Hidup Intan seketika berubah saat ia tiba-tiba harus menjadi seorang perawat bagi pria buta yang arogan.
Meskipun ia sudah melakukan cara agar pria itu memecatnya, namun pria itu justru mempertahankannya.
Kedekatan keduanya pun mulai menumbuhkan benih-benih cinta.
Apakah hubungan percintaan mereka akan berjalan mulus??, baca kisahnya di sini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"Tidak mungkin dia, apa aku bermimpi," ucap Intan kemudian mengucek-ucek matanya
"Untuk memastikan jika kau tidak bermimpi bagaimana jika kau membantuku mengajar hari ini. Jadilah asisten ku untuk hari ini?" ucap Ibra mendekatkan wajahnya kepada Intan
Melihat Intan yang tak kunjung merespon ucapannya, Ibra lalu menggandeng lengan gadis itu dan membantunya berdiri.
Saat pria itu menggandengnya menuju ke depan semua mahasiswi tampak iri melihatnya.
"Wah beruntung sekali Intan bisa di gandeng sama dosen tampan seperti Pak Ibra, so sweat!"
Intan menoleh kearah Ibra yang terus berjalan tanpa memperdulikan ucapan mahasiswi yang terus memujinya.
Ia kemudian menyuruh Intan untuk membantunya mengoperasikan komputernya selama ia mengajar.
Semua mahasiswa tampak antusias saat mendengar kuliah dari Ibra. Bahkan mereka begitu bersemangat saat sang dosen memberikan kesempatan untuk bertanya kepada mereka.
Pria itu menjawab semua pertanyaan dari mahasiswa meskipun ada beberapa pertanyaan yang bersifat pribadi dan tidak berkaitan dengan mata kuliah yang disampaikannya.
"Kalau boleh tahu apa bapak sudah punya pacar apa masih jomblo?" tanya seorang mahasiswi menggodanya dengan senyuman manisnya
"Sampai sekarang belum ada seorangpun gadis yang bisa menaklukkan hatiku," jawab Ibra membuat semua mahasiswi penasaran bagaimana pria tampan dan mapan sepertinya belum memiliki kekasih.
"Wah yang benar saja, aku yakin dia pasti memiliki kriteria yang sangat tinggi untuk menjadi pacarnya,"
"Benar, wajar sih secara dia emang Perfect banget so dia juga berharap bisa mendapatkan kekasih yang seimbang lah,"
"Kalau begitu apa kita boleh tahu kriteria wanita idaman Bapak?" celetuk seorang mahasiswi
Ibra tersenyum kemudian melirik kearah Intan yang sedang membuat rangkuman tentang kegiatannya hari itu.
"Lucu, aku menyukai wanita yang lucu dan apa adanya," jawab Ibra
"Wah sederhana sekali Pak, apa aku masuk kriteria gadis idaman anda, secara aku ini jago stand up loh!" celetuk mahasiswi lain menimpali ucapannya
"Maaf, tapi kamu bukan tipe ku," jawab Ibra dingin
"Huuu, kasian sekali!" cibir salah seorang mahasiswi mengolok-oloknya.
Ibra kemudian mengakhiri kuliah hari itu dan mempersilakan semua mahasiswa untuk kembali ke kelasnya.
"Wah dia benar-benar pria kejam, pantas saja dia masih jomblo. Pasti dia sangat pemilih!" ucap seorang mahasiswi mengunjunginya
Ibra tak ambil pusing dengan cibiran para mahasiswa. Ia kemudian meminta Intan untuk membawakan laptopnya ke ruangannya.
Setibanya di ruangannya, Ibra meminta rangkuman yang dibuat oleh Intan dan memeriksanya.
"Terimakasih untuk hari ini, kerjamu bagus dan sebagai hadiahnya aku akan mentraktir mu makan siang," ucap Ibra
"Tidak perlu repot-repot Pak, aku belum lapar kok," tolak Intan
Saat ia hendak meninggalkan ruangan itu tiba-tiba terdengar bunyi perut keroncongannya membuat Ibra langsung menertawakannya.
"Kalau lapar bilang saja gak usah malu-malu," ucap Pria itu
Ia kemudian menggandeng lengan Intan dan menyeret gadis itu pergi
"Kita mau kemana sih pak?" tanya Intan yang merasa malu karena semua mahasiswa memperhatikannya.
"Wah kasian sekali Intan, dia pasti akan dihukum karena tadi ketahuan tidur saat mata kuliahnya," ucap seorang mahasiswa membicarakannya
"Benar, apalagi banyak yang bilang kalau pak Ibra itu adalah dosen killer," sahut yang lainnya
Karena malu ia pun menutup wajahnya dengan tasnya.
Ibra hanya tersenyum melihat tingkah konyol Intan yang terus menutupi wajahnya seperti seorang narapidana kasus kriminal.
Ia kemudian membuka pintu mobilnya dan menyuruhnya untuk masuk ke mobilnya.
Intan segera duduk dan memasang save beltnya saat melihat Ibra memelototinya.
Ibra menghentikan mobilnya di sebuah restoran mewah. Gadis itu berjalan mengikutinya.
Tak lama pria itu memesan banyak menu makanan.
Sementara itu Kenzo datang ke kampus Intan, namun pria itu tak bertemu dengannya karena Intan sedang makan siang dengan Ibra.
Ia kemudian menelpon Intan, "Kamu dimana?" tanya Kenzo
"Aku sedang makan siang," jawab Intan
"Oh gitu, pantesan aku gak ketemu sama kamu. Aku hanya mau kasih tahu kamu kalau mulai hari ini kamu akan kembali bekerja sebagai assisten pribadiku,"
"Iya," jawab Intan
"Ya udah jangan pulang telat, aku tunggu kamu di rumah," ujar Kenzo kemudian mematikan ponselnya
"Dari siapa?" tanya Ibra penasaran
"Kenzo,"
"Ngapain dia?"
"Nyuruh gue balik kerja lagi sama dia," jawab Intan
"Sudah pasti, aku yakin dia kesulitan tanpa kamu," jawab Ibra menatap kearah Intan yang begitu lahap menghabiskan semua makanannya.
"Ahh kenyaang!!" seru gadis itu kemudian bersendawa
"Ups kelepasan, maaf!" imbuhnya
"Kenapa ada wanita jorok sepertimu di dunia ini," cibir Ibra
"Tentu saja agar dunia ini lebih berwarna, bayangkan saja jika seisi dunia di penuhi wanita cantik dan berkharisma semua wah gak seru, gak ada tantangan!" seru Intan membela diri
"Memang kamu paling bisa ya kalau ngeles," ucap pria itu
Ibra segera mengambil tisu untuk membersihkan sisa makanan yang menempel di ujung bibir Intan.
"Terimakasih," ucap Intan segera meneguk segelas air putih untuk menghilangkan rasa gugupnya
Sementara itu Lisa yang tak sengaja melihat keduanya merasa kesal dengan Intan.
"Siapa gadis itu, beraninya dia mendekati kekasihku," wanita itu kemudian menghampiri mereka
"Apa aku boleh gabung?" tanya Lisa
"Sure, gimana Lo tahu gue ada di sini?" tanya Ibra
"Kebetulan aku ada janji makan siang dengan klien tapi ngeliat kamu ada di sini jadi aku gabung sama kalian sebelum klien ku datang," jawab Lisa
"Sayang sekali kami sudah selesai, maaf gak bisa nemenin lo," jawab Ibra kemudian menggandeng Intan pergi
"Ish, dia bahkan langsung mengabaikan aku karena gadis sialan itu, awas aja aku pasti akan membalasnya!"
Intan kemudian melepaskan tangan Ibra saat mereka sudah keluar dari restoran.
"Maaf sepertinya dramanya udah kelar, dan sudah saatnya aku balik ke rumah majikan ku," ucap Intan
"Kenapa gak ke kantor saja dulu, bukankah Kenzo juga masih di kantor,"
"Ah benar, kalau begitu aku mau ke kantor dulu bye!" seru Intan
"Kalau gitu kita bareng saja," Ibra kembali menggandeng gadis itu dan menyuruhnya masuk ke mobilnya
"Ish kenapa sih hari ini kamu seneng banget main tarik-tarik sembarangan. Kamu pikir aku ini hewan piaraan apa!" cibir Intan
"Anggap saja begitu," jawab Ibra menoleh sinis kearahnya
"Dasar nyebelin!" cibir Intan kemudian memalingkan wajahnya
Entah kenapa Ibra semakin senang jika melihat gadis itu marah. Baginya Intan memiliki daya tarik tersendiri yang membuatnya diam-diam menyukai gadis itu.
Setibanya di Mega Bintang Tower ia kembali menggandeng Intan menuju ke ruangan Kenzo.
Entah kenapa Kenzo tak suka saat melihat Ibra menggandeng lengan Intan bahkan berbicara santai dengannya.
"Kamu harus berterimakasih sama gue karena udah bawain asisten kesayangan lo ini," ucap Ibra
"Thanks Bro, gimana kalau lo gue undang makan malam di rumah gue, sebagai ucapan terimakasih gue," jawab Kenzo
"Ide bagus, sekalian gue mau nyobain masakan si upik abu," sahut Ibra kemudian meninggalkan ruangan itu
"Kok kalian bisa bareng, apa dia menjemput mu di kampus?" selidik Kenzo
"Dia ngajar di kampus sebagai dosen tamu hari ini," jawab Intan kemudian merebahkan tubuhnya di sofa
"Terus kalian balik bareng?"
"Itu karena aku sudah jadi asistennya saat dia ngajar, jadi sebagai ucapan terima kasih dia mengantar aku ke sini,"
"Syukurlah, aku harap kalian tidak ada hubungan apa-apa," jawab Kenzo
"Hubungan?, apa maksudnya?" tanya Intan
"Lupakan saja, aky hanya asal bicara," jawab Kenzo langsung mengalihkan pembicaraan
Ia tak mau Intan tahu kalau ia tak suka melihatnya dekat dengan Ibra.
Tidak lama Lisa kembali ke kantor, ia semakin kesal saat mengetahui Intan mengerjakan semua pekerjaannya dan menggantikan posisinya.
Ia berusaha mencelakai Intan saat gadis itu sedang mengecek makanan di ruang produksi.
Tiba-tiba pintu terkunci dan ruangan dipenuhi dengan gas, tentu saja hal itu membuat Intan panik.
Ia berusaha menggedor-gedor pintu meminta pertolongan.
Kenzo yang mengetahui Intan dalam bahaya segera bergegas menuju ke ruangan produksi. Terjadi kebakaran besar di ruang produksi membuat semua orang keluar menyelamatkan diri, Kenzo langsung mendobrak pintu ruang produksi dan membawa Intan pergi dari sana. Namun sebuah ledakan besar membuat ia pria itu terluka.