Reza seorang mahasiswa baru di sebuah Universitas ternama di Kota Malang, jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Alvionita sang dosen yang dikiranya mahasiswi baru seperti dirinya.
"Aku masih gak percaya kalau kamu adalah dosen disini!" teriak Reza usai mata kuliah Rekam Medis berakhir.
Alvionita yang baru saja keluar dari ruang mengajar menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah datangnya suara.
"Buktinya aku tadi menyampaikan mata kuliah didepan kelas dan telah melakukan perkenalan didepan semua orang disana" tunjuk Alvionita dengan dagunya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Berhasilkah hubungan antara mahasiswa baru dan dosen muda itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 15 - Sebuah Rencana
Reza memasuki kamar Fariz yang saat itu tak terkunci. Gelap. Itulah yang pertama kali Reza deskripsikan untuk ruangan itu.
Reza semakin diliputi perasaan bersalah. Dia kemudian mencari saklar lampu kamar Fariz.
Ctek.
Beruntung Reza tak memiliki riwayat sakit jantung. Bagaimana tidak, sang kakak tampak kacau. Fariz duduk di lantai di salah satu sisi tempat tidurnya dengan salah satu lutut kaki yang menopang sikunya.
Reza menghampiri pria yang sudah dia anggap sebagai kakak kandungnya itu. Dia menghela nafas dalam. Padahal belum sampai satu jam setelah diskusi keluarga tadi, kondisi Fariz kini kacau sekali.
Reza melihat ponsel Fariz menyala. Dipungutnya ponsel yang sedari tadi tergeletak di samping Fariz.
'Aku akan tetap menunggu penjelasan darimu' begitulah isi pesan itu, pesan dari Davika.
Reza menatap ke arah kakaknya. Dia bertanya-tanya, apakah kakaknya memutuskan hubungannya dengan Davika?
"Kak, kakak gak mutusin Kak Davika kan?" Tanya Reza.
Fariz hanya menunduk. Tak ada sepatah kata pun yang keluar darinya.
Reza berani menyimpulkan bahwa Fariz memutuskan Davika secara sepihak. Lalu bagaimana dia bisa memberikan solusi jika sang kakak lebih dahulu pesimis akan dirinya sendiri?
Reza duduk di samping kakaknya. Dia bersandar di sisi ranjang sama seperti yang Fariz lakukan.
"Aku gak ingin kakak putus dengan Davika" sesal Reza.
"Kita bisa cari solusinya bersama. Aku yakin Kak Davika pasti akan mengerti" lanjut Reza.
"Aku tak ingin memberikan harapan palsu kepada Davika, dan juga aku gak mau ngecewain Papa dan Mama" lirih Fariz sembari menunduk.
"Aku lebih baik memutuskan Davika agar dia bisa mencari penggantiku yang lebih baik dariku" lanjut Fariz.
Hening. Tak lama Reza menangkap tetesan air mata turun dari kedua netra sang kakak. Reza hanya sanggup menepuk bahu sang kakak. Dia mungkin akan melakukan hal yang sama jika dia menjadi Fariz.
Mereka berdua larut dalam kesunyian. Pikiran keduanya berkeliaran tak tentu arah, sama-sama mencari sebuah solusi.
Reza sebenarnya masih memikirkan isi dari perjanjian antara Papanya dengan Om Dika, Papa dari Dian. Reza ingat perkataan Mamanya tadi, bahwa dalam perjanjian itu tak menyebutkan putra yang mana yang harus menikah dengan Dian.
Sebuah ide muncul di kepala Reza. Namun sebelum itu, Reza akan meminta Papa untuk memberinya salinan berkas kerjasama antara Papa dan Om Dika.
Reza yakin kalau dia akan mendapatkan jalan keluar masalah yang rumit itu.
***
Tak seperti biasanya, Reza kini bangun lebih awal. Bisa dibilang sangat pagi dibanding hari-hari biasanya. Bahkan sebelum semburat keemasan muncul di ufuk timur, Reza sudah tampak segar.
Reza melihat Fariz terlebih dahulu, memastikan kakaknya itu berada di kamarnya dengan keadaan yang lebih baik. Dia tak ingin kakak, rekan kerja sekaligus sahabatnya masih dirundung masalah yang tak ada ujungnya ini.
Setelah memastikan kakaknya baik-baik saja, Reza menunggu sang kakak bangun. Dia sengaja menunggu Fariz di sofa kamar Fariz. Reza akan mengajak Fariz menemui Papa nya bersama-sama.
Reza yakin kalau apa yang dipikirkannya akan sesuai dengan rencana. Reza sudah memikirkannya dengan baik jika dugaan itu benar adanya. Reza yakin masih ada celah kelemahan perjanjian itu.
Sudah tiga puluh menit Reza menunggu di kamar Reza. Tak lama Fariz bangun. Dia sedikit terkejut mendapati Reza berada di kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi.
Fariz menaikkan sebelah alisnya seolah menanyakan 'ada apa?'.
Reza yang paham isyarat itu malah dengan santainya menyuruh Fariz segera bersiap. Fariz pun hanya bisa mengangguk meski dia sedikit kebingungan.
Tak butuh lama bagi Fariz untuk menyelesaikan ritual mandi pagi nya. Fariz kemudian menghampiri Reza yang menunggu di luar kamarnya.
Beberapa ART tampak sibuk menyiapkan sarapan untuk penghuni rumah. Tak luput juga pandangan dari mereka sang Mama yang juga turut andil dalam acara memasak itu.
"Pagi, Ma" sapa Reza dan Fariz kepada Mamanya pagi itu.
"Pagi kesayangan Mama" balas Mama sembari melanjutkan memasaknya.
"Papa belum turun, Ma?" tanya Reza.
"Bentar lagi turun. Tumben nyariin Papa pagi-pagi?"
"Ada yang mau Reza omongin, Ma. Dan Reza rasa itu cukup penting."
"Nah, itu Papa" seru Mama sembari melempar senyum pada pria paruh baya yang tampak menuruni anak tangga.
Reza dan Fariz menyapa Papanya. Pagi ini Papa tampak sangat segar. Sepertinya Papa sedang bahagia. Itu artinya pagi ini bisa jadi salah satu kesempatan bagi Reza untuk membicarakan perihal tadi malam lebih rinci.
Usai menghabiskan sarapannya, Reza mulai membuka pembicaraan. Dia ingin membicarakan hal penting mengenai perusahaan kepada sang Papa. Oleh karena itu, Reza meminta izin kepada sang Mama agar meminta izin berdiskusi di ruang kerja utama.
Reza beralasan mendiskusikan masalah perusahaan agar sang Mama untuk pagi ini tak ikut dalam rencana Reza dahulu. Reza takut kalau sang Mama malah terbawa perasaan sehingga rencana mereka terkendala.
Saat telah berada di ruang kerja utama rumah itu, Reza meminta salinan perjanjian itu kepada sang papa. Bingo! Sesuai dengan perkiraan Reza, masih ada celah yang bisa Reza manfaatkan.
Reza mengatakan kepada Fariz agar menerima perjodohan itu, karena Reza yakin Dian pasti akan menolak. Sehingga mau tak mau keluarga Dian lah yang membatalkan isi perjanjian kerja sama itu .
"Dan kalau ternyata keluarga Dian justru menerima perjodohan itu?" tanya Fariz.
"Aku yakin akan ada kesempatan di mana Dian akan berusaha merayuku, Kak."
Reza juga mengingatkan Fariz agar tak lupa memberi penjelasan kepada Davika mengenai rencana ini agar Davika tak salah paham.
"Lagi pula aku melihat isi perjanjian ini malah bukan menguntungkan Papa." lanjut Reza.
Fariz bisa bernafas lega, demikian pula dengan Reza. Namun mereka melupakan sesuatu. Sang Papa cukup terkejut dengan perkataan Reza bahwa Fariz telah memiliki kekasih.
"Siapa gadis itu, Riz? Kamu bisa mengenalkannya kepada kami" ujar Papa dengan perasaan bersalah karena telah mengorbankan kebahagiaan Fariz.
"Akan aku bawa dia ke rumah ini untuk dikenalkan kepada Mama dan Papa saat masalah ini sudah selesai, Pa" jawab Fariz.
Bagaikan mendapat angin segar, kini Fariz tak lagi menampakkan wajah murung. Dia terlihat lebih bahagia dibanding sebelumnya.
Mereka akan mencoba solusi awal seperti yang diberitahukan oleh Reza. Dan akan membuat improvisasi nanti apabila ada sesuatu yang sedikit melenceng dari jalurnya
Reza dan Fariz kemudian pamit kepada sang Papa untuk pergi menuju kantornya.
"Oh iya, Pa. Bisakah Reza minta tolong sekali lagi kepada Papa?"
"Katakanlah" sambut Papa.
"Reza ingin meminta persetujuan papa secara tertulis untuk membiarkan Vio tetap menjadi dosen di kampus" ujar Reza.
Tanpa basa-basi, sang Papa langsung menuruti permintaan Reza untuk masa depan Vio.
bersambung...
***
Jaga kesehatan ya teman...
Semoga kita semua diberi kesehatan dan diberikan lancar dalam segala urusan.. Aamiin ❤️🤗
pokoknya top banget deh ceritanya
lanjutkan biar tidak penasaran
ternyata masih ada juga y seorang dosen dengan umur segitu,,,,
cie Reza udah mulai jatuh cinta pada pandan tu😂😂😂
ya ampun thorrr keren banget ceritanya
makasih thor
😂😂😂
semangat teruus yaa 🥰
tinggal menikmati masa indahnya hidup berdua.
bertemu lagi dgn pengisi suara novel ini 😁😁
semoga suka dgn suara recehku yg ala kadarnya, hehehe.
Jangan lupa dengerin audiobooknya juga ya, dan dukung terus karyanya
terima kasih kpd kak Dhanz yg melanjutkan cerita ini.
terima kasih