Rubby Hania, Gadis cantik yatim piatu yang di asuh sang paman dan Bibi. Namun sayang sang Bibi begitu kejam memperlakukan nya.
Suatu malam tepat setelah sang paman di makamkan, Rubby di usir sang Bibi. Rubby bertemu seorang pria bule yang sedang melintas. Marco Tarance hampir saja menabarak nya. Marco sempat memakinya. Namun anak laki-laki Marco yang berusia 6 tahun Avalon Tarance, malah menolong dan membawa Rubby pulang.
Akhirnya Rubby menjadi pengasuh Avalon. Suatu malam Marco hampir memperkosa Rubby, dan Avlon yang memergoki sang Ayah yang hendak berbuat aib, maka ia memaksa Marco agar menikahi Rubby.
Bagaimana kisah selanjutnya Antara, Rubby, Marco dan Avalon. Sorry, I Love you.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Pantas Menjadi Ibunya
Rubby pun berusaha bersikap tenang dengan membiarkan Marco memeluknya dari belakang, ia hanya menyiapkan ancang-ancang jurus karate sebisanya yang ia kuasai, saat Marco nanti berbuat lebih.
Jika dilihat dari belakang Marco, tubuh Rubby tidak terlihat, tenggelam di dada dan dekapan Marco, karena Marco yang tinggi 185 cm sedangkan Rudi hanya 157 serta tubuh Rubby yang ramping dan mungil tertutup oleh tubuh Marco yang tinggi kekar itu.
"Rub! dapatkah stataus kamu berubah?" tanya Marco. "Maksudnya?" Rubby malah balik bertanya.
"Mmmm..Jadilah kekasihku," ucap Marco.
"Deer..." satu kali Sambaran petir bebunyi nyaring berbarengan dengan ucapan Marco.
"Astagfirullah!" Rubby terkejut sehingga tidak mendengar apa yang Marco katakan. "Marc kita harus pulang ke rumah mu" ucap Rubby melepaskan diri dari pelukan Marco.
"Loh ada apa?" kita nikmati momen ini dulu. Entahlah aku rindu sekali denganmu dan aku bahagia dapat memeluk mu!" ucap Marco.
"Atas dasar apa engkau merinduku? toh kita tidak ada hubungan apa pun!" jangan ditanya darahnya terasa berdesir di dalam sana hatinya gelisah berdetak tak karuan
"Rubby! apa mungkin aku jatuh cinta padamu? gumam Marco dalam hatinya.
"Marco cepat! ayo kita pulang, sepertinya hujan lebat akan segera turun. Petir sedang menyambar di atas langit Marco! ayo," ajak Rubby tergesa dengan menarik tangan Marco.
"Ada apa? mengapa harus tergesa-gesa? Bukankah lebih aman di sini saat hujan deras dan petir bersahutan?" pertanyaan Marco.
"Iya, tapi apa kau tidak ingat dan kasihan pada Anakmu Marc, Vallon?" pekik Rubby terlihat mulai panik.
"Ada apa dengan Anakku? biarkan saja ia aman di rumah!" ucap Marco
"Iikh, kamu tuh Ayah tak berperasaan!" hardik Rubby, ia kesal pada Marco karena banyak bertanya. Rubby berlalu dari apartemen Mraco dan sudah tak peduli pada Marco. Bongkahan es kutub itu, kini menjadi sangat bawel.
"Rubby tunggu!" Marco mengejar Rubby.
"Ada apa?" tanya Rubby ketus. Saat Marco dapat meraihnya dan sama sama masuk lift menuju parkiran.
"Bagaimana kamu pulang? kunci mobilmu di tanganku!" ujar Marco lirih
"Maaf Marc, Aku memikirkan Vallon! Kalau hujan deras di iringi petir begini Vallon akan bersembunyi di balik lemari," ucap Rubby seraya menyeka bulir air matanya yang bergulir di pipi.
"Ma-maksud nya Rub?" Namun belum sempat Rubby menjawabnya, pintu lift telah terbuka Rubby meninggalkan Marco yang masih berdiri tertegun. Rubby begitu perduli pada Vallon itu berarti Rubby menyayangi putranya.
Senyum Marco pun merekah. Dua tahun bukan waktu yang sebentar untuk dia menemukan Istri yang menyayangi Vallon dengan tulus, itu sebabnya sejak kepergian Istrinya Marco menjadi dingin pada Vallon, bukan ia tak sayang. Namun ia takut menyakiti nya saat ia terpuruk dan minuman serta mabuk mabukan lah sebagai pelampiasan.
Banyak perempuan yang ingin mendekati Marco lewat Vallon padahal Marco tahu mereka hanyalah berpura pura baik. Seperti saat Vallon di culik dan dalang penculikan nya itu adalah sahabat istrinya. Yang bernama MARISCHKA yang ia tolak saat ia mengajaknya Marco menikah.
Marco mengejar Rubby. Hingga kini mereka sudah berada di dalam mobil dan melaju di jalan raya yang mulai banjir di beberapa titik.
"Maaf Rub! aku tidak mengenal Anakku. Tapi kamu yang baru saja tiga bulan mengasuhnya malah lebih tau tentang dia," ucap Marco.
Saat hujan lebat di sertai petir, Vallon akan duduk di pojok, menutup dirinya dengan selimut serta menutup telinganya. Atau ia akan bersembunyi di balik lemari atau sela lemari." Tutur Rubby.
"Oh my God! mengapa aku tidak tahu masalah ini Rubby? Maafkan Daddy Val! kamu pandai, selalu terlihat kuat dan Lincah. Ternyata kamu menyembunyikan hal ini dari Daddy. Val..Val!" ucap penyesalan Marco.
"Mungkin karena kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan mu Marc. Jadi Vallon tidak ingin membuat kamu cemas saat di kantor!" ucap Rubby.
"Mungkin! sejak kapan kamu tahu Vallon ketakutan dengan suara petir?" tanya Marco.
"Sejak saat kita bertemu malam-malam itu, Setelah aku sampai di rumah mu. Hujan turun dengan lebatnya dan di sertai suara petir. Aku ingat, belum memberikan susu padanya yang ia pinta. Setelah membuatkan Susu, Aku masuk ke kamar! ternyata Vallon tidak ada di tempat tidurnya dan kamu tahu Marc?" tanya Rubby.
"Iya, kenapa Rub?" tanya balik Marco.
Vallon sedang berada di pojok lemari menutup dirinya dengan selimut, ia bergetar ketakutan dan sedang terisak. Aku masih ingat ekpresi ketakutan dari Vallon. Malam itu aku menemaninya tidur hingga hujan reda dan setelah ia tenang dan tertidur pulas baru aku tinggal.
"Ya ampun! Mengapa aku tidak tahu Rub?" tanya Marco.
"Vallon yang melarang aku memberi tahukan nya padamu! ia takut akan menggangu pekerjaan mu," jawab Rubby.
"Val. Daddy sayang Val! mulai hari ini Daddy berjanji akan lebih dekat denganmu. Mungkin Daddy harus lebih mengenalmu kembali Val," ucap Marco.
"Terima kasih Marc, kamu sudah peduli pada Anakmu," ucap Rubby.
"Hey ku mohon! seharusnya aku yang berterima kasih padamu! Kau bagai malaikat untuknya, dalam tiga bulan kau sudah seperti Ibu baginya," ucap Marco.
"Mungkin kau pantas menjadi ibunya! atau Kita menikah saja Rub? agar engkau menjadi ibu bagi valon dan tentunya Ibu dari adik nya Vallon kelak." kelakar Marco.
o huuudi cicoiBicara apa sih kamu Marc? Aku kan Adikmu," Hingga terjadi suasana yang canggung. Mereka pun hening.
**
30 menit lebih, Marco sampai di rumahnya. Ia langsung mencari Vallon. Di kawasan rumah Marco hujan deras mulai turun, sebelumnya petir terdengar seperti bersahutan.
"Vall, di mana kamu Son? Val ini Daddy," teriak Marco
Muria yang mendengar Marco berteriak Ia pun keluar dari kamar. "Tuan Vallon, ada di kamar nya Tuan! Saya baru saja memberikannya susu," ucap Muria meningu
"Oh! Terima kasih Muria," Marco bergegas naik ke lantai atas sembari menarik tangan Rubby. Dengan tergopoh Rubby mengimbangi langkah panjang Marco.
"Vall, Where are you? this is Dad! Panggil Marco saat sudah sampai di kamar Vallon.
"Tuan Vallon, di mana kamu?" Rubby ikut memanggil.
"I'am in here Dad! Please help me," (saya di sini Dad! Tolong saya) ucap Vallon yang mendengar Marco berteriak mencari nya.
Rubby pun melepaskan tangannya dari genggaman Marco, lalu ia berlari kearah sumber suara dan Vallon sedang berjongkok di sela lemari di antara dinding dan lemari.
Astagfirullah! Tuan vallon ayo keluar. Ada Aku dan Ayahmu tidak perlu," ucap Rubby. Ia segera meraih tangan Vallon agar ia keluar dari sela lemari tersebut.
Vallon pun keluar. Dengan cepat ia peluk Rubby. Begitupun Rubby ia melakukan hal yang sama memeluk Vallon. Rubby mengajak Vallon ke sisi tempat tidur dan memeluknya erat sembari menyelimuti tubuhku dengan selimut.
Marco yang melihat keadaan itu hanya bengong. Ia tertegun, Rubby mampu menjadi Ibu bagi Vallon. Hatinya terhenyak melihat pemandangan itu, Vallon masih memeluk Rubby dan Marco menghampiri mereka.
Marco duduk di samping Rubby ikut menenangkan Vallon. "Vall forgive me," ucap Marco.
"It's ok Dad! Aku sudah memaafkan kesibukanmu, saat ini aku dapat menangani nya sendiri," ucap Vallon.
"Tidak! mulai saat ini berbagilah dengan Daddy!" ucap Marco sedih. Lalu ia memeluk keduanya. Kini mereka terlihat seperti sepasang suami istri bersama anak mereka.
msak orang baik harus d madu
tpi gpp udah ending juga
gemes q ma emily
pngen uwel uwel mak AUTHORRRRRRRRRR
Q GA HARUS nunggu up nya buat tahu kejutan krna pas q baca udah tamat
tpi tetep aja masih deg deg an
pa lagi yg part 1 walah 3kli baca ga bosen
ampe klo dngar bacaan Ar-Rahman q pasti inget ustad afnan
smangat bunda