Zheyara : "Aku berjanji akan membebaskan kalian dari lingkaran kematian ini, meskipun sedikit mustahil bagi diriku sendiri".
Misteri, ya dunia ini adalah misteri dan teka-teki dan orang yang paling banyak mengetahui semua misteri itu adalah perwujudan sosok misteri itu sendiri.
misterius, cover yang sangat menarik dari diri seseorang. Dalam diamnya, terdapat banyak rahasia yang dipendam, dalam sunyi banyak hal yang terusik, dan dalam sepi banyak sesuatu yang menari sehingga menciptakan suatu misteri.
"Aku tak akan membunuh kalian semua tetapi bukan berarti aku melupakan dendamku. Hanya saja aku merubah arah panah dendam itu menjadi 2 sisi yang sangat tajam sekaligus menyenangkan bagiku. Satu sisi membuatku menjadi kuat dan Istimewa, dan satu sisi lainnya membuat orang yang membenciku lebih terluka berkali" lipat untuk sekedar melihatnya daripada terluka karna pembalasan sebuah dendam".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azyhra Angkasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paviliun Keluarga Dewa
Matanya menjelajahi tempat di sekitarannya berdiri, meneliti setiap inci bangunan yang ada. Sesaat pandangannya terhenti pada satu objek, yaitu sebuah bangunan berwarna biru langit. Itulah rupa sebenarnya dari paviliun yang sedang ia cari, tebak dan banyangkan.
Benar, ternyata letak paviliun itu terletak persis di belakang hutan obat legendaris. Hutan yang kini sudah menjadi hutan larangan yang tak sembarangan orang dapat memasukinya, apalagi dirinya.
Zheya memandang paviliun itu dari kejauhan dan mengamati setiap detail bangunan tersebut. Mencari di bagian mana sisi paviliun yang dipenuhi oleh pepohonan.
Zheya mencari dua pohon yang diwariskan keluarga itu turun-temurun, berusaha mengambil daun yang bisa digunakan sebagai penawar racun langka, untuk menyembuhkan adik sepupunya.
Tetapi semua area paviliun dan sekitarnya sudah ia amati. Namun, ia sama sekali tak menemukan pohon-pohon itu, yang pastinya dari tampilannya saja sudah terlihat seperti pohon biasa. Mungkin pohon yang berharga itu memiliki tempat penyimpanannya sendiri.
Zheya terlihat sedang berfikir. Ia berusaha menemukan sebuah ide yang bagus dan cocok, agar dirinya bisa memasuki paviliun itu secara baik-baik, tanpa membuat satu pun keributan.
Di tengah dirinya yang sedang sedang pusing memikirkan berbagai cara untuk bisa masuk ke paviliun itu dengan damai, tiba-tiba ada sesuatu hal tak terduga yang ia lihat.
Zheya melihat dan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bahkan sebelum Zheya membuat kekacauan justru mereka sendirilah yang terlebih dahulu menciptakan kekacauan itu.
Saat ini, terlihat ada dua orang wanita muda yang sedang berdebat di depan halaman paviliun itu.
"Hey kau apa-apaan, mengapa kau menyakiti anakku. Apakah kau tak tahu bahwa dia adalah calon penguasa di masa depan yang harus ku jaga dengan baik?"
"Kau yang apa-apaan adik, mengapa kau membiarkannya mencuri perhiasanku begitu saja. Apakah calon penguasa di masa depan nyatanya menjadi seorang pencuri ke kecil pada masa ini?"
Sarkas salah seorang wanita yang sedang bertengkar itu juga tidak mau mengalah.
"Jaga bicaramu!!! Mau bagaimanapun Qingyi juga tetap keponakanmu. Mengapa tidak kau relakan saja perhiasan yang telah diambilnya itu? Bukankah katamu kau adalah bibi yang baik?" sahut salah seorang wanita satunya.
"Ya memang benar, aku memang orang yang sangat baik. Tetapi aku rasa berbuat baik kepada orang yang tak tahu diri dan tak tahu cara berterimakasih adalah kesalahan besar yang pernah kuperbuat saat ini"
"Kurang ajar kau! Hentikan ucapan tidak sopan yang keluar dari mulutmu itu, sebelum aku yang membungkamnya dengan tanganku!"
Zheya yang sudah pusing menjadi bertambah pusing melihat pemandangan yang merusak sangat suasana itu. Tetapi Zheya tiba-tiba terpikir untuk memanfaatkan keadaan ini.
Setelah mendapatkan ide yang ia rasa cukup cemerlang Zheya pun langsung melancarkan aksinya. Ia menghampiri dan berlari ke tengah-tengah kedua wanita yang sedang berdebat itu.
Mungkin cara yang digunakan Zheya saat ini lumayan nekat. Tetapi menurutnya hanya cara inilah satu-satunya cara yang paling instan, cepat, dan ampuh serta memberikan peluang besar dalam mencapai tujuannya.
Kedua wanita yang sedang berdebat itu pun merasa keheranan karena melihat gadis asing yang tiba-tiba muncul menengahi perselisihan mereka.
"Siapa kau? Apakah kau pencuri yang ingin merampok kami? Kalau begitu rampok saja wanita pelit ini. Wanita ini memiliki banyak perhiasan, tetapi sangat pelit untuk berbagi walaupun dengan keponakannya sendiri."
"Jadi jika kau ambil, hitung saja sebagai karma yang datang lebih cepat kepadanya karena ia pelit," ucap salah satu wanita yang sedang tidak akur itu.
"Rupanya kau benar-benar membuatku gila, aku sampai tidak habis pikir adik. Mengapa kau malah menyuruh pencuri itu untuk merampok perhiasanku?" sela kakak dari wanita itu.
"Biarkan saja, siapa suruh menjadi seorang kakak yang pelit kepada adik dan keponakannya sendiri," wanita itu membela diri.
Zheya yang semula sudah memiliki rancangan rencana yang sudah tersusun rapi di otaknya pun seketika buyar. Ia seketika menjadi bingung dan tidak tahu ingin melakukan apa karena menyaksikan kerumitan yang sebenarnya hanya dibuat-buat itu.
"Mengapa anak-anak dari para dewa juga melakukan hal yang sangat konyol seperti ini. Lihatlah, bagaimana mungkin seorang kakak beradik bisa dengan mudahnya bertengkar dan terprovokasi oleh masalah yang sepele."
"Bahkan denganku, orang asing yang mungkin saja bisa membahayakan mereka, bisa dengan mudah mereka biarkan untuk berada di tengah-tengah masalah mereka berdua."
"Dan parahnya, mereka malah fokus bertengkar dengan saudaranya sendiri, daripada memerhatikan gelagat orang asing yang terlihat mencurigakan."
"Jika mereka terus bersikap bodoh seperti ini, mereka sama sekali tak pantas untuk disebut sebagai dewi, meskipun kenyataannya mereka adalah anak dari para dewa dan dewi."
Zheya yang masih terdiam di antara mereka pun merasa dirinya tetap tak dipedulikan. Dan yang lebih konyolnya, mereka tetap tak menghentikan perdebatan sepele mereka yang sangat sia-sia itu.
"Sudah-sudah, aku bukanlah perampok atau pun pencuri yang ingin merampas harta kalian, justru aku mempunyai solusi untuk masalah kalian," Zheya mulai melancarkan aksinya.
Mereka yang mendengar Zheya berbicara seperti itu pun menjadi antusias dan penasaran. Mereka bertanya-tanya, berusaha memikirkan solusi apa yang akan gadis asing itu berikan untuk mengatasi masalah mereka.
"Aku sedang membutuhkan sesuatu. Jika kalian bisa membantuku, maka aku akan memberikan kalian perhiasan-perhiasan langka yang kupunya," Zheya sedang berusaha melakukan negosiasi dengan para anak dewa itu."
Mereka sebenarnya merasa tidak terlalu tertarik dengan kata yang diucapkan Zheya, terlebih ia adalah orang asing yang secara tiba-tiba muncul serta ingin membantu mereka.
Tetapi, dikarenakan mereka berdua sudah merasa lelah bertengkar jadi mereka mengiyakannya. Mereka berpikir mungkin saja solusi yang Zheya tawarkan bagus menguntungkan mereka berdua."
Dan benar saja, mata mereka berdua berbinar saat mendengar Zheya berbicara akan memberikan mereka perhiasan langka miliknya.
"Ya, apa yang kau butuhkan? Kami pasti akan membantumu jika kami mampu," ucap mereka berdua bersamaan.
"Aku sedang membutuhkan daun dari dua pohon peninggalan milik keluarga kalian, dan pohon itu diwariskan secara turun-temurun. Apakah kalian bisa memberikanku daun dari kedua pohon itu?"
"Ah pohon tua itu rupanya, aku mengetahuinya. Biarkan aku saja yang memberikannya padamu," ucap wanita yang terlihat lebih tua.
"Enak saja, tidak bisa. Biar aku saja kakak. Sejak dulu kau tidak pernah mengalah pada adikmu sendiri," Balas wanita yang lebih muda tidak terima.
"Kalau pun kalian berdua yang memberikannya aku pun tak masalah, bahkan lebih bagus lagi kalau aku ikut ke sana bersama kalian. Sekarang yang terpenting adalah aku bisa mendapatkan beberapa lembar daun dari kedua pohon itu."
"Jadi bisakah kalian membawaku ke sana untuk memetik daun itu sekarang?" tanya Zheya lagi.
"Bisa," Balas mereka lagi dengan kompak.
"Sebenarnya kedua kakak beradik ini sudah lumayan kompak, tujuan dan keinginan mereka pun selalu sama. Hanya saja mereka terlalu mengikuti ego, yang menjadi sumber kelemahan mereka."
"Baiklah. Ayo," ajak Zheya menyegerakan.
Zheya berjalan mengikuti kedua kakak beradik itu yang kini berjalan di depannya untuk menunjukkan jalan.
Pohon itu ternyata terletak di lantai dua, di lantai paling atas paviliun itu. Di sana juga terdapat banyak pohon-pohon kuno lainnya, yang di zaman sekarang sudah sangat sulit untuk ditemukan.
"Kedua pohon peninggalan itu, yang mana?" Zheya bertanya lagi untuk kesekian kalinya.
Jari kedua kakak beradik itu menunjuk ke arah pohon yang berbeda. Isyarat mereka menunjukkan bahwa pohon yang masing-masing mereka tunjuk adalah dua pohon yang sedang dicarinya.
Semangat Thor 💪
smngt
smngt thor
naik ke atas pohon.