Lanjutan dari novel "Nikah Paksa Jadi Cinta"
Yang belum baca musim pertama bisa baca dulu ya, hehe...
.
.
Karena sebuah perjodohan yang diatur oleh orang tuanya membuat Diandra harus kabur dari rumah.
Diandra tak ingin dikekang. Ia ingin bebas menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Kevin Andrea Geraldy. Seorang pria yang ia ketahui adalah mantan dari sahabatnya sendiri. Hidupnya berubah dan benih cinta antara keduanya mulai tumbuh.
Namun, disisi lain Diandra tidak ingin menyakiti sahabatnya sendiri. Apa yang akan Diandra lakukan?
Simak yuk ceritanya🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iLmaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
"Apa dia gila? Dia sengaja melakukan ini kan?" gumam Diandra dengan kesal. Diandra menopang dagunya dengan kedua tangannya. Bibirnya mengerucut tanda tak suka diperlakukan seperti itu.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku ingin pulang, hiks," gerutu Diandra. Ia tak ada mood untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Diandra menghela napasnya kasar. Melirik ke arah pintu ruangannya. Ia lelah dan ingin istirahat. Namun Kevin memberikan pekerjaan yang sengaja untuk mempersulitnya.
"Baiklah, tak ada waktu untuk mengeluh," ujar Diandra. Ia kembali untuk menyelesaikan beberapa laporan itu.
Sekitar pukul 20.00, Diandra baru menyelesaikan pekerjaannya. Setelah mengemasi pekerjaannya, Diandra merenggangkan otot tubuhnya sejenak. Lalu ia bergegas untuk melapor pada Kevin jika pekerjaannya telah selesai.
"Nona, kebetulan sekali bertemu Anda di sini. Tuan muda sudah kembali satu jam yang lalu. Jika nona sudah selesai, Anda bisa pulang dan beristirahat," ucap Mark yang berpapasan dengan Diandra yang tak jauh dari ruangan Kevin.
"Oh, baiklah. Sampai jumpa," balas Diandra dan segera keluar dari kantor tersebut.
Diandra tak langsung memesan taksi. Ia ingin berjalan sambil menikmati suasana malam di kota itu. Memang ia lelah, namun dengan berjalan sejenak mampu merefresh otaknya.
Disaat ia berjalan dengan santainya, tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan dua orang berpakaian serba hitam dan berjas. Diandra menghentikan langkahnya dan membelalakkan matanya.
"Nona, ikutlah pulang dengan kami," ucap salah satu pria itu yang Diandra ketahui bernama John. Ternyata, beberapa hari ini mereka sudah memantau gerak-gerik Diandra.
"Tidak mau! Kalian pulanglah sendiri!" ucap Diandra dengan tegas. Dua pria ini memang ditugaskan untuk menjemput Diandra pulang ke rumah orang tuanya.
"Nona, jangan mempersulit kami. Kami mohon Anda patuhlah." John masih bersabar dengan sikap Diandra.
"Aku tidak mau!" Lanjut Diandra. Ia berbalik dan berlari dari sana. Ia tidak ingin pulang untuk saat ini. John dan pria satu lagi mengejarnya. Kali ini mereka tidak ingin mengecewakan Raka dan harus membawa Diandra pulang bagaimanapun caranya.
Diandra terus berlari. Ia harus segera mencari tempat bersembunyi agar kedua pengawal yang ditugaskan Ayahnya tidak menemukannya. Namun sialnya sebelum itu terjadi, John sudah berhasil meraih tangan Diandra dan menggenggamnya dengan erat.
"Lepaskan aku John, aku tidak ingin pulang." Diandra meronta. Ia berusaha lepas dari pengawal tersebut.
"Tolong untuk kali ini saja nona." John masih berusaha meyakinkan Diandra.
"Tidak! Aku... Hei, aku tidak ingin ikut bersama kalian! Lepaskan aku!" Kedua pria tersebut membawa Diandra secara paksa.
"Aahhh... Tolong.. Ada yang ingin menculikku... Tolooong..." teriak Diandra. Membuat John dan Fandy panik. Mereka melepaskan genggaman tangannya pada Diandra.
Tanpa mereka sadari, Kevin memperhatikannya dari jauh. Ia baru saja menemui teman lamanya yang tak sengaja berjumpa saat ingin pulang dari kantornya. Tatapan Kevin masih terpaku pada ketiga orang tersebut. Ia mengerutkan dahinya dan mencoba memahami situasinya.
"John, aku mohon padamu... Lepaskan aku untuk kali ini saja. Kamu bisa berkata pada Ayahku jika tidak berhasil menemukanku." Diandra mengatupkan kedua tangannya. Ia memasang wajah memelas. Karena ia tahu John tidak akan tega melihat Diandra yang seperti itu.
"Nona... Maafkan saya... Saya tidak bisa melakukan itu," ujar John. Ia menghela napasnya sejenak.
"Ada apa ini?" ucap Kevin yang pada akhirnya mendekat ke arah mereka. Ia tidak tahan melihat situasi itu.
Melihat kedatangan Kevin, Diandra langsung memeluknya. Membuat ketiga pria tersebut terkejut.
"Bantulah aku, aku mohon. Mereka adalah orang suruhan Ayahku. Aku tidak ingin pulang bersama mereka," bisik Diandra. Kevin menatap kedua pria itu yang menatapnya tajam dan seolah ingin menerkamnya. Lalu beralih menatap Diandra yang kini masih memeluknya.
"Untuk apa aku membantumu? Apa peduliku?" balas Kevin.
"Sebagai gantinya, aku akan membantumu mendapatkan Kanaya lagi, bagaimana? Jika kamu berhasil mengusir mereka aku siap membantumu," tutur Diandra. Membuat Kevin tersenyum.
"Siapa kamu? Jangan bersikap kurang ajar pada nona kami!" ucap Fandy dan ingin memukul Kevin. Namun John menghentikannya. John menggelengkan kepalanya mengisyaratkan agar Fandy tak bertindak gegabah. Kevin melepas pelukan Diandra. Ia berjalan mendekati kedua pria tersebut lalu mengajaknya bicara secara pribadi.
"Nona, jaga diri Anda baik-baik. Jika ada apa-apa jangan sungkan menghubungi kami," ucap Fandy.
Entah apa yang Kevin katakan pada mereka, kini John dan Fandy membiarkan Diandra pergi. Kevin membawa Diandra hingga ke mobilnya. Yang pasti Kevin masih mendapat tatapan penuh tanda tanya dari Diandra.
"Apa yang kamu katakan pada mereka?" tanya Diandra. Setelah memakai sabuk pengamannya, Kevin bergerak hingga mereka saling berdekatan. Membuat Diandra memundurkan tubuhnya dan merasa tidak nyaman.
"Kamu tidak perlu tahu. Ingat janjimu untuk membantuku mendapatkan Kanaya kembali," ujar Kevin. Lalu ia mulai melajukan mobilnya.
Diandra hanya terdiam. Ia juga tidak tahu bagaimana membuat Kanaya menerima Kevin kembali. Yang ia ketahui hanya satu, Kanaya sangat membenci Kevin. Diandra berpikir keras tentang rencananya mendekatkan mereka kembali. Ia sudah terlanjur berjanji pada Kevin untuk membantunya. Tetapi disisi lain, ia tidak ingin membuat Kanaya kecewa padanya.
Tanpa Diandra sadari, kini mobil yang mereka kendarai mulai memasuki kediaman Kevin. Bahkan Diandra masih bergulat dalam pikirannya. Sampai lupa jika ia menumpang pada Kevin. Mobil berhenti tepat di depan garasi. Membuat Diandra tersadar sekaligus terkejut.
"Kita di mana?" tanya Diandra yang mengikuti Kevin keluar dari mobil tersebut.
"Apa kau tidak lihat? Ini rumahku," jawab Kevin santai sambil berjalan menuju rumahnya.
"Hah? Tunggu dulu! Lalu aku bagaimana?" tanya Diandra sambil berlari menyusul Kevin.
"Siapa suruh ditanya hanya diam saja. Aku lupa jalan ke apartemenmu. Yah terpaksa membawamu ke sini," ucap Kevin yang terus melanjutkan langkahnya. Membuat Diandra tak percaya.
"Antarkan aku kembali!" Diandra masih tak ingin menyerah.
"Aku lelah. Jika kau ingin kembali silakan pulang sendiri. Tapi aku tidak yakin kedua pria itu akan menemukan apartemenmu atau tidak," ujar Kevin sambil berlalu menuju kamarnya.
Diandra masih berdiri mematung di ruang tamu. Ini sudah malam. Namun jika ia kembali mungkin John akan menemukannya juga.
"Selamat malam nona. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Pak Fery yang menghampiri Diandra.
"Ah, Mmm... Apakah bisa minta tolong panggilkan Pak Kevin?" tanya Diandra.
"Silakan duduk dulu. Saya akan memanggil tuan muda." Diandra mengangguk dan duduk di sofa. Sedangkan Pak Fery menuju kamar Kevin.
Setengah jam berlalu. Namun Kevin tak kunjung keluar menemuinya. Diandra sudah mulai gelisah. Apalagi ponselnya mati dan tak bisa untuk memesan taksi. Ia hanya bisa menunggu Kevin untuk mengantarnya kembali. Atau paling tidak memesankan taksi online untuknya.