REYHAN, dia adalah anak angkat yang dituduh telah menghabisi orang tua yang mengadopsinya hingga pada usia 12 tahun memaksanya harus merasakan dinginnya tembok penjara.
tidak ada yang mengetahui jika anak kecil itu hanya difitnah karena pada hari kejadian orang-orang melihatnya memegang pistol yang diduga dipakai menghabisi nyawa orang tuanya. bahkan adik angkatnya pun sangat membencinya karena tragedi itu.
pembelaan yang dilakukan hanya sia-sia, saat diadili tanpa sengaja dia melihat pembunuh orang tua angkatnya ada di sana dia tersenyum pada Reyhan dengan menyeringai kemudian pergi begitu saja.melihat itu api dendam dalam dirinya menyala dan bersumpah akan menghabisi orang yang telah membunuh orang tua angkatnya kelak saat dia dibebaskan dari penjara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N_Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 apakah dia Adinda
Malam berlalu begitu cepat, kini matahari sudah terbit dan inilah saatnya orang-orang memulai aktivitas mereka.
Di apartemen, Amelia tengah bersiap untuk pergi mencari pekerjaan. Walaupun Kyesor belum menyetujuinya namun Amelia bersih keras. Untuk bisa pergi tanpa sepengetahuan sang ayah, dia berjalan mengendap-endap. Namun, usahanya gagal sebab Kyesor sejak pagi sudah berada di ruang tengah.
"Mau kemana kau nak?" tegur nya.
Mendengar suara sang ayah, Amelia mengehentikan langkahnya. Dia merasa takut dan berharap Kyesor tidak menghentikannya pergi.
"Ehh ayah, ini yah Amelia mau ke kampus dulu." ucapnya mencari alasan.
"Sungguh, ya sudah kamu hati-hati dan kamu tidak perlu cemas tentang biaya kuliah mu nak, ayah akan berusaha untuk itu." ucap Kyesor meyakinkan anaknya.
Amelia mengangguk sambil tersenyum miring, dalam hati dia hanya bisa meminta maaf karena telah berbohong.
"Amelia jalan dulu, sampai jumpa." ucapnya kemudian bergegas pergi.
Tak berapa lama Amelia pergi, Reyhan juga menyusul. Dia yang tadi tanpa sengaja mendengar percakapan Kyesor dan Amelia membuatnya merasa ada yang aneh dengan sikap Amelia.
"Tunggu Amelia..." teriaknya memanggil gadis cantik itu.
"Reyhan, ada apa mengapa kau mengejar ku?" Amelia berbalik dan memilih Reyhan.
"Aku akan mengantarmu ke kampus, ayo." Jawab Reyhan sengaja memancingnya agar bisa mengetahui rencana Amelia.
"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri." Amelia menolak dengan gugup.
"Tapi kenapa, lagipula aku juga akan keluar mencari pekerjaan jadi sekalian aku bisa mengantarmu?" tanya Reyhan.
"Kalau aku bilang tidak perlu artinya tetap tidak, mengapa kau memaksa ku sih." Amelia seketika emosi.
Reyhan tercengang dengan sikap anehnya, dia yakin ada sesuatu yang di sembunyikan gadis ini.
"Kenapa kau tidak membiarkan aku mandiri, aku hanya ingin mulai saat ini aku akan mengerjakan semuanya sendiri agar aku bisa terbiasa." ucap Amelia terlihat frustasi.
"Maaf, aku tidak akan menggangu mu lagi." ucap Reyhan dingin kemudian pergi meninggalkan Amelia sebab dia tersungging dengan ucapannya.
"Uff... Kenapa jadi begini sih." Amelia menghela nafas berat sebelum ia kembali bergegas pergi.
****
"Dasar gadis pemarah, aku hanya berniat membantu dia justru marah-marah." oceh Reyhan mengendarai motor yang ia sewa untuk mencari pekerjaan.
Didepan ada lampu merah, semua kendaraan berhenti begitu pun dengan Reyhan, sambil menunggu Reyhan kembali melihat gadis itu di dalam mobilnya.
"Dia... Hmm inilah saatnya aku mencari tahu siapa dia sebenarnya." batin Reyhan.
Akhirnya lampu berganti hijau semua kendaraan kembali bergerak. Reyhan mengikuti mobil yang dikendarai oleh si gadis, agar tidak membuat si gadis curiga karena di ikuti, Reyhan mencoba menjaga jarak.
Beberapa saat kemudian, mobil itu masuk sebuah perumahan elite, Reyhan tercengang sebab ia tahu tempat itu adalah kawasan rumah orang tua angkatnya dulu.
"Bukankah ini... apakah dia..." Reyhan buru-buru turun dari motornya dan berjalan mendekati salah satu rumah yang tadinya di masuki oleh si gadis.
Saat tiba di gerbang, Reyhan mengintip kedalam dan terpaku saat melihat rumah yang mana dulu ia tinggal disana, matanya berkaca-kaca tidak menyangka akan bisa melihat rumah itu lagi. Seketika ia teringat akan masa kecilnya dulu saat bermain di halaman rumah bersama Andi dan Adinda, Sungguh suasana itu membuatnya meneteskan air mata.
"Halo mas, apa yang kau lakukan disini?" seketika ia dikejutkan oleh seorang satpam yang tiba-tiba bertanya.
Buru-buru Reyhan mengusap air matanya sebelum si satpam melihatnya.
"Tidak pak, saya hanya singgah untuk berteduh." Jawab Reyhan berbohong.
"Ohh begitu, tapi maaf mas disini dilarang berteduh nanti masnya disangka maling lagi." ucap satpam memperingatinya.
"Seperti itu ya pak, kalau begitu saya pergi sekarang maaf karena telah menganggu." ucap Reyhan kemudian berlalu pergi.
"Iya mas, lain kali jangan di ulangi." teriaknya pada Reyhan yang semakin menjauh.
****
"Ahh... aku sungguh tidak menduga jika akan melihat rumah itu lagi." ucapnya merasa senang.
"Tunggu, apa jangan-jangan gadis itu adalah Adinda?" batin Reyhan bertanya-tanya.
Seketika ia kembali mengingat wajah gadis itu lalu membandingkannya dengan wajah dinda kecil yang meskipun dia sudah sedikit lupa dengan wajah dinda saat masih kecil.
"Jika memang itu Dinda, syukurlah dia baik-baik saja." ucap Reyhan merasa lega.
Walaupun masih ragu, dia ingin sekali bertemu dengan gadis itu untuk memastikan apakah benar dia Dinda adiknya atau bukan. Oleh karena itu, ia putar balik kembali ke rumah itu.
****
Di sisi lain, Amelia merasa bingung harus mencari pekerjaan di mana. Sudah banyak kafe serta rumah makan yang ia datangi namun tak satupun membuka lowongan pekerjaan. Karena merasa lelah, ia memutuskan untuk istirahat sejenak di sebuah kafe sekaligus ingin minum kopi untuk merilekskan pikiran.
"Bagiamana ini, dimana aku bisa mendapatkan pekerjaan." Pekiknya merasa putus asa. Lalu tiba-tiba...
"Amel, kok kamu ada disini sih bukannya ke kampus?" Ada salah seorang teman kuliahnya menyapa Amelia.
"Sasa, ohh itu, hari ini aku nggak masuk karena aku ingin cuti dulu." jawab Amelia merasa agak risih, karena Sasa adalah gadis yang sombong dan suka merendahkan orang lain.
"Hmm... Cuti ya, kasihan amat si kamu sekarang sudah jatuh miskin." ucap Sasa mengejeknya.
Amelia berusaha tidak meresponnya karena dia tidak ingin mencari perkara, namun Sasa mengambil kesempatan itu semakin meredakannya.
"Ohh iya, aku dengar-dengar ayahmu penipu itu artinya kau anak penipu dong, hahha." bisik Sasa sambil tertawa senang.
Amelia menutup mata untuk berusaha sabar walaupun hatinya sudah sangat panas.
"Pasti sekarang kalian tinggal ditempat yang kumuh, ihh nggak level." Sasa masih terus memancing emosi Amelia.
"Kasihan bangat kamu, udah enak jadi tuan putri ehh sekarang Mala jadi babu, hahha."
Amelia tidak tahan lagi, dia menatap tajam Sasa dan langsung menyiram wajahnya dengan kopi. Alhasil Sasa berteriak hingga membuat pengunjung yang ada disana memperhatikan mereka.
"Beraninya kau...! Sasa yang emosi mencoba menjambak rambut Amelia, namun Amelia berhasil menghalaunya.
"Kenapa hah, kau tidak terima lalu apa maksudnya kau menghinaku tadi kau pikir aku terima!" Amelia yang sudah benar-benar kesal menggenggam tangan Sasa dengan erat hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Aw, lepaskan kau menyakitiku." Sasa memberontak tapi Amelia tidak membiarkannya lolos.
Melihat keributan itu, manager kafe langsung mendatangi mereka dan menghentikan pertengkaran itu.
"Lain kali, jika kau masih berani menghina keluarga ku lagi aku tidak akan mengampuni mu, camkan itu." kecam Amelia sambil menunjuk wajah Sasa. Setelah itu ia pergi meninggalkan kafe.
*****
"Pak, apakah aku boleh bertanya? Reyhan yang sudah tiba lagi di depan gerbang rumah itu langsung memanggil satpam.
"Kau lagi, ada apa kau kembali?" tanya satpam dengan heran.
"Pak, aku hanya ingin bertanya siapa nama gadis yang tinggal di rumah ini?" ucap Reyhan.
"Mengapa kau bertanya hal itu, dan apa untungnya jika kau tahu?"
"Tolong pak ini sangat penting bagiku." Reyhan merengek.
"Tapi aku tidak bisa mengatakannya karena takut non akan marah." ucap si satpam.
"Itupun kalau dia tahu, kalau tidak kan kamu akan aman. Tolonglah pak." Reyhan menyatukan tangannya dan terus memohon.
Dengan ragu-ragu satpam itu menjawab.
"Namanya non Nabila."
Mendengar itu entah mengapa Reyhan merasa begitu kecewa, dia berharap itu adalah Adinda adiknya tapi kenyataannya justru berbalik. Tanpa mengatakan apapun Reyhan pergi hingga membuat satpam bingung melihatnya.