Pernikahan yang terjadi karena kesepakatan membuat hubungan itu harus di rahasiakan.
Namun seiring berjalannya waktu kabar pernikahan itu akhirnya pun banyak yang mengetahui.
Hidup bersama tanpa cinta hanya akan menyakiti hati satu sama lainnya.
Bagaimanakah kelanjutan rumah tangga mereka?
Akankah cinta bisa tumbuh diantara keduanya?
Atau malah harus berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfin Maghfiroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Gisel dan asistennya mulai merias Wulan, mulai dari makeup, hair do dan juga nail art nya.
"Ee apa aku boleh meminjam charger hp kalian?" Tanya Wulan
"Maaf nona kami tidak di perbolehkan meminjamkan apapun untuk nona, kami hanya di minta untuk merias nona saja" jawab Gisel
Keadaan ini sungguh membuat Wulan sangat kesulitan, para penjaga yang awalnya hanya berjaga di luar pintu kini mereka berdiri tepat di belakang Wulan.
Setelah selesai di hias Gisel dan semua asistennya langsung pergi. Para penjaga lalu membawa Wulan keluar dari hotel dengan mengendarai mobil bagus.
Mau di bawa kemana dan akan menikah dengan siapa masih menjadi misteri besar. Meski berulang kali Wulan mencoba mencari tahu namun hasilnya tetap nihil.
Tak lama mobil berhenti di depan sebuah rumah besar bak istana. Pagar besar dan tinggi berjejer mengelilingi rumah.
Para penjaga tadi lalu membukakan pintu mobil dan meminta Wulan untuk turun.
"Ini kesempatan ku untuk kabur, tak peduli bagaimana caranya aku harus pergi dari sini" batin Wulan
Ternyata untuk kabur tidaklah semudah bayangannya, pintu gerbang itu langsung terkunci dan penjaga langsung berjejer di sana.
Tempat ini bak istana dengan pengawalan yang ketat, para penjaga yang memiliki tubuh besar dan kekar serta wajah yang menakutkan.
Di depan pintu besar, Rendy berdiri di sana menyambut kedatangan Wulan lengkap dengan setelan jas yang rapi.
"Pak Rendy? Apa ini rumahnya pak Rendy? Apa aku akan menikah dengan pak Rendy? Ah yang benar saja, tidak mungkin...."
"Selamat datang...." Sapa Rendy
"Apa apaan ini, pak Rendy? Pak Rendy mau menikahi saya?" Tanya Wulan
"Sebaiknya cepat masuk, acaranya sudah mau di mulai" ajak Rendy
"Tidak, saya tidak mau menikah dengan pak Rendy. Saya tidak mau!!"
"Sebaiknya kamu masuk dulu"
Wulan sebenarnya enggan masuk ke dalam namun karena para penjaga yang menakutkan Wulan akhirnya melangkah masuk.
Wulan lalu di sambut pelayan wanita dan mengantar nya untuk langsung duduk di kursi yang sudah di siapkan. Di depannya sudah ada pak penghulu yang menunggu nya.
"Apa akadnya sidah bisa di mulai, di mana mempelai pria nya?" Tanya penghulu
"Mempelai pria? Bukan kah di sini sudah ada pak Rendy? Jika bukan pak Rendy aku akan menikah dengan siapa?" Batin Wulan
Seseorang dengan tubuh tegap dan gagah menuruni anak tangga. Derapan langkahnya saja sudah bisa kita tebak siapa yang datang mendekat.
Wulan menoleh dan sangat sangat terkejut bukan main. Pria tersebut tak lain adalah bos nya sendiri yaitu CEO Abimana Artha Wijaya.
Abi tampak sangat tampan dengan setelan tuksedo berwarna hitam.
Mata Wulan membulat sempurna dan pandangannya tidak bisa berpaling. Ini seperti mimpi, bisa di bilang ini mimpi baik karema menikah dengan orang tampan dan kaya raya bisa juga di bilang mimpi buruk karena menikah bukan dengan orang yang ia cinta.
Abi lalu duduk di samping Wulan menghadap bapak penghulu. Sedangkan Wulan masih tenggelam dalam lamunannya.
"Baiklah karena kedua mempelai sudah siap, bisa kita mulai sekarang akad nya?" Tanya penghulu dan langsung di angguki oleh Abi.
Seketika Wulan tersadar dan langsung menolak.
"Tunggu tunggu pak. Ini... Ini sepertinya salah faham, saya... Saya tidak____"
Wulan tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena Abi mencengkeram tangannya dengan kuat. Wulan menatap wajah Abi dan Abi seakan memberikan isyarat untuk tetap diam dan melanjutkan pernikahan.
"Tuan, ada apa ini? Kenapa kita akan menikah?" Tanya Wulan dengan pelan sambil menahan rasa sakit di tangannya.
"Diam dan ikuti saja!" Kata Abi dengan sedikit menekan suaranya.
"Mari lanjutkan pak, semakin cepat semakin baik" ucap Abi pada penghulu.
Pak penghulu lalu menjabat tangan Abi lalu memulai akad, dengan tegas dan hanya satu kali tarikan nafas akad pun berjalan dengan lancar.
Pernikahan sederhana yang hanya di saksikan oleh Rendy dan pak Rahman juga para penjaga dan pelayan di rumah itu. Namun meski begitu mahar yang Abi berikan bukan lah main main, Abi memberikan mahar dengan sejumlah uang dan beberapa set emas dan berlian.
Seketika air mata Wulan jatuh membasahi pipinya, perasaan nya tidak karuan.
Penghulu lalu meminta Wulan dan Abi menandatangani berkas dan buku pernikahan. Wulan tidak mau, tangannya tetap diam mengepal di atas pangkuannya. Namun Abi tidak tinggal diam, Abi mengambil tangan Wulan dan memberikannya pulpen untuk segera menandatanganinya.
Air mata yang mengalir bukanlah air mata kebahagiaan, melainkan ia merasa hidupnya seakan seperti permainan. Dengan resmi hari ini dirinya sudah mejadi istri dari seorang Abimana.
Setelah pernikahan sederhana itu selesai pak Rahman pamit untuk segera kembali ke rumah sakit.
"Selamat untuk pernikahan mu, semoga kalian langgeng dan selalu bahagia" ucap pak Rahman lalu memeluk Abi
"Terima kasih dok" jawab Abi sembari membalas pelukan pak Rahman
Rendy pun juga pamit untuk ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan nya. Kini hanya Abi dan Wulan saja yang ada di rumah besar itu sementara para penjaga berada di luar rumah.
Wulan tetap duduk di kursi sejak tadi tanpa bergeming sedikit pun. Ia masih tidak menyangka akan jalan takdirnya. Matanya masih terus berair sembari otaknya terus berpikir 'Kenapa?'
Abi melangkah hendak menaiki anak tangga, Wulan bangun dari duduknya dan berlari menghampiri Abi.
"Tunggu tuan, tunggu....."
Abi menghentikan langkahnya namun tidak menoleh.
"Apa yang sebenarnya tuan rencanakan, kenapa tuan menikahi saya?" Tanya Wulan dengan suara yang penuh isakan
Bukannya menjawab pertanyaan Wulan, Abi malah melanjutkan langkahnya menuju lantai atas.
"Tuan, kenapa tuan diam saja. Jawab saya tuan! Kita tidak bisa menikah seperti ini, saya tidak mau menikah dengan tuan. Kita tidak saling mencintai dan tidak seharusnya menikah seperti ini"
Wulan terus melangkah mengejar Abi meski sedikit kesulitan menaiki tangga menggunakan heels dan juga gaun pernikahan.
Abi masuk ke salah satu kamar dan membiarkan pintunya tetap terbuka. Wulan langsung masuk begitu saja dan terus melemparkan pertanyaan yang serupa.
Rupanya di atas kasur lebar itu ada sejumlah uang dan beberapa kotak perhiasan.
"Itu semua sekarang menjadi milik mu" ucap Abi
Melihat kilauan emas dan berlian tidak membuat Wulan senang. Ia justru semakin marah dan kesal.
"Cukup tuan, cukup. Saya tidak butuh ini semua, saya cuma butuh jawaban dari tuan. Kenapa tuan menikahi saya, kenapa??"
Abi melangkah mendekat pada Wulan, menatapnya dengan tatapan tajam dan mengerikan.
"Jaga mulut mu saat kau bicara dengan ku!" Ucap. Abi
"Tidak! Tuan sudah salah dengan menikahi saya. Saya tidak mau menikah dengan tuan saya tidak butuh semua uang dan perhiasan ini, saya tidak mau!!" Ucap Wulan dengan keras
"Cuih...." Abi meludah tepat di samping Wulan "Ga usah munafik jadi wanita. Tidak ada wanita yang akan menolak jika aku nikahi. Kau hanya gadis miskin yang akan rela melakukan apa saja demi uang" sambungnya
Mendengar kalimat itu yang keluar dari mulut Abi membuat Wulan semakin panas. Wulan mengepalkan tangannya dan nafasnya mulai menderu.
Abi mengangkat sebelah alisnya dan tatapan matanya seakan mengejek Wulan yang terlahir miskin.
"Kau seharusnya bersyukur karena bisa menikah dengan pemuda tampan dan kaya raya seperti ku. Hidup mu akan di tanggung dengan segala kemewahan yang aku punya"
Tak tahan lagi Wulan mengangkat tangannya dan hendak melayangkannya ke wajah Abi. Namun dengan cepat Abi menangkap tangan Wulan dan melipatnya di balik punggung Wulan.
BERSAMBUNG
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
Kak author selalu di nanti UP karyanya 👍