NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku

Status: tamat
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:254k
Nilai: 4.8
Nama Author: Dayang Rindu

Halo readers semuanya..!
Othor kembali dengan kisah rumah tangga yang penuh liku-liku. Perjodohan, penghianatan, dan banyak lagi kisah di dalamnya.

Kisah seorang gadis yang menikah karena perjodohan yang membawa pada kekecewaan. Harapan terakhir sang kakek cucu satu-satunya akan hidup bahagia bersama pria pilihan, putra dari asisten pribadinya.
Namun takdir kehidupan tak sejalan dengan apa yang ia harapkan.

Bram tak mencintai Habibah!

"Aku meminta hak ku sebagai seorang istri!" Begitu Habibah sudah tidak tahan ketika mendapati suaminya sedang bersama wanita lain.


Walaupun terus saja terjadi.

"Ternyata..." ucap Habibah di tengah guyuran air, dia tersenyum getir, menangis bersamaan membayangkan betapa hangatnya ciuman mereka. Dadanya bergemuruh seolah sedang terisi penuh dengan bara api.

"Ku rasa neraka tak hanya ada di perut bumi, tapi di dadaku." ucapnya pelan, mengadukan kekecewaan yang sudah sangat keterlaluan.

Bagaimana kisah Habibah selanjutnya?

Yuk baca>>

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan dari Habibah

"Kamu tinggal di sini?" tanya Kiki ketika mobil mereka berhenti di depan rumah Bram.

"Iya." jawab Habibah meraih tasnya. "Mampir ya Ki?" pinta Habibah pada teman kerjanya tersebut.

Dengan senang hati Kiki beranjak dari duduknya.

"Darimana?" tanya Bram yang tiba-tiba berdiri tak jauh dari mobil mereka berhenti.

"Mas." Habibah menatap sendu wajah suaminya yang berjalan perlahan mendekat.

"Sudah puas berpacaran?" tanya Bram lagi dengan nada menyindir.

"Aku tidak pacaran Mas." jawab Habibah menoleh Kiki yang sudah turun dari mobil.

Bram menatap Habibah dari kepala hingga kaki, entah apa yang dilihat sehingga tak ada yang terlewat oleh mata hitam pekat miliknya.

"Aku tidak pacaran Mas." ulang Habibah lagi, tidak suka dengan cara Bram menatap dirinya.

"Jangan mengelak jika benar kenyataannya." Bram melirik pria yang duduk diam dengan kaca mobil terbuka, lalu pergi masuk ke dalam meninggalkan mereka.

"Mas!"

Habibah mengejar Bram, tapi kemudian kembali berbalik teringat ada Kiki bersamanya.

"Ya udah ah, aku pulang." Kiki kembali masuk ke dalam mobil.

"Ki." panggil Habibah mencoba menahan Kiki.

"Dah, masuk sana! Sampai besok ya." Kiki melambaikan tangannya, hingga mobil itu berlalu meninggalkan Habibah.

Habibah melangkah masuk menyusul Bram yang sepertinya sedang kesal. Sedikit penasaran mengapa pria itu sudah ada di rumah, padahal biasanya dia lupa waktu jika sudah bersama Larisa.

Habibah menuju kamarnya berharap Bram juga ada di sana, lagi pula ia belum mandi sejak pagi.

Tapi tak ada siapa-siapa di kamar itu, Habibah memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.

Di tengah guyuran air ia terus berpikir tentang masa lalu yang baru saja terkuak. Mata beningnya menatap tembok yang polos, pikirannya berkelana membayangkan banyak hal, dan ingin tahu seperti apa wanita istri kedua ayahnya.

'Jika dia saja sampai begitu kejam terhadap ibu dan aku, harusnya aku juga bisa lebih kejam dari mereka. Merebut ayahku, menghabisi ibuku, dan sekarang putrinya malah dengan sombongnya ingin merebut suamiku. Atau takdir sedang sengaja mempertemukan aku dengan Larisa, Mas Bram dan semua orang untuk mengetahui semua masa lalu yang mereka tutupi dan menjalani hidup seperti tidak terjadi apa-apa.'

Habibah mengakhiri mandinya, mengeringkan tubuh dan seperti biasa ia merapikan pakaian dan rambutnya di depan cermin.

"Aku harus bisa mempertahankan Mas Bram." gumamnya kembali menggulung rambutnya dengan handuk dan keluar dengan sedikit keyakinan, masa lalu tidak boleh terulang.

"Apa saja yang kalian lakukan sehingga membuatmu keramas di jam seperti ini?"

Lagi, suara Bram terdengar seperti menyindir membuat Habibah menoleh pria yang bersilang dada, menyandar di jendela kamar tersebut.

"Aku bukan dirimu, juga bukan Larisa yang gemar bermesraan di sembarang tempat." kesal Habibah tak mau dituduh.

Bram mendekati Habibah, wajah tampannya terlihat kesal dan sedikit menakutkan. "Kau bilang apa?" ucapnya masih tak berhenti mendekati Habibah hingga hampir tak berjarak.

"Aku bukan dirimu dan pacarmu yang suka pamer kemesraan padahal hanya pasangan selingkuh." ucap Habibah semakin berani.

"Aku laki-laki, tak ada batasan bagiku. Berbeda denganmu, harusnya kau lebih tahu." jawab Bram lagi.

"Tentu saja aku tahu, maka dari itu aku tidak melakukannya." Habibah berbalik membuka lemari, tapi tangan Bram malah meraih handuk yang menggulung rambutnya, membuat Habibah kembali berbalik dan berhadapan dengan Bram suaminya.

"Jangan menghindar, atau pria itu sudah meninggalkan jejak sehingga kau takut berhadapan denganku?" Bram malah mengambil handuk dari kepala Habibah, menyembunyikan di belakangnya.

"Jaga bicaramu." Habibah meraih handuk itu lagi, dan tentu tidak bisa karena ukuran tubuhnya yang mungil tidak sebanding dengan Bram yang tinggi dan gagah.

"Aku hanya menebak dan kau sudah setakut itu?" dia sengaja semakin membuat Habibah kesal.

"Aku tidak takut, kau membuat rambutku berantakan dan bajuku menjadi basah." jawabnya terus meraih tangan Bram.

"Tentu saja bukan aku, pria itu yang membuatmu keramas." Bram tertawa mengejek.

"Dasar mesum! Jangan-jangan kau yang sering melakukannya bersama selingkuhan mu yang sombong itu."

"Kalau iya?" Bram menatap wajah Habibah, dengan satu tangannya masih di belakang.

Habibah mendongak wajah Bram yang juga melihatnya, mata beningnya terlihat sendu dan tentu hatinya tak rela.

Satu detik menjadi lama ketika mendengar hal yang membuatmu patah hati.

"Aku tidak seperti itu." ucap Bram kemudian, menjadi tidak tega melihat wajah cantik Habibah menjadi pias mendadak.

Tanpa di duga Habibah menghambur, memeluk Bram yang memang sudah sangat dekat, tubuh mungilnya masuk dan menempel dengan begitu indah.

Bram terpaku dengan pelukan tiba-tiba itu, pelukan pertama setelah satu bulan pernikahan mereka. Tak di sangka rasanya begitu hangat, lembut dan menenangkan.

Terdengar isak tangis pelan di dada bidang Bram, wajah halus dan lembut dengan rambut berantakan itu menempel sempurna di dada sebelah kiri Bram. Ia ingat jika tadi ayahnya mengatakan bahwa Habibah sedang bersedih. Ia membiarkan gadis itu tetap memeluknya.

Dari cerita ayahnya, Habibah tak memiliki siapa-siapa. Dia hanya sendiri dan mungkin karena itu juga kakeknya meminta Frans menikahkan ia dengan Bram. 'Jika dipikir-pikir, kasihan sekali Habibah, bahkan di saat sedih dia tak punya siapa-siapa untuk sekedar bercerita.'

Tanpa sadar satu tangan hangat Bram membalas pelukan Habibah.

Sejenak hingga suara ketukan mengganggu keduanya.

"Habibah." suara Frans membuat sadar Habibah yang larut dalam dekapan hangat sang suami, pelukan ke dua setelah kakek Raharja.

Habibah melepaskan pelukannya, mengusap air mata dan meninggalkan Bram tanpa mau melihat wajah pria itu.

"Ayah." ucapnya setelah membuka pintu.

"Apa kalian bertengkar?" tanya Frans melihat masih ada sisa air mata di wajah menantunya.

"Tidak Ayah." jawabnya kembali mengusap matanya hingga bersih.

"Ayah ingin bicara denganmu juga dengan Bram suamimu." Frans melirik putranya yang berdiri terpaku di dalam kamar.

"Baiklah." Larisa mengikuti Frans menuju ruang tengah lantai dua tersebut.

"Ayah tidak tahu kapan istri kedua ayahmu akan muncul dan bisa saja dia ikut bekerja bahkan menggantikan ayahmu. Ayah jadi tidak tenang." Frans duduk berhadapan dengan Habibah.

"Aku akan menghadapinya ayah." jawab Habibah yakin.

"Ayah tidak akan meninggalkanmu, juga Lee akan selalu menjagamu dengan caranya."

"Tapi Lee tidak bekerja di perusahaan kita." Habibah sedikit berpikir.

"Ya, tapi Lee bisa menjagamu." Frans tersenyum.

"Memangnya ada apa sehingga dia harus menjagamu?" Bram duduk di samping ayahnya, menatap tajam Habibah.

"Karena istrimu hanya seorang diri dan Larisa tidak menyukai Habibah." jawab Frans, dan tentu Bram tidak suka mendengarnya.

"Larisa tidak sekejam itu." jawab Bram pada ayahnya.

"Buktinya dengan mudah ia ingin memukul istrimu! Bisa saja besok dia menghabisi istrimu karena cemburu. Dan ayah harap kau tidak membiarkan itu terjadi. Ayah tidak mau kejadian 22 tahun yang lalu terulang lagi." jelas Frans mengejutkan Bram putranya.

"Kejadian?"

1
Nitnot
Luar biasa
Hana Nisa Nisa
top bgt
Hana Nisa Nisa
kerennnnnn
Hana Nisa Nisa
😭😭😭😭
Hana Nisa Nisa
deg degan ini
Hana Nisa Nisa
😍😍😍😍
Hana Nisa Nisa
gitu donghh
Hana Nisa Nisa
😚😚😚😚😚
Hana Nisa Nisa
okelah
Hana Nisa Nisa
tarik nafas dulu
Hana Nisa Nisa
suka
Hana Nisa Nisa
😑😑😑😑
Hana Nisa Nisa
nyimak dulu
Ayu Dwi S
konten tidak sesuai judul
Dayang Rindu: itu orang yang sengaja kak, dia bukan murni hanya menilai tapi ingin menjatuhkan. biasanya itu akun fake,
total 3 replies
Soraya
mksh y thor karyanya🙏👍
Soraya
knp sih sllu perempuan yang dibikin jatuh cinta duluan, smga karakter habibah ga lmh dn lby cm krna cinta
Soraya
permisi numpang duduk dl ya kak
Dayang Rindu: makasih kak Soraya 😍😍😍
total 1 replies
Desa Febri
ceritanya sngt bagus aku suka bngt
Sela Pertiwi
lah lee nya sama ku aja boleh gak. wkwkwkwkwkwwkwk
Dayang Rindu: boleh kak, 😁😁😁
mampir di Karya baruku ya, "Anak Kos di rumah sebelah"
total 1 replies
Dayang Rindu
jangan lupa Mampir di karya terbaru otor, " Anak Kos Di Rumah Sebelah, selingkuhan suamiku. "
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!