Suatu kehormatan, seorang gadis muda belia memilih menikah dengan seorang dokter duda tua, daripada menjual harga diri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sifa ingin pulang
"Ada kayaknya non" Simbok mencari teri nasi "Ini non"
Beras yang telah dicuci simbok, sudah ditarik kedepan Sifa.
"Nggak punya stok petai ya mbok? eh, pak dokter suka petai nggak mbok?"
"Nggak non"
"Oh, kapan kapan, Sifa akan buatin nasi liwet yang ada petainya mbok, pasti enak"
Sifa sudah memasukkan rempah rempah serta santan dan mulai memasukkannya pada magic com "Nah, kalau ini mateng kan beres, nggak repot"
"Gitu ya non, wah, simbok jadi muridnya non Sifa kalau begini " Simbok malu malu, merasa disaingi sama anak bau kencur
"Terigu mana mbok terigu? ah, ini ya" Sifa tanya tapi netranya mencari cari tepung
"Ah, ini bukan. Ini tepung tapioka" Sifa masih memilin plastik yang dalamnya ada tepungnya
"Ah, ini dia ketemu"
"Mau buat apalagi non?" Simbok ikut ikut ngecek tepung yang Sifa pilih " Ah, non pandai membedakan tepung"
Sifa tersenyum
"Oiya, tadi non mau bikin apa?"
"Ada deh, pokoknya, pak dokter pasti suka, daun bawang, telur, ada semua kan mbok?"
"Ada non" Simbok sibuk mengambilkan apa yang Sifa minta
"Ini non" Simbok menyodorkan daun bawang, sama telur "Simbok bantuin apa non, itung itung belajar gitu non"
"Memangnya simbok kalau bikin menu apa mbok? Daun bawangnya diiris iris terus dimasukin telur ya mbok...Kita buat martabak telor. Buat bekel pak dokter mbok. Kasihan bapak, jika dikantor rumah sakit, adanya teh anget doang, tak ada temannya. Makanya, Sifa buatin martabak buat bapak. Oiya, tadi menu yang biasa simbok bikin apa mbok?"
"Menunya simbok mah gampang non"
"Apa mbok?" Sifa sibuk nguleni tepung terigu buat kulit lumpia
"Menu mpasssss kejahatan"
"Ahahaha" Sifa ngakak melihat simbok seperti power rangers
"Nah, kulit lumpianya sudah jadi, daun bawang yang sudah diiris siniin mbok biar kukasih rempah biar enak"
Sifa sibuk memasukkan irisan daun bawang yang sudah dikocok dengan telur
"Kita bikin martabaknya yang kecil2 mbok"
Simbok manggut manggut seperti murid yang lagi les masak
"Nah sudah jadi, tolong digoreng ya mbok, Sifa mau mandi"
"Baik non"
Sifa masuk kekamar dan membersihkan diri
-
Dokter Ilham turun, dan mulai duduk dikursi meja makan.
Simbok sibuk mengeluarkan nasi liwet dihadapan dokter Ilham
"emmmp harum sekali baunya mbok, nasi apa ini mbok? kayaknya nggak asing" Ilham sambil mengendus harumnya nasi, dan mengambil daun salam yang nongol didalam nasi
"Nasiiii..." Simbok mikir "Nasi liwet tuan"
setelah selesai Sifapun keluar.
Dilihat sudah ada dokter Ilham yang sudah duduk rapih dikursi meja makan.
Sifa mendekati "Bapaaak"
"Eh, sudah rapih, Sifa mau kemana?"
"Bapak, boleh tidak, Sifa pulang kerumah?"
"Memang kenapa tinggal disini? Sifa tidak betah?"
"Sangat betah, tapi Sifa kangen rumah pak, bukankah Sifa harus bekerja?"
Ilham masih diam
"Bapak, boleh Sifa duduk?"
"Ah, iya tentu boleh, sini sini" Ilham membantu menarikkan kursi untuk Sifa.
Tapi Sifa masih berdiri "Sifa ambilin nasinya ya pak?"
"Iya, ya, saya penasaran dengan rasanya"
Sifa mengambil nasi "Segini cukup pak?"
"Iya, makanan berat jangan banyak banyak" Ilham sambil menerima piring yang sudah terisi nasi
Sifa tersenyum, lalu menyendokkan nasi kepiring, untuk dirinya
Dokter Ilham mulai mencicipi nasi liwetnya, lalu diam
Sifa ikut diam dan deg deg pyar, takut tidak enak
"Emmp enak, sesuai dengan harumnya"
Sifa lega, tapi diam sambil ikut ikut sarapan
Ilham melihat gorengan dalam piring "Martabak?"
"Mbok" Ilham penasaran, makanya panggil simbok
"Iya tuan" Simbok datang mendekat
"Tumben, simbok bikin nasi ginian, sama martabak lagi. Rasanya joss.. Besok bikinin lagi ya mbok" Simbok tidak menjawab, tapi didepan dokter Ilham, simbok pleat pleot (Salah tingkah) gusar.
Simbok diam tak beranjak, otak simbok mulai stress
"Simbok kenapa mbok? kelihatan bingung?"
"Anu tuan" Simbok melirik Sifa. Tapi telunjuk jari Sifa sudah dibibir, tambahlah penyakit gusar pada simbok
"Kenapa?"
"Emmp, simbok masuk ya tuan? beres beresnya belum selesai" Simbok kabur
Ilham geleng geleng, nasi dipiringpun habis
"Bapak mau nambah?" Tawar Sifa
"Harusnya jangan, tapi enak" Ilham sambil menyodorkan piringnya minta diisi
"Ah bapak, sama aja bo'ong"
-
Ilham sudah siap akan berangkat kerumah sakit
"Bapaaak, Sifa bagaimana?"
"Sifa maunya apa?"
"Sifa ingin pulang"
"Sifa yakin, nggak ingin tinggal disini?"
"Sifa kangen pak"
Wajah Ilham berubah sendu, sedikit tidak rela kalau Sifa pulang
"Sifa ingin mengambil seragam kerja pak, lalu Sifa ingin tinggal disini, bagaimana? boleh ya pak?"
"Kalau saya melarang Sifa kerja dirumah sakit lagi, bagaimana?"
"Kalau Sifa tak kerja, lalu Sifa makan apa pak?"
"Ya makan nasi, masa makan katul"
"Bapaak" Rajuknya
"Ya sudah, ayo ikut"
Akhirnya Ilham menyerah
Diluar rumah
"Pak Dar"
"Eh tuan, maaf tuan, mobil yang semalam dipakai, pagi ini gembos tuan"
"Ya sudah, pakai yang ini nggak pa apa" Dokter Ilham membuka mobil yang jarang dipakai "Sudah dipanasin ini pak?"
"Sudah tuan"
"Ya sudah, terpaksa pakai ini"
Ilham menoleh kebelakang mencari Sifa "Ah Sifa, ayo naik"
Ilham membukakan pintu depan untuk Sifa
Setelah Sifa duduk "Sudah?"
"Sudah pak siap"
Pintu ditutup oleh Ilham
"Pak Dar, kami berangkat dulu"Pamitnya
"Silahkan tuan, hati hati"
Mobil ini mobil yang biasa ditumpangi dirinya dengan mendiang Nancy, makanya Ilham jarang memakainya. Mau dijual sayang, tidak dijual jadi bayangan.
Ilham terdiam mulai darimana bicara, tiba tiba ada panggilan
"Iya pagi"
"--"
"Baiklah saya segera kesana"
Panggilan tertutup
"Sifa, hari ini saya antarkan kamu pulang, dan jika urusan saya selesai, saya akan datang menjemputmu kembali oke?"
"Iya bapak"
Tak berapa lama, mereka sampai dihalaman rumah Sifa
Ilham membukakan pintu, tapi dari dalam. Otomatis tubuh beraroma musk menyeruak menembus indra penciuman Sifa. Sepersekian detik, Sifa klepek klepek
Sifa turun " Bapaaak" Ilham yang tidak ikut turun dari mobilpun menoleh
Sifa menyodorkan box berisi martabak "Ini buat teman teh hangat dikantor ya pak?"
Dokter Ilham menerima box kecil isi martabak.
"Iya terimakasih ya Sifa"
"Sama sama bapak"
"Baiklah, saya tidak bisa lama lama ya, karena ada panggilan mendadak dari rumah sakit, jadi saya terburu buru. Hati hati dirumah, nanti kalau sudah selesai, saya jemput kamu"
Sifa mengangguk, dan pintunya ditutup
Braaakkk
"Hati hati bapaaak"
"Iya.."
Sifa terlihat gembira, dalam hatinya merasa ada yang mengisi, entah itu apa, Sifa tidak tau
-
Diperjalan menuju rumah sakit, perasaan Ilham begitu membuncah, perasaan damai, gembira, tapi Ilham tidak tau itu perasaan apa.
Tak berapa lama, Ilham melihat manaken ditoko baju yang ia lintasi, memakai baju yang sangat cantik
"Sepertinya, jika Sifa memakai baju itu, dia pasti akan terlihat sangat indah dan anggun. Ah, jadi ingat bocah itu lagi" Ilham bermonolog sambil senyum senyum menutup mulutnya.
Bersambung...
kangen sama cerita lama...
kangen pengen baca lagi...
sakjane ki aku kangen karro karrya mu thor...😩
gak buat karya lagi kah🤔
kata *samoza* jadi kelingan sama novel ini🙈
klw suami di dunia nyata kayak bgtu.. ummmm senangx