”
“biar tambah manis” senyumnya.
Sementara mawar telah terbang ke awang awang akibat ulah suaminya yang ternyata sangat romantis. Alif membaringkan tubuhnya di samping mawar, terlentang.
“capek yah?? aku pijitin yah” ia beranjak dari posisi kemudian alif menariknya.
“tidak usah, peluk aku saja sayang. Maaf malam ini aku tidak bisa mendengarkan cerita keseharianmu”
Mawar tersenyum, karna setelah alif mengucapkan kaliamat itu dia langsung tertidur. Setiap malam mawar selalu menceritakan kegiatan unik hariannya. Atau terkadang alif yang menceritakan kisah-kisah sahabat nabi. Sesimpel itu tapi sangat menyentuh.
Mawar bangun lebih pagi, menyiapkan beberapa potong roti, merapihkan tas suaminya, menyiapkan pakaiannya dan mencium kening suaminya yang belum bangun. Alif bangun setelahnya, memeriksa pesan dari istrinya bahwa ia harus segera kembali ke RS bandung dan mulai besok ia akan tinggal di mes.
buat author, semangat ya, tetap lanjutkan donk ceritanya...