ig : @es.pucil
_____________
Ada banyak alasan mengapa Karina dengan sangat mudah diterima di keluarga Eduardo. Ia seorang aktris terkenal yang selalu sukses menjadikan filmnya selalu laris di bioskop, serta memiliki karakter dan budi pekerti yang sangat baik.
Namun, ada juga beberapa alasan yang sangat kuat mengapa Karina harus memilih Erik Eduardo sebagai kekasih meski usia mereka terpaut 19 tahun. Selain kaya raya serta sukses di bidang bisnis, Karina juga harus memilih Erik untuk ... balas dendam. Demi menebus kematian dirinya dan sang kakak 19 tahun silam, karena keserakahan Erik untuk memiliki sang anak hasil hubungannya dengan sang kakak: Bella ... yang membuahkan gadis kecil bernama Eliza dengan fisik sangat menyerupai mendiang Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Es Pucil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Rekan atau Lawan
Jelas tidak mudah meyakinkan Rafa bahwa perpindahan posisinya hanya bersifat sementara. Mengingat bahwa teman baik Karina itu sudah menemani sejak kecil. Namun, beruntung karena pada akhirnya Karina berhasil memenangkan adu argumen dengan Rafa sehingga pria itu meninggalkan rumah Karina begitu saja.
Rafa sempat berpapasan dengan Angga yang baru saja memasuki rumah. Keduanya menunjukkan ekspresi yang berbanding terbalik, tetapi keangkuhan tetap menyertai sikap keduanya. Angga dibantu oleh salah seorang pelayan, dibawa ke kamar Karina sesuai arahan sang aktris.
Pemuda itu hanya mengenakan kaus lengan panjang berwarna hijau pudar dan celana jeans biru saat ini. Sehingga ketika Karina pertama kali melihat tampilannya di cermin, gadis itu menaikkan sebelah alisnya. Meragukan tampilan Angga.
"Kamu tahu kalau hari ini calon mertua kamu bakalan nikah, 'kan?" kata Karina, kemudian sibuk dengan tampilannya lagi. "Apa kamu nggak diajarin caranya bersikap dan berpenampilan yang baik di saat-saat penting?"
"Saya nyaman dengan tampilan saya sekarang, nggak perlu khawatir tentang saya." Angga menjawab lugas, sembari memasang sikap tegap seolah siaga dengan segala sesuatu di sini, atau mungkin tengah bersiap adu argumen dengan bosnya itu.
"Ini bukan masalah nyaman atau enggak, Angga." Karina diam sejenak ketika pelayan memasangkan anting padanya. "Ini tentang bagaimana kamu bisa menghargai orang lain dari cara kamu berpenampilan baik—nggak perlu harus mewah. Seenggaknya mereka tahu kalau kamu beneran serius buat menghargai perasaan mereka. Pakaian bagus mencerminkan kesejahteraan dan kebahagiaan—agar di hari baik ini, kamu bisa berbagi aura positif ke orang lain."
Angga tampak bergeming dan dingin selama mendengarkan penjelasan panjang Karina, dan itu diperhatikan dengan saksama oleh sang aktris, membuat gadis itu seketika merasa jengkel tanpa bisa dicegah.
"Kamu bawa nama saya sekarang sebagai asisten saya! Kalau tampilan kamu buruk, citra saya juga buruk!" lanjut Karina dengan nada lebih lantang dari sebelumnya. Sisi anggun yang berusaha Karina pertahankan, lenyap begitu saja. Matanya mengarah nyalang pada Angga. "Saya nggak mau tau, ganti baju! Pakai yang lebih baik! Dan jangan berantakan seperti manusia yang belum mandi seminggu! Temui saya nanti di gedung tempat pernikahan dilangsungkan. Jangan sampai kamu merusak nama saya di hari pertama kerja, Angga!"
Untuk sesaat, Angga masih terlihat bingung. Ia meluruskan pandangan ke arah Karina dan mempertemukan titik tatap mereka melalui cermin. Melihat ketegasan yang tergambar jelas dari wajah sang atasan, Angga paham dengan baik bahwa Karina benar-benar marah sekarang.
"Oke," kata Angga, sembari berniat berbalik.
"Bawa sekalian iPad meja sana." Melalui lirikan matanya, Karina menunjuk meja yang dikelilingi oleh sofa panjang di sudut ruangan. "Pelajari cara kerja kamu dengan baik, karena beberapa hari setelah pernikahan, saya akan langsung bekerja."
"Oke." Angga gegas mengambil barang yang Karina maksud, lalu pamit undur diri. Menyisakan Karina dan pelayan yang tampak ketakutan karena sang majikan tengah mengepalkan tangan sangat kuat seolah menahan amarah menggebu dalam dirinya.
"Kamu, silakan keluar." Karina memerintah pelayannya. "Tunggu saya di bawah lima belas menit lagi," lanjutnya, yang langsung dituruti oleh wanita berusia 30 tahunan itu.
Usai pintu ditutup lagi oleh kepergian si pelayan, Karina berjalan ke arah lemari kaca miliknya, membuka salah satu laci paling bawah. Hanya perlu mengobrak-abrik sebentar, sebuah benda dari besi sudah ia dapatkan. Karina hanya perlu menekan salah satu bagian dari benda pipih kecil itu, dan besi lain yang mengkilap tajam muncul begitu saja.
Pisau lipat, tidak seharusnya dibawa pengantin dalam acara pernikahannya sendiri. Namun, Karina melakukannya. Mengambil benda tajam itu, untuk ia bawa serta dalam menghadapi penghambat kecil di jalannya.
*
Dari ratusan tamu VIP yang datang hari ini dalam gaun-gaun mewah nan mahal, hanya ada dua yang berbeda. Sepasang kekasih, tampil begitu biasa dalam pakaian biasa seolah hanya sekadar mengunjungi mall. Karina sudah melayangkan protes melalui tatapnya ke sosok pria tersebut, sementara Erik mengeluh dan meminta maaf pada wanita yang telah menjadi istrinya ini.
Dua orang itu, Eliza dan Angga. Bahkan di saat semua orang sudah bertemu Karina untuk memuji kecantikan alami gadis itu, Eliza dan Angga malah menepi ke sudut ruangan, tampak sangat sibuk dengan obrolan sendiri. Hampir sama seperti acara pertunangan kemarin.
"Sayang ...." Karina memberi isyarat pada Erik agar menghampiri mereka, dan suaminya segera menyetujui.
Ketika berjalan bersama, mereka tampak lebih mirip ayah-anak, bahkan beberapa langsung membisikkan hal itu. Namun, sebelum Erik sempat melayangkan protes, Karina sudah lebih dulu mempererat pelukan tangannya di lengan sang suami, sehingga bisa fokus pada tujuan mereka.
"Sangat sibuk, ya, sepertinya," kata Karina ketika berhenti melangkah tepat di samping pasangan muda tersebut. Karina menatap nyalang pada Angga sembari melirik pria itu naik-turun, menilai tampilannya. Walau sudah mengenakan jas untuk melapisi kausnya tadi, pria ini masih terlihat sama gembelnya seperti tadi pagi.
Karina juga melirik Eliza yang segera memalingkan wajah ke arah lain. Sempat curiga bahwa Angga juga mengatakan hal buruk tentangnya sehingga si keponakan yang bahkan lebih tua dari Karina itu semakin membenci dari hari ke hari.
"Kamu sudah saya suruh untuk meninggalkan putri saya!" Erik menekan suaranya dengan sangat kuat sembari mengacungkan telunjuk pada Angga.
Ketika Eliza berniat maju untuk menjadi perisai pelindung, Angga sudah lebih dahulu membalasnya.
"Tapi pilihan Anda bukan hanya itu, Pak, dan saya pilih pilihan lain. Memastikan bahwa saya bisa mendapatkan 100 juta sebelum tiga bulan," kata Angga dengan lugas. Ia melirik Karina yang tampak kebingungan atas obrolan ini.
"Ingat syarat lainnya dari pilihan itu! Saya tidak akan menerima uang haram hasil pencurian dan sejenisnya!" Erik menekankan lagi, enggan jika harus kalah mendominasi dari pria yang lebih muda darinya.
"Tenang, saya pastikan uangnya halal, Pak. Dari hasil kerja saya sendiri," jawab Angga, lalu memberikan senyum pada Karina. "Iya kan, Ibu Mertua?"
Ayah-anak itu langsung mengalihkan perhatian pada Karina yang kebingungan. Karina melirik Erik dan Angga secara bergantian seolah meminta jawaban atas obrolan aneh ini.
"Karina—ups—maksud saya Bu Karina, sudah memberikan saya pekerjaan. Jadi saya pastikan dalam tiga bulan, saya akan mendapatkan uang 100 juta untuk melanjutkan hubungan dengan Eliza," ucap Angga lagi. "Saya tidak mau meninggalkan Eliza, apa pun yang terjadi."
Karina mendecih dalam hati, mengejek ucapan pemuda itu.
Sementara Erik melirik Karina dengan pandangan bertanya. "Kamu kasih dia pekerjaan? Dia bahkan nggak punya keahlian apa pun, Sayang."
"Kasihan, Erik," jawab Karina tenang. "Aku pikir juga, karena dia kekasih anak sambung aku sekarang, makanya aku kasih dia pekerjaan. Nggak boleh, ya?"
Erik menggeleng kecil, lalu membawa Karina meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan obrolan.
"Itu saya lakukan supaya dia bisa meninggalkan Eliza, Sayang. Dia mustahil mendapatkan seratus juta dalam tiga bulan," kata Erik menjelaskan. "Kalau dia berhasil, sama saja memutuskan kesempatan kita untuk memisahkan mereka."
Karina akhirnya mengerti, dan seketika tertegun memikirkan penjelasan Erik barusan. Ia sekali lagi melirik ke belakang, pada Angga yang selalu mendengarkan Eliza, sering tersenyum pada gadis itu, dan sesekali mengusap sayang puncak kepala kekasihnya tersebut. Membuat Karina sedikit yakin, bahwa Angga benar-benar tulus pada Eliza.
Karina sekarang kebingungan. Ia menunduk, menatap gaun panjangnya yang berwarna putih. Di baliknya tersembunyi pisau yang terselip di dalam stokingnya.
Ia sibuk mempertimbangkan, apakah harus merekrut Angga sebagai rekan, atau tetap menganggapnya lawan?
Untuk menentukan pilihan itu, Karina harus melakukan pengujian pada si asisten baru.
jam 12.10 WIB
jam 00.10 WIB
info cerita :
ig : es.pucil
fb : Es Pucil III
#Menarik 😳
Sugar Daddy nya cakep bner kak Chil..mau dah w jg klo bgtu mh 🙈