Darimu aku belajar mencintai dengan ikhlas, meski tak terbalas.
(Nama yang selalu menjadi perbincangan disepertiga malamku)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Setelah memilih untuk tidur demi menghindari curhatan Vaira yang bisa dipastikan berujung sampai tengah malam. Indara terbangun tepat jam 03:00, dengan mata yang masih menahan kantuk ia berusaha meraih ponsel yang ada di atas nakas samping tempat tidur untuk mematikan alarm tahajjud. Dengan langkah yang sempoyongan dia menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan berwudhu.
Kini gadis berusia 23 tahun itu, tengah larut dalam sholatnya. Ia sengaja berlama-lama disujud terakhirnya untuk mencurahkan semua yang selama ini dipendam, mulai dari rasa syukur, permintaan, dan juga impian yang selama ini dipendam sendiri. Saat menyudahi sholat, dia meraih Al-Qur’an kecil di atas meja belajar dan mulai membuka serta melantunkannya dengan suara yang masih parau.
Selesai membaca Al-Qur’an ia meraih ponsel yang diletakkan tempat semula. Saat mematikan alarm ia sempat membaca nama “Rai” dilayar ponselnya. Berarti laki-laki itu membalas pesan yang dikirimkannya semalam.
Syukurlah kalau gitu Dara. Aku kemarin ketemu Ibam, katanya mau ketemu kamu ngasih salep.
Rai membalas pesan Indara pukul 02:30, tepat tiga puluh menit sebelum ia terjaga.
“Iya, sekali lagi terima kasih sudah mau menanyakan kabarku. Kemarin pagi sebelum berangkat kerja dia ngasih itu, salep yang diberi tempo hari udah mau abis.” Balas Indara pada laki-laki yang masih dilihatnya online itu.
Iya sama-sama. Kalau gitu aku ke masjid dulu Dara. Assalamualaikum. Tulis Rai membalas pesan Indara.
Indara hanya menjawab salam Rai, tanpa berniat membalas. Ia kembali meletakkan ponsel di atas nakas, setelah menyadari mulai terdengar suara dari arah masjid. Dengan segera ia menuruni anak tangga untuk sholat berjamaah dimushollah dengan yang lain.
Setibanya ia disana, ternyata Bu Titi dan Nuara telah lebih dulu, mereka sedang memakai mukenah. Terdengar dari lantai atas suara pintu sedang diketuk, rupanya Bude’ Aya belum mengetahui bahwa penghuni kamar itu sudah berada dimushollah.
Tok tok tok
“Ara sudah bangun nak.” Ucap bude’ dibalik pintu kamar Indara.
“Bude’, Ara sudah dimushollah.” Jawab Indara dengan sedikit teriakan dan yang mendongakkan kepalanya untuk melihat Bude’ Aya.
Bude’ Aya yang mendengar suara Indara hanya mengangguk dan berjalan kearah yang lainnya.
***
Terlihat Bu Titi dan Nuara sedang sibuk di dapur, setelah menunaikan sholat Subuh keduanya langsung menuju dapur. Berbeda dengan Bude’ Aya dan Indara yang memilih kembali masuk kedalam kamarnya masing-masing. Gadis yang tengah berbaring di atas tempat tidur itu mulai merasa bosan. Dilangkahkan kakinya menuju dapur tempat aroma masakan berasal dan memenuhi indra peciumannya.
“Ara bisa bantu apa Bu Titi, Naura ?” Tanyanya saat berada dimeja depan dapur.
Naura hanya tersenyum melihat Indara “Nggak usah mbak cantik.” Tolak Naura dan diangguki oleh Bu Titi.
“Nak Ina kapan kesini lagi ya mbak ?” Tanya Bu Titi yang masih fokus dengan masakannya.
“Hmm, nggak tau juga bu. Kan kemarin juga kesini pas kaki saya masih sakit toh.” Jawab Indara.
“Lohh, dia main kesini mbak cantik ?” Tanya Naura.
“He’e, pas hari dia datang sama kakek, neneknya, sama Ibam itu Nau. Hari apa ya itu lupa, diantar Ibam.” Jelas Indara pada Nuara yang masih terlihat sibuk menyiapkan lauk pauk kedalam piring.
“Trus, mbak cantik yang nganter?” Tanya Naura kembali.
Indara menggelengkan kepalanya, “Nggak, Rai yang jemput sorenya.” Jawabnya kembali.
Mendengar nama Rai dari Indara, entah kenapa Naura sepertinya terlihat tidak senang. Namun ia begitu berusaha untuk menyimpan rasa ketidak senangannya itu.
“Oh.” Jawab Naura singkat dan meletakkan piring berisi lauk di atas meja tepat di depan Indara.
“Kalau gitu, saya jogging aja Nau.” Ujar Indara dan meninggalkan dapur.
Naura enggan menjawab Indara, hanya memilih menatap punggung gadis itu yang kian menjauh dengan tatapan yang begitu dingin.
***
“Ya Allah capeknya.” Gumamnya pada diri sendiri dan memegang lutut sembari berjongkok.
“Assalamualaikum, Indara.” Terdengar suara dua orang tepat dibelakangnya kini.
“Haaaaaa !” Teriak gadis itu saat mendengar suara yang berasal dari belakangnya.
Dengan segera ia membalikkan badan. “Huuuh.” Terdengar suara helaan napas panjang darinya “Aku kira siapa. Waalaikumussalam.” Jawabnya kemudian.
“Hehehe, maaf. Mengagetkanmu.” Ujar Rai dengan senyum sumringah dan wajahnya tersapu sinar matahari pagi.
Indara hanya mengangguk tanpa menjawab ucapan Rai. “Kamu lari, emang kakimu udah nggak sakit lagi ?” Tanya Ibam yang berada di samping Rai.
Kedua bola mata Indara diputar saat mendengar pertanyaan Ibam yang lebih terdengar konyol menurutnya “Kalau masih sakit, ngapain aku repot-repot lari ?” Ia malah bertanya balik pada Ibam.
Rai yang mendengar hal itu hanya terkekeh kecil dan berusaha menahan senyum untuk tak menjadi tertawaan. Ia merasa bahwa baru kali ini ada yang bersikap seperti itu pada Ibam, karena selama ini ia menjadi idola perempuan dan berusaha untuk bersikap manis didepannya. Ditambah lagi dengan statusnya sebagai anak pemilik salah satu pesantren terbesar dikotanya.
“Ehh, iya juga ya.” Jawab Ibam canggung dan malah terlihat seperti orang bodoh.
“Udah yah, aku pulang dulu.” Ujar Indara. “Assalamualaikum.” Pamitnya dan berlari kecil menciptakan jarak dengan kedua laki-laki itu.
Ia yang belum jauh meninggalkan keduanya, wajahnya terhias dengan senyum lebar. Jikalau pun ada yang melihatnya pasti akan susah melupakan senyum itu.
Sedangkan Rai yang tadi berusaha menahan tawa, kini sudah berhasil menggelakkan tawanya bahkan ia sampai berjongkok dan tak ketinggalan wajahnya kini memerah karena tadi berusaha menahan tawa.
“Kamu ketawain apa ?” Tanya Ibam yang menyadari hal lucu sehingga memancing gelak tawa Rai, namun ia malah memilih untuk masa bodo’.
“Baru kali ini ada cewek yang mengacuhkanmu dan bahkan ngomong seperti itu. biasanya kan Hahaha.” Ujar Rai dan kembali tertawa.
Ibam hanya menatap Rai sekilas dan berlari kecil meninggalkannya yang masih saja tertawa.
***
Seperti hari-hari kemarin, hari ini Indara bahkan terlihat semakin sibuk dengan para pengunjungnya. Bahkan ia sampai lupa untuk beristirahat jika tak diingatkan oleh Gamila.
“Ara, kamu istirahat dulu dek. Kamu juga belum makan sama sholat kan ?” Tanya Gamila.
“Iya mbak belum, makan tadi udah abis sholat Dzuhur.” Jawabnya singkat saat kembali dari meja pengunjung.
“Kamu sholat Ashar dulu, kan abis ini kita mau kepengajian. Kamu lupa ?” Tanya Gamila kembali.
“Astaga mbak, aku lupa. Ya udah aku sholat dulu mbak.” Ucapnya dan meninggalkan Gamila yang sudah terlihat rapi dan sedang beristirahat.
Selang beberapa waktu Indara kembali ketempat Gamila dan disusul oleh Lafiza. Juga beberapa karyawan yang akan menggantikan pekerjaan mereka.
“Bude’ sama Naura belum datang mbak ?” Tanya Indara pada Gamila yang duduk di meja kasir.
“Sepertinya belum dek.” Jawab Gamila dan menatap kesembarang arah.
“Mungkin masih dijalan.” Ujar Lafiza dan diangguki oleh yang lainnya.
Setelah beberapa lama berbincang, kini ketiganya melihat mobil yang tak asing lagi, juga motor matic dibelakangnya.
“Assalamualaikum.” Sapa Bude’ Aya dan Naura yang berada di belakangnya.
“Waalaikumussalam.” Jawab ketiganya yang masih berada di depan meja kasir.
“Langsung aja. Ayok.” Ajak Bude’ Aya dan kembali menuju mobil, pun Naura dan Indara menuju motornya masing.
“Nau, ntar kamu sama aku aja ya.” Ucap Indara dan mengenakan helmnya.
“Iya mbak cantik.” Jawab Nuara dan segera menyalakan motornya kemudian mengekor di belakang mobil Bude’ Aya.
Sesampainya dirumah, mereka hanya menjemput Bu Titi dan menaruh motor Naura. Kemudian beranjak menuju tempat pengajian rutin yang biasa mereka ikuti. Kali ini Indara yang menyertir, sedangkan Naura hanya duduk manis dibelakang Indara. Keduanya sesekali bercakap, tak lama merekapun sampai pada tujuannya.
Dari luar masjid bisa dilihat bahwa yang lain sudah menunggu, syukurlah pengajian dimulai sekitar lima menit lagi. Semuanya bergegas menuju masjid dan melepas alas kaki masing-masing. Gamila yang mulai merasa kesusahan dan ngap-ngapan dibantu oleh Lafiza, istri dari adik iparnya.
***
Setelah pengajian berakhir rombongan Bude' Aya tengah asyik berbincang dengan wanita paruh baya yang bersama Vira minggu lalu. Rupanya itu adalah Ibu Nur, dan beliau masih keluarga jauh Gamila, menantu Bude’ Aya.
Indara dan Naura berjalan ke tempat motornya diparkirkan, pun dengan Vira yang mulai bosan dengan perbincangan para perempuan dewasa itu.
“Assalamualaikum Dara.” Ucap seseorang yang mengenakan kaus polo coklat dan sarung warna Abu-abu, sungguh warna kaus itu sangat kontras dengan kulitnya yang kuning langsat.
“Waalaikumussalam.” Jawab keduanya, dan tak lupa menyunggingkan senyum sekilas.
“Mas Rai dari mana ?” Tanya Naura.
“Dari pondok laki-laki Nau. Sudah mau pulang ?” Tanyanya kembali namun matanya malah tak melirik Naura sama sekali.
“Iya mas.” Jawab Naura.
Rai tersenyum manis pada gadis yang tak jauh berada dibelakang Naura. Indara yang berada dibelakang Naura hanya melihat sekilas kemudian menundukkan pandangannya, begitu juga dengan Rai tak menyadari bahwa telah menatap Indara tanpa sengaja. Dengan cepat pula ia mengedarkan pandangannya kesembarang arah. Sementara didepannya kini berdiri Naura yang dengan senyum malu-malu.
Perbincangan Naura dan Rai hanya sekedar basa-basi. Entahlah mungkin karena Nuara yang tak pandai mencari topik atau malah Rai yang acuh tak acuh pada gadis yang berada didepannya itu.
Indara hanya menunggu dan sesekali mendengar percakapan antara Rai dan Naura. Hingga pendengarannya menangkap suara motor berhenti tepat di depannya.
“Ra, Assalamualaikum.” Salam Ibam dan melihat Indara yang tengah melihat Rai dan Naura. Sedangkan Ibam kini ditatap dengan tatapan sendu oleh Vira.
“Eh, Bam. Waalaikumussalam.” Jawab Indara dan melirik Ibam sekilas.
“Kamu liat apa ?” Tanya Ibam kembali, kemudian ekor matanya melihat Vira yang berjalan menuju kearah mereka.
“Hmm, nunggu Naura. Lagi ngobrol sama Rai tuh.” Jawabnya dan menunjuk pada kedua orang dimaksudkan.
Sama seperti Indara, Ibam pun hanya mendengar basa-basi antara mereka berdua. Pun Rai yang menjawab seperlunya pertanyaan Naura.
“Gus Ibam.” Panggil Vira. “Assalamualaikum.”
“Iya Vira. Waalaikumussalam.” Jawab Ibam.
“Nau, masih lama ?” Tanya Indara kemudian mengalihkan perhatian keduanya dan berjalan menuju Indara, Ibam dan Vira.
“Sudah pulang Bam.” Ucap Rai saat semakin dekat dengan yang lainnya.
Ibam hanya mengangguk tanpa berniat menjawab Rai.
Dari arah masjid terlihat ibu-ibu yang beberapa waktu lalu berbicang mulai mendekat kearah mereka.
“Looh Ra. Kamu sudah kenal Vira ?” Tanya Gamila.
“Sudah mbak, kemarin dia yang bantuin pas kaki masih sakit.” Jawab Indara dan melihat Vira dengan senyum manis.
Melihat Indara yang menyunggingkan senyum begitu manis, membuat Ibam dan Rai menutup mata dan menarik nafas dalam-dalam secara bersamaan. Rupanya hal yang dilakukan oleh kedua laki-laki itu tak luput dari penglihatan Naura ataupun Vira.
“Iya sudah, ayo pulang. Ini sudah mau Magrib nih.” Ajak Bude’ Aya dan mulai berjalan menuju mobil. Juga diikuti oleh yang lainnya.