"Tanggal 1 April pukul 11.11 aku sepertinya telah jatuh cinta!"
Gema menyadari perasaannya dan pada hari itu juga pemuda yang masih duduk di bangku sekolah itu akan melamar sang pujaan hati.
"Aku akan menikahi Chila sekarang juga!"
Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DHEVIS JUWITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Rumah Mertua
Biang gosip itu tersebar dari mulut ke mulut dan akhirnya ditambah bumbu yang melebar kemana-mana.
Namun, Gema dan Chila sendiri tidak mendengar gosip tentang mereka.
Mereka masih melakukan aktifitas seperti biasanya.
Gema terlalu sibuk untuk memikirkan masalah rumah tangga kecilnya dan mempersiapkan ujian.
Begitu juga dengan Chila yang hanya fokus pada dirinya sendiri.
Sampai tidak terasa seminggu berlalu, Gema dan Chila belum mengunjungi orang tua mereka semenjak menikah.
"Ayo kita suit!" ajak Chila pada suaminya.
Mereka berencana akan berkunjung ke tempat orang tua mereka tapi bingung yang mana duluan.
"Baiklah," Gema bersiap melakukan suit.
"Batu, kertas, gunting!"
Keduanya menyembunyikan satu tangan dipunggung lalu memperlihatkan bentuk tangan apa yang mereka inginkan.
Chila kertas dan Gema jadi guntingnya, otomatis pemuda itu menang.
"Artinya keluarga Bamantara menang!" seru Gema.
"Ck!" Chila berdecak sebal karena kalah.
Tapi kalau dipikir-pikir Chila belum pernah datang ke kediaman keluarga Bamantara, gadis itu jadi gugup akan berkunjung ke tempat mertuanya.
"Apa kita perlu membeli sesuatu?" tanya Chila yang merasa tidak enak jika tidak membawa buah tangan.
"Aku punya rekomendasi toko kue yang enak!"
Gema menurut saja, dia tidak akan banyak komentar atau semakin membuat istrinya gugup.
Mereka membeli beberapa kue sebagai oleh-oleh dan langsung menuju tempat di mana Gema besar selama ini.
"Apa kau sudah memberitahu orang tuamu, Gema?" tanya Chila.
"Belum, biar kedatangan kita menjadi surprise," jawab Gema.
"Tapi, bagaimana kalau mereka tidak ada," Chila jadi cemas.
Pikiran Chila salah karena baik Galang dan Dara akan mengambil libur di hari weekend supaya bisa menghabiskan waktu bersama keluarga.
Kecuali jika Galang pergi ke luar kota atau luar negeri dan Dara yang harus mengurus pasien darurat.
"Kak Gema..."
Gempi menyambut sang kakak ketika melihat taksi yang berhenti di halaman utama.
Kebetulan anak itu sedang bermain di sana.
"Apa mama dan papa ada di dalam?" tanya Gema pada adik perempuannya.
"Iya," Gempi membalas dengan melihat Chila yang baru turun dari taksi.
"Hallo Gempi," sapa Chila seraya memberikan kue yang sudah dibelinya.
"Ini kue kesukaan Sean, semoga kau juga menyukainya!"
"Sean menyukai ini?" Gempi mengambil kue dari kakak iparnya. "Kalau begitu, aku juga akan menyukainya!"
Kemudian mereka masuk ke dalam yang langsung disambut oleh Dara.
"Kenapa tidak bilang jika akan kemari?" Dara menautkan pipinya pada menantunya.
"Kami hanya mampir sebentar sebelum ke rumah Daddy," jawab Chila.
"Yakin hanya sebentar?" tanya Dara seraya menggandeng tangan Chila. "Aku akan bilang pada dokter Armon kalau kau harus menginap!"
Chila tidak bisa berkata apa-apa selain mengikuti mertuanya. Dia menoleh ke belakang dan melihat Gema yang melambaikan tangannya.
"Aku bahkan tidak dianggap oleh ibu kandungku sendiri," ucap Gema yang merasa diabaikan.
Selagi Dara dan Chila melakukan kegiatan mertua dan menantu, Gema ingin menemui Galang untuk membicarakan sesuatu.
Pada saat itu Galang tengah berolah raga di ruangan gym pribadi lelaki itu.
"Papa..." panggil Gema di sana.
Galang mengangkat beban 100 kilogram jadi tidak bisa langsung menjawab panggilan putranya.
Sedetik kemudian Galang melepas bebannya dan melihat Gema sudah duduk dekat dengan dirinya.
"Kau kemari?" tanya Galang.
"Aku ingin menjual motorku," ucap Gema tanpa menjawab pertanyaan sang papa.
"Apa aku tidak salah dengar?" Galang merasa tidak percaya.
"Tidak, aku ingin menukar motorku dengan mobil. Tidak mungkin aku dan Chila memakai taksi terus," jelas Gema.
Mendengar itu, Galang jadi tertawa karena mengingat Gema sebelumnya ingin menjadi rakyat jelata dan hidup sederhana.
"Kau tahu sekarang kalau semua hal tidak bisa kau sepelekan," sindir Galang.
"Mau bagaimana lagi, ternyata aku tidak bisa membiarkan istriku menderita," balas Gema.
"Gunakan saja salah satu mobil di garasi, jangan jual motormu!" Galang mencoba memberi solusi.
Gema menghela nafas panjang di sana, dia memang belum bisa mandiri tanpa orang tuanya.
"Suatu hari, aku pasti akan membalas jasamu ini karena sudah menyelamatkan rumah tangga anakmu yang..."
Gema tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena Galang mengangkat lima jarinya.
"Stop! Aku tidak ingin mendengar kalimat yang membuatku sakit kepala jadi jangan banyak bicara," ucap Galang yang tahu jika putranya suka mendramatisir keadaan.
Lelaki itu memilih keluar dari ruangan gym dan mandi, Galang ingin melihat menantunya yang datang dalam keadaan bersih.
Sementara Gema segera pergi ke garasi untuk memilih mobil yang akan dia bawa tapi sebelum itu dia menaiki motornya karena sangat merindukan benda besi yang biasanya menemaninya sehari-hari.
"Hai sayangku, aku sangat merindukanmu," ucap Galang seraya memeluk motornya.
"Aku mau cerita..."
Karena tidak ada yang tahan berbicara dengan Gema memang pemuda itu melampiaskan pada motornya sendiri.
Cukup lama Gema ada di garasi yang membuat Chila mencari suaminya.
"Kak Gema ada di garasi," ucap Gempi memberitahu.
"Terima kasih Gempi," Chila segera mendatangi suaminya itu.
Di garasi Gema tampak tengah memperbaiki motornya sampai membuat wajahnya hitam karena oli.
"Kau bisa menjadi mekanik juga," komentar Chila.
Mendengar suara istrinya membuat fokus Gema jadi buyar.
"Istriku, kenapa kemari?" tanya Gema.
"Aku mencarimu karena makan siang sudah siap, aku tadi membantu mama memasak," jawab Chila.
Melihat wajah Gema yang terkena oli membuat Chila ingin menyekanya.
"Jangan nanti tanganmu kotor, sayang," Gema berusaha mencegah.
"Tidak apa-apa, kan bisa dibersihkan," balas Chila yang masih ingin menyeka wajah suaminya.
Gema merasa mendapat perhatian lagi dari istrinya, hatinya jadi berbunga-bunga.
"Kau mencintai dirimu sendiri tidak?" tanya Gema kemudian.
"Tentu saja," jawab Chila.
"Berarti kita mencintai orang yang sama," ucap Gema mulai menggombal.
"Ish..." Chila menjauhkan wajah Gema. "Bersihkan dirimu!"
"Mau melihat kamarku?" tanya Gema yang sudah berdiri.
Karena nanti malam mereka menginap tentu saja Chila mengikuti Gema ke kamar pemuda itu.
Berbeda dengan kamarnya yang bernuansa pink, kamar Gema dominan berwarna gelap.
"Kalau tidak betah bilang saja, kita akan langsung ke rumah Daddy mertua," ucap Gema di dalam kamarnya.
"Memangnya kau betah di rumah Daddy?" tanya Chila.
"Aku bisa beradaptasi dengan cepat di mana saja," jawab Gema seraya melepas bajunya.
Sontak Chila langsung membalik badannya karena malu.
"Kenapa kau selalu membuka baju sembarang seperti itu, Gema?" protes Chila.
"Apa salahnya? Kita kan suami istri," sahut Gema tanpa rasa bersalah.
Pemuda itu masuk kamar mandi untuk membersihkan diri dan Chila akan menunggu suaminya sampai selesai.
Chila masih canggung berada di keluarga Bamantara.
"Kalau aku dan Gema nanti berpisah, apa mereka masih akan baik seperti ini padaku?" gumam Chila jadi membayangkan masa depan hubungannya dengan Gema.
cui cui cui