Jiang Rouxue merasakan sakit disekujur tubuhnya. Tangannya berusaha menggapai sesuatu yang bisa menahannya agar tidak tenggelam.
Nafasnya sesak, pandangannya mulai kabur. Akhirnya, dia melepaskan genggaman yang sejak tadi dia genggam.
Kejadian masa lalu langsung tergambar dalam pikirannya. Seperti bukan dia yang ada didalamnya.
Dia tidak mau lagi. Dia tidak lagi menginginkan semua kasih sayang keluarga Jiang. Dia hanya ingin pergi.
Tapi... Kenapa mereka tidak melepaskannya?
Perlahan mata Jiang Rouxue terpejam dan dia kehilangan kesadarannya.
Jiang Rouxue mati didalam danau yang tenang, ditangan Kakak laki-lakinya yang dulu sangat dia sayangi.
Saat Jiang Rouxue membuka matanya, dia terkejut.
Dia terlahir kembali!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BenGõngZhû __, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Mereka semua berdiri dan mengikuti Nyonya Tua Jiang menuju ke Aula Leluhur Klan. Tentu saja dengan Rong Yun dan Jiang Rouxue berada disamping kanan kiri Nyonya Tua Jiang.
Si bintang utama kita, Jiang Wuyan langsung tersingkir dan hanya bisa berjalan dibelakang Selir Qi. Tentu saja Selir Qi merasa senang karena Jiang Wuyan dipermalukan. Sepertinya dia harus memberi Jiang Rouxue beberapa dari harta berharganya untuk menambah mas kawin Jiang Rouxue.
Meskipun Selir Qi setuju untuk membawa Jiang Wuyan dibawah namanya. Tapi dia tidak pernah melupakan fakta bahwa Jiang Wuyan pernah menentangnya! Dia merasa dipermalukan oleh Jiang Wuyan karena menolak untuk tinggal bersamanya.
Mereka sampai di Aula Leluhur Klan Jiang. Yang lain menyaksikan dari luar. Hanya keluarga Jiang yang masuk ke dalam Aula leluhur.
Tetua Klan membakar dupa untuk memulai perjamuan. Dia memberi penghormatan. Diikuti oleh semua anggota keluarga Jiang. Mereka sudah tahu kapan saat mereka maju untuk memberi penghormatan. Hanya Jiang Wuyan yang sedikit bingung.
Setelah anggota terkecil Klan memberi penghormatan, semua orang melihat kearah Jiang Wuyan yang tidak bergegas maju ketika gilirannya tiba.
Jiang Rouxue mengingatkan dengan niat baik "Nona Wuyan, silahkan memberi penghormatan terlebih dahulu. "
Harus Jiang Wuyan akui bahwa dia harus berterima kasih pada Jiang Rouxue karena mengingatkannya disaat yang lain hanya menatapnya dengan dingin. Tapi kenapa dia harus berterima kasih. Jiang Rouxue memang harus membantunya!
Jiang Wuyan maju dan memberi dupa dan penghormatan kepada para leluhur.
Setelah itu Tetua Klan berkata "Tetap ditempatmu. "
Jiang Wuyan menuruti perkataan Tetua Klan. Dia tetap berlutut dihadapan altar para leluhur keluarga Jiang.
Tetua Klan mengeluarkan buku Silsilah keluarga Jiang. Dia berkata sambil menatap Jiang Wuyan.
"Jiang Wuyan, setelah aku menuliskan namamu dibuku Silsilah ini. Semua ketenaranmu dan keburukanmu akan menjadi satu dengan keluarga Jiang. Apapun yang akan kau lakukan akan terikat dengan keluarga Jiang. Aku ingin kau bersumpah untuk tidak membawa aib bagi keluarga Jiang. Dan kau harus membagi kekuasaan dan kekayaanmu dengan keluarga Jiang. Apakah kau bersedia? "
Persyaratannya sangat tidak adil. Tidak boleh membawa aib dan harus membagi kekuasan dan kekayaannya dengan keluarga Jiang! Para orang tua itu sedang bermimpi!
Tapi demi memasuki keluarga Jiang dan menikahi keluarga bangsawan, Jiang Wuyan dengan bijaksana segera menyembunyikan sarkasme dimatanya dan menjawab dengan patuh.
"Yan'er bersedia. Aku, Jiang Wuyan bersumpah untuk tidak membawa Aib bagi keluarga Jiang. Juga bersedia membagi kekuasaan dan kekayaanku dengan keluarga Jiang. "
Jiang Rouxue yang berdiri dibelakang Nyonya Tua Jiang hanya mencibir. Jiang Wuyan bahkan bersedia memberikan sumpah kosong pada tetua klan dihadapan para leluhur Jiang. Dia benar-benar tidak takut mati!
Tetua Klan hanya mengangguk dan mulai menulis nama Jiang Wuyan dibawah nama Selir Qi.
Setelah itu serangkaian acara dilakukan oleh Jiang Wuyan dengan baik tanpa ada cacat sedikitpun. Acara baru selesai pada sore hari dan para tamu dipersilahkan untuk istirahat ditempat yang sudah disediakan sambil menunggu perjamuan makan malam selesai.
Jiang Rouxue kembali bersama sepupunya. Putri dari cabang kedua. Jiang Ruque adalah cucu perempuan dari Gu Shi.
Dia adalah yang paling dekat dengan Jiang Rouxue.
"Xue'er, apakah Jiang Wuyan itu mempersulitmu dikediaman Jiang? " tanyanya saat keluar dari Aula Leluhur klan.
Jiang Rouxue menggelengkan kepalanya. "Tidak, kenapa Sepupu Que bertanya begitu? "
Jiang Ruque mencibir. "Aku mendengar Sepupu Qi mengatakan bahwa Jiang Wuyan mendorongmu pada Kakakku. "
Jiang Rouxue akhirnya mengerti. Dia berkata sambil menenangkan. "Tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Toh dia sudah di hukum oleh Nenek selama sebulan. Bagaimanapun dia adalah Putri kandung ayah. "
Jiang Ruque langsung marah. Dia mendorong dahi Jiang Rouxue dengan lembut. " Jadi bagaimana jika dia Putri kandung paman. Itu bukan berarti dia bisa bertindak seenaknya seperti menyakitimu..... "
Jiang Rouxue memperhatikan Jiang Ruque yang sedang mengomel. Dalam kehidupan sebelumnya, Jiang Ruque juga membelanya tanpa pamrih. Jiang Ruque selalu mempercayai semua yang dia katakan terlepas dari benar atau salah.
Tapi sayang sekali, orang baik memang berumur pendek. Setahun kemudian, Jiang Ruque yang selalu menentang Jiang Wuyan tiba-tiba menikah dengan seorang veteran tentara yang terkenal karena membunuh istrinya.
Dan beberapa bulan setelah itu, Jiang Ruque meninggal dunia tanpa alasan yang jelas.
Jiang Rouxue tiba-tiba memotong perkataan Jiang Ruque. "Sepupu Que, aku tidak akan membiarkanmu menderita. Apakah kau percaya padaku? "
Jiang Ruque berhenti berbicara seketika. Dia menoleh dan menatap Jiang Rouxue dengan heran. "Xue'er, ada apa denganmu? Aku baik-baik saja! Siapa yang berani menindasku didesa ini? "
Jiang Rouxue mendekat dan menggenggam tangan Jiang Ruque dengan erat. "Sepupu, aku bersumpah bahwa kau akan menikah dengan pria yang kau sukai. Dan kau akan memiliki banyak anak dan cucu. "
Melihat mata Jiang Rouxue yang berkaca-kaca, Jiang Ruque melunakkan hatinya. "Baiklah, baiklah. Aku percaya padamu! Jadi jangan menangis. "
"Aku tidak menangis! "
Jiang Ruque mencibir. Lalu keduanya tertawa bersama.
Jiang Rouxue bertanya "Sepupu, apakah kau akan datang pada makan malam nanti? "
Jiang Ruque mengendikkan bahunya. "Tidak tahu. Itu acara yang membosankan. Apalagi acara itu miliki Jiang Wuyan. Aku tidak ingin pergi! Apakah kau akan pergi? "
Jiang Rouxue mengangguk. "Tentu saja aku harus pergi. "
Melihat Jiang Rouxue yang begitu sombong. Jiang Ruque langsung merasa curiga. "Apakah kau tahu sesuatu? "
"Jiang Wuyan berencana untuk menjelekkanku di jamuan nanti malam. "
"Kau sudah tahu tapi kenapa masih pergi! " Raung Jiang Ruque dengan marah.
Jiang Rouxue berkata sambil tersenyum. "Jika aku tidak pergi, Jiang Wuyan tidak akan bisa memulai pertunjukannya. Jadi aku harus pergi! "
Apalagi yang bisa dikatakan Jiang Ruque. "Kau gila! Tapi bagaimana kau tahu rencananya? "
Mereka sampai disebuah paviliun dekat danau. Jiang Rouxue menjawab "Setelah kejadian terakhir kali, aku meminta Bixi untuk mengawasinya dan para pelayannya. Siapa yang tahu Jiang Wuyan akn begitu meremehkan para pelayan kasar. Jadi Bixi mengambil kesempatan itu untuk menanam mata-mata dihalaman kamarnya. Jadi aku tahu semua rencananya! "
Jiang Ruqu membelalakan matanya. "Xue'er kita memang yang paling pintar. Kalau kau pergi, maka aku juga akan pergi. Mari kita tonton bersama dan buat dia malu! "
...----------------...
Malam tiba dengan cepat. Aula perjamuan kediaman Jiang didesa sangat kecil. Jadi Gu Shi mengadakan perjamuan makan malam dihalaman rumah yang luas.
Jiang Rouxue dan Jiang Ruque duduk disatu meja yang tidak jauh dari meja utama.
"Xue'er, kenapa Jiang Wuyan belum datang?"
Jiang Rouxue meminum tehnya dengan tenang. "Dia adalah bintang acara malam ini. Tentu saja harus bersiap lebih lama. Tenang saja, dia pasti akan datang! "
Benar saja, tak lama kemudian Jiang Wuyan datang dengan pakaian paling mewah yang penah dimilikinya.
Tapi karena dia kurus dan wajahnya kuning, Jiang Wuyan segera menjadi lelucon. Semua orang berbisik tentang betapa tidak pantas pakaian yang digunakan oleh Jiang Wuyan.
Nyonya Tua Jiang terlalu malas untuk menegurnya. Jadi dia hanya berkata "Terima kasih Tuan dan Nyonya sudah bersedia menyaksikan acara hari ini. Perjamuan dimulai.... "