Sebuah takdir yang tidak pernah terduga, membuat Qirani Andara, terpaksa menikah dengan pria yang merupakan kekasih dari kakaknya sendiri, yang meninggal akibat kecelakaan.Namun,sebelum mengembuskan napas terakhir, kaluna masih sempat meninggalkan wasiat agar jantungnya didonorkan pada Qirani yang memang sudah mengalami kelainan jantung dari kecil. Langit Radhitya Ganendra, pria tampan yang sangat mencintai Kaluna, kakak dari Qirani itu, terpaksa mau menikah dengan adik kekasihnya. Kenapa? Karena jantung wanita yang dia cintai itu bersemayam di tubuh Qirani. Harusnya pernikahan mereka menjadi kebahagiaan bagi Qirani karena gadis itu selama ini juga sudah jatuh cinta pada pria itu. Namun, bukan kebahagiaan yang dia dapat, karena suaminya sama sekali tidak pernah bisa mencintainya. yang dia pedulikan hanyalah jantung sang kakak yang ada di tubuhnya. Akankah Qirani tetap bertahan dan sabar melihat suaminya yang hanya mementingkan jantung almarhumah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Sri Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu subur kan?
Qirani dari tadi terlihat gelisah. Rasa sakit dan sesak di dadanya karena sikap Langit, mengalahkan rasa kantuknya, hingga membuat wanita itu tidak bisa tertidur, padahal jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.
"Aku benar-benar tidak bisa tidur. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Qirani.
Suara decitan pintu karena dibuka seseorang, membuat Qirani langsung memejamkan matanya.
"Itu Kak Langit. Tenyata dia tidak Setega itu membiarkanku tidur sendiri di kamar ini," bisik Qirani pada dirinya sendiri, seraya mengintip sedikit. Sudut bibir wanita itu melengkung sekilas, membentuk senyum tipis.
Jantung Qirani berdetak cepat, saat mendengar langkah Langit yang semakin dekat dan berhenti tepat di dekatnya.
"Ya, Tuhan, Kak Langit mau ngapain? Apa dia menarik lagi kata-katanya untuk tidak menyentuhku? Bagaimana ini kalau iya? Aku belum sepenuhnya siap. Tapi, Kalau dia minta, mau tidak mau aku harus siap," Qirani kembali bercengkrama dengan hatinya sendiri.
"Kaluna, aku bersyukur masih bisa mendengar jantungmu berdetak. Hanya ini yang membuatku merasa kalau kamu masih ada. Jantungmu yang berdetak walau di tubuh adikmu, sudah bisa membuatku merasa tenang. Terima kasih, Sayang sudah meninggalkan jantungmu. Walaupun sebenarnya jantungmu itu masih belum bisa sepenuhnya mengobati rasa kangenku, tapi itu sudah cukup bagiku. Kaluna aku merindukanmu!" bisik Langit tepat setelah pria itu mendekatkan telinganya ke arah dada, tempat di mana jantung wanita yang dia cintai, bersemayam.
Dada Qirani kembali sesak mendengarnya ucapan Langit. Perasaan senang karena Langit masuk ke kamar, menguap entah kemana begitu tahu, kalau alasan suaminya itu datang, hanya untuk mendengar detak jantung Kaluna yang sekarang sudah menjadi miliknya.
Setelah merasa puas mendengar detak jantung itu, Langit pun berlalu pergi.
Air mata yang dari tadi berusaha ditahan olehnya Qirani akhirnya lolos juga begitu tubuh Langit menghilang di balik pintu.
"Begini ya rasanya diabaikan? Apa seperti ini yang kak Luna rasakan ketika merasa diabaikan mama dan Papa? Sesak dan sakit, kak," ucap Qirani sembari menyeka air matanya.
"Apa ini upahku bisa hidup dengan jantung yang kakak titipkan padaku? Kakak ingin membuatku bisa merasakan bagaimana sakitnya diabaikan? Kalau iya, aku ikhlas menerimanya kak," lagi-lagi air mata Wira mengalir dan bahkan tambah deras.
"Kak, kalau boleh jujur, aku sebenarnya iri dengan Kakak yang mendapatkan cinta tulus dari Kak Langit dan kedua orang tuanya. Kakak juga sehat, cantik, pintar dan bisa merasakan indahnya masa remaja. Tidak sepertiku yang penyakitan dan banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Tapi, sekali lagi kak, walaupun bukan aku yang meminta jantung ini, aku ikhlas dengan semua yang terjadi padaku. Bahagia di sana ya, Kak." Qirani kembali terisak dan menangis cukup lama. Saking capek menangis, akhirnya Qirani bisa tertidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu berlalu dengan cepat, tidak terasa usia pernikahan Langit dan Qirani sudah satu tahun. Namun, tidak ada Yang berubah sama sekali. Langit memang sudah berubah lebih lembut, namun laki-laki itu masih lebih memperdulikan jantung di tubuh Qirani dibandingkan Qirani sendiri. Dan satu lagi, Langit tetap konsisten tidak pernah menyentuh wanita itu.
"Kak, ayo sarapan!" ucap Qirani sembari menata makanan yang baru saja dia masak. Ya, wanita yang dulunya tidak tahu memasak itu akhirnya bisa memasak juga, setelah berjuang belajar memasak. Walaupun memang, kata Langit masakan Kaluna masih jauh lebih enak dibandingkan masakan Qirani.
Langit tidak menjawab sama sekali, tapi pria itu tetap duduk dan mulai makan makanan yang sudah disiapkan Qirani sebelumnya.
"Bagaimana kali ini, Kak? enak nggak?" tanya Qirani, yang entah kenapa masih ingin tetap bertanya, walaupun dia tahu jawaban pria itu.
"Lumayan. Tapi, maaf ... Kamu masih__"
"Masih perlu banyak belajar lagi, karena masih lebih enak masakan Luna," sambar Qirani dengan cepat. Wanita itu sudah hapal jawaban suaminya saking seringnya pria itu mengucapkan hal itu.
"Itu kamu tahu," sahut Langit, santai.
"Sudah biasa kakak bicara seperti itu. Sekeras apapun aku berusaha, pasti akan tetap tidak bisa seperti Kak Luna, di mata Kakak,"
Langit terdiam. Pria itu bahkan sontak berhenti makanan. Pria itu menatap Qirani dengan raut wajah yang sukar untuk dibaca. Antara merasa menyesal atau biasa saja, Qirani sama sekali tidak bisa menyimpulkan.
"Aku sudah kenyang. Aku mau ke kantor dulu!" Langit berdiri dari kursinya dan meraih jas yang sebelumnya dia sampirkan di kursi.
"Tapi, makanan Kakak belum habis. Sayang Kak, kalau dibuang. Aku juga tidak bisa makan makanan seperti itu kan?" protes Qirani.
"Kalau tidak mau terbuang, kamu kasih kucing di jalanan sana. Itu saja kamu tidak tahu. Aku memang sudah kenyang, kalau dipaksakan juga, yang ada aku kekenyangan dan perutku jadi sakit. Aku berangkat dulu!" Langit berbalik dan melangkah pergi.
"Kak tunggu!" cegah Qirani membuat langkah Langit terhenti
"Ada apa?" Langit mengernyitkan keningnya.
Qirani tidak menjawab.Namun, wanita itu melangkah menghampiri suaminya dan meraih tangan Langit lalu mencium punggung tangan pria itu.
"Hati-hati, Kak!" ucap Qirani.
"Hmm," sahut Langit singkat, sembari berlalu pergi.
"Haish, sebenarnya aku masih belum kenyang dan masakannya tadi sangat enak. Mulut ini kenapa sih selalu bicara yang bisa membuatnya sakit hati," Langit berjalan menuju mobilnya, sembari menggerutu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Qirani baru saja selama merapikan meja makan. Wanita itu berniat untuk masuk ke dalam kamar yang ditempati Langit selama ini.
Wanita itu memang tidak menyerahkan pada asisten rumah tangga untuk membersihkan kamar suaminya itu. Ia memilih untuk membersihkan kamar itu sendiri, karena tidak ingin ada yang tahu kalau dirinya dan Langit tidur di kamar yang berbeda. Beruntungnya, asisten rumah tangga mereka memang datang pagi dan pulang kalau pekerjaannya sudah selesai.
Baru saja kakinya menapak di anak tangga pertama, bel di pintu berbunyi, membuat Qirani menghentikan langkahnya lalu berjalan ke arah pintu.
"Eh, Mama!" Qirani mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan wanita paruh baya yang tidak lain adalah Mona, ibu mertuanya.
"Langit sudah berangkat ya?" tanya Mona, sembari melenggang masuk ke rumah.
"Iya, Ma. Baru saja!" sahut Qirani sembari mengikuti mertuanya duduk di sofa.
"Sebelum berangkat dia sarapan kan?"
Qirani tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Baguslah! setidaknya kamu ada gunanya jadi seorang istri. Tadinya, aku khawatir kalau putraku tidak pernah sarapan saat pergi ke kantor," cetus Mona, tidak peduli dengan perasaan Qirani yang pasti sakit mendengar ucapan mama mertuanya itu.
"Emm, Selain memastikan Langit pergi ke kantor tidak dengan perut kosong, mama mau tanya, apa kamu sudah ada tanda-tanda hamil?" pertanyaan yang sudah sering didengar oleh Qirani dalam beberapa bulan belakangan ini, kembali terdengar dan memang sudah bisa ditebak oleh Qirani dari awal.
"Em, Maaf, Ma," sahut Qirani dengan nada lirih.
Mona mendengkus dan menatap sinis ke arah Qirani. "Masa belum juga sih? Kamu itu subur kan? Atau jangan-jangan ada masalah di dirimu," tukas Mona dengan tatapan curiga.
"Ma, mungkin belum saatnya saja. Nanti kalau sudah saatnya, Tuhan pasti akan kasih kesempatan aku untuk hamil," sahut Qirani. Wanita itu memang tidak jujur tentang yang sebenarnya, karena dia tidak ingin ada yang tahu masalah rumah tangganya termasuk mama mertuanya.
"Ihh, mama gak mau tahu. Kamu harus melakukan pemeriksaan untuk tahu yang sebenarnya,"
"Kenapa harus aku saja,Ma? kenapa Mama tidak meminta Kak Langit juga? Seharusnya Mama itu nanya ke Kak Langit, kenapa aku belum juga hamil, jangan tanya aku aja!" ucap Qirani, ambigu.
Tbc
kira kira bawangnya sampe bab berapa Thor, AQ mau siapin mental buat baca biar kuat /Grin//Grin/