Jika orang lain memilih pergi saat tahu suaminya mendua, aku memilih bertahan dan memberi kejutan manis untuk suamiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon susan saliman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan malam
" Nur, Mas jadi ngeri.... pegang nih si jon langsung sembunyi, takut dia", Yoga meraih tangan Menur dan menuntun ke arah si jon sambil terkekeh.
" Iih mas, mau ngapain, jangan mulai deh, bagus juga si jon melingker jadi tidak meminta di sembarang tempat", Ucap Menur menarik tangannya sebelum si jon terpegang.
" Nur, mas mohon apapun yang terjadi jangan pernah minta untuk pisah dari mas ya... meskipun mas punya salah yang sulit di maafkan", Yoga kembali merengkuh punggung Menur.
" Kok gitu sih bilangnya.... Menur punya tujuan ketika menerima lamaran ibu dan mas, yaitu menjadi istri semampu dan sebaik yang Menur bisa, jika pun dalam perjalanan nanti Menur salah mas harus menuntun, membimbing kejalan yang benar, itu tujuan Menur mas, untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari", Jawab Menur.
Yoga sebetulnya mengerti pribadi Menur, diantara sekian banyak wanita yang pernah dia pacari dulu, Menur adalah cewek yang tidak pernah baper pada Yoga, sikap cuek dan selalu jujur apa adanya yang membuat Yoga setuju menjadikan Menur istrinya.
" Balik yuk.... makin malem serem juga, mana anginnya makin berhembus dan itu lho... suara burung hantu dan binatang binatang lainnya mas... Ayo ah", Menur menarik tangan Yoga turun dari batu besar itu.
" Hahaaa..... Kamu takut ya Nur, denger tuh suara jangkrik mengerik", Yoga jalan mengikuti Menur dengan terus menggodanya.
" Ya jangkrik, ya burung hantu, ya bunglon, ga lah suara binatang apa lagi, binatang malam", Gerutu Menur menyebut suara suara binatang yang ia ngerti.
" Mau makan apa?", Tanya Menur ketika sudah mulai dekat dengan kedai.
" Nasi goreng saja tidak pakai kecap bawang putihnya yang kerasa terusnya di campur 1 ceplok 1, diirisin cabe rawit 3, jangan pakai bakso pakai ayam saja... Mas mau ngobrol dengan Pegawai dulu, kamu pesankan ya", Jawab Yoga menyebut nasgor kesukaannya, " o ya, jangan lupa pakai trasi", imbuhnya mengingatkan.
" Siap bos", Jawab Menur.
Begitu sampai kedai, disana nampak beberapa pengunjung tengah menikmati pesanan makan malam dan tent kopi, menu itama kedai.
Yoga menghampiri pegawai yang di maksud menuju kesebuah ruangan sementara Menur menuju pantry untuk memesan mskan malamnya sekalian membantu menyiapkannya.
" Duduk saja mbak, biar kami yang siapkan", Titah salah satu pegawai di dapur kedai.
" Disini aku mau bantuin masak menu pesanan mas Yoga, kalau mbak duduk yang ada digigiton nyamuk malah", Jawab Menur santai sambil membantu menyiapkan segala yang mau dimasak.
Menur ngobrol dan bercanda dengan beberapa pegawai yang berada di dapur.
" Kalian ga serem gitu kerja di tempat seperti ini, jauh dari pemukiman warga?", Tanya Menur pada pegawai.
" Sudah biasa mbak, cuma tempat ini tidak terpencil kok, di sekitar banyak warga tinggal, bahkan diatas juga masih ada perkampungan mba, ya memang ga seramai seperti di krcamatan sana cuma di sini cukup ramai", Jawab Sony.
" Lagian spa yang di seramkan mvak, di sini ga ada orang jahat", Jawab pegawai lainnya.
" Binatang buas, hantu mungkin", Jawab Menur.
" Tidak ada mbak, ya hantu mungkin sih ada tapi itu tidak terlihat buat apa di takutkan", Jawab Sony.
" Kalau terlihat gimana, kslian pasti trauma?", Menur membayangkan malah merinding sendiri.
" Hahaaa.... hantu jika berani menampakkan diri sama kita mungkin dia yang ngompol mbak bukan kita, lagian kalau memang begitu hantu mah ga bikin kita bonyok mbak kalau kitanya ga tunggang langgang... makanya jika nampak tenang saja kita lihatin saja", Jawab Sony dengan santainya.
" Di lihatin, ya kali cantik kalau serem kan takut", Jawab Menur.
" Mbak kalau takut jangan di bahas ya dari pada mbak lihat terus ga nafsu makan, nih nasgor sama bakmi godoknya sudah jadi, di taruh di meja tempat mas Yoga biasa duduk ya, di sofa dalam saja biar ga dingin", Pegawai itu membawa pesanan Menur dikuti Menur.
" Mbak, panggil mas Yoga dulu", Pamit Menur menuju ruangan Yoga ngobrol dengan karyawannya.
" Jadi mbak Menur tidak tahu ya bos?", Terdengar pertanyaan dari karyawan di dalam pada Yoga.
" Belum", Jawab Yoga singkat.
" Semoga tidak pernah akan tahu, jika sampai tahu entahlah, mungkin dia bisa marah", Yoga kembali menjawab.
Tok
Tok
Tok
" Mas....", Panggil Menur dari luar ruangan.
Deg
" Ya", Jawab Jogacdari dalam dengan hati sedikut berdebar.
" Nasi nya sudah siap, ayo makan keburu dingin", Menur membuka pintu ruangan dan mendapati Yoga masih duduk berhadapan dengan pegawainya.
" Oke, kita makan dulu", Yoga beranjak berdiri dan keluar ruangan diikuti Menur dan pegawainya.
" Disana mas", Menur menunjuk sebuah ruangsn yang disiapkan pegawsinya untuk makan.
" Oke, kapan kapan lagi kita bicarakan masalah kedai, makan dulu", Pamit Yoga menepuk punggung pegawainya.
" Kamu yang masak ya Nur?", Tanya Yiga setelah menyuap makanan kedalam mulutnya.
" Hem... di bantu pegawai mas, kenapa? Asin?", Tanya Menur.
" Enak, masakan mu selalu pas di lidahku Nur, atau mas yang sekarang mulai nagih masakan mu terus ", Jawab Yoga jujur.
" Syukurlah, paling ga ada sesuatu dari Menur yang mas sukai", Jawab Menur lirih.
" Ya itu mungkin namanya jodoh Nur, masakan mu di terima perut dan lidahku", Jawab Yoga terkekeh.
" Kok gitu?".
" Iya kan begitu, di mulai dari perut maka suatu hubungan akan terus berlanjut", Yoga terkekeh lebar dan keras.
" Ck.... ngarang bebas, atas dasar apa coba pernyataan seperti itu?", Gerutu Menur.
" Ya pengalaman Nur, walau cinta terkadang buta, tak peduli jika pasangannya tak bisa masak, tak bisa mengurus suami kalau sudah cinta ya cinta aja", Jawab Yoga masih tetkekeh.
" Kalau mas tipe yang mana tuh? Yang suka dengan istri yang bisa masak atau yang cinta buta?", Tanya Menur penasaran.
" Hmmm.... yang mana ya, boleh ga kalau dua duanya?", Tanya Yoga memelas.
" Dih.... Maruk ternyata mas tuh orangnya", Kini giliran Menur yang terbahak setelah mengatai suaminya maruk.
" Yang bisa masak, yang bisa ngurus suami tentu jadi pilihan pertama Nur, kalau yang cinta buta itu pilihan saat khilaf saja", Yoga gantian tertawa setelah menjawab pertanyaan Menur.
" Oke, di mengerti, apa sih yang ga buat seorang Prayoga Salin, khilaf, di mengerti, dimaafkan, ya..... meski begitu banyak penggemar gimana dong.... kuatkan hati ku ya Robb", Menur tersenyum tipis setelah berucap.
" Bukan aku Nur, tapi mereka yang mendamba ku", Ujar Yoga sombong.
" Iya dan aku yang tetima nasib sial", Ketus Menur.
" Lho kok gitu, sialnya di mana? menjadi istri deorang Prayoga Salim itu dambaan seluruh gadis di kampung ini lho", Jawab Yoga penuh kesombongan lagi.
Sama tokoh yoga,gak ada insyafnya
Semakin tua,bukannya keimanan diperkuat,dipeluk diam aja,kaya kucing
Garong,udah thor pisahin aja mereka
Biar aja menur jadi janda daripada dibohongi terus,tobat sambel
bagus ceritanya
sukses
semangat