Perjuangan menggapai sebuah filosofi emosi bernama cinta, untuk hati yang selalu menangisi lingkaran rindu tak berujung di masa kecilnya kepada Ayah Bunda
Sebagaimana puisi yang menyimpan banyak makna dari setiap rangkaian kata
Begitu juga hidup yang menyimpan banyak rahasia dari setiap rangkaian peristiwa
Seorang gadis bernama Lunara yang hidup dengan takdir yang seolah seperti terus mempermainkan hatinya
"Cinta itu anugerah, jika aku tidak bisa mencintaimu sebagai pendamping hidupku, maka aku akan mencintaimu sebagai adikku" - Juan
"Saya bukan pengecut, tapi mencintai dia dalam do'a-do'a saya adalah bukti terbesar cinta saya untuk dia" -Reyhan
"Layaknya puisi... kamu itu ibarat sajak yang membuat kalimat lebih indah, kamu adalah inspirasi yang tidak bisa aku hentikan" -Luna
Ini novel pertamaku
Semoga kalian suka ya 😊
.
.
.
Ig @inrosas_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Kasih sayang tidak selalu ditunjukkan dengan kehadiran
.
.
.
Brakk!!!
Luna tersentak kaget begitu pintu kamarnya terbuka cepat dan nyaring, tapi dia lebih dikagetkan dengan kehadiran orang yang ada dihadapannya
Hosh hosh hosh...
Juan mendekat dengan nafas yang masih ngos-ngosan karena dia habis berlari agar bisa sampai ke ruang rawat Luna secepat mungkin begitu Vani mendapatkan kabar dari Yana kemudian langsung mengabarkannya pada Juan
Setelah cukup dekat dan berada tepat di sisi ranjang baik Luna dan Juan hanya saling memandang haru dengan mata yang berkaca-kaca, sedetik kemudian Juan runtuh dan terduduk dengan menggenggam dan meletakkan kepalanya pada Luna
"Cengeng ahh kamu, gitu aja nangis"
Kata Luna dengan berusaha tersenyum sambil mengelus kepala Juan dengan sebelah tangannya
Juan tampak tak bergeming... membuat Luna mengalihkan tangannya ke dagu Juan kemudian mengangkatnya agar Juan mendongak memperlihatkan wajahnya
"Semuanya akan baik-baik aja... Kamu wanita yang kuat, iya kan?"
Ucap Juan lirih yang dijawab senyuman serta anggukan dari kepala Luna, kemudian Juan mencium tangan Luna begitu dalam dan lama
Ceklek
"Waduhhh panggilin dokter Dir... "
Kata Vani sambil terpejam memegang dadanya
"Butuh dirawat juga nih buat pemulihan jiwa jomblo gue habis ngeliat yang romantis-romantis begini"
Tanbah Vani begitu masuk dan disambut oleh pemandangan yang membuat hidupnya terasa miris
"Dokter apa? RSJ?"
Jawab Dira datar kemudian mendekati ranjang Luna melewati Vani yang termangu dengan kalimat yang baru saja dia dengar
"Kalian juga disini? Tau darimana sih sebenarnya?"
Tanya Luna penasaran dan bergantian menoleh Juan, Vani, dan Dira
"Yana yang ngasi tau kita"
Jawab Dira lembut dengan tangannya mengelus kepala Luna dengan tatapan yang begitu iba
"Jangan gitu dong mukanya, kalian kesini mau nyenengin gue apa mau tangisin gue"
Kata Luna begitu melihat air muka Dira yang sendu
Tak!
Vani menjitak sisi kiri kening Dira
"Gila loe ya!"
Bentak Dira yang sedang meringis kesakitan karena jitakan yang cukup keras dari Vani
Sedang yang dibentak hanya diam menggeser posisi Dira tanpa dosauntuk lebih dekat dengan Luna
"Udah loe gak usah liatin mukanya Dira, drama emang dia, sumber penderitaan emang tampangnya nih anak"
Dira memutar bola matanya mendengar apa yang diutakan oleh temannya itu, baru saja menarik nafas untuk membalas Vani, Luna melarang
"Udah udahh, kok malah berantem sih"
"Tau tuh loe berdua gak inget situasi dan kondisi banget sih"
Tambah Juan untuk melerai mereka
"Dengerr tuh... "
Celutuk Vani pada Dira yang dibalas picingan tajam dari matanya
"Kapan operasinya?"
Tanya Juan kemudian
"Malam ini"
Keempatnya pun kemudian mengobrol ria, tampak Luna pun menikmati kebersamaan dan kehangatan yang dia rasakan saat ini
- - -
Tok Tok Tok!
"Masuk"
Seru Edi dari dalam ruangannya, tampak dokter Rey masuk dengan memegang sebuah map biru dan meletakkannya di meja Edi, Edipun membukanya
Tanpa mengutarakan sepatah katapun Edi membubuhkan tanda tangannya di bagian bawah kanan surat tersebut yang berisikan persetujuan operasi hepatektomi untuk Luna kemudian menutup map itu kembali, Rey menerima map itu lagi
"Kalau gitu saya permisi Om'
Pamit Rey yang hanya diangguki oleh Edi
- - -
Segala pemeriksaan dan persiapan sebelum operasi sudah dilakukan, Juan, Vani, dan Dira masih setia mendampingi Luna
Dokter Rey datang bersama seorang perawat wanita untuk membawa Luna ke ruang operasi menggunakan kursi roda
"Ayah..."
Luna tampak ragu untuk melanjutkan pertanyaannya, Rey jongkok menyetarakan tinggi dengan Luna di kursi roda
"Om Edi ada, dia pasti lagi berdo'a untuk kelancaran operasi kamu"
Tutur Rey dengan lembut, namun Luna hanya mengalihkan matanya yang sendu ke arah bawah dengan jarinya meremas ujung bajunya
"Kasih sayang gak selalu ditunjukkan dengan kehadiran, mungkin ini cara Ayah kamu dalam menyayangi kamu, sekarang kita langsung ke ruang operasi ya"
Luna mengangguk lemah lalu menoleh ke arah Juan, Vani dan Dira, Juan pun mendekat
"Kita disini terus kok, kamu jangan lupa berdo'a terus"
Ucap Juan mengelus rambut Luna
Dan disinilah Luna...
Terbaring dalam ruangan dikelilingi oleh orang-orang berpakaian steril berwarna hijau dengan masker warna senada di wajah mereka, Luna mulai merasakan kantuk yang teramat berat sampai pandangannya mulai mengabur dan gelap
Para tim medis pun mensterilkan area perut, pinggang dan dada Luna dengan menggunakan antiseptik
Bismillahirahmanirrahim...
Juan, Vani dan Dira menunggu dengan gelisah yang menyeruak dalam hati mereka
Berdzikir lewat satu persatu ruas jari mereka mengharap keselamatan dan kelancaran operasi Luna
Tak jauh berbeda dengan Edi di ruangannya, Lia dan Yana di kamar mereka masing-masing pun ikut menengadahkan kedua tangannya memohon pada Allah SWT
- - -
Kurang lebih 3 - 4 jam ruang operasi pun tampak dibuka dari arah dalam
Juan, Vani dan Dira sontak berdiri menghampiri dokter Rey
"Gimana dok?"
Tanya mereka cemas
Rey membuka maskernya, tampak senyum tipis lega dari raut wajahnya
"Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar, sekarang Luna akan kami pindahkan ke ruang rawat"
Alhamdulillah...
Serentak mereka mengucap syukur
Dengan menggunakan brangkar yang di dorong oleh perawat, Luna yang masih belum sadarkan diri di bawa menuju ruang rawat
Juan, Vani, dan Dirapun ikut dari arah belakang, mereka memutuskan untuk menginap menjaga Luna
- - -
Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh 2X
Rey mengakhiri salatnya dengan dua salam di lanjut dengan berdo'a dan bersyukur, beberapa saat kemudian dia mengambil ponselnya, tampak jari-jarinya mengetik sesuatu
drrtttt drrttt drrtttt
Edi mengalihkan pandangannya pada ponsel di mejanya, dari notifikasi tampak ada pesan dari kontak bernama "Reyhan"
Alhamdulillah operasinya berjalan lancar
Begitu bunyi pesan dari Rey, Edi tampak mengehembuskan nafas panjang setelahnya
Edi hanya membuka pesan tersebut tanpa ada niat untuk membalasnya, diapun membereskan ponsel serta tasnya kemudian mengambil kunci mobil dan pulang
Hampir pukul 03.00 pagi, mobil Edi baru sampai ke garasi rumah, dia segera masuk menuju kamarnya, begitu tangannya menyalakan lampu, pandangannya tertuju pada Lia yang duduk di tepi ranjang
"Kamu kebangun atau gak tidur?"
Tanya Edi sambil meletakkan tasnya
"Gimana Luna, kenapa ak telfon gak diangkat"
Tanya Lia pelan
"Operasinya berhasil, udahlah aku mau mandi dan langsung tidur, capek"
Mendengar itu Lia meneteskan air matanya merasakan kelegaan dalam hatinya
Sekarang novel ini udah hadir kembali dalam judul yang sama. udah jalan 7 episode lohhh. yukk rameinn
Search Hati Lunara, atau nama pena Mufa Zurea
penulis nya masih sama kok. cuma ubah nama aja hihii
Sekarang ceritanya udah diperbaiki agar lebih menarik dengan nama penampilan berbeda yaitu Mufa Zurea dan tampil dengan judul "Hati"
Bisa di search pake nama pena atau judulnya yaa. Akan up mulai minggu ini
5 rate, like, vote msh menunggu...
SEMANGAT!!