Rasa cinta itu justru tersadar, ketika cemburu dirasakannya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berangkat dengan Fandi
"Jangan-jangan Elang beneran cinta sama gue?" Elsa duduk di depan meja belajarnya sambil menopang kepalanya dan membuka facebook dari gadget pintar miliknya. Mungkin sekarang facebook memang sudah turun daun tapi gara-gara dia menemukan nama Fandi di facebook-nya dia ingin melanjutkan ke-kepoannya. "Tapi gak mungkin sih ya Elang bisa jatuh cinta sama gue, kita kan udah kayak saudara. Lagian gue gak mau hubungan kita jadi berubah. Mungkin aja Elang beneran bercanda, dia kan orangnya rese."
Dia mencoba menelusuri pencariannya kemaren tapi kenapa nama Fandi yang dia cari tidak ada. "Kok gak ada? Tapi tunggu dulu." Elsa melihat ada konfirmasi pertemanan. "Fandi?" Diluar pemikirannya saat Fandi tenyata sudah menawarkan pertemanan dengan Elsa. Dia langsung mengonfirmasinya dan membuka facebook Fandi. "Facebook baru? Lalu yang kemaren?" Facebook baru milik Fandi tanpa ada pertemanan tanpa ada status apapun hanya tertera tanggal lahir dan foto profilnya. "Dan sekarang foto profilnya sendirian. Sebenarnya dia sudah punya cewek belum sih?" Elsa semakin penasaran pada Fandi.
Tidak lama kemudian sebuah pesan facebook masuk lewat massenger. Elsa langsung menegakkan duduknya. Jempolnya terasa gemetar saat akan membuka pesan itu karena jelaslah, di pesan itu tertulis nama Fandi.
Hai, sapa Fandi.
"Hai?" Elsa tidak mengira respon Fandi begitu cepat. "Hai juga." balas Elsa.
Tidak lama lagi Fandi membalasnya lagi. "Lagi ngapain? Udah tidur?"
Elsa dengan semangat membalas setiap chat dari Fandi. Ternyata ke-kepo-annya terbalas oleh Fandi. Sangking senangnya Elsa sampai berdiri dan melonjak setelah membaca balasan chat terakhir Fandi. "Besok berangkat sekolah bareng gue yuk, gue jemput tapi kalau dibolehin sama Elang."
"Yes, akhirnya gue bisa bareng lo lagi." dengan cepat Elsa membalasnya. "Oke, gue tunggu. Pasti bolehlah sama Elang, Elang kan cuma sahabat gue."
"Oke, see you tomorrow."
Chat pun berakhir dan berhasil membuat Elsa tersenyum lebar. Dia hempaskan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memeluk boneka kesayangannya. "Gak sabar nunggu besok pagi. Tapi mungkin bener kata Elang gue terlalu cepat jatuh cinta sama Fandi. Tapi whatever-lah, gue yakin Fandi itu cowok baik."
***
"Mungkin gue memang harus move on, bukan gue ingin lupain dia, justru gue ingin ngerasain cintanya lagi walau dari orang yang berbeda." Fandi duduk di tepi kolam renang sambil menghapus semua akun sosmednya yang berhubungan dengan masa lalunya. "Sejak ketemu Elsa, gue ngerasain kehadiran lo, gue tau bukan maksud gue jadiin Elsa pelarian tapi gue yakin Elsa bisa gantiin posisi lo di hati gue. Gue harus bangun dari keterpurukan ini. Maafin gue Erika."
Seperti orang gila? Ya, Fandi berbicara dengan sebuah foto yang tersimpan di gadgetnya. Gadis dengan paras cantik dan senyum ceria yang begitu mirip dengan Elsa. "Kalau bukan gara-gara gue yang gak mampu jagain lo mungkin gue masih bisa bersama lo," dan lagi, Fandi masih begitu menyesalkan kejadian setahun yang lalu. Mata merahnya menandakan hatinya begitu terpukul. Dia hapus satu per satu foto Erika meski dengan berat hati. Aksinya terhenti saat akan menghapus satu foto, dia langsung memperbesar foto itu. Berdiri bertiga dengan senyum tanpa beban, Fandi, Erika dan David. "David? Mungkin dendam lo sekarang semakin dalam sama gue. Lo pasti gak bakal lepasin gue jika kita ketemu lagi." Fandi akan tetap menyimpan foto itu, sebagai kenangan sebelum persahabatan mereka hancur.
Fandi menghela napas panjang. Dia berdiri lalu berjalan perlahan masuk ke dalam rumahnya.
***
Sang surya, tetaplah bersinar cerah seperti pagi hari ini...
Entah berpuisi atau apa yang jelas Elsa begitu semangat berdandan dan mempersiapkan perlengkapan sekolahnya. Sambil berputar-putar sesaat di depan cermin.
Dengan semangat, Elsa melangkah keluar kamar, sarapan sesaat lalu segera berpamitan.
"Elsa, buru-buru amat. Emang Elang udah datang?"
Iya Elang. Elsa baru teringat, dia belum mengabari Elang kalau dia tidak berangkat bersamanya pagi ini. Biarinlah, siapa suruh jemput telat terus. "Nggak ma, Elsa berangkat sama temen."
"Temen? Cowok?"
Elsa hanya tersenyum, "Ada deh." lalu dengan cepat Elsa mencium tangan mamanya. "Assalamu'alaikum." Elsa langsung berlari kecil keluar dari rumah.
"Walaikumsalam. Hati-hati." Bu Difi hanya menggelengkan kepalanya melihat putrinya yang tidak seperti biasanya. Dia merasa sedikit khawatir, "Apa jangan-jangan Elsa jatuh cinta dan bukan sama Elang." Bu Difi bergegas menuju jendela depan dan mengintip Elsa. "Benar!"
"Fandi, udah lama lo nunggu?" Elsa langsung menghampiri mobil Fandi yang ternyata sudah berhenti di dekat rumahnya.
"Baru aja gue berhenti." Fandi membuka mobilnya dan keluar. "Hmmm, mama lo ada di dalam?"
Elsa sedikit menegang, "Udah gak usah pamitan, gue barusan udah pamitan kok." Elsa menyelipkan rambutnya di telinga yang terasa jatuh saat hatinya bergetar. Gue masih belum berani kalau bawa cowok ke rumah selain Elang.
"Kenapa? Lo takut? Biasanya kan lo berangkat sama Elang jadi gue harus pamitan sama nyokap lo biar nyokap lo tahu kalau lo berangkat sama gue."
Elsa terperanga sampai dia tidak bisa berkata lagi. Fandi begitu dewasa. Sangat berbeda dengan Elang.
Fandi melangkah mendekati pintu masuk dan tepat di depan pintu, Bu Difi sudah membuka pintunya.
"Pagi tante," Fandi langsung tersenyum dan mencium tangan Bu Difi.
"Iya," Bu Difi masih mengamati dengan intens pada Fandi. Di belakang Fandi, Elsa begitu deg-degan apa lagi saat mendapati lirikan tajam dari sang mama.
"Saya mau berangkat sekolah bareng Elsa. Boleh kan tante?"
Bu Difi sebenarnya senang dengan kesopanan Fandi tapi ini merupakan ancaman besar bagi hubungan Elang dan Elsa. Dia takut jika Elsa benar-benar jatuh cinta dengan Fandi.
"Iya, hati-hati," tidak mungkin Bu Difi melarang Elsa tanpa alasan. "Kamu udah WA Elang kan Sa, kalau kamu berangkat sama dia..."
"Nama saya Fandi tante."
"Iya, Fandi. Udah kan Elsa?"
"Udah, ma." Elsa bohong. Dia sama sekali tidak mengirim pesan pada Elang. "Udah siang ma, kita berangkat dulu." Elsa membalikkan badannya yang diikuti oleh Fandi.
Bu Difi terus melihat mereka masuk ke dalam mobil Fandi sampai mobil Fandi mulai melaju.
Sesaat kemudian motor Elang berhenti tepat dimana mobil Fandi tadi berhenti. Elang sudah melihat semuanya, saat dia menghentikan motornya beberapa meter di belakang mobil Fandi. Dia hanya bisa menatap mobil Fandi yang kian menjauh.
"Elang," Bu Difi langsung berjalan mendekati Elang yang masih terdiam menatap nanar. "Katanya Elsa udah WA kamu, kok kamu ke sini?"
Elang menoleh Bu Difi, "Hanya karena kenal dengan orang yang baru, Elsa udah berani berbohong." Elang menghela napas panjang. "Tapi gak papa tante Elsa berhak kok mau deket sama siapa aja." Senyum terpaksa pun muncul di bibir Elang.
"Tapi Elang, tante mohon sama kamu tetep jagain Elsa yah."
"Iya, tante tenang aja. Elang berangkat dulu tante."
"Iya, hati-hati."
Elang kembali melajukan motornya. Pandangannya memang menatap lurus ke depan tapi pikirannya tak karuan. Dia tidak begitu fokus dengan jalanan pagi itu.
Lo tau Sa, apa yang gue rasain sekarang. Sakit. Yah, hanya sakit yang bisa gue rasain saat gue sadar kalau gue jatuh cinta sama lo.