Namaku Yuta Mayasaki, aku mempunyai seorang pacar bernama Giza, gadis cantik yang merupakan madona sekolah SMA Jayakarta.
Suatu hari saat aku pulang sekolah, Ayahku yang seorang duda membawa pacarnya dan juga seorang gadis yang merupakan anak dari pacarnya.
Namun saat aku melihat penampilannya... ya, benar sekali, anak dari pacar ayahku itu adalah Giza.
Bagaimana hubunganku dengan Giza seterusnya? Apakah masih boleh kita berpacaran walaupun kita kakak adik? Bukankah ini cinta terlarang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noya Clarissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.14 Kekuatan cinta
Seriusan, Giza beli minumannya sampai ke luar negeri, ya? Aku sudah menunggu lama banget, tahu?
... Tidak, jika aku memikirkannya dari sudut pandang yang berbeda, ini bukan masalah lama atau tidaknya. Besar kemungkinannya kalau Giza ternyata sedang menghadapi suatu masalah.
Dan itu sudah pasti tentang cowok-cowok bejat yang tersebar di dunia ini. Bukan berarti aku menganggap diriku ini suci atau bagaimana, oke? Hanya saja, cowok dengan tipe seperti itu pasti selalu ada.
Atau aku hanya kebanyakan baca manga?
Tidak, apapun alasannya, insting 'penyayang'ku ini seperti menyuruhku untuk mencari keberadaan Giza.
Dan juga, aku bukan sakit parah. Jadi aku masih bisa berjalan seperti biasanya, hanya saja kepalaku terasa pusing sedikit.
Aku bangun dari kursi taman itu dan mulai memikirkan kemana seharusnya aku mencari.
Giza bilang kalau dia ingin membeli minuman untuk aku, kemungkinan besar sekarang dia ada di vending machine, atau bisa juga ada di toko minuman.
Secara berpikir sekitar 10 detik, aku memutuskan untuk mengunjungi setiap tempat vending machine. Aku melihat ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu.
Ah, di sana.
Aku berjalan ke arah papan peta yang terletak tidak jauh dari kursi taman.
Aku harus mencarinya menggunakan rencana agar lebih efisien. Jika aku memotret papan peta ini, aku bisa tahu dimana saja vending machine itu terletak di taman bermain ini.
Dan itu bisa menghemat waktu pencarian juga.
Aku mengambil smartphone-ku dari saku celanaku, lalu memotret papan peta itu ... eh? Bukannya aku bisa meneleponnya?
"...."
*beep
Oke, telepon dariku tidak diangkat, aku akan menganggap ini masalah yang serius.
***
(POV Giza)
"Tidak! Jangan sentuh aku!"
Siapa sebenarnya mereka ini?! Tiba-tiba mendatangiku, dan juga jumlah mereka ... pokoknya ada banyak.
Aku tidak bisa berpikir jernih.
"Hey, Nona, janganlah bersikap galak seperti itu kepada kami~."
"Betul~, kami hanya ingin bermain dengan kau~."
"Kami orangnya lembut, kok~."
"Tidak! Kalau aku bilang tidak ya tidak—jauhkan tangan itu dariku!" Aku menepis tangan salah satu lelaki itu yang hendak menyentuh bahuku.
"Hey, hey, kok masih saja galak sih ... oh? Aku baru sadar kalau kau membeli 2 minuman, apa kau sudah punya pacar, Nona?"
"Bukan urusanmu!"
"Begitu ya? Kalau begitu aku akan mengambilnya satu untukku!"
"T-tidak! Kyaaa!"
"Astaga, aku merasa tidak mendorongmu dengan keras? Kenapa kau malah terjatuh~ hahaha!"
"""hahaha!"""
Ah, minumannya ... dia ... dia meminum minuman yang kubeli untuk yuta ....
Tidak ... aku tidak tahu harus berbuat apa ....
Yuta ... selamatkan aku ....
***
(Kembali ke POV Yuta)
"Di sini tidak ada juga ya ...."
Sudah berapa vending machine aku kunjungi? Setengahnya mungkin? Tapi aku masih belum tahu dimana keberadaan Giza.
Bahkan rasa lelah setelah aku berlarian sejak tadi tidak terasa ... pikiranku hanya fokus mencari Giza.
Aku butuh petunjuk ... tidak, kalau aku memang pacarnya, seharusnya aku tahu dimana dia berada.
Ayolah ... berpikirlah ....
"... Eh?"
Tunggu sebentar, aku seperti mendengar suara teriakan seorang gadis. Suaranya mirip Giza ... bukan, itu pasti suara Giza.
Darimana sumber suara tadi?
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri sambil berusaha mengingat darimana arah suara teriakan samar-samar yang ku dengar tadi.
Seakan berharap ada teriakan kedua yang terdengar—walau itu tidak akan terjadi, aku memutuskan berlari ke salah satu arah, berharap arah yang aku pilih benar.
"Haah ... haah ...."
Ah, aku bisa mencium aroma parfum Giza, aku rasa arah ini benar! Giza, tunggu aku!
Setelah beberapa saat aku berlari, aku akhirnya melihat sosok Giza yang ternyata sedang dikelilingi oleh beberapa lelaki yang tidak aku kenal.
Sudah kuduga, 'kan?
Ini memang bukan cerita novel ringan ataupun manga, tapi yang namanya lelaki bejat itu pasti ada.
Tanpa memikirkan banyak hal lagi, aku bergegas berlari ke arah Giza sambil meneriaki namanya dengan keras.
"Gizaaa!!"
"Ah! Yuta!"
Giza langsung menoleh ke arahku sambil melambaikan tangannya. Aku bisa merasakan orang-orang disekitar menatapku dengan tatapan tajam karena baru saja aku meneriaki nama seseorang.
Tapi siapa yang peduli? Toh aku bisa memanggil namanya bahkan 1000 kali dalam sehari. Giza, Giza, Giza!
Tidak, singkirkan dulu jiwa simp-mu itu Yuta! Keselamatan Giza adalah yang terpenting saat ini.
Seraya memikirkan banyak hal tadi sambil berlari ke arah Giza, aku merentangkan tanganku ke arah lelaki yang tidak aku kenal itu. Giza berada di belakangku sekarang.
"Siapa kalian?"
"Oho? Pacarnya datang? Hahaha! Hey, Kak, ayolah kita berbagi kesenangan dengan gadis dibelakangmu itu~."
"Hanya mimpi! Dasar jomblo akut, jelek, cari cewe sana, cowo bejat!"
Tidak, aku kelepasan.
"H-hah? Apa maksud kamu—"
"Security! Tolong kami! Ada gerombolan yang berusaha menyakiti kami!"
"H-hey! Jangan berteriak seperti itu!"
Hahaha! Ini memang trik seorang pengecut, tapi siapa yang peduli? Selama aku bisa melindungi Giza, aku akan menggunakan cara apapun.
Sesaat setelah aku berteriak, orang-orang disekitar sepertinya mulai sadar kalau kami sedang dalam masalah dan mereka mulai membantu kami dengan cara memanggil security terdekat.
Akhirnya, para lelaki itupun dibawa oleh security yang datang membantu kami. Aku berterima kasih kepada mereka.
***
"Yuta! Giza takut banget, tahu!" Giza memelukku erat sambil berteriak menangis.
"Yoshi, yoshi~."
Aku mengelus-elus rambut Giza yang sangat lembut seperti kain itu. Astaga, kenapa bisa ada gadis seimut dia sih? Aku bisa mati hanya karena keimutannya itu.
"A-a-ah ... maaf, Yuta, baju Yuta jadi basah karena air mata Giza." Giza melepaskan pelukannya seraya menyeka air mata yang tersisa di matanya.
"Ah, tidak apa-apa, kok."
Aku gak bakal cuci baju ini, seriusan.
"Oh iya ... minumannya ...."
"Sudah, jangan dipikirkan lagi, oke? Kita bisa membeli yang baru, nanti aku yang beliin deh~."
"O-oke ...."
Haah ... akhirnya selesai juga masalahnya. Ngomong-ngomong, sekarang baru terasa lelahnya, seharusnya sih kalau orang normal pasti sudah gak kuat lagi.
Apakah ini yang orang bilang 'kekuatan cinta'?! Tidak, ini pasti 'kekuatan cinta'! Karena aku sangat mencintai Giza, aku jadi tidak merasa lelah.
... Aku menarik kata-kata itu deh, itu terlalu alay.
"Yasudah, ayo kita beli minuman yang baru."
"Ayo~." Giza merentangkan tangan kanannya ke atas.
Syukurlah Giza sudah ceria. Inilah yang aku suka dari Giza.
Kebetulan, salah satu vending machine-nya dekat dari sini jadi kami tidak perlu jalan jauh.
"Yuta, kamu strawberry milk 'kan?"
"Iya, seperti biasanya."
"Oke, kalau begitu aku chocolate milk~!"
Terlihat agak aneh sih, tapi memang begitulah kenyataannya. Aku tidak terlalu suka rasa cokelat dan Giza tidak terlalu suka rasa strawberry.
Hal yang langka tapi aku bangga.
"Oh iya, mumpung masih sempat, bagaimana kalau kita mencoba wahana rumah hantu?"
***
diriku adalah masa depanku
setetes air diujung ranting
terjebak dalam masa lalu
happy Reading ❤️
kn kasian pacarin adik sendiri🥹