NovelToon NovelToon
Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Mafia / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Rumah Tangga-Anak Genius / Tamat
Popularitas:219.2k
Nilai: 5
Nama Author: ade eka

Disarankan untuk membaca "Hey, You! I Love You!" terlebih dahulu supaya tidak bingung saat membaca novel ini.

Ini adalah cerita tentang perubahan seorang wanita biasa bernama Rose Benneth yang merupakan kekasih dari seorang ketua geng mafia terkenal, Benny Callary.

Rose ingin menjadi kuat dan pantas sebelum ia bersanding dengan kekasihnya itu nanti. Hal itu merupakan alasan mengapa dia menolak lamaran Ben. Bukan karena tidak mencintainya, tapi karena Rose ingin menjadi pantas dan layak untuk disandingkan dengan lelaki hebat seperti Ben.

Ikatan cinta mereka diuji berkali-kali. Hingga suatu ketika mereka terlibat dalam sebuah kecelakaan mobil. Dan Ben pun menghilang. Padahal saat itu Rose sudah mengandung buah hati cinta mereka.

Beberapa tahun kemudian mereka dipertemukan kembali oleh takdir. Sayang Ben tidak mengenalinya. Bahkan sudah ada wanita bergelar tunangannya di samping pria itu. Hati Rose sudah pasti sangat hancur mengetahui hal ini.

Akankah mereka menemukan jalan untuk mereka bersama kembali? Ataukah memilih berpisah dan menempuh jalan mereka masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ade eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benar-benar marah

“Ayo! Aku akan menunjukkan kamar yang akan kau tempati!” ajak Ben setelah puas menikmati madu di bibirnya. Hem... rasanya tak pernah bosan!@

Lelaki itu mengangkat tubuh Rose sehingga berdiri. Kemudian membimbingnya ke luar ruangan dengan tangan di genggaman. Rose pun menurut mengikuti.

Yang mereka datangi adalah sebuah pintu yang letaknya berada di sebelah kanan ruangan milik Ben. Sambil terbawa langkah langkah panjang lelaki itu, Rose beberapa kali menoleh ke belakang. Meyakinkan diri bahwa memang pintu yang akan dibuka oleh Ben adalah tepat di sebelah ruangan pribadi kekasihnya.

Rose berpikir jika Ben terlalu berlebihan. Bahkan pria itu tidak membiarkannya jauh dari pandangan sedikit pun. Rose takut, anak buahnya akan merasa tidak nyaman. Karena sudah terlalu memanjakannya. Rose tidak ingin terjadi masalah antara Ben dan anak-anak buahnya yang disebabkan oleh dirinya, pendatang baru ini. Ia akan merasa sangat tidak enak hati jika sampai hal itu terjadi.

“Ayo masuk!” ajak Ben dan kembali menariknya ke arah dalam.

“Ini kamarmu! Aku tidak tahu kau akan suka atau tidak.” Ben membuka suaranya yang terdengar meragu.

Pria bertopi koboi yang biasanya angkuh dan acuh itu kini tengah menggaruk kepala di bagian belakangnya dengan ekspresi bimbang. Takut-takut Rose akan tidak senang dengan apa yang sudah ia persiapkan ini. Sebab pria bertopi koboi itu baru kali ini merasa tidak yakin pada apa yang dia lakukan.

Wanita itu maju beberapa langkah di depan Ben. Netra Rose yang abu bergulir di tempat, menyapu seluruh pemandangan di dalam ruang persegi panjang yang tidak terlalu besar itu. Kemudian sudut bibirnya mengukir sebuah senyuman sambil ia berbalik menghadap ke arah Ben. Matanya berkedip ringan.

Cup

“Terima kasih! Aku suka! Sangat suka! Sangat, sangat suka!” Lalu ia hadiahkan sebuah kecupan manis di pipi kekasihnya. Rose rengkuh tubuh tegap lelaki itu kemudian memeluknya erat.

“Tapi... “ sambut Ben ragu seraya merengkuh balik tubuh wanitanya. Wajahnya masih terlihat khawatir.

Dia mempersiapkan kamar ini berdasarkan pemikirannya saja. Dia tidak bertanya pada Rose sama sekali, sebab niatnya ingin memberikan sebuah kejutan pada wanita cantik itu.

Namun hal itu juga pasti ada titik kelemahannya, takutnya Rose tidak senang dengan apa yang sudah ia persiapkan ini. Karena ia berniat tidak ingin membuat kekasihnya itu kecewa.

“Kau tahu?!” Rose melepaskan pelukannya lalu duduk di atas tempat tidur single yang masih tertata rapi. Diambilnya sebuah bantal sembarangan untuk ia dekap di dadanya.

“Aku seperti masih berada di rumah kakak!” seru wanita itu sambil memandang Ben girang. Rose benar-benar merasa senang. Dipamerkan gigi-gigi putihnya itu tak berhenti. Sambil duduk, ia goyang-goyangkan kedua kakinya riang.

Ini persis seperti kamar yang ia tempati saat tinggal di rumah Victor, kakaknya. Tempat tidur kecilnya, sprei yang ia biasa pakai dengan motif boneka beruang, juga setiap detial kecil seperti nakas, lampu tidur dan yang lainnya. Mereka terlihat mirip seperti yang berada di rumah kakaknya. Seperti kekasihnya itu benar-benar memiliki niat untuk menyenangkan hati.

“Terima kasih, Ben! Terima kasih karena kau sudah memikirkan sampai sejauh ini. Padahal aku akan menerima saja bagaimana pun kamar yang tersedia di sini. Kau tahu bukan, kalau aku tidak semerepotkan itu?!" lanjutnya lagi seraya menarik tangan Ben untuk duduk di sebelahnya. Rose mengeluarkan suara merdu dan tatapan mata yang penuh dengan roma ketulusan. Dia amat bersyukur akan kebaikan kekasihnya itu.

Ben tersenyum tipis yang melegakan. Dahaganya akan sebuah kepastian sudah diguyur oleh seteguk kalimat penuh ketulusan dari Rose. Apa yang dia lakukan tidaklah sia-sia. Ben khawatir Rose akan memendam rindu yang teramat sangat pada keluarganya yang belum lama ditemuinya. Maka dari itu dia mempersiapkan hal ini.

Pria bertopi koboi itu sebenarnya ingin sekali bersorak dengan kencang saking kegirangan. Tapi dia tidak mungkin melakukannya saat ini, di depan pujaan hatinya pula. Dia tidak mungkin mempermalukan dirinya sendiri, bukan!

“Kau datang ke sini saja sudah merepotkan!” Ben tak lupa menggoda wanita itu. Ia ingin melihat wanita itu kesal. Rindu rasanya melihat wanita itu cerewet dan menyebalkan lagi!

“Apa kau bilang? Jadi kau sebenarnya keberatan aku datang ke sini, kan? Wah... wah... sekarang topengmu sudah terbuka, Tuan! Ternyata seperti ini, ya, kulit asli wajahmu!” Rose membuang bantal di pelukannya seketika. Tersulut emosi, lalu dia berdiri dengan wajah marah.

“Tahu begini, aku menolak lamaranmu saja waktu itu!” Melotot matanya hampir saja keluar.

Yang membuat Rose semakin marah adalah, wajah Ben malah terlihat sangat menikmati kemarahannya saat ini. Membuat api di dadanya semakin menggebu-gebu ia rasa.

“Lebih baik aku pulang!” Rose tidak tahan, lalu menarik kopernya kembali ke arah luar.

Sudah menyebalkan, ditambah lagi emosinya yang tadi karena perkara wanita yang dia bawa ke sini belum sepenuhnya hilang. Jadi Rose bertambah marah saja sekarang. Rasanya sungguh menyesal sudah memutuskan datang ke sini!

Senyum yang diam-diam Ben sembunyikan, langsung sirna melihat reaksi Rose yang di luar dugaan. Ben lantas menarik pergelangan tangan Rose, sehingga wanita itu terduduk kembali, di tempatnya semula.

“Aku bercanda! Begitu saja marah!” Di sela kepanikannya melihat kemarahan Rose yang melebihi ekspektasinya, Ben tersenyum lebar seraya mencubit gemas hidung kekasihnya itu. Mengapa mudah sekali memprovokasinya?! Ini benar-benar di luar dugaan!

Apakah semua wanita seperti ini? Mudah sekali terpancing emosi? Ben merasa seperti mendapat karma. Dia yang biasanya hanya memiliki sedikit kesabaran, dalam hal apa pun. Sekarang mesti mengulur limit kesabarannya untuk membujuk wanitanya yang setiap kali merajuk.

Hah! Baiklah! Hanya demi wanitanya saja dia mengalah! Hanya untuk Rose dia mengulur kesabarannya.

“Jika kau pulang, lalu bagaimana dengan nasib masa depan kita, Sayang? Apakah kau akan mengingkari janji yang telah kau buat sendiri, hem?” Ben membujuk Rose dengan nada yang begitu lembut. Dia belai pipi Rose yang sedang menggembung itu.

“Jadi sekarang ini juga salahku?” Rose menyampaikan kekesalannya sampai menelengkan kepalanya ke kiri.

“Baiklah, baiklah! Aku tidak akan menggodamu lagi!” Ben menggenggam jari-jemari lentik milik Rose, lalu menatapnya dengan sungguh-sungguh.

"Maafkan aku, hem! Tadi aku berniat hanya menggodamu saja. Mana mungkin aku serius dengan ucapanku itu! Tentu saja aku tidak keberatan sama sekali kau berada di sini. Malahan aku senang, karena aku bisa mengawasimu dari dekat. Sudah, ya, jangan marah lagi!” Bujuk rayu Ben lakukan.

Hal yang tidak pernah ia lakukan sama sekali kepada seseorang. Hanya untuk Rose, hanya kepada Rose dia mau melakukannya.

1
Anik Ekawati
lagipula ngapain nemuin zayn mending zayn suruh ke markas yg temuin ben langsung udah jelas pasti jebakan ngapain nyuruh ben temuan di villa
Anik Ekawati
aku udah baca novel leon nadine tapi sampe hari ini ga ada lanjutan nya knpa thor jangan bikin kecewa yg baca dong thor lanjutin cerita nya
Anik Ekawati
ajak.baz dan victor beserta pasukan harimau putih untuk antisipasi karna lawan mu bukan orang sembarangan
Anik Ekawati
belum siap nikah,? tapi siap kawin? hadeh rose
Anik Ekawati
hey....victor ngapain kau ganggu aja kayak ga pernah muda aja jangan ganggu hey...
Anik Ekawati
ken ana kangen mereka apalagi sam yg konyol itu gimana anaknya ya
Anik Ekawati
waduh rose saingan nya serem kali
Anik Ekawati
tamu nya wanita mengerikan itu mulai nongol
Anik Ekawati
zayn mau rampas kekuasaan ben
Anik Ekawati
duit yg masuk ke markas cukup besar bisa untuk beli senjata yg di ambil di gudang logistik
Anik Ekawati
halah rose laki mu itu lagi serius ga usah diganggu knpa udah tau lakl lo baik baik saja yaudah biarin ngapain lo panggil bikin mecah konsentrasi ben greget juga rose ini mending langsung makan aja ben ga usah mikir lain lagi emang wanitamu selalu buat ulah ga liat situasi genting gini
Kus Hartiyah
Luar biasa
Herni Marianty
sangat suka ceritanya..good job
Mareew
bagus
Nurull_ •
Omoooooo ben
Nurull_ •
Sudah kuduga mereka brsaudara
MENTARI SENJA
si Victor bisa ngelawak juga😅😅🤣🤭
MENTARI SENJA
Anna🥰 jadi kangen ken dan ana🥺🥺
MENTARI SENJA: alhamdulillah udah q masukin daftar favorit thor cuma belum sempat ngintip 😅🤭 soalnya masih sibuk 😊
total 2 replies
Wati_esha
Apapun keputusanmu, tetap semangat selalu ya thor. 💪💪💪
Wati_esha
Bisa lanjut cerita thor, Relly - Anggie dan pencarian ibunya Benny Callary yang masih belum ditemukan. ☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!