NovelToon NovelToon
Melza

Melza

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Horor / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: vifinefianti_033

Yang mau ngobrol shantuy dengan saya, bisa langsung follow instagram saya ya (@kangrebahan_03). Kebetulan saya baru aktif lagi di instagram, insya allah nanti saya infokan jadwal up di sana.

*******

"mari bermain"

Bagi siapa pun yang mendengar kalimat itu dari mulut seorang gadis cantik yang bernama Elza, lebih baik memilih untuk segera mengakhiri hidupnya dari pada mati di tangan gadis berhati iblis namun berwajah malaikat itu. Kecantikannya bisa menjadi daya pikat untuk memancing targetnya agar memasuki perangkap dalam jebakan maut yang sudah ia buat.

Ya itulah Elza, gadis mungil yang memiliki wajah super cantik membuat siapa pun akan tertipu dengan mudah. Di balik itu semua, ada iblis di dalam diri Elza yang siap bangkit kapan pun ketika ia lepas kendali.

***

Melvin Andrea Micheal.

Nama itu sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat, Melvin itu bisa di bilang suami idaman bagi kaum hawa. Dia tampan, kaya, seorang pengusaha sukses juga. Paket konplit bukan? Maka tidak heran jika Melvin menjadi rebutan cewek cewek.

****

Misi nya di New York membawa petaka bagi seorang Elza. Ciuman pertama nya di ambil paksa oleh bajingan tampan, bernama Melvin. Elza tidak terima dengan kelakuan Melvin yang secara tidak langsung sudah menodai bibirnya yang suci, maka dari itu Elza langsung memberikan pelajaran kepada Melvin berupa tendangan super kencangnya di area sensitif Melvin.

Harusnya Melvin marah dengan perlakuan gadis itu kepadanya, tapi melihat wajah kesal gadis itu membuat seringai muncul di wajahnya yang tampan.

"mine"ucapnya.


+++++

Hanya penulis pemula yang ingin menuangkan kehaluan nya😴. Berhubung ini karya pertama saya, mohon bantuannya untuk para senior yang sudah banyak pengalaman nya. 😘😘😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vifinefianti_033, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Melza

Beberapa hari kemudian...

"Jadi ini nomer Alberth? "Tanya Elza menatap Rio lekat.

"Iya" Jawab Rio yakin.

"Terus apa hubungannya dengan Melvin? "

"Alberth itu teman baiknya Gilang, bisa di bilang mereka itu partner " Jelas Rio "Lo tahu Gilang Ceo dari perusahaan  properti kan? "Tanya Rio

"Iya gue tau"

"Nah, kalau menurut pendapat gue. Motif Alberth, ya ingin balas dendam atas kematian Gilang. Lo tahukan kalau Gilang meninggal karena bunuh diri? " Rio menatap Elza lekat, lalu Elza menganggukkan kepalanya "Gilang bunuh diri karena Melvin, Melvin menghancurkan bisnis Gilang"

Sekarang Elza  paham alasan kenapa Bima dan anak buahnya mengejar Melvin untuk menghabisi nyawanya, bahkan kemampuan Bima berserta anak buahnya cukup lumayan sehingga beberapa kali Elza hampir terbunuh di medan pertempuran.

"Apa ada alasan khusus kenapa Gilang sampe nyulik Melvin? "Tanya Elza.

"Ya lo tahu kan dunia bisnis itu kaya apa" Rio tertawa renyah "Semakin bisnis lo maju, maka orang orang yang ada di belakang bakalan iri dengan kesuksesan lo"

Jelas Elza paham dengan perkataan Rio, maka dari itu ia merasa khawatir dengan Melvin. Ia yakin akan ada banyak orang yang ingin membunuh atau menghancurkan nya dari belakang, karena Melvin adalah pebisnis yang sangat sukses bahkan mampu bersaing dengan perusahaan besar lainnya.

"Nih nomer Melvin" Rio langsung memberikan secarik kertas yang ia tulis dengan spidol merah kepada Elza "hubungi dia kalau lo merasa khawatir "Tambah Rio tersenyum dengan penuh pengertian.

Diantara semua anggotanya Elza memang paling dekat dengan Rio, Rio adalah tife pria yang sangat pengertian dan seseorang yang bisa di percaya.

"Nanti gue traktir makan"

Setelah mengucapkan itu Elza bergegas keluar dari kamar Rio, saat Elza keluar dari kamar Rio langkahnya mendadak terhenti ketika melihat sosok Leo menjulang tinggi di depannya. Elza mendongakkan kepalanya menatap Leo dengan tatapan bingungnya.

"Lo abis ngapain di kamar Rio? "Tanya Leo dengan tatapan tajamnya.

"Rebahan"Jawab Elza asal.

Setelah menjawab pertanyaan Leo, Elza melangkahkan kedua kakinya melewati Leo. Tapi langkahnya harus terhenti, saat Leo mencekal tangannya.

"Gue merasa kalau ada sesuatu yang lo sembunyiin dari gue" Leo menatap wajah tanpa ekspresi dengan tatapan menyelidiknya, mencari kebohongan disana.

Elza terkekeh pelan.

"Apa? "Tangtang Elza.

"Untuk sekarang gue nggak tahu, mungkin suatu saat nanti gue akan tahu"

"Silahkan cari tahu"

Elza menarik tangannya dengan kasar.

"Urus ajah anak buah baru lo itu" Sinis Elza menatap Leo tajam.

Setelah mengucapkan itu Elza melangkahkan kedua kakinya menjauh dari sana.

Elza keluar dari dalam rumah, ia melihat Calvin dan Vian yang sedang duduk santai di area taman. Langsung saja Elza menghampiri kedua temannya itu, ia langsung mendaratkan bokongnya disalah satu kursi kosong, lalu tangannya terulur untuk memgambil toples yang berisikan keripik kentang kesukaannya.

"Gue merasa kalau Leo semakin berubah" Celetuk Calvin.

Elza menghela napas kasar.

"Biarin ajah" Respon Elza singkat.

"Apa si bagusnya tuh cewek, muka kaya ondel ondel ajah gayanya selangit" Kesal Vian.

Calvin dan Elza hanya terkekeh pelan mendengar ucapan Vian.

"Namanya juga jatuh cinta" Calvin merangkul bahu Vian "Keliatan banget lo belum pernah jatuh cinta, kasian amat. Dasar jomblo"

"Jomblo juga banyak yang suka" Bela Vian.

Elza hanya menatap interaksi antara Vian dengan Calvin dalam diam.

"Gue merasa ada yang aneh dengan tuh cewek" Ungkap Calvin.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya setelah Elza menyelamatkan Melvin dari sebuah insiden di mall. Secara tiba tiba Leo mengajak seorang wanita masuk kedalam ruang rapat, padahal mereka berkumpul untuk merencanakan sesuatu setelah Thomas mengajak Elza bertemu. Tapi situasi mendadak kacau ketika Leo mengatakan jika wanita yang bernama Bella itu adalah anggota baru di tim hantu mereka. Semuanya protes dengan keputusan Leo yang tidak meminta pendapat terlebih dahulu dengan anggota tim lainnya.

Sehingga Calvin, Rio, Vian dan Elza marah besar dengan keputusan sepihak Leo.

"Sama gue juga Cal" Jujur Vian "Gue ngeliat dia tiap malem masuk kedalam kamar Leo, juga yakin mereka melakukan hal yang nggak nggak"

"*******! Pikiran lo" Calvin menoyor kepala Vian kesal "mesum terus"

*****

Sejak kejadian itu, Melvin selalu menunggu pesan atau telepon dari Elza. bahkan Melvin tidak membiarkan ponsel nya jauh jauh darinya, setiap semenit sekali Melvin akan menoleh kearah layar ponselnya berharap ada notifikasi dari Elza. Melvin persisi seperti remaja di mabuk cinta.

Menunggu memang sesuatu yang menyebalkan, tapi apa boleh buat ia hanya bisa melakukan itu karena Melvin tidak tahu keberadaan Elza sekarang. Elza bahkan melarang Melvin untuk mencari informasi tentangnya, entahlah Melvin tidak tahu alasannya. Sehingga Melvin mau tidak mau menuruti perkataan Elza, karena ia tidak mau terjadi sesuatu dengan Elza karena ia melanggar larangan Elza.

"Wajah lo kenapa kusut banget? "Tanya Alex.

Melvin bahkan tidak sadar jika Alex sudah ada di dalam ruang kerjanya.

"Kerjaan gue banyak"

Alex tertawa.

"Bukannya kerjaan lo setiap hari juga banyak, tapi lo si santai santai ajah"

Melvin berdecak kesal.

"Bukan urusan lo"

Alex tersenyum, ia langsung mendudukkan bokongnya diatas sofa.

"Bella kemana? "Tanya Alex penasaran "Tumben banget gue nggak liat dia di depan"

"Bella resign"

"Hah? Kenapa? "

"Gue nggak tau"

Alex menghembuskan napasnya kasar.

"Padahal body nya mantep Vin, lo pernah coba dia nggak? "

Melvin memutar bola matanya malas.

"Gue nggak sebejat eluh Lex"

Alex tertawa.

"Iya deh yang udah tobat mah beda"

"*** luh, ganggu ajah"

"Sabar bos sabar"

Melvin menarik napasnya dalam, ia kembali melirik layar ponsel nya dengan tatapan sedihnya. Masih belum ada pesan dari Elza.

Melvin kembali melanjutkan pekerjaannya, mengabaikan keberadaan Alex yang berada di ruang kerjanya.

****

"Make up yang kamu pake terlalu tipis, Elza. Dan... " Bella menatap penampilan Elza dari atas hingga ke bawah "pakaian yang kamu kenakan tidak pantas untuk seseorang yang akan pergi berkencan" jelas Bella.

Sepertinya Bella mau cari mati, karena selama ini tidak ada yang berkomentar masalah penampilan Elza. Lihat bertapa mengerikannya Elza sekarang, bodohnya Bella tidak sadar dengan perubahan mimik wajah Elza yang sudah seperti seseorang yang ingin menerkam mangsanya.

Vian, Calvin dan Rio saling melemparkan tatapan masing masing ketika merasakan aura yang menyeramkan didalam diri Elza. Mereka bertiga seperti sedang ber komunikasi melalui tatapan masing masing, sesekali mereka menutup mulutnya menahan suara tawa yang bisa saja keluar.

Leo bangun dari posisi duduknya, lalu melangkah mendekat kearah dua wanita yang sedang dalam mode pertengkaran "Benar apa yang di katakan oleh Bella" Dukung Leo "Sebaiknya lo ikuti apa yang di katakan oleh Bella, dia jauh lebih berpengalaman dibandingkan kita semua"Tambah Leo.

Ketiga manusia yang tengah berkumpul itu terbelalak kaget ketiia Leo malah mendukung pendapat Bella soal penampilan.

"Leo maneh gila!! " Bentak Vian.

Rio dan Calvin langsung menahan Vian, ketika pria blasteran hendak menerjang Leo.

Leo mengabaikan kemarahan Vian, bahkan wajah Leo terlihat tenang. Padahal Leo sudah tahu kalau Elza sedang mode marah, tapi Leo akan tetap mendukung pendapat Bella.

Elza menghembuskan napasnya kasar, ia menatap Bella lalu beralih kearah Leo.

"Jadi gue harus ngikutin cara berpakaian kaya dia?" Tanya Elza menujuk kearah Bella dengan pandangan syoknya "Lo lupa kalau gue mau menyamar bukan mau nge *****"

"Elza!! "Bentak Leo tajam, bahkan ia bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Elza dengan tatapan tajamnya "Jaga ucapan lo!!!"

Sepertinya akan ada perang besar antara Elza dan Leo.

"Sebelumnya lo nggak pernah komentar tentang penampilan gue"  Elza menatap Leo dengan tajam "Kenapa sejak dia datang, lo jadi berubah kaya gini!!"

Leo menghela napas kasar.

"Karena gue nggak tahu penampilan cewek itu kaya gimana, berhubung Bella ada di sini, dia lebih tahu dari pada kita soal penampilan lo" Jelas Leo.

Selama ini penampilan Elza baik baik saja, bahkan targetnya tidak pernah merasa malu ketika bersama dirinya. Justru Elza selalu mendapatkan pujian dari mereka.

"Lo di kasih apa si sama dia? "

Pertanyaan itu berhasil membuat Leo seketika bingung.

"Maksud lo apa? "

"Lo di kasih duit, kekuasaan, jabatan atau...  Tubuh dia"  Elza tersenyum mengejak, menatap Leo dengan tatapan merendahkan.

Kedua tangan Leo terkepal dengan kuat, ia tidak bisa menahan amarah nya ketika sang kekasih baru saja di hina oleh mulut Elza.

Plak....

Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi Elza, ketiga temannya terbelalak kaget dengan kejadian di hadapan mereka.

Vian tidak bisa lagi menahan emosinya, ia langsung menyingkirkan kedua temannya yang sedang berusaha menahan dirinya. Vian langsung bangkit dan melangkah mendekat kearah Leo. Tanpa banyak bicara, Vian langsung melayangkan kepalan tangannya di wajah Leo dengan sangat kuat hingga tubuh Leo langsung terhempas.

Bella memekik kaget ketika melihat kejadian itu di hadapannya.

Rio dengan cepat langsung menahan Vian ketika pria itu hendak menghajar kembali Leo, ia tahu kalau Vian sangat marah dengan kejadian barusan. Rio pun sama, tapi Rio lebih baik menahan emosinya karena ia tidak ingin keributan ini semakin parah.

Sementara Calvin langsung menghampiri Elza yang hanya diam mematung, Calvin tahu kalau Elza sangat syok dengan apa yang di lakukan oleh Leo.

"lewpasin gue Yo! "Teriak Vian masih berusaha menggapai Leo yang berada di hadapannya "Biar gue hajar dia sampe mati sekalian"

"Bawa Leo pergi dari sini! " Bentak Rio menatap tajam kearah Bella yang diam mematung, saat ini Rio sedang berusaha menahan Vian mati matian agar tidak kembali menghajar Vian "CEPATAN!! "Teriak Rio.

Bella memgerjap ngerjapkan kedua matanya, dia langsung membawa Leo pergi dari sana.

"Lepasin gue! "Bentak Vian menatap Rio tajam.

Rio akhirnya melepaskan pegangannya di tubuh Vian.

Keduanya langsung menghampiri Elza dan Calvin yang sudah duduk di sofa.

"Bibir lo" Kaget Rio ketika melihat sudut bibir Elza mengeluarkan darah.

"******* emang tuh si Leo, rasanya aing pengin bunuh dia"Kesal Vian mengepalkan kedua tangannya "Sialan"Umpat Vian melayangkan pukulannya di udara.

"Kita batalin ajah misinya, kita nggak bisa menjalankan misi kalau situasinya kaya gini" Ucap Rio.

Elza menggelengkan kepalanya cepat.

"Nggak! Misi kita akan lanjut" Elza menarik napasnya dalam "Tanpa Leo"

"Baiklah"

"Maneh yakin? "

"Lagi pula kita nggak boleh mengecewakan klien"

****

Disinilah Elza sekarang, berada di tempat kerjanya sambil menunggu kedatangan Thomas yang akan menjemput.

"Target terlihat" Calvin memberi informasi tentang kedatangan Thomas melalui alat komunikasi mereka seperti biasa.

"Vian bersiap siaplah" Elza memberikan perintah kepada Vian.

"Aing udah siap "Balas Vian yang berada di dalam mobil, Vian memang membuntuti Elza dan Thomas dari belakang.

Sebuah senyuman manis langsung tercetak diwajah cantiknya ketika melihat kedatangan mobil Thomas yang langsung berhenti tepat di hadapannya yang sedang berdiri di pinggir jalan.

Thomas keluar dari mobil, ia tersenyum manis ketika melihat keberadaan gadis ini.

"Ana" panwggil Thomas.

Elza membalas dengan sebuah senyuman saja.

"Wajah mu? Apa yang terjadi? "Kaget Thomas mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah cantik Elza yang lebam karena bekas tamparan Leo.

"Aku baik baik saja"

"Siapa yang sudah berani melukai mu Ana, cepat katakan! Aku akan menghancurkan orang itu karena sudah berani memukul mu" Thomas mengepalkan kedua tangannya, raut wajahnya berubah jadi dingin.

"Tidak apa apa Tom, aku sudah terbiasa mendapatkan hal seperti ini ketika aku berbuat kesalahan kepada pelanggan"

Thomas menghembuskan napasnya kasar.

"Sebaiknya kamu bekerja di tempat ku Ana, kamu tidak cocok bekerja disana"

"Terimakasih Thomas" Elza tersenyum tulus "jadi kamu ingin mengajak ku kemana? "

Thomas terkekeh "Aku hampir lupa, ayo masuk" Thomas mempersilakan Elza untuk masuk kedalam mobilnya.

Keduanya duduk di jok belakang, sementara sang supir langsung menjalankan mobilnya meninggalkan area tersebut.

*****

Calvin langsung masuk kedalam mobil yang ditumpangi oleh Vian, mobil pun langsung melaju mengikuti mobil yang di tumpangi oleh Elza bersama Thomas.

Tugas Calvin dan Vian memang mengikuti Elza dari belakang.

Sementara Rio tetap berada di kamarnya, sambil memakan camilan yang sudah ia persiapkan ketika misinya di mulai.

Rio hanya duduk diam memperhatikan layar monitor nya yang memperlihatkan gambar peta dimana dua tanda merah bebaris.

Tidak hanya itu saja, Rio juga bisa melihat aktivitas dan percakapan antara Elza dan Thomas di dalam mobil begitupun dengan Calvin dan Vian.

****

"Maaf, ini semua gara gara kehadiran aku" Bella menundukkan kepalanya, karena merasa bersalah dengan pertengkaran antara Leo dengan Elza karena dirinya "Maafkan aku"

Leo menghembuskan napasnya kasar, ia membawa Bella masuk kedalam pelukannya lalu memeluk tubuh rapuh itu dengan erat.

"Tidak apa apa" Leo mengelus punggung Bella dengan lembut " Aku sangat senang kamu berada di dekat ku Bella"tambah Leo.

Bella melepaskan pelukannya lalu mendongakkan kepalanya agar ia bisa melihat wajah Leo.

"Apa kamu masih mencintai ku Leo? "Tanya Bella.

Leo tersenyum "Tentu saja aku sangat mencintai mu"Balasnya.

Bella tersenyum manis.

"Aku kira kamu bener bener sudah mati ketika hubungan kita berakhir Leo" Ungkap Bella dengan raut wajah sedihnya "Aku bahkan sangat menyesal dengan kesalahan yang aku perbuat" Tambahnya.

Leo menggelengkan kepalanya pelan.

"Jangan membahas masa lalu, kita bahas masa depan kita saja" Kekeh Leo.

"Jadi kamu sudah memaafkan kesalahan ku di masa lalu itu? "

"Aku sudah memaafkan mu sejak dulu Bel"

Bella tersenyum cerah.

"Aku sangat bersyukur karena kamu masih hidup, Leo"

"Ya, aku juga sangat bahagia karena kamu mau kembali ke sisi ku"

Leo langsung memeluk tubuh Bella dengan erat, ia sangat bahagia ketika cinta pertamanya telah kembali ke sisinya.

Tanpa Leo sadari, Bella tengah mengelurkan sesuatu di kantung celannya. Bella menyeringai tajam, lalu tanpa nanyak kata Bella langsung menusukan jarum suntik itu ke leher Leo hingga jarum itu menembus ke kulit Leo.

Leo langsung mendorong tubuh Bella dengan kasar, ia mencabut jarum suntik yang menancap di lehernya lalu menatap Bella dengan tatapan kecewa nya.

"Sialan! "

Umpatnya lemah sebelum akhirnya Leo tidak sadarkan diri.

Senyum mengejek langsung tercetak di wajahnya ketika melihat Leo sudah terbaring tidak sadarkan diri diatas rumput. Bella melangkah dengan anggun meninggalkan Leo yang sudah terbaring tidak sadarkan diri.

Sambil melangkah Bella menelepon seseorang untuk segera menyusul sekaligus membantu dirinya untuk menyelesaikan satu orang lagi, Bella tidak mungkin melawan pria itu sendirian.

****

Kedua mata Rio terbelalak kaget saat melihat beberapa gerombolan pria dengan senjata lengkapnya memasuki area rumah Leo, dengan panik Rio langsung mengambil laptopnya bergegas untuk kabur dan keluar dari kamarnya.

Tapi langkahnya mendadak terhenti saat melihat sosok Bella sudah berdiri didepannya sambil menodongkan moncong pistol tepat kearah kepalanya.

"Mau kemana Babe? "Tanya Bella dengan nada menjijikan.

"Sialan"Umpat Rio menatap Bella tajam "Wanita ular"

Bella tertawa.

"Bawa dia" Perintah Bella kepada beberapa pria yang baru saja datang.

Rio membalikan badannya, dengan cepat ia masuk kedalam kamarnya lagi lalu mengunci pintu kamarnya dengan gerakan cepat.

Walau ia tahu jika mengunci pintu hanya akan sia sia, tapi Rio memiliki waktu untuk menghubungi teman temannya yang sedang melakukan tugas mereka masing masing.

"Batalkan misi kalian! "

"Mereka menjebak kita semua!! "

"Cepat batalkan!! "

Brakkkk..

Pintu kamarnya langsung jebol begitu saja, sebelum Rio berteriak seseorang tiba tiba sudah memukul rahangnya dengan benda tumpul hingga tubuhnya terhempas dan menabrak tembok.

Rio meringis saat ia merasakam darah mulai mengalir di kepalanya, Rio bisa merasakan tubuhnya di seret dengan kasar dan paksa sebelum akhirnya Rio kehilangan kesadarannya.

****

Tubuh Calvin dan Vian mendadak kaku ketika ia mendengar keributan yang berasal dari Rio, mereka tidak menyangka jika mereka akan masuk ke area markas mereka dengan begitu mudah. Ini semua gara gara Leo yang membiarkan Bella ikut dan memasuki markas mereka, kalau saja Leo tidak berhasil di kelabui oleh Bella mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.

"Kita harus bagaimana? "Tanya Vian menoleh sebentar kearah Calvin sebelum akhirnya Vian kembali menatap jalanan yang sepi di depannya.

"Gue nggak tahu" Jawab Calvin dengan wajah takutnya.

Raut frustrasi mulai tercetak di wajah mereka berdua, bahkan mobil yang Vian kendarai mulai melambat hingga jarak antara mobil yang di naiki oleh Elza semakin jauh dari jangkauan nya.

Otak mereka mendadak kosong, hingga mereka tidak sadar ada sebuah truk yang melaju kencang dari arah belawan dengan mobil yang di naiki oleh Vian dan Calvin.

Vian langsung membanting stir mobilnya saat lamunan nya buyar oleh lampu mobil yang menyorot kearah mereka.

Ternyata usaha Vian untuk menghindari truk itu sia sia, sehingga mobil yang ia naiki langsung di tabrak oleh truk tepat di bagian sisi badan mobil di belakang.

Mobil berwarna hitam langsung berputar putar hingga akhirnya berhenti karena bagian depan badan mobil menghantam pembatas jalan.

Calvin dan Vian terluka sangat parah, bahkan kepala mereka mengeluarkan banyak darah.

"Bangun!! "Panggil Calvin berusaha menyentuh tubuh tidak sadarkan diri milik Vian "Bangun! "Panggilnya lagi dengan nada lemah.

Sebelum Calvin bisa menjangkau tubuh Vian, kegelapan langsung menyelimuti penglihatannya. Kesadaran Calvin langsung terrenggut begitu saja.

"Semuanya beres"

*****

"Apa kamu baik baik saja Ana? "Tanya Thomas

Elza hanya menampilkan senyuman tipisnya.

"Apa kamu merasa tidak nyaman? "

Elza menggelengkan kepalanya pelan.

Thomas tersenyum manis.

"Ana, kamu tahu apa yang paling tidak aku sukai? "

"Aku tidak tahu"

Thomas langsung menoleh hingga kedua matanya bertemu dengan mata indah Elza.

"Aku tidak suka seseorang ikut campur dalam urusan bisnis ku" Thomas berkata dengan nada dingin, tapi senyuman manis masih tercetak di wajah tamapnnya "Tentu saja kamu tidak akan ikut campur bukan? "

"Apa maksud mu Thomas? Kenapa membahas itu"

Thomas tersenyum tipis.

"Lebih baik kamu tidak tahu Ana, aku tidak mau melukai mu"

Entah mengapa Elza merasakan ada sesuatu yang aneh dari perkataan Thomas barusan, Elza menghela napas panjang berusaha tetap tenang.

"Apa nama mu benar benar Rihana, Ana? "tanya Thomas.

"Ya"

Thomas tertawa.

"Aku juga sangat benci dengan pembohong "

"Apa maksud mu Thomas? "

Thomas menyeringai tajam, ia mencondongkan tubuhnya mendekat kearah Elza. Tentu saja Elza akan menjauh hingga punggungnya menyentuh dingding pintu mobil.

"Jangan kurang ajar! "Bentak Elza dengan nada tidak suka.

Thomas menarik tubuhnya dan duduk di kursinya dengan tenang.

"Turunkan aku di sini Tom! "

Persetan dengan misi mereka yang gagal, Elza tidak peduli. Ia takut jika dirinya tidak bisa menahan diri untuk memukul wajah Thomas dengan kepalan tangannya.

"Thomas!! "

Thomas menoleh kearah Elza, menatap wajah cantik itu dengan datar.

"Apa kamu marah? "

"Tidak! Cepat turunkan aku Tom"Bentak Elza.

"Aku tidak mau"Jawab Thomas santai.

"Kalau begitu aku akan melompat"

Elza berusaha membuka pintu di sebelah nya, tapi terkunci. Ia menatap Thomas tajam, ia yakin jika ada sesuatu yang di rencanakan oleh Thomas. Dan sialnya Elza masuk kedalam perangkap yang di buat oleh Thomas.

"Diam lah! Aku tidak ingin menyakiti mu"

Mata Elza membulat sempurna ketika mendengar ucapan itu.

"Apa maksud mu? "

Sepertinya Thomas tidak bisa membiarkan Elza sadar, ia harus menyuntikan obat bius yang ia bawa dari tempat tinggalnya. Thomas langsung menerjang tubuh Elza dengan kuat.

"Sial, apa yang kau lakukan? "Teriak Elza menahan tangan Thomas yang berniat menyuntikan sesuatu ke lehernya.

"Menyerahlah" Bisik Thomas dengan senyum manisnya

"Tidak sialan! " Bentak Elza masih berusaha keras menahan tangan Thomas.

Dengan sekuat tenaga Elza langsung memelintirkan tangan Thomas hingga berbunyi 'krek' pertanda jika tulang tangan Thomas bergeser dari tempatnya.

"Akhhhhttt wanita sialan! "Erang Thomas.

Elza langsung mendorong tubuh Thomas dengan kuat, hingga suntikan yang berisikan obat bius langsung terjatuh.

Elza hendak memgambilnya, tapi Thomas menarik rambutnya lalu membenturkan kepalanya ke dingding mobil dengan sangat kuat.

Elza meringis ketika ia merasa pening di kepalanya, rasa pusing yang membuat Elza terdiam sampai ia tidak sadar kalau Thomas sudah mengambil jarum suntik yang terjatuh.

Mata Elza terbelalak ketika ia merasakan sesuatu yang menembus kulitnya, Elza mendorong kembali Thomas hingga pria itu menjauh. Elza mencabut jarum suntik, lalu menatapnya dengan pandangan samarnya.

"Brengsek! "Umpat Elza sebelum tubuhnya ambruk dan tidak sadarkan diri.

1
adelia azni
Kecewa
adelia azni
Buruk
adelia azni
Dri banyak nya novel yg sya baca,, ini cerita yg paling bgus sih menurut sya,,, best lah pokok nya
Rkeane
novel ter teh best lah,btw ada yang mau kasih rekomen lagi novel aksi aksi gitu kaya misi buat ajen ajen
Hasnah Siti
uffft bagus vin...aku lega mereka berdua ada yg menolong...😓
Hasnah Siti
🤣🤣🤣🤣🤣
Hasnah Siti
di lanjut lagi ...aku suka
Hasnah Siti
nexts
Hasnah Siti
awalan yg bagusss...🤩
pacarjuhoon🐢
ngaku hamil gk tuhh🤣🤣
pacarjuhoon🐢
kirain nonton apaan🤣hadehhh😭😭
Elly Adisusetyo
karya yg bagus thorr
imam zulkifli
aku golongan darah O dokk hehehe
🌻Ruby Kejora
Salam kenal dan sukses kk❤️❤️❤️
imam zulkifli
o o oh author teh tiasa sunda
Jaka Gd
kalo bisa kata" nya jangan ada hwanya thor
Bundane Aurel
opik penghianat
Bundane Aurel
keren, keren😁
Bundane Aurel
keren, keren walau tlat baca nx😁
Ninik Suprapti
ceritanya seru banget 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!