Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.
Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.
Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM PERTAMA
Luz mandinya lama banget sampe tukang urut udah dateng. Dia belum juga selesai. Karel sudah lelah memanggil namanya berulang kali tapi tidak ada sahutan.
Penasaran apa yang Luz lakukan, Karel mengetuk pintunya. Tidak ada jawaban, suara shower masih nyala. Pintu kamar mandi di lapisi kaca yang blur. Ia tidak menemukan bayangan Luz berdiri.
“Luz, masih idup? Itu tukang urut udah nungguin.” Karel bicara netral, tidak juga ada jawaban.
Selama ini Karel merasa dirinya mandi paling lama di keluarganya. Ternyata masih ada Luz yang hampir lebih dari 60 menit. Ngapain coba? Karel menempelkan telinga ke celah pintu, ia mendengar ada desahan dan suara cipratan air yang kontras.
Perasaannya gak enak. “Luz ngapain?” Karel takut dia pingsan. Hingga suara lenguhan dan kencing ia bisa memastikan kalau dia hidup.
“B-ben-tar lagi,” suara Luz bergetar.
Dahi Karel mengerut “Wah gak beres.” Ia langsung melengos pergi tak ingin menerka apapun.
Sekitar 25 menitan kemudian Luz menyelesaikan mandi. Ia keluar dengan rambut basah juga. Wajahnya tampak lebih fresh. Luz takut Karel bertanya soal yang ia lakukan tadi. Ia langsung melengos pergi buru. Tidak mungkin bercerita kalau dirinya baru selesai memuaskan nafsunya sambil mandi. Menarik handuk Karel tadi adalah hal terkonyol yang ia lakukan dan membuatnya terangsang begitu saja.
Gila itu Luz, gila!
Luz merutuki dirinya sendiri di ruang ganti baju. Lemari kayu tinggi berjejer rapih, ia bingung. Lemari pakaiannya yang mana? Usai memperhatikan beberapa saat, ia membuka lemari di sebelah kiri dan benar, di sana terlipat rapih pakaian perempuan. Bahkan sudah di siapkan dengan rak sepatu, tas, beserta isinya. Kapan coba menyiapkannya? Itu bisa membuat Luz tersenyum bahagia. Ia mengambil pakaian tidur yang pendek dan kain Bali, agar lebih adem.
“Itu sana, mbak udah nunggu lo lama,” kata Karel.
Luz tersenyum canggung. “Oh iya kah? Terus gimana.”
“Ya di pijet lah ngapain lagi? Pake nanya.”
“Tapi gue baru mandi,” katanya merasa males mandi lagi.
“Gampang mandi lagi.”
Luz pun di pijat di area punggung, tengkuk dan betis membuat dirinya merasa lebih tenang dan dapat mengurangi stres ketegangan otot. Ia duduk, dengan mulut meracau tidak jelas karna linu. “Aww Mbakkk geli!” teriaknya histeris. Mana geli banget pas tulangnya di teken kuat.
Karel malah menertawakan kondisi muka Luz. “Geli ke enakan itu mah sampe merem melek.”
“Asli Rel, geli banget. Pas tengkuk gue di teken, di puter-puter, itu beuh asli gatau lagi deh,” katanya yang tengah menunduk.
Usai bicara, Luz membulatkan matanya. Apa yang ia katakan barusan? Sangat ambigu.
“Kenapa?” tanya Karel yang heran melihat perubahan ekspresinya.
“Oh enggak, itu anu enggak deh, gausah di pikirin.” Luz terkekeh, berharap Karel melupakannya.
“Kayak apaan aja.”
Selesai memijat tubuh Luz, wanita itu pamit pulang, Karel hendak membayarnya tapi ternyata Elena sudah melakukannya lebih dahulu.
“Gimana udah enakan badan lo?”
“Bangettt. Berasa plonggg. Cuman jadi males mandi aja.” Luz merentangkan kedua tangannya. Hingga kain yang menutup tubuhnya jatuh.
Karel membuang pandangan. “Itu lo keliatan.”
“Apa?”
Luz melirik badan bagian depan. Ia menyengir dan makin ketawa melihat wajah Karel memerah. “Biasa aja kali, kayak gak pernah liat aja.”
“Tutupin, geli liatnya.” Karel bergidik ngeri dan melengos pergi.
Luz beranjak, mengikuti langkah Karel. “Gamau megang ini?”
“Ayo Rel, pegang coba.”
Karel berjalan cepat. Ia tidak tahu harus kemana, tapi malah takut dengan tingkah Luz. “Ogah.”
“Tapi pernah?”
Karel melirik Luz sedikit lalu membuang pandangan. “Engga. Cepet pake baju! Dingin, nanti masuk angin.”
Ternyata dia seperti anak polos saat ini. Luz jadi ingin menjahilinya terus terusan. “Yaudah coba pegang. Mana tangannya.”
“GAKK!” Karel berteriak, ia langsung menarik selimut dan menutup semua tubuhnya.
Luz tidak berhenti, ia masih ingin menjahilinya kalau bisa sampai menangis. Dengan kulit yang masih ada sisa minyak urut. Ia menarik-narik selimut Karel. “Ayo.”
“Enggak.”
Bahkan kini Luz menaiki pinggangnya, Karel tengah tidur miring. “Coba aja dulu, biar gak suka pedang lagi.”
Karel menurunkan selimut dan memarahi Luz. “Enggak! Inget ya gue gak akan pernah tertarik semudah itu.”
Mata Karel turun, ia kaget, Luz benar-benar menyebalkan. Dia percaya diri menunjukkan dirinya tanpa menggunakan pakaian atas. “Tau ah!” Ia tarik selimut lagi. Dan disitu Luz meremas dadanya.
“Cewek sinting, cewek gila,” gerutunya.
Seru juga bikin Karel kesel. “Oke gak lagi, tapi gak janji HAHAHA.”
--✿✿✿--
“Kamu dimana kok apart kamu kosong? Aku mau anterin makanan buat makan malam,” katanya di telepon.
James keluar dari basement, hendak pergi ke apartemen. “Oh iya aku ada urusan sebentar, mungkin besok pulang. Kamu bawa pulang aja, aku udah makan. Udah dulu ya.” Langsung ia tutup teleponnya.
Hati James tidak tenang. Ia khawatir dan cemas. Malam ini malam pertama Karel dan Luz, ia tidak mau pacarnya di miliki orang lain termasuk istrinya sendiri.
Kaki James berjalan cepat, ia berharap segera sampai di apartment Karel.
“Jangan sampe terlambat, gue harus gagalin, mereka gak boleh saling suka. Apalagi sampe having seks, gak boleh!” James bicara dalam hati, ia berlari cepat menuju pintu tempat tinggal Karel.
Di ketuk pintu beberapa kali sampai akhirnya Karel muncul.
“James?”
James mendorong Karel masuk dan memeluknya. “I miss you.”
“Too. Kamu kenapa ke sini sekarang?” Karel khawatir, Luz melihatnya. Sesekali ia melirik sekitar.
James menutup pintu dan menyudutkan Karel ke tembok. Tanpa aba-aba ia cium bibirnya secara brutal. “Aku gak bisa nunggu lagi.”
Karel mendorong bahu James. “Ini bukan waktu yang tepat. Kenapa ke sini gak bilang dulu? Sekarang ada Luz, gak bisa bebas. Kalo mau ketemu, kita janjian di tempat lain. Jangan di sini.”
“Kenapa kamu lebih peduliin tentang dia di bandingkan aku sekarang? Kamu udah ada hati sama cewek itu?” James menatap Karel marah.
Karel menggeleng. “Bukan, aku cuman gamau dia liat dan ngerekam. Kita gatau apa yang bakalan dia lakuin.”
“Bukannya kamu pernah bilang, kalau dia udah tau, terus setuju? Itu tandanya gapapa dong kita terang-terangan sama dia. Bukan masalah besarkan? Chill, sayang.” James bicara santai, ia melepas jaketnya dan berjalan masuk, duduk di sofa. Menyandarkan bahunya dan memejamkan mata.
Karel tidak ingin itu terjadi di depan Luz. Tidak. Luz tidak boleh melihat apapun secara langsung. “James, please. Kita ke tempat lain.”
James membuka matanya. Ia terkekeh. “Sini nyender. Kamu pasti kangen kan sama bahu aku.”
“No!” Karel menjauh, ia melirik kamar mandi. “Bentar lagi dia muncul, cepet ngumpet.”
James menegakkan tubuhnya. “Lho kenapa disini seolah-olah aku selingkuhan kamu hah? Bukannya dia ya.”
“Aku tau apa yang kamu mau!”
James menyeringai. “So apa masalahnya? Kalau bisa, kita bermain di depan kedua mata dia. Biar dia tau, kamu cuman milik aku, selamanya.”
“Damn,” umpat Karel. Mungkin Luz akan tutup mulut, tapi ia tidak akan melupakan kejadian itu dengan mudah.
“Kamu harus tau, kalau ini balasan karna kamu udah bikin aku cemburu karna dia,” bisik James lalu mencium telinga Karel.
Karel memejamkan mata dengan tangan terkepal. “I see, but waktunya salah. Maaf, maaf udah bikin kamu cemburu. Jangan marah.”
“Terlanjur.” James langsung menarik tengkuk Karel dan menciumnya.
Saat itu juga Luz baru keluar dari kamar mandi menggunakan kimono. Ia berjalan ke ruang tengah. Kepalanya condong ke depan dan berhenti melangkah. “Karel siapa yang dat---“
“Shit!” umpat Luz saat melihat adegan yang tak seharusnya ia lihat dan di lakukan disini. Penasaran, ia tonton aja sambil melipat tangan di dada, dengan ekspresi yang sulit di artikan. Ia tidak dapat melihat dengan jelas siapa laki-laki yang bersama Karel yang jelas itu pasti pacarnya. Orang yang ingin Karel lindungi yang memiliki hubungan spesial dengannya.
Luz melengos. “Kalo mau mesum jangan di sini,” ucapnya sambil berjalan membelakangi mereka.
James melepaskan ciumannya, ia melirik Luz dan melihat Karel. “Itu suara si pelakor?”
“Dia bukan pelakor,” kata Karel. Lalu beranjak.
“Mending kamu pulang, banyak tempat yang lebih nyaman dari ini.” Ia menarik tangan James dan mendorongnya keluar rumah.
Lalu menutup pintu, bersandar di sana sambil menetralkan nafasnya.
“Udah berani terang-terangan nih depan gue,” kata Luz jengkel. Ia melepas handuk dan memakai baju tidur pendek bahan satin.
Karel berjalan ke tempat tidur. “Lupain, gausah di bahas.”
Ada raut kesal di wajah Karel. Luz menjatuhkan dirinya di sampingnya. “Gue jadi kepo, agresif banget tuh cowok. Nemu dimana?”
“Mau lo embat? Lo gausah cari tau, awas aja.”
Luz terkekeh. “Kok sewot? Santai aja kali.”
“Lo kan gatel, bisa-bisa dia juga lo embat. Ya kan?”
Luz menggeleng. Ia tengkurap sambil bertopang dagu. “Enggak, justru sebaliknya. Lo yang gue embat dari dia.”
“Itu boong.”
“Why? Gue sama lo punya akta nikah yang sah lho, sedangkan lo sama dia? Cinta punya kalian, tapi dunia punya norma. Haha kasian,” ledek Luz lalu berguling, memeluk guling dan menarik selimut membelakangi Karel.
“Jangan dulu bangga, hati gue bukan punya lo.”
“Santai aja kali, gue juga bercanda. Lagian hati gue juga belum tentu bisa lo isi. Jadi mana mungkin sih, gue sekarang mau tidur, jangan ganggu.” Luz mulai memejamkan mata dan terlelap.
Sedangkan Karel, usai memastikan Luz tidur. Ia keluar dari apartemennya untuk menemui James yang entah pergi ke mana. Karel bingung, ia cemas. Ia berdiri di depan mobilnya, sambil mencoba menghubunginya beberapa kali. Yakin sekali dia pasti marah besar, di usir bahkan ciumannya tidak berbalas.
“Dimana? Aku ke sana sekarang.”
“Terus tuh cewek?”
“Udah tidur.”
“Oh kita mainnya harus tetep sembunyi-sembunyi? Aku kira setelah kamu nikah bisa leluasa. Gini mah sama aja gausah kamu nikah,” cetus James.
Karel menahan emosi. “Udah jangan marah lagi, aku kesana. Sharelok aja.”
Di seberang sana, James tersenyum miring. Ia tidak akan membiarkan Karel menghabiskan malam pertamanya dengan Luz. Walau tahu pura-pura nikah, tapi jelas tidak ada yang tahu ke depannya, karna yang namanya nafsu sulit di tebak.
“Oke, aku di tempat biasa, see you.”
Karel menutup panggilan, mengendarai mobilnya bergegas ke sana. Selama belum baikan, ia tidak akan bisa fokus mengerjakan apapun, malah nambah beban pikiran.
...--To Be Continued--
...