Entah suatu kemalangan atau permainan takdir untuk Faranisha Gayatri, menjelang hitungan jam pelaksanaan akad nikah dengan sang kekasih yang telah menjalin kasih selama 3 tahun dengannya, pihak mempelai pria malah membatalkan pernikahan tanpa alasan. Sebagai gantinya, hadirlah sesosok pria yang bersedia menjadi pengganti mempelai pria.
Ialah Naufal Kenan, sosok pria yang sangat sensasional. Seorang dokter spesialis bedah dan penyakit dalam dengan segudang prestasi dan pencapaian. Berparas tampan, kaya raya nan dermawan. Dan ternyata, ialah sosok pria yang menjadi cinta pertama Fara. Cinta yang dulu hanya bisa dipendamnya dalam diam tanpa dapat tersampaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isi Hati Fara
"Far, lo nyembunyiin sesuatu dari gue kan?" untuk kesekian kalinya Nabila mempertanyakan pertanyaan ini pada Fara. Mulai dari usai sesi menyalami Kenan hingga saat ini, dimana acara penyambutan telah usai dan keduanya sudah berada di ruang kerja mereka.
"Hufh..." Fara m*ndesah jengah, sahabatnya ini benar-benar gigih "Iya deh, gue ngaku, gue emang lagi nyembunyiin sesuatu dari lo. Tapi, maaf Nab, gue belom bisa ngasih tau lo sekarang."
Bukannya Fara ingin menyembunyikan perihal hubungannya dengan Kenan dari Nabila. Hanya saja meski itu pada sahabatnya sekalipun, ia takut jika ia mempublikasikan hubungan mereka tanpa izin sang suami, Kenan akan marah padanya. Sebenarnya ia juga sangat ingin mempublikasikan hubungan mereka. Jujur saja ia sudah benar-benar lelah menjadi bahan gunjingan akibat dikira gagal menikah. Padahal kan tidak, hanya berganti mempelai pria saja. Namun begitulah, karena ingin menghormati dan menjaga citra sang suami yang sangat sensasional, ia berusaha kuat. Ya, dibalik sikap tegar dan baik-baik saja yang ia tunjukan selama ini hanyalah sebuah sandiwara belaka.
Nabila yang menangkap keresahan dalam tutur kata Fara, mencoba mengerti. "Oke, baiklah Far. Maaf kalo gue udah terlalu kepo dan buat lo gak nyaman. Gue gak maksud gitu, gue cuman khawatir aja ama lo. Maaf ya."
"Hm... Iya Nab, gue ngerti kok. makasih juga ya, udah khawaturin dan ngertiin gue. Lo emang sahabat the best lah." Fara tersenyum tulus.
Tok tok tok...
Tiba-tiba pintu ruangan mereka diketuk dari luar. Sejenak sepasang sahabat itu saling pandang dan sama-sama menggedikan bahu pertanda tidak tahu identitas sang tamu.
"Masuk!" seru Nabila kemudian.
Ceklek...
Pintu terbuka, dan masuklah sesosok gadis berusia kisaran 20 tahunan, berseragam perawat dengan name tag 'Lisa Utami'.
"Ada apa Sus?" tanya Nabila.
"Maaf mengganggu waktunya, Dokter Nabila, Dokter Fara. Saya diperintahkan untuk memanggil Dokter Fara ke ruangan Profesor Kenan." ujar sang suster yang diketahui bernama 'Lisa' itu.
Baik Fara maupun Nabila sama-sama terkejut. Terutama Fara, ada angin apa Kenan memanggilnya? pikirnya bertanya-tanya.
"Saya?" tanya Fara memastikan sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya Dokter Fara, anda." jawab Lisa sabar nan ramah.
Fara pun manggut-manggut "Baiklah, terima kasih Sus. Saya akan segera ke ruangan su_ beliau." hampir saja ia kelepasan menyebut 'suamiku'. Untung dengan cepat diralatnya.
Lisa mengangguk "Baik, kalau begitu saya pamit undur diri, permisi!"
Fara dan Nabila hanya balas mengangguk mempersilahkan.
Bruk...
Selepas kepergian Lisa, lidah Nabila terasa gatal ingin bertanya tentang hubungan Fara dan Kenan lagi, ia semakin penasaran. Namun sebisa mungkin ditahannya. Sebagai gantinya, ia hanya menatap sang sahabat dengan ekspresi rumit, seolah tengah menahan sesuatu.
"Napa lo, Nab? Kebelet?" canda Fara. Ia tahu apa yang tengah dipikirkan sahabatnya itu. Tapi, mau bagaimana lagi? Belum saatnya Nabila tahu, pikirnya.
Nabila menyengir "Hihi... Ya, gitulah."
"Ke toilet lah!" lanjut Fara bercanda.
"Hufh..." Nabila m*ndesah melow "Ya elah Far, bukan kebelet itu kali. Gue kebelet pengen nanyain tentang hubungan lo dengan big bos."
"Dasar kepo. Udah ah, gue mau ke ruangan big bos dulu. Takut si doi ngamuk, kalo kelamaan nunggu." pungkas Fara sembari senyam senyum tak jelas dan mulai bersiap.
"Elah, si doi? Sok-sokan lo." cibir Nabila.
"Oke, beres. Gue cabut dulu ya, Nab. Bye..." tanpa mempedulikan cibiran Nabila, Fara segera berlalu setelah mengenakan jas dokternya dengan rapih.
Bruk...
Gadis itu berjalan dengan santai nan anggun di koridor bangsal tanpa mempedulikan tatapan rumit orang-orang yang berpapasan dengannya. Bukannya Fara tidak tahu apa makna tatapan-tatapan itu, ia sangat tahu. Sama halnya dengan Nabila, mereka pasti juga penasaran tentang hubungannya dengan Kenan. Lalu, apa ia peduli? Tidak, sama sekali tidak peduli.
Tibalah Fara di depan ruangan Kenan yang terdapat sebuah papan nama ruangan di sudut pintu bertuliskan 'Dirut Room'. Saat hendak mengetuk pintu ruangan tersebut, tangannya tiba-tiba mematung di udara. Ia tiba-tiba merasa gugup. Namun sesaat kemudian, dengan segenap keberanian, tak urung ia melanjutkan kehendaknya.
Tok tok tok...
"Masuk!" tak lama terdengar suara bariton berseru dari dalam. Suara yang sangat ia kenali belum lama ini, suara sang pemilik ruangan sekaligus suaminya, Naufal Kenan.
Deg...
Fara semakin bertambah gugup setelah mendengar suara tersebut. Sekilas ia kembali terbayang bisikan dan dekapan Kenan di panggung penyambutan beberapa waktu yang lalu. Namun tak urung ia membuka pintu dan memasuki ruangan.
Glek...
Fara harus menelan saliva susah paya sebelum berucap "Permisi Prof, anda memanggil saya?" spontan saja kata-kata itu terucap dari bibirnya. Ia tak berani menggunakan bahasa informal meski tahu lawan bicaranya adalah suaminya sendiri.
Kenan yang tadinya sedang berkutat dengan berkas-berkas yang ada di atas meja kebesarannya, mendongak menatap Fara. Sejenak ia terdiam, seolah tengah berpikir. "Hm... Iya, saya memanggil anda, Dokter Fara." jawabnya juga dengan bahasa formal kemudian.
Entah mengapa, meskipun dirinya yang lebih dulu memulai, Fara merasa sesak di dadanya mendapati Kenan juga menggunakan bahasa formal. Ia merasa diperlakukan seperti orang asing oleh suaminya sendiri. "Ada yang bisa saya bantu, Prof?" kali ini suaranya tidak lagi terkesan lembut, melainkan dingin.
Sekali lagi Kenan terdiam sejenak, seolah tengah berpikir. "Mulai hari ini anda akan menjadi asisten saya sebagai dokter spesialis bedah." tuturnya kemudian.
"Hah?" sesaat Fara melongo tak percaya dengan apa yang didengarnya "Ma-maksud anda apa, Prof?"
"Seperti yang saya katakan, anda akan menjadi asisten saya, mendampingi saya saat melakukan operasi. Masih belum jelas?" ujar Kenan datar.
Fara menggeleng "Bukan itu maksud pertanyaan saya, Prof. Yang saya tanyakan, apa maksud anda menjadikan saya sebagai asisten anda?"
"Hmm?" sebelah alis Kenan terangkat "Mengapa? Anda tidak mau?" alih-alih menjawab, ia malah balik menanyakan kesiapan Fara. Ia bingung saja, kalau orang lain pasti akan dengan senang hati dan tanpa banyak bertanya menerima posisi itu.
Bukan karena terlalu percaya diri, hanya saja Kenan sudah sering kali mengalami. Di Kanada, di Logan's Hospital tepatnya, semua dokter spesialis bedah berlomba-lomba memperebutkan posisi sebagai asistennya. Hanya Fara seorang yang reaksinya seperti ini, seolah keberatan.
Fara menggeleng lagi "Bukan Prof, saya hanya bingung saja tiba-tiba ditempatkan sebagai asisten anda."
"Ohh..." Kenan manggut-manggut "Anda terlalu banyak berpikir. Saya tidak tiba-tiba memutuskan ini, tepatnya sejak tiga hari yang lalu setelah mengajukan surat pemindahan tugas saya dari Logan's Hospital. Setelah memeriksa semua data dokter bedah di NK Hospital, pilihan saya jatuh pada anda. Terlebih lagi anda adalah istri saya, sehingga saya berpikir tidak akan sulit untuk kita bisa menyesuaikan diri." jelasnya panjang lebar sedetail mungkin.
Namun ada sepenggal kalimat yang hanya ia jelaskan secara ambigu, yakni kalimat terakhir. kalimat yang menyatakan bahwa Fara adalah istrinya sehingga mereka tidak sulit untuk menyesuaikan diri. Bukankah itu sangat klise?
Bahkan Fara yang dengan seksama mendengar penuturan Kenan dibuat terperangah. Apa hubungannya dirinya dan Kenan sebagai suami istri dengan penyesuaian diri di meja operasi? Tidak mungkin kan, saat di rumah mereka akan melakukan praktek pelatihan operasi untuk menyesuaikan diri? pikirnya. Ingin sekali rasanya ia menanyakan itu, namun segera ia urungkan. Lagi pula, ia tidak berniat menolak tawaran ini, malah sangat ingin menerimanya. Hanya saja tadi ia sedikit shock, dengan kabar baik yang terlalu tiba-tiba, menurutnya. "Baiklah Prof, saya bersedia menjadi asisten anda. Saya akan melakukan yang terbaik agar tidak mengecewakan kepercayaan anda." putusnya mantap kemudian.
Kenan tersenyum "Kalau begitu mohon kerja samanya!" diulurkan nya tangannya untuk berjabat tangan.
Dengan senang hati Fara menyambut sembari balas tersenyum setelah sesaat terpesona oleh senyuman Kenan. "Iya Prof, mohon kerja samanya juga."
Ingat, Kenan mempunyai kepekaan yang tinggi. Walaupun hanya sesaat, ia dapat menangkap keterpesonaan Fara. Tiba-tiba saja terbesit di benaknya untuk menggoda sang istri lagi. Ketika Fara hendak kembali menarik tangannya, ia malah semakin mempererat jabatan tangan mereka.
Jangan tanyakan reaksi Fara. Susah paya ia berupaya mengendalikan detak jantungnya yang memberontak seolah ingin keluar dari tempatnya.
ini kog ketus...
batal
pernikahan barat
why
apa sdh selesai ceritanya 😊