⚠️Novel ini hanya karya fiksi semata ⚠️
Kesuciannya direnggut secara paksa oleh pria tak di kenal dalam semak-semak sepulang sekolah.
Dirinya yang ketahuan berbadan dua tak di terima dalam lapisan masyarakat, hingga ia berhenti sekolah dan di usir dari kampung halamannya.
Kedua orang tuanya yang hanya buruh lepas pemetik teh, terpaksa menikahkannya dengan sang tuan tanah yang telah memiliki istri namun tak punya keturunan.
“Aku hanya mau anak mu, setelah kau melahirkan kau akan ku ceraikan.” ucap Arash sang tuan tanah pengendali masyarakat setempat.
Bagaimana kisah hidup Ruby Maryam selanjutnya?
Akankah ia bahagia? Atau justru menderita?
Instagram : @saya_muchu
Ikuti terus alur novel Pelakor Tak Berdosa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reski Muchu Kissky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran
Rasanya Bunga ingin mengangguk saat itu juga, namun ia harus tetap menjaga harga dirinya di hadapan suaminya yang luar biasa tega.
“Ku harap kau tak salah langkah mas.” hanya itu yang dapat Bunga katakan pada suaminya.
“Nanti aku akan ke rumah gadis itu, ada yang harus ku urus, apa kau mau ikut?” pertanyaan Arash membuat Bunga panas dingin.
“Tidak.” Bunga tak sanggup, bila harus melihat suaminya bersama wanita lain.
“Baik, jangan terlalu lama di luar, nanti kau masuk angin.” setelah mengatakan itu, Arash masuk ke dalam villa.
Bunga yang di tinggal sendiri mulai menitikkan air matanya.
“Aku tahu, aku tak sempurna, tapi haruskah kau mengatakan seperti itu pada ku? Bukankah itu artinya kau ingin menikahi gadis itu?”
Tes!
Bunga menangis, tapi meski sakit, ia tak bisa meninggalkan suaminya yang dingin, karena ia sendiri terlanjur mencintai kemewahan yang di berikan oleh Arash padanya.
🏵️
Saat Sore menjelang Magrib akan tiba, Ayu dan Ida pun memutuskan untuk pulang.
“Ruby, kau harus kuat, maaf kami tak bisa memberi solusi atas permasalahan mu,” ucap Ayu.
“Aku juga By, kau harus tetap kuat ya, kami akan selalu jadi teman mu sampai kapan pun.” Ida memeluk sahabatnya.
“Terimakasih banyak, Yu, Ida. Kalian adalah sahabat terbaik ku, maaf sudah membohongi kalian selama ini, karena ku pikir, kalian akan jijik melihat ku.” hati Ruby sungguh sedih, saat ia tak dapat bertemu dengan kedua sahabatnya lagi.
Setelah ketiganya berpelukan, Ayu dan Ida pun pergi pulang.
Ruby yang masih duduk di tempatnya mendapat tatapan sinis dari ibu tirinya.
“Coba kau enggak kena sial begini, pasti kau masih bisa bersama mereka, tapi apa boleh buat, nasib mu sangat tidak beruntung. Hufftt...” Marisa berulang kali menghela napas panjang, sebab ia meras dadanya terasa sesak.
“Sudahlah bu, jangan marahi Ruby lagi, dia sudah cukup terluka.” Dahlan tak tega melihat putrinya yang menderita.
“Terserah kau saja yah, ya Tuhan, kita harus pindah kemana? Apa kita tidur di jalanan saja sebelum dapat angkutan ke terminal?” hati Marisa sangat resah, saat membayangkan mereka harus berjalan kaki dengan jarak yang sangat jauh.
🏵️
Arash yang telah tiba di tujuan melihat tanah menanjak di samping kanannya.
“Apa rumah pak Dahlan ada di atas?” tanya Arash.
“Benar tuan, mari saya antar tuan.” Raja dan Arash pun keluar dari dalam mobil.
Kemudian mereka melalui jalan menanjak untuk mencapai rumah Ruby.
Setelah mereka sampai, Arash pun melihat rumah Dahlan yang begitu buruk.
“Apa ini rumah?” bagi Arash, istana Ruby tersebut tidak lebih dari kandang ayam.
Kenapa ada orang semiskin mereka? Pada hal ayah dan ibu gadis itu bekerja, batin Arash.
Ia tak tahu, jika sang kepala desa menggencet gaji para karyawan.
Yang paling mengenaskan harus di terima oleh Dahlan dan Marisa.
Karena alasan buta huruf dan tak punya ijazah, Raja tega memberi upah murah pada orang tua Ruby dalam memetik pucuk teh di perkebunan milik Arash.
Yaitu Rp.500 perkilo, karena tak pernah yang namanya belajar, kedua orang tua Ruby mau-mau saja, sedang karyawan lain di gaji 5 juta sebulan. pada hal jam kerja mereka sama dengan karyawan tetap lainnya.
Arash yang tak ingin membuang waktu di tempat minim penerangan itu pun memberi perintah pada Raja.
“Panggil mereka bertiga, aku tunggu di luar saja.” Arash merasa tak nyaman, jika masuk ke dalam rumah sempit Ruby.
“Siap tuan.” dengan cepat Raja menuju rumah Ruby.
“Assalamu'alaikum,” ucap Raja.
“Walaikum salam,” sahut ketiganya.
Melihat wajah kepala desa, hati mereka sedikit lega, karena itu artinya sang kepala desa datang bersama Arash si tuan tanah.
“Kata tuan bicara di luar saja, kalian ada bangku enggak? Tak mungkin tuan berdiri saat bicara,” ucap Raja.
”Bangku ada pak, tenang saja.” kemudian Dahlan pun mengangkat sebuah bangku kayu menuju Arash yang menunggu di luar.
Marisa dan Ruby pun ikut keluar untuk menemui sang tuan tanah.
“Silahkan duduk tuan.” Dahlan meletakkan bangku yang ia bawa tepat di sebelah Arash.
“Kalian bagaimana?” tanya Arash sebab ia lihat hanya ada 1 bangku.
“Kami duduk di bawah saja tuan, tidak apa-apa,” ucap Dahlan.
“Benarkah?” Arash melihat dengan seksama wajah orang-orang yang sangat menghormatinya.
Setelah itu Arash duduk di bangku yang di beri, sedang keluarga kecil itu duduk di atas tanah.
“Saya tidak akan berbasa-basi, pak Raja, buka tasnya,” titah Arash.
“Kemudian Raja membuka resleting tas hitam berisi uang 100 juta rupiah.
Mata keluarga Ruby membelalak sempurna, melihat jumlah uang yang sangat banyak di hadapan mereka.
“Sayakan hanya jual 8 juta tuan, kenapa tuan memberi saya banyak uang?” tanya Dahlan dengan gelagapan
“Iya, benar, 8 juta untuk beli tanah, 92 juta, untuk uang muka, kalau kalian mau menjual anak yang ada dalam kandungan putri kalian pada ku.”
Mendengar penawaran dari Arash, ketiganya melihat satu sama lain.
“Tapi kenapa tuan ingin anak yang di kandung Ruby?” tanya Marisa penasaran.
“Ibu tak perlu tahu alasannya, yang jelas bayi itu di jual atau tidak?!” Arash yang dingin tak suka di ajukan banyak pertanyaan.
“Setuju.”' jawab Marisa tanpa meminta pendapat Ruby.
“Ibu, bukankah ibu bilang anak ini mau di gugurkan saja?!” Ruby tak menyangka jika ibu sambungnya begitu cepat berubah pikiran.
“Oh ya, sebagai tambahan, kalian tak perlu meninggalkan desa ini, dan selama putri kalian mengandung, dia akan tinggal bersama ku di kota.” penawaran super menguntungkan dari sang tuan tanah, tentu saja tak di tolak oleh Marisa dan Dahlan.
Sedang Ruby tak tahu, keputusan itu sudah benar atau tidak.
“Kami sangat setuju tuan, terimaksih banyak,” ucap kedua orang tua Ruby.
“Bagaimana, kau mau kan, ku bawa ke kota selama kau hamil?” Tanya Arash langsung pada Ruby.
Ruby yang tak punya pilihan pun mengangguk setuju.
Sebab bertahan di desa hanya akan jadi bahan gunjingan orang-orang.
“Apa tuan juga akan menikahi ku? Bukankah tinggal bersama akan sangat tidak pantas untuk di lakukan?” ucap Ruby, ia tak tahu jika Arash sudah memiliki istri.
“Kenapa aku harus menikahi mu? Bukankah itu namanya serakah? Sudah selamat dari maut, di beri uang cuma-cuma, serta tak keluar dari desa, masa kau mau meminta lebih lagi? Ck, kau tamak juga ya.” kata-kata menohok dari Arash membuat Ruby menundukkan kepalanya.
Aku memang tak tahu malu, ya Tuhan, semoga tuan tak berubah pikiran, batin Ruby.
“Ma-maaf tuan, saya salah, tak seharusnya saya meminta yang tak pantas.” ucap Ruby dengan gelagapan karena takut.
...Bersambung......