"Apa tidak ada cara lain Pak?, mungkin jika cacat di salah satu kaki dan tangan saya masih bisa menerimanya tapi ini tuli dan bisu, bagai mana saya bisa berkomunikasi dengannya?" ucap Frayogha yang tidak bisa mengerti dengan permintaan seorang pimpinan sebuah pondok pesantren yang memintanya menikahi putrinya yang tuli dan bisu, hanya karena dia ingin menghalalkan makanan yang telah dia makan.
Di paksa untuk menikahi seorang yang tidak dia kenal, dan katanya tuli juga bisu, rasanya jika menikahpun pernikahan mereka tidak akan lama atau mungkin sebaliknya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ade Diah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Besar dan indah
"Bagai mana?" tanya Wanita paruh baya tersebut dan dia sangat sangat berharap Ainur mau tinggal bersamanya.
"Baiklah saya ikut ibu, tapi selama saya tinggal di rumah ibu saya izin untuk membantu membersihkan rumah atau memasak di sana".
Sarat yang di ajukan Ainur sebenarnya membuat ibu tersebut keberatan mengingat setatus Ainur adalah anak kiyayi tapi demi bisa membuat Ainur tinggal di rumahnya ibu itu pun setuju
"Baiklah, jika dengan cara itu kamu mau tinggal di tempat ibu".
Setelah ibu itu menyetujui syarat yang di minta Ainur akhirnya mereka masuk kedalam mobil dan siap untuk pergi kerumah wanita paruh baya itu.
Sepanjang jalan Ainur hanya menatap jalanan dengan pandangan yang kosong karena hati dan pikirannya kini tengah meratapi nasib pernikahan dadakannya yang berujung penyesalan baginya.
Ibu tadi yang melihat Ainur Hanya diam dengan sorot mata yang terlihat kosong berkata
"Nur, jika kamu ingin bercerita ibu siap mendengarkan apapun... keluh kesahmu!!"
Ainur tidak merespon karena terlalu fokus pada pemikirannya dan ibu tadi yang ingin berbicara pada Ainur langsung mengambil tangan Ainur dan di genggamnya tangan itu
Ainur menoleh dan setelah itu Ainur langsung memeluk ibu tersebut karena dia merasa jika ibu tersebut mirip dengan uminya dan tidak berselang lama pundak Ainur terlihat naik dan turun pertanda jika Ainur tengah menangis
"Menangislah agar beban yang menghimpit dadamu terasa lebih ringan, dan jika kamu ingin bercerita ibu siap menjadi pendengar yang baik" ucap ibu tersebut sambil mengusap punggung Ainur berharap bisa menenangkan Ainur.
Ainur baru melepaskan pelukannya setelah merasa batu yang tadi sempat menghampiri dadanya mulai terangkat
"Bu terimakasih, rasanya dengan memeluk ibu aku merasa sedang memeluk umi, tapi maaf kalau untuk bercerita Nur belum siap".
"Ya sama-sama, kapanpun kamu butuh pelukan ibu datanglah pada ibu, ibu tidak memaksa kamu untuk bercerita Hanya saja jika kamu butuh tempat untuk bercerita ibu siap menampung keluh kesah mu".
Ainur mengangguk dan dia berterima kasih kembali pada ibu tersrbut.
Sungguh Ainur merasa beruntung bisa bertemu ibu tersebut dalam keadaannya yang sedang tidak baik-baik saja andai tidak bertemu dengan ibu tersebut Ainur tidak tahu harus berbuat apa.
Ya Ainur berpikir seperti itu karena sekarang dia sudah bisa memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah hari ini tentunya tanpa Yogha dan keluarganya.
Mobil telah sampai di kediaman ibu tersrbut dan Ainur yang sibuk melamun menyusun rencana hidupnya tidak menyadari hal itu, jadi Ibu tersebut harus memegang tangan Ainur untuk memberi tahu jika mereka sudah sampai tujuan.
Ainur yang sudah tersadar dari lamunannya langsung melihat sekeliling setelah ibu tadi memberitahu Ainur jika mereka telah sampai
Ibu tersebut merasa sangat kasihan pada Ainur karena dia berpikir jika masalah yang di hadapi Ainur bukan masalah kecil terbukti dengan dia melamun sampai tidak bisa mendengar ucapannya.
"Ibu harap permasalahan mu cepat selesai Nur, dan ibu yakin masalahmu pasti sangat berat sampai wanita sholehah sekelas kamu melamun sampai segitunya" ucap Ibu tersebut saat melihat Ainur menurunkan koper juga tas besarnya.
"Ayo masuk" ucap ibu itu mengajak Ainur yang sedang sibuk memerhatikan halaman rumahnya
"Bu rumah ibu sangat besar dan indah". puji Ainur
"Terimakasih tapi sayang penghuni rumahnya sedikit, ingin di perbanyak tapi Allah tidak mengijinkan kami memiliki anak lebih dari satu" ucap Ibu tersebut memberitahu keadaan rumahnya
"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Ainur penasaran
"Karena anak ibu yang lain selalu gugur sebelum berkembang atau tidak pernah bertahan lama setelah dilahirkan, dan sekarang anak ibu yang masih ada dan sudah besar juga belum bisa memberikan kami cucu, padahal dulu alasan kami membangun rumah besar agar bisa menampung anak anak kami yang sangat banyak, Eh maaf saking asiknya bercerita sampai lupa mengajak kamu duduk"
Ya tadi ibu tersebut bercerita sambil berjalan dan berhenti setelah dekat dengan kursi yang ada di ruang tamu.