Azara Amora adalah gadis cantik berambut panjang dan bertubuh pendek
Bryan Jason Willy, cowok tampan, bertubuh tinggi,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurdahlia Awani hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 13
Hidupku tak tenang lagi. Bagaimana mungkin? Ara sedari tadi mengekoriku, mengikuti langkahku kekiri dan kekanan. Saat aku menoleh, Ara akan ikut menoleh. Menyebalkan!
"Ara, berhenti niruin gue!"
"Ara, berhenti niruin gue!" Bahkan setiap perkataanku selalu ia ikuti.
"Lo itu-- ahk!" Aku mengacak rambut frustasi.
"Lo itu-- ahk!" Ara mengikutiku lagi.
Vangke ni anak!
"Ara gila,"
"Ara gila," aku tersenyum menang. Hehe, akan kubalas kau Zubaedah!
"Ara mirip monyett!"
"Ara mirip monyet!" Ngakak euy! Ada faedahnya juga Ara mengikutiku. Haha, rasakan itu wahai Zubaedah!
"Ara pendek, mirip tuyul!" ucapku lagi.
"Ara pendek, mirip tuyul!" Ara terus saja meniruku. Aku dibuat ngakak saja olehnya.
Aku menjulurkan lidahku, Ara juga ikut. Untung tempatnya sepi, jadi tidak ada siswa-siswi yang melihat tingkah konyolku ini.
Aku tersenyum senang, memikirkan ideku ini. Kuhitung sampai tiga, lalu aku pun berlari sekencang-kencangnya. Entah, gadis itu mengikutiku atau tidak. Tapi, tidak ada suara dari gadis itu.
BRUK!
Aku langsung merasakan nyeri di punggungku, ketika Ara menabrak tubuhku.
Tanpa kusadari, siswa-siswi kini menatap kearahku dan Ara. Malu, astagfirullah. Dengan cepat aku pun menarik tangan Ara agar menjauh dari kerumunan siswa-siswi kang gosip tersebut.
Capek juga ya becanda dengan Ara. Aku sudah seperti orang gila ketika bersamanya.
"K-kenapa?" tanyaku ketika Ara terus saja memperhatikanku.
"Abang keringetan," ucap Ara sambil mengusap keningku yang basah dengan tangannya.
'Kalau dilihat-lihat, Ara cantik bett dah!" Aku hanya membatin melihat wajah cantik Ara yang dipenuhi keringat.
"Woy!" Aku tersentak kaget, ketika Vino, Karell, dan Argian datang secara tiba-tiba.
"Astoge, nih anak pacaran mulu kerjaannya! Kita cariin dari tadi keliling sekolah kagak ada. Di got gaada, di gua buaya pun kagak ada!" Aku sesekali menjitak kepala Vino hingga si empu meringis kesakitan.
"Lo kira gue buaya apa!? Ada di gua buaya!" Vino terkikik mendengar ocehanku.
"Lagian lu sih! Dari tadi kemana aja? Kita cari-cari dari tadi!" sahut Karell sambil memukul lenganku. Aku pun membalasnya kembali.
"Tau tu! Lo bawa kemana aja sahabat gue, ha!?" Anissa memukul lenganku secara tiba-tiba, ditambah dengan suara nyaringnya yang mungkin membuat telinga sakit berhari-hari.
"Sakit, Sa! Astaga! Lu jadi adek gaada akhlak ya, sama kakak sendiri!" Memang susah mempunyai adik seperti Anissa, dikit-dikit di pukul, dikit-dikit dimarahin. Ini nih, akibat Mami selalu memanjakannya, hingga ia berani melawan kakaknya yang tamvan ini.
"Bodo amat!" Anissa menarik tangan Ara pergi, sementara, Ara menoleh sampil melambai-lambaikan tangannya kearahku.
"Dahlah, kita pergi aja!" Ketiga temanku berlalu begitu saja, meninggalkanku yang masih mematung di tempat.
"Woy! Tungguin gue!" Segera ku kejar ketiganya yang sudah hampir tak terlihat.
.
Bel pulang berbunyi, aku pun segera berjalan keluar dari kelas bersama ketiga temanku. "Lo langsung pulang, apa mau kerumah dulu?" tanyaku pada ketiganya.
"Kita, mampir kerumah lo dulu," aku mengangguk mengerti, kami pun kembali berjalan.
"BRYAN!" Aku menutup telingaku mendengar teriakan dari seseorang yang ku kenal.
"BRYAN!" Aku menutup telingaku mendengar teriakan dari seseorang yang ku kenal.
Demi Dora yang kembali tayang di GTV! Laras, gadis itu berlari kearahku, beserta para budaknya. Ia membawa sebuah bunga lengkap dengan cokelat.
"Eh, kamu mau kan balikan sama aku?" tanyanya, sambil menyodorkan bunga berwarna merah tersebut. Aku hanya terdiam, kulirik ketiga temanku yang kini menganga. Mungkin mereka tak menyangka, Laras yang dulunya selalu jual mahal, kini berubah seperti orang yang kerasukan Kuntiberanak.
"Sayang! Kamu ma--"
"ABANG BRYAN!" belum sempat Laras menyelesaikan ucapannya, Ara tiba-tiba datang dan langsung berdiri di sampingku, menampakkan senyum pepsodent dan lesung pipinya.
Laras menganga hebat, lalu menatap kearagku. "Iya, sayang. Kenapa?" Aku merangkul tubuh mungil Ara. Sengaja lebih tepatnya.
"S-sayang, kenapa kamu rangkul dia? Dia itu gak pantes buat kamu!" tangan Laras mencoba meraih tangan Ara, dengan cepat aku pun menepis tangan Laras.
"Emangnya kenapa? Lo kira, lo itu pantes buat gue?" Laras terdiam, matanya berkaca-kaca. Ia menghentakkan kakinya, tangannya hampir saja membuang cokelat yang ia bawa.
"Tunggu!" Laras menghentikan aksinya, lalu menatap kearah sumber suara, yaitu Ara. Ara langsung merampas cokelat di tangan Laras.
"Jangan dibuang! Kata Pak ustad, gak boleh buang makanan, mubazir. Mendingan kasih Ara aja," demi apapun, ni cewek doyan dengan cokelat. Kau beri saja dia cokelat sekarung, akan habis olehnya sendiri tanpa mau berbagi.
Laras semakin kesal, ia pun langsung berlalu pergi meninggalkan kami semua. Aku bernafas lega, untung saja Ara datang tepat waktu, uhuy.
"Eh, Anissa mana?" tanyaku ketika tak melihat sesosok kuntilanak yang menjadi adikku itu. Hanya ada Ara, Mimi dan Raisa.
"Tadi, Anissa duluan, Kak." Jawab Mimi.
"Yaudah, kita pulang yuk! Perut gue dah keroncongan ini!" terdengar suara perut keroncongan dari arah Vino dan Karell. Mungkin mereka sudah kelaparan sekarang.
"Yaudah, yuk!" Argian yang sedari tadi diam, langsung membuka suaranya.
Kami berempat pun berjalan menuju parkiran. Aku pun menaiki motorku, tunggu! Aku langsung menoleh kearah belakang. Mendapati sesosok Ara yang sudah menaiki motorku. Kenapa bisa? Apa dia jin? Setan? Kuntilanak? Atau wewe gombal, eh gombel?
"Lo ngapain naik, Jubaedah!?" tanyaku dengan wajah datar. Ara menoleh kebelakang, kekiri, dan kekanan.
"Abang nanyain siapa? Jubaedah siapa?" Aku menepuk jidatku mendengar pertanyaan polosnya.
"Lo ngapain naik, Ara?" tanyaku ulang.
"Kak Ari gak bisa jemput Ara, Ara juga lupa bilangin sopir buat jemput Ara. Kata Kak Ari, Ara hanya boleh pulang sama Abang aja." Ucapnya, sambil memakan cokelat.
Bujubusyett!
"Yaelah, gitu aja ribet lu! Bonceng aja napa!" teriak Karell di dalam mobilnya. Aku hanya bisa apa? Aku hanya bisa menurutinya, tenang Bryan. Tinggal 1 setengah bulan saja, kau akan terbebas dari gadis jelmaan kuntilanak ini.
"Nih, pakai helmnya!"
.
"Abang! Helmnya gak bisa lepas!" rengeknya padaku sambil terus berusaha melepas helmnya. Merepotkan sekali!
"Iya iya, bentar!" Setelah aku membuka helm, aku segera membukakannya juga.
"Cepetan!" Karell mendorong tubuhku dan ....
Cup!
#Bersambung
anak" bryan kak gimana ketemu sama anak sabahat papanya😁😁
jangan lupa mapir di KARYA ku yaaa🙏❤️🖤
awas az klo Bryan sampe luluh
lucu
semangat thor lanjutin up nya. di tunggu epsd selanjutnya, aku suka dengan ceritanya, menarik😍