Entah siapa yang menjebak Bima dengan obat sampai harus memanfaatkan gadis yang tidak berdaya bernama Olivia, di malam pertunangan gadis itu
“Saya khawatir kalau nanti Olivia ….” Bima menjeda ucapannya lalu menghela nafas,“Hamil.”
“Kamu pikir aku mau mengandung anak kamu! Kalaupun aku hamil, pasti akan aku gugurkan,” pekik Olivia
Benarkah Bima dan Olivia dijebak? Mungkinkah Bima dan Olivia akhirnya menjadi pasangan dan melupakan masa lalunya?
====
Spin Off : Jerat Cinta Dibalik Dendam
IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15 ~ Keputusan Olivia
Olivia dan Bima bertemu saat briefing sebelum shift mereka dimulai. Sempat saling tatap tanpa bisa terbaca apa yang ada dalam pikiran masing-masing. Biasanya shift malam akan dimulai pukul sembilan, tapi karena ada acara dan membutuhkan lebih banyak personil. Jadwal kerja mereka dimulai lebih awal dua jam.
“Akan agak ramai malam ini, karena ada pesta di ballroom. Resepsi pernikahan dari keluarga ternama, pemilik rumah sakit,” tutur Malik.
Olivia tentu saja tahu, kalau malam ini resepsi pernikahan Haris setelah siang tadi melangsungkan akad nikah. Bahkan Helen dengan sengaja mengirimkan video dan foto acara tersebut, entah apa maksudnya
“Mbak Oliv, bisa dibantu,” ujar salah satu staf yang kesulitan dengan sistem.
Saat Olivia sedang fokus mendampingi staf yang melayani tamu cek in, ada seseorang yang mengantri di dalam barisan.
“Selamat malam, selamat datang di ….”
“Olivia.”
Olivia tersenyum, tersenyum terpaksa pada Helen. Meskipun sebenarnya dia sangat ingin menghardik atau mengusir wanita di hadapannya. Entah kenapa saat ini Olivia merasa hubungan persahabatannya dengan Helen menjadi hambar, lebih tepatnya renggang karena sikap Helen yang berubah.
“Wah aku lupa kalau kamu magang di sini,” ujar Helen. “Aku mau ambil kunci kamarku dong,” ujarnya lagi.
Olivia memberikan kunci kamar Helen setelah membaca database, kamar mana yang Helen tempati.
“Kamu sudah bertemu dengan Kak Haris belum?”
“Belum. Selamat beristirahat,” ucap Olivia sambil tersenyum.
“Istrinya cantik loh, nggak kalah deh dari kamu. Semoga aja dia bahagia setelah kamu khianati.”
“Maaf Mbak, bisa bergeser karena ada antrian di belakang,” pinta Olivia pada Helen yang langsung melengos sambil mencibir.
Bima yang memang berada tidak jauh dari sana, tentu saja mendengar apa yang disampaikan oleh Helen. Dadanya ikut sakit mendengar penghinaan untuk Olivia.
“Ya Tuhan, izinkan aku membahagiakan wanita itu. Wanita yang sudah aku sakiti,” batin Bima sambil memandang punggung Olivia.
Tepat pukul sepuluh malam, saat Olivia menunduk di meja resepsionis memperhatikan layar yang menunjukkan mana saja kamar yang siap ditempati. Bima berada di samping Olivia sedang melayani tamu yang sedang proses cek in.
“Mbak, kunci untuk tamu VIP Haris dan Maira,” ujar seorang pria.
Olivia menatap ke depan, tidak menduga kalau pria itu adalah … Haris. Meskipun terkejut, tapi wanita itu sudah bisa memperkirakan kemungkinan bertemu dengan Haris. Berbeda dengan Haris yang benar-benar terkejut.
“Sebentar saya cek dulu,” ujar Olivia dengan wajah tersenyum.
“Kamu sedang apa di sini? Jangan bilang sengaja ….”
“Ini kuncinya,” ujar Olivia menyerahkan dua kartu pada Haris. “Saya sedang magang.”
Haris mengernyitkan dahinya.
“Maaf, karena Kak Haris yang mulai menuduh saya dengan sengaja berada di sini. Justru saya menduga kalau Kak Haris sengaja memilih tempat ini untuk membuatku panas.”
Haris terkekeh.
“Sebenarnya tidak, tempat ini usulan Helen pada WO. Tapi nggak masalah, sekali dayung dua tiga pulau terlewati. Aku bahagia, bukan hanya karena pernikahanku tapi karena kamu merasakan sakitnya melihatku bersama wanita lain. Aku harap ada pria yang mau menerima kamu yang ….” Lagi-lagi Haris memandang Olivia seakan jijik.
“Selamat malam, ada yang bisa dibantu?” sapa Bima menghentikan hinaan Haris.
Haris menoleh sekilas ke arah Bima lalu kembali menatap lekat pria itu.
“Tunggu, kalian ... bersama?” tanya Haris sambil berkacak pinggang. “Apa kalian selama ini memang bermain di belakangku?”
“Maaf Pak, tolong bergeser ada antrian,” ujar Olivia menunjuk tamu yang mendekat ke arah resepsionis.
Haris bertepuk tangan sambil kembali terkekeh. “Bravo, kalian memang pasangan yang serasi. Wanita pengkhianat dan pria brengseek,” ejek Haris lalu pergi.
Awalnya Olivia masih sanggup berdiri mengerjakan tugasnya, tapi lima belas menit kemudian dia goyah dan pamit untuk istirahat lebih awal. Bima menyusul Olivia yang menuju ke belakang gedung.
“Oliv, tunggu,” panggil Bima.
“Pergi! jangan ikuti aku.”
“Oliv, kamu boleh menangis tapi ….”
“Kamu lihat tadi? Kurang hina apalagi diriku ini hah,” teriak Olivia yang ternyata pipinya sudah basah dengan air mata.
Bima menyentuh pundak Olivia, “Oliv, aku ….” Wanita itu menghempaskan tangan Bima lalu mengeluarkan sesuatu dari saku blazernya dan dilemparkan ke wajah Bima. Bima menunduk lalu memungut salah satu stik alat tes kehamilan.
“Aku hamil dan menjadi hinaan dari Helen serta Haris. Puas kamu?”
Bima mengusap wajahnya. “Bangs4t,” pekik pria itu membuat Olivia mendelik tidak percaya.
“Apa katamu? Aku bangs4t?”
“Bukan, maksud aku bukan kamu. Aku merutuk orang yang sudah membuat kita berada dalam situasi ini, tentu saja ini sangat merugikan kamu. Olivia, aku siap bertanggung jawab,” ungkap Bima
“Tanggung jawab apa? Aku tidak ingin menikah denganmu. Aku ingin gugurkan kandungan ini,” ujar Olivia lirih.
“Oliv, jangan lakukan itu.”
“Dengar, aku tidak ingin besarkan anak ini. Hanya penghinaan yang akan aku dapatkan. Orangtuaku belum tahu masalah ini. Siapkan uangnya, aku tidak mau keluargaku tahu,” titah Olivia lalu mengusap air matanya dan meninggalkan Bima.
...***...
Matahari sudah lumayan terik, Bima masih berada di belakang gedung hotel. Menghisap rokoknya, entah batang ke berapa. Permintaan Olivia semalam sungguh mengganggu pikirannya. Bagaimana mungkin wanita itu memilih solusi untuk tidak melanjutkan kehamilannya.
Puntung rokok yang baru saja dilempar, Bima diinjak dengan sepatunya.
“Masih ada waktu untuk membuatnya berubah pikiran,” gumam Bima. Pria itu memutuskan untuk pulang.
“Baru pulang?” tanya Salamah.
“Hm,” jawab Bima lalu mencium tangan Ibunya dan pamit ke kamar. Setelah mengganti pakaian dengan kaos dan celana pendek, Bima merebahkan tubuhnya di ranjang lalu membuka ponsel dan mengirimkan pesan untuk Olivia.
[Oliv, sebaiknya kita periksakan dulu kandungan kamu untuk tahu umur kehamilan dan kondisinya]
Cukup lama pesan itu belum dibaca, sampai akhirnya ceklis dua. Muncul status mengetik pada profil Olivia. Semenjak mereka berpartner, Olivia mau tidak mau membuka blokiran kontak Bima karena harus profesional termasuk berkomunikasi dengan pria itu.
[Terserah. Pastikan tempat dan biayanya]
Bima melempar ponselnya. Menghela nafas lalu menyugar rambut. Ternyata Olivia serius, masih saja dengan niatnya semalam.
“Bima.”
Terdengar ketukan pintu dan suara Ibu Salamah. Bima bergegas membuka pintu dan membiarkan Ibunya masuk, keduanya duduk di tepi ranjang.
“Ada apa? Ibu tahu kamu sedang ada masalah,” ujar Salamah.
Bima hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin menambah beban pikiran Ibunya kalau Olivia sedang hamil.
“Bim.”
“Nggak ada Bu, doakan saja agar masalahku cepat selesai.”
Setelah Salamah meninggalkan kamar, Bima membaca pesan dari Olivia yang menyampaikan waktu dan tempat untuk periksa kehamilan termasuk juga tempat untuk mengakhiri kehadiran janin di perut wanita itu.
walaupun gak sepenuhnya salah tp keadaan yg bikin Bima bersalah..
lawannya keluarga kalangan atas pula...
kuat² yaaa Bima🤭
wkwkckk..good job,teruslah berkarya, bravo anak2 bangsa yg hebat , aku bangga padamu 🥰💪🙏