.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PaRaS_Sllh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16~
Satu Bulan kemudian................
Pada saat Desi bangun tidur, dia merasa pusing, perutnya tidak enak rasanya seperti di aduk-aduk, lalu tiba-tiba Desi langsung bwrlari ke kamar mandi. Dia memuntahkan makanan yang di makannya semalam dan dia merasa sangat mual.
Setelah selesai muntah, dia kumur-kumur dan membersihkan mulutnya, lalu dia menyandarkan tubuhnya ke dinding kamar mandi dan dia mengeluarkan air mata habis muntah tadi. Dia merasa sangat lemas.
Dia pun keluar dari kamar mandi dan mengambil pakaian gantinya, lalu dia kembali masuk ke kamar mandi untuk mandi. Setelah selesai mandi, dia pun turun ke bawah untuk sarapan.
Pada saat dia memakan makanan yang yang di masak oleh Melani, tiba-tiba dia merasa sangat mual dan segera dia berlari ke wastafel yang berada di dapur.
hoek...hoek...hoek...
Dia terus muntah hingga akhirnya selesai dan dia pun merasa lemas. Lalu dia kumur-kumur dan mencuci mulutnya. Setelah selesai, dia pun kembali ke meja makan, tapi dia tidak memakan makanan yang di masak oleh Melani.
"Melani, makanan apa ini yang kau masak? Kenapa rasanya sangat tidak enak? Aku sangat tidak menyukai makanan masakanmu dan aromanya juga tidak sedap sungguh sangat bau."kata Desi.
"Masakanku rasanya seperti biasa, Des. Rasanya tidak pernah berubah. Lidahmu saja yang salah mukin."jawab Melani.
"Maafkan aku kalau kau tersinggung dengan apa yang ku katakan. Tolong jangan di masukkan ke hati."kata Desi dengan suara lemahnya.
"Ini bukan yang pertama kalinya kau mengatakan makanan yang ku masak tidak enak, aromanya sangat bau. Tapi, sudah seminggu ini kau mengatakan itu. Aku tahu kau tidak menyukaiku, kan? Tapi kau tidak perlu menghina makanan yang ku masak."balas Melani air mata yang sudah menetes di pipinya.
"Kalau kamu tidak mau memakan masakannya Melani, jangan kau menghina masakannya Melani. Kau sudah membuat hatinya sakit dan kau juga sudah membuatnya menangis."bentak Candra pada Desi dengan emosi karena sudah membuat Melani sang istri tercintanya menangis.
"Kalian kenapa sih? hah? Apa kalian tidak tahu perasaanku selama ini pada kalian? Apa kalian tahu seberapa sakit hatiku kalian bikin terutama padamu Candra. Tapi aku tak pernah sekalipun berniat untuk membalas dendam pada kalian, tidak pernah. Dan untuk masalah makanan yang di masak Melani, aku juga tidak tahu kenapa aku tidak tahu dengan masakannya Melani. Memang selama seminggu ini, ketika aku melihat makanan yang di masak Melani dan aku memakannya, aku langsung mual dan muntah. Akhir-akhir ini aku juga sering meras lemas, pusing, mual dan muntah, itu pun terjadi setiap pagi. Apa kau fikir aku menghina makanan masakanmu? Aku juga merasa ada yang aneh dengan diriku akhir-akhir ini. Aku juga tidak tahu ada apa dengan diriku yang sebenarnya. Kalian tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini." kata Desi dengan suara bergetar dan air matanya berhasil lolos dari pelupuk matanya.
Desi pun meminum air putih hangat. Lalu dia beranjak dari tempat duduknya meninggalkan kedua pasutri tersebut yang sedang berpelukan.
Dia berjalan sangat pelan menaiki tangga menuju kamarnya sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat berat. Dia menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit dan pusing yang teramat dalam yang mendera kepalanya.
Sesampainya di dalam kamar, Desi naik ke atas ranjangnya, dia duduk dengan kepala yang di sandarkan ke kepala ranjang dan kakinya yang di luruskan di atas ranjang, lalu dia memejamkan matanya sambil memijit pelipisnya untuk mengurangi rasa sakit di kealanya. Hingga rasa kantuk pun menderanya, lalu dia merebahkan tubuhnya hingga akhirnya dia pun terlelap.
...****************...
Candra pun mengusap lembut punggung Melani untuk menenangkannya.
"Can, kenapa ya Desi menjadi seperti itu? Aku khawatir padanya. Aku juga tadi melihat matanya yang sayu dan badannya juga terlihat sangat lemas."
"Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan. paling hanya masuk angin biasa. Apa yang perlu di khawatirkan, dia juga tidak memiliki penyakit apapun"kata Candra pada Melani.
"Baiklah"jawab Melani.
'Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Tidak biasanya dia seperti itu. Ah bodo amatlah, paling hanya masuk angin biasa saja. Ngapain juga aku memikirkannya? Tidak penting sekali aku memikirkannya"batin Candra.
...****************...
Desi pun bangun pada jam 10.30 siang. Dia pun pergi ke kamar mandi dan mencuci mukanya. Setelah itu dia pun keluar dari kamar mandi.
Desi merasa ada yang aneh pada dirinya. Dia mengingat, harusnya awal bulan kemarin dia sudah kedatangan tamu bulanannya, tapi sampai sekarang dia belum datang bulan.
Dia pun mengambil dompetnya, dia pun pergi keluar rumah dengan berjalan kaki menuju apotek dekat rumah Candra. Sesampainya di sana, dia meminta testpeck pada salah seorang karyawan apotek tersebut. Setelah mendapatkan apa yang di inginkannya, dia pun membayar testpeck tersebut dan langsung kembali ke rumahnya.
Sesampainya di dalam rumah, dia pun langsung masuk ke dalam kamarnya. Pada saat dia ingin buang air kecil, dia pun membawa testpeck yang dibelinya tadi ke kamar mandi. Selesai buang air kecil, dia pun merendam testpeck tersebut selama 15 menit, sesuai dengan cara penggunanaan yang di jelaskan di bungkus testpeck tersebut.
15 menit kemudian....................
Desi pun mengambil testpeck tersebut dari air seninya dengan ragu-ragu dan jantung berpacu dua kali lipat. Pada saat melihat hasil testpeck yang menunjukkan garis dua, dia meneteskan air matanya antara bahagia, terharu, dan khawatir.
Terima kasih ya Tuhan karena engkau memberikan anugerah terindahmu padaku dan kau telah mempercayakan aku untuk menjadi orang tua yang akan menjaga, merawat, dan mendidik anakku. Aku sangat bahagia ya, Tuhan atas pemberianmu. Tetapi, aku juga khawatir, apakah ayahnya akan menerimanya atau tidak. Aku takut jika ayahnya tidak menginginkan anak ini ya, Tuhan, aku tak tahu harus berbuat apa jika sampai itu terjadi. Karena bagaimana pun anak yang aku kandung ini tidak bersalah, dia tidak berdosa. Bunda janji nak, apapun yang terjadi, bunda akan selalu ada bersamamu, ntah ayahmu menerima dirimu atau tidak itu urusan belakangan. Yang bunda harapkan kau harus lahir ke dunia ini dengan selamat, dan kau harus tumbuh menjadi anak yang sehat."batin Desi. Dia mengelus perutnya dengan berderai air mata dan dengan senyum yang terlukis indah di bibirnya.
Lalu Desi pun mengambil tas selempangnya, ponsel dan juga dompetnya. Lalu dia memesan ojeg online di ponselnya. Dia pun pergi ke bawah dan langsung membuka pintu, dia tidak mempedulikan Melani dan Candra yang bermesraan di ruang tamu depan televisi, karena baginya itu sudah biasa.
Dia menaiki ojeg tersebut dan tukang ojeg tersebut melajukan motornya menuju rumah sakit. Dia pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan bukti yang pasti dan akurat yang akan di tunjukkannya nanti pada Candra.
Sesampainya di rumah sakit, dia pun mendaftarkan dirinya ke resepsionis rumkit tersebut, lalu dia mengambil nomor antrian.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya namanya pun di panggil. Lalu dia pun masuk ke dalam ruangan dokter kandungan tersebut dan langsung duduk didepan meja dokter tersebut.
Lalu dokter pun menanyakan apa saja keluhannya Desi, dan Desi pun menjelaskan apa saja keluhan yang di rasakannya selama ini. Setelah selesai berkonsultasi, dokter pun menyuruh Desi berbaring, lalu dokter mengolesi perut Desi dengan gel, dan dokter pun melakukan USG. Setelah selesai melakukan USG dan membersihlan sisa-sisa gel yang berada di perutnya, dia pun kembali duduk di depan meja dokter tersebut.
"Bagaimana dok?"tanya Desi.
"Selamat ya bu, usia kandungan anda sydah menginjak 4 minggu. Jadi, tolong di jaga ya bu karena kandungan anda masih lemah. Dan ini resep obat yang akan anda tebus ke apotek, jangan lupa nanti minum susu hamil ya,bu."Saran Dokter tersebut yang bernama Fathmawati.
"Terima kasih, dok. Saya akan selalu mengingat saran anda dok. Sekali lagi terima kasih, dok"ucap Desi pada Dokter Fathmawati.
"Sama-sama, bu"balas dokter itu dengan senyum ramahnya.
Desi pun keluar dari ruangan dokter Fathmawati dan berjalan ke arah apotek untuk menebus obat yang sudah di resepkan dokter tadi padanya.
Selesai menebus obatnya, dia pun keluar dari gerbang rumah sakit dan menghentikan sebuah taksi.
Sesampainya di rumah, dia turun dari taksi tersebut dan membayarnya, lalu dia memasuki rumah dan langsung melangkah menuju kamarnya.