Kehidupan Nayla dan Azel sudah benar-benar berubah sejak terakhir kali bertemu. Nayla bertemu seseorang, kemudian putus dan tidak bisa move on. Azel menikah dengan seseorang, dikhianati kemudian bercerai.
Satu hari, mereka dipertemukan lagi di sebuah acara keluarga. Pertemuan itu membuat dunia mereka saling jungkir balik. Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Cover obtain from pexels, free to use.
IG author : @ingrid.nadya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingrid nadya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Azel : Tentang Dee
Hari ini gue sibuk banget, banyak sekali meeting yang harus gue ikuti. Di sela-sela break meeting, gue menyempatkan diri untuk menelepon Rara.
“Kamu masih bangun, Sayang?”
“Iya, aku nungguin Papa.” Rara menjawab.
“Papa bakal nyampe sana jam sembilan. Please, jangan tidur dulu ya.”
“Okay, Pa.”
“Janji ya, harus pulang hari ini. Papa uda kangen banget.”
“Iya, Pa.” Rara cekikikan.
“Papa lanjut meeting dulu ya.”
Gue mematikan telepon, lalu melanjutkan meeting agar ini cepat selesai.
Akhirnya meeting berakhir pukul setengah sembilan. Jalanan macet banget, sehingga gue baru tiba di rumah Diana pukul sepuluh malam. Gue berharap Rara belum tidur.
Gue memencet bel rumah itu. Pintu terbuka tidak lama kemudian. Diana muncul dengan wajah merah dan baju tidur yang kurang bahan dimana-mana.
Gila. Kalau saja orang ini bukanlah orang yang meniduri pria lain…
“Hai, Sayang!” Dia menyapa dengan merangkul gue, kelewat mesra untuk ukuran orang yang telah mengkhianati gue.
“Jauhkan tangan lo dari gue!”
Gue menyingkirkan tangannya.
Dia tersenyum tipis pada gue, “Masih marah ya?”
Sekejap saja gue bisa mencium bau alcohol dari nafas Diana, amarah gue langsung melonjak.
“Kamu mabuk?”
Mukanya memucat.
“Lo minum lagi waktu ada Rara?”
“Baru malam ini kok, lo tanya aja sama Rara. Ini juga karena gue tau lo hari ini bakal jemput dia.”
“Lo tuh bener-bener gak bertanggung jawab ya. Dimana Rara?”
“Tidur, di kamar gue.”
Diana berjalan menjauhi gue sambil menari-nari, dia bahkan tertawa-tawa saat kakinya menyandung meja. Amarah gue langsung mereda melihat kondisi mantan istri gue itu.
“Lo kenapa lagi sih, Dee?”
Dia duduk di kursi depan televisi.
“Sini sini, biar gue ceritain.” Dia menepuk-nepuk bagian kursi di sebelahnya.
“Ogah.”
“Yauda gue gak cerita.”
“Gue juga gak peduli sih.”
Diana terdiam, airmatanya menggenang.
“Lo kejam banget sekarang.”
“Kejaman mana sama lo? Tidur sama laki-laki lain?”
“ZEL! UDAHAN DONG NGEHUKUM GUE!!” Dia menjerit.
“DEE! BISA DIAM GAK? Gak sadar apa Rara masih tidur?"
Gue takut Rara terbangun dan mengira gue berantem lagi dengan Diana. Gue selalu merasa bersalah pada Rara kalau gue bertengkar lagi dengan ibunya ini. Seperti lukanya menjadi anak broken home tidak cukup saja…
“GUE GAK BAKAL DIAM KALAU LO GAK DUDUK DISINI!”
Kini dia menangis.
Gue cepat-cepat duduk di sebelah Diana. Dia langsung berhenti menangis. Pinter banget aktingnya!
“Puas lo?”
Diana tidak menjawab, malah meletakkan kepalanya di pangkuan gue.
Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini malam-malam begini. Mana sejak putus dari Sally, gue gak dapat asupan “gizi” yang cukup lagi.
“Dee, gue gak suka…”
“Gue maunya begini!!!” Dia berteriak lagi.
“Oke, oke. Lo boleh diam sekarang.”
Diana menarik tangan gue, lalu meletakkannya di atas kepalanya sendiri. Dia membuat seolah-olah gue sedang mengelus kepalanya. Meski tak pernah dia tunjukkan, tapi gue tau Diana selalu menyimpan penyesalan yang sangat dalam setelah berselingkuh dari gue. Gue sudah sangat mengenal dia, belasan tahun gue tau bahwa Diana sangat lemah terhadap perasaan bersalah. Dan saat perasaan itu sedang tidak tertahankan, dia akan berlari pada alkohol. Gue tau… itu makanya gue selalu bersikap cukup lunak dengan Diana yang mabuk seperti ini.
“Lo dulu sering giniin gue, Zel.”
Gue diam saja. Dalam hati mengutuk saat dadanya sedikit terekspos karena gerakannya sekarang ini. Gue kuat… gue kuat…
“Nama gue masih ada disini?” Dia menyentuh rusuk gue.
Iya, tentu saja ini waktu yang tepat untuk mengingatkanku tentang tato bodoh itu.
Gue tetap diam. Pikiran gue mengelana di saat-saat awal gue bertemu Diana. Gue pernah cerita kah bahwa saat itu gue benar-benar jatuh cinta sedalam-dalamnya dengan dia? Sampai-sampai gue membuat tattoo dengan inisial DEE di tulang rusuk kiri gue.
That means she made from me, from my ribs.
(Artinya dia terbuat dari gue, dari tulang rusuk gue.)
YUCK! Mau muntah kalau gue inget.
“Gue seneng kalau lo belum move on begini dari gue, Zel.”
Gue memutar bola mata gue.
Sebenarnya, gue belum menghapus tattoo itu tentu saja bukan karena gue belum move on. Ini sebagai tanda bawah gue pernah sangat bodoh, dan akan terus mengingatkan gue bahwa gue tidak akan pernah membiarkan diri gue untuk mencintai seseorang lebih dari yang seharusnya lagi.
Di saat gue sedang bersama dengan wanita-wanita lain, mereka sering diam-diam menatap tattoo itu. Tapi toh mereka tidak sempat bertanya, karena gue membuat mereka lebih sibuk memikirkan hal lain. Hehehe.
Setelah itu, Diana tertidur. Gue menunggu sampai dia benar-benar terlelap, lalu menggendongnya untuk masuk ke dalam kamarnya. Gue meletakkannya di sebelah Rara. Gue menatap dia dan Rara bergantian.
Seandainya dulu Diana gak mengkhianati gue, mungkin ini adalah pemandangan yang akan selalu gue syukuri setiap malam.
Gue pernah bertanya pada Diana kenapa dia selingkuh dari gue. Tau apa yang dia katakan? Karena gue terlalu baik, semua kemauannya gue turuti, apapun yang dia ingin lakukan tidak pernah gue tentang sama sekali.
Gue hanya mencoba menjadi suami terbaik untuknya, dan dia katakan itu sebagai alasannya menyelingkuhi gue. Tidak masuk akal sama sekali.
Memang daridulu gue tau bahwa Diana bukanlah orang yang setia. Tidak jarang gue menemukan dia chatting dengan pria lain sedari dulu. Gue pikir dia akan berubah, gue pikir kalau gue mencintainya dengan benar, dia kelak akan sadar bahwa gue adalah yang terbaik untuknya. Namun, siapa gue berharap bisa mengubah manusia?
Ah, sudah cukuplah gue mengenang masa lalu. Tidak ada gunanya juga. Sekarang Diana telah menjadi orang asing buat gue.
Gue mendekati Rara, membangunkannya.
“Sayang, pulang yuk?”
Rara bangun lalu mengangguk, “Maaf, Pa, aku ketiduran.”
“Gak apa. Tas kamu dimana?”
Rara menunjuk tas di dekat pintu.
“Papa gendong ya?”
Rara mengangguk lagi.
Gue menggendong Rara, lalu mengambil tas Rara dengan tangan satunya. Gue mematikan lampu kamar itu sebelum keluar.
Untung pintu rumah Diana itu pintu otomatis sehingga gue tidak perlu membangunkan dia lagi untuk mengunci pintu.
Setelah itu, gue melajukan mobil untuk kembali ke rumah.
Di dalam perjalan pulang, pikiran gue berkelana.
Betapa konyol hidup ini. Di satu hari kita bisa sangat mencintai seseorang, di hari yang lainnya kita bahkan berharap orang itu lebih baik tidak ada saja di dunia ini.
Diana. Nama yang sudah tabu untuk hati gue.
Cinta. Satu hal yang sama tabunya dengan Diana.
Dengan menyebut cinta saja, gue bisa teringat dengan satu nama. Nayla. Lama-lama gue gila karena ini semua.
Setiap kali gue teringat dengan pengkhianatan Diana, rasanya gue tidak berani memulai sesuatu dengan orang lain lagi.
***