Ibarat air dan minyak yang tidak akan pernah bersatu begitu lah Elang dan Ayah nya. Om Wijaya ingin jika Elang menjadi dokter namun beda lagi dengan Elang yang memiliki hoby balapan liar.
Elang Samudra seorang cowok berandal yang hobi balapan liar. Baginya, kehidupan malam lebih indah di banding kehidupan nya yang berantakan.
Walaupun Elang terlahir dari keluarga kaya raya namun Elang selalu merasa kesepian. Sang ayah terlalu sibuk dengan kerjaan nya. kakak nya yang bernama Revan juga sibuk mengajar di kampus. Sedangkan ibu nya selalu terlihat murung kadang juga ibu nya sering melakukan percobaan bunuh diri.
Namun karena sebuah peristiwa, Elang terpaksa menikahi seorang gadis cantik yang baik hati. Apakah kehadiran gadis tersebut dapat merubah kehidupan kelam Elang? Yuk baca novel author 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SENJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdebat
Bunda Elina menatap Elang dengan sendu. "Tapi Elina baru saja sadar Nak, bisa tidak kalian pergi besok saja?" saran bunda Elina.
Elang terdiam sejenak untuk berfikir bagaimana cara nya agar dia bisa pulang sore ini karena malam ini Elang harus balapan dengan Vano. "Nak Elang, ada apa?" tanya bunda Elina sembari menepuk pelan tangan Elang.
Elang terkaget "Akhh tidak apa apa Bun" Jawab Elang gugup. "Kalau begitu, Elina di sini saja Bun, dia tidak usah ikut ke Jakarta" mana mungkin Elang membiarkan Elina berada di jakarta sedang kan Elang saja memiliki banyak musuh. Elang tidak mau jika Elina harus ikut terseret dalam masalah nya lagi.
Sontak alis bunda Elina berkerut memandang Elang. "Tidak bisa gitu, kalian kan sudah nikah, kalian harus tetap bersama" jelas bunda Elina.
"Lalu bagaimana dengan sekolah Elina Bun?" Elang berusaha mencari cela agar bunda Elina tidak mengijinkan Elina ikut bersama nya.
"Kalau soal itu, biar ayah yang urus, kamu ngak perlu khawatir ya. Biar bagaimana pun kan Elina sudah jadi istri kamu jadi kemana pun kamu pergi, Elina akan selalu ikut" jelas bunda Elina membuat Elang tercengang.
"Tapi.. Apakah Elina siap ikut bersama Elang dan bagaimana dengan ayah bunda jika Elina ikut bersama Elang, kalian pasti akan merasa kesepian di sini" Elang terus mencari alasan agar Elina tidak ikut dengan nya.
Bunda Elina tersenyum simpul. "Sebagai orang tua pasti ngak akan rela jika anak nya pergi jauh tapi setelah resmi jadi istri kamu, maka kami sebagai orang tua harus mengikhlaskan Elina pergi bersama suami nya karena setelah ijab qabul seluruh tanggung jawab ayah beralih pada Elang" jelas bunda Elina dengan senduh.
Mendengar ucapan bunda Elina barusan membuat hati Elang sedikit goyah, dan mau tidak mau Elina akan tetap ikut bersama Elang ke kota. Setelah berbincang cukup lama akhirnya bunda Elina menyuruh Elang untuk istirahat sejenak setelah agak sorean baru mereka akan melanjutkan perjalanan menuju kota.
***
Cklekk..
Suara pintu terbuka lalu kembali tertutup membuat Elina terbangun dari tidur nya. "Ngapain lo ke kamar gue!" Elina menatap tajam ke arah pria yang baru saja masuk ke dalam kamar nya.
Elang terlalu malas untuk berdebat dengan Elina dan memilih merebahkan tubuh nya yang lelah di samping Elina yang sedang duduk sembari bersandar di dipan ranjang. "Ichhh lancang banget loh tidur di samping gue!! Minggir lo" Elina yang kesal menendang Elang hingga jatuh dari atas ranjang.
Elang berdecak kesal menatap Elina lalu kembali ingin naik ke atas ranjang karena tubuh Elang sangat lelah saat ini namun lagi lagi Elina membuat Elang kesal.
Elina yang melihat Elang akan naik lagi, segera mengambil ancang-ancang "Mau ngapain lo!!" bentak Elina sembari memegang bantal guling dan bersiap memukul Elang.
"Brisik lo, gue cuma mau istirahat ngak usah takut gitu" kata Elang lalu kembali naik ke atas ranjang.
Baru saja Elang ingin merebahkan tubuh nya, Elina sudah menghujani nya dengan pukulan. "Keluar dari kamar gue!" ucap Elina sembari terus memukul Elang menggunakan bantal guling.
Elang kembali berdecak kesal. "Ehh gadis bodoh, dari pada lo mengamuk di sini, mending lo siap-siap buat ikut gue ke kota" suara dingin Elang begitu terdengar di telinga Elina.
"Siapa lo yang mau ngatur hidup gue! Gue ngak akan ikut dengan monyet seperti lo" kata Elina dengan judes.
Elang sempat tertegun saat Elina menyamakan diri nya yang tampan ini seperti monyet namun Elang memilih mengabaikan itu. "Sebagai istri lo harus nurut dan lo harus ikut kemana pun gue pergi"
"Gue, ikut dengan lo? Hahah ngimpi lo" dengus Elina sembari membuang pandangan nya jauh kesamping.
Elang lalu kembali mendekati Elina hingga jarak mereka hanya tersisa sejengkal. Elang tersenyum sinis. "Kalau bukan orang tua lo yang minta, gue juga ogah ngajak lo" Elina dengan cepat mendorong tubuh Elang agar sedikit menjauh karena entah mengapa jantung Elina berasa ingin terlepas dari tempat nya saat merasakan nafas Elang yang berhembus ke wajah nya.
"Ngak usah dekat dekat, gue alergi dengan monyet seperti lo!!" kesal Elina pada Elang.
"Apa lo bilang? Gue monyet? Hahahah... " suara tawa mengejek Elang membuat Elina merinding. "Gue, Monyet terkeren yang perna lo lihat dan harus nya lo bangga bisa menjadi istri monyet ini!" lanjut Elang penuh kesombongan.
Elina mencibikkan bibir nya sembari mendorong dada Elang agar menjauh karena Elang yang sombong itu kembali mendekat kan wajah nya ke Elina. Elina lalu turun dari ranjang dan menemui orang tua nya untuk meminta penjelasan mengapa dia harus ikut bersama Elang ke kota.
Sedangkan Elang memilih untuk beristirahat sejenak karena dua jam lagi mereka akan berangkat ke kota bersama bang Revan yang sedang beristirahat di kamar yang sebelumnya Elang gunakan.
revan juga salah kenapa gk ngasih tau ortunya itu sama aja malah membuat elang semakin buruk di mata ayah dan bunda kalian