Caitlin Magnolia, seorang gadis cantik yang jatuh cinta pada Aaron Smith, vampire cerdas dan tampan pemilik perusahaan mebel tempat Caitlin bekerja. Aaron berusaha menyembunyikan jati dirinya sebagai seorang vampire, namun seiring berjalannya waktu akhirnya Caitlin mengetahui bahwa Aaron merupakan sesosok vampire.
Perbedaan ras tak menyurutkan cinta di antara mereka, bahkan Aaron memberanikan diri untuk memperkenalkan Caitlin ke keluarga vampir-nya. Hal ini tentu saja menimbulkan goncangan pada hubungan mereka.
Keluarga besar vampir dari orangtua Aaron, dengan keras menentang hubungan mereka, bahkan Frank Smith, paman dari Aaron mengancam nyawa Caitlin jika Aaron tak memutuskan hubungan kisah asmaranya.
Lantas bagaimana mereka menyelesaikan masalah ini?
Kelanjutan kisahnya dapat kalian baca di novel The Hunter Bloods.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER - 15
Sesampainya di rumah duka Caitlin melihat ada banyak rekan kantornya yang datang untuk bertakziah, dan di antara para pelayat yang hadir, ia melihat eyangnya tengah menenangkan hati istri dari almarhum Arnold yang terlihat sangat terpukul atas kepergian suaminya yang begitu sangat mendadak.
"Aku turut berduka cita, atas kepergian Pak Arnold," ucap Caitlin sembari memeluk Sandra, istri dari Pak Arnold, ia juga kemudian menyalami anak-anak Pak Arnold dan memberikannya semangat agar tidak terlarut dalam kesedihan, barulah setelah itu Caitlin duduk di sebelah eyangnya.
"Dari mana saja kau baru datang?" bisik Lauren.
Sekilas Caitlin melirik ke arah Aaron yang berada di seberang ruangan, ia tengah berbincang dengan dr.Smith yang juga berada di rumah duka, kemungkinan dr.Smith yang memeriksa kondisi Pak Arnold. "Aku habis mengantar Helen mencari gaun pesta," jawab Caitlin, ia sengaja tak bercerita jika dirinya habis makan malam bersama Aaron sebab ia tak ingin eyangnya mengira jika dirinya memiliki hubungan special dengan Aaron.
"Sebaiknya kau tak keluyuran dulu untuk beberapa waktu ini," ucap Lauren. Ia bercerita jika Arnold tewas lantaran di mangsa oleh kawanan binatang buas penghuni hutan yang tak jauh dari pemukiman penduduk. Kejadian itu berlangsung saat Arnold hendak pulang ke rumahnya.
"Benarkah eyang?" tanyanya seakan tak percaya.
Seketika bulu kuduk Caitlin merinding, ia tak menyangka jika kota yang dirasanya sangat, aman, damai dan sejuk ternyata terdapat binatang buas yang memangsa manusia hingga ke pumukiman warga.
"Nanti eyang akan ceritakan setelah di rumah," Lauren merasa tak enak hati bercerita lebih banyak kepada cucunya saat masih berada di rumah duka, sebab bisa menambah kesedihan keluarga Arnold.
Menjelang pukul 20.00 malam, Lauren mengajak Caitlin pulang ke rumah. Isu mengenai binatang buas tersebut sangat santer terdengar, sehingga menimbulkan kekhawatiran pada Lauren dan membuatnya tak berani pulang larut malam.
Lauren dan Caitlin pun berpamitan kepada keluarga mendiang Arnold serta beberapa teman-teman kantornya masih berada di rumah duka termasuk Aaron dan ayahnya.
"Apa mau aku antar?" tanya Aaron, ia menawarkan diri untuk mengantar Caitlin dan eyangnya pulang.
"Tidak perlu," jawab Lauren dengan tegas. "Ada sopirku yang akan mengantar kami pulang.
"Permisi, Pak Aaron," ucap Caitlin. Sebelum melangkah keluar dari rumah duka, Caitlin menoleh ke arah jenazah. Caitlin menghentikan langkahnya, memperhatikan anak kedua Pak Arnold membuka kain penutup jenazah.
Alangkah terkejutnya Caitlin ketika melihat tubuh Pak Arnold yang terbujur kaku, dengan warna kulit putih pucat sama seperti warna kulit Aaron dan keluarganya, ia juga melihat wajah jenazah Pak Arnold nampak tak ada bekas luka. 'Bukankah beliau tewas karena di mangsa oleh binatang buas? Mengapa sepertinya Jenazah itu terlihat utuh?' gumamnya dalam hati.
Yang lebih mengagetkan lagi, Caitlin melihat luka gigitan di leher jenazah Pak Arnold. Kemudian sekelebat bayangan kawanan pria yang tadi sore hendak menyerangnya, muncul dalam ingatannnya, kawanan pria itu juga memiliki kulit putih pucat dan taring yang cukup tajam.
Caitlin membulatkam matanya dan membekap mulutnya dengan kedua tangannya. 'Apa jangan-jangan Pak Arnold meninggal bukan di bunuh oleh binatang buas? Melainkan kawanan pria itu....'
Caitlin tersentak saat seseorang menyentuk tangannya. "Ayo pulang sayang," Lauren menggandeng tangan cucunya menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan.
"Ah, iya eyang." ia pun berjalan bersama eyangnya keluar dari rumah duka.
Sepanjang perjalanan Lauren terus mengingatkan Caitlin untuk tidak keluyuran, dan ia pun memberikan Caitlin tongkat kasti sebagai alat pelindung diri kalau-kalau kawanan binatang liar itu muncul. "Sebenarnya ini bukan kasus pertama, beberapa hari yang lalu eyang mendapat kabar jika ada kejadian yang serupa," ucap Lauren. "Awalnya eyang tak percaya, tapi setelah melihat ini kita benar-benar harus waspada. Semoga pemerintah kita cepat menemukan kawanan binatang buas itu, agar kota ini kembali aman dan damai."
Dari raut wajah eyangnya terlihat jelas jika ia sangat ketakutan, Caitlin memeluk dan mengelus lengan eyamgnya dengan lembut. "Aku akan hati-hati, eyang." Caitlin tak ingin membuat eyangnya cemas. "Lalu apa eyang masih akan ke kebun?" tanya Caitlin, mengingat perkebunan teh milik eyangnya tak jauh dari hutan.
"Tidak, untuk sementara ini eyang meliburkan semua pekerja sampai kondisinya aman. Eyang tak ingin para pekerja ada yang menjadi korban."
"Ya begitu lebih baik."
Begitu tiba di kediamannya, Caitlin langsung membuka laptopnya, ia kembali melanjutkan pencarian melalui internet tentang legenda vampir yang Jesse ceritakan tadi siang. Kali ini Caitlin mencarinya dengan menggunakan bahasa inggris agar lebih banyak informasi yang ia dapatkan.
Undead.
Ya sejak awal Caitlin sudah menyadari warna kulit Aaron dan keluarganya terlihat tidak normal, mereka terlihat putih pucat.
Speed.
Aaron memiliki kecepatan yang di luar nalar ketika berulang kali mencoba menyelamatkannya dari bahaya.
Strenght.
Rasanya terlalu janggal jika manusia biasa mampu memahan laju mobil yang tengah melaju dengan kecepatan tinggi, ketika Anton menabrak mobilnya di parkiran kampus.
Cool skin.
Beberapa kali Caitlin menjabat tangan Aaron, ia merasakan tangan Aaron terasa sangat dingin.
Blood.
Selama ini belum pernah sekali pun Caitlin melihat Aaron dan Sean makan atau minum sesuatu, bahkan ketika ia berada di ruang kerja atasannya itu Caitlin sama sekali tak melihat gelas. Bukankah biasanya di semua perusahaan para OB akan menyiapkan air minum untuk atasannya, namun tidak dengan Aaron. Benar-benar tak ada makanan dan minuman.
"Ya Aaron dan keluarganya adalah manusia berdarah dingin," gumam Caitlin. Kemudian ia teringat akan project catalog edisi terbaru yang ia tengah kerjakan, Alyssa saudara sepupu Aaron yang berasal dari Austria. "Apa jangan-jangan kedatangan Alyssa ada kaitannya dengan para kawanan itu? Jika benar, berarti yang membunuh Pak Arnold adalah saudara Pak Aaron." Bulu kuduk Caitlin kembLi meremang, ia mematikan laptopnya, kemudian merangkak ke tempat tidurnya, ia bersembunyi di balik selimut, dengan sekuat tenaga ia mencoba memerjamkan matanya.
YESS i Will😄😄😄
Catlin maksudnya 😄😄😄
akhirnya kebahagiaan itu menyertaimu cat pikir keri yak gimana nanti akhirnya pokoknya kawin dulu eh nikah🏃🏃🏃
hmmmm masuk perangkap Frank kan go Aaron selamatkan Catlin
harta, tahta dan rupa