JANGAN DIBACA !!!
Cerita ini tidak akan sesuai harapan kalian. Nanti menyesal.
S1 : END
Kehilangan orang tua membuat Aruna harus berjuang demi rupiah untuk biaya hidupnya dan untuk membiayai adiknya yang masih duduk di bangku sekolah.
Berkat sepupunya akhirnya Aruna mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan yang cukup besar meskipun hanya sebagai Cleaning Service.
Namun siapa sangka dua pria tampan,putra dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja itu justru menaruh hati padanya. Dan di sisi lain ada sang sekretaris yang selalu berusaha menyingkirkannya demi mendapatkan sang pujaan hatinya.
Disinilah sebuah kisah cinta segi tiga di mulai. Hingga akhirnya kisah cinta ini membuatnya terjebak di antara dua hati. Membuatnya harus memilih cinta diantara dua cinta.
S2 : END
Hadirnya kembali sosok yang telah pergi tanpa pamit meninggalkan Aruna dan telah membawa separuh hatinya itu. Menghadirkan kebimbangan. Dan menjadi duri dalam kehidupan rumah tangganya. Akankah Aruna akan kembali ke dalam pelukannya dan mengakhiri rumah tangganya?
Ikuti kisahnya ...
ig@fhatt87
Cerita ini hanyalah fiksi. Tidak lebih hanya khayalan semata. Mohon maaf bila terdapat kesamaan tokoh,karakter,latar hingga alir cerita. Karya ini murni hasil pikiran penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CUA Bab 14
"Papa bohong lagi kan?" sambil menatap sinis pada ayahnya.
Dua tahun lalu yang Bram ketahui adalah ibunya kecelakaan karena frustasi. Secara tidak sengaja Bram sempat mendengar pembicaraan ayah dan ibunya bahwa mereka akan bercerai. Dan hal itulah yang membuat ibunya frustasi hingga akhirnya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia saat dalam perjalanan ke rumah sakit dengan mobil ambulance.
Menurut kabar yang sempat di dengarnya, kecelakaan itu tidak sengaja menewaskan sepasang suami istri. Mobil yang di kendarai ibunya kehilangan kendali dan akhirnya menabrak sebuah minibus lain yang sedang melintas dari arah berlawanan. Setelah itu Bram tidak tahu apa-apa lagi.
"Mama tidak mau kamu tahu kalau dia sedang sakit. Dia tidak ingin melihat kamu sedih,maka dari itu mama dan papa menyembunyikan hal ini dari kamu."
Om Danu pun mulai menceritakan perihal penyakit jantung yang telah lama diderita almarhumah istrinya itu. Mereka sengaja menyembunyikan hal itu dari Bram karena mereka tidak mau Bram sedih jika suatu saat nanti ibunya pergi ke pangkuan ilahi.
Bram sangat menyayangi ibunya. Melihat ibunya bersedih saja akan membuat dia kehilangan akal sehatnya,apalagi jika dia tahu ibunya sedang sakit parah. Bisa gila dia nanti.
Dan tentang Dicko, sebenarnya ibunya sudah tahu sejak lama saat mereka membawa Dicko dari panti asuhan. Ibunya Dicko meninggal setelah melahirkan karena komplikasi. Karena rasa kasihan akhirnya ibunya Bram memutuskan untuk mengasuh Dicko dan memaafkan kesalahan suaminya itu.
Dia memaklumi pernikahan siri suaminya itu tidak berlandaskan cinta, hanya mempertanggung jawabkan kesalahannya yang tidak disengaja.
Setelah mendengar penjelasan ayahnya yang panjang lebar itu, akhirnya Bram pun mulai melunak. Dia sudah bisa mencerna dan memahami apa yang sebenarnya terjadi. Dan akhirnya dia pun menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan ayahnya. Dia meminta maaf karena sudah membenci ayahnya tanpa alasan yang jelas,dan pergi dari rumah hingga dua tahun lamanya.
Perlahan Bram melepaskan pelukannya dan berjalan menghampiri Dicko. Di tatapnya pria itu dalam-dalam.
Dicko pun membalas tatapan Bram sembari mengulas senyum bahagianya.
"Apa aku harus memanggilmu Kakak?" Canda Bram.
" Terserah, apapun boleh."
Bram tersenyum dan memeluk Dicko dengan begitu erat. Dia merasa bersalah karena sudah membenci orang sebaik Dicko. Sejak kecil Dicko selalu mengalah padanya. Dia bahkan rela memanggil ayahnya sendiri dengan sebutan OM hanya demi kebahagiaan Bram, agar Bram tidak merasa dikhianati.
"Sekarang jangan panggil OM lagi, tapi panggil dia Papa," kata Bram begitu melepaskan pelukannya
Dicko terharu mendengarnya,begitu pun dengan Om Danu. (Mulai sekarang akan menjadi Papa Danu). Tidak ada kata yang bisa melukiskan kebahagiaan mereka malam ini.
***
Langit malam ini begitu indah dihiasi beribu bintang yang bersinar terang. Pemandangan indah langit malam ini seketika mencuri perhatian Bram. Sedari tadi matanya terus memandangi bintang - bintang itu dari balik jendela kamarnya.
Bintang - bintang itu mengingatkannya pada seseorang. Senyum manisnya, tawanya, candanya.
Namun perasaannya sedikit terusik karena kejadian tadi sore. Entah bagaimana keadaannya saat ini.
Tok tok tok...
Terdengar suara ketukan pintu.
Perlahan pintu itu terbuka, Dicko hanya memasukkan kepalanya seraya berkata, "boleh aku masuk?"
Bram menoleh sembari mengulas senyum tipis.
Perlahan Dicko pun berjalan menghampiri Bram dan berdiri tepat di sampingnya.
"Oh ya, soal yang tadi sore, aku sudah minta Bu Diana untuk menyelesaikannya," kata Dicko membuka obrolan.
"Harusnya aku hajar bajingan itu sampe babak belur. Sampe masuk rumah sakit kalau perlu, biar tau rasa dia," geram Bram sambil mengepalkan tinjunya.
"Dia sudah di pecat,kamu tidak perlu khawatir. Oh ya, gimana ceritanya kamu bisa jadi OB ?"
"Ya aku butuh uang. Buat bayar kontrakan, buat makan, kalau aku tidak bekerja gimana aku bisa bertahan hidup. Dan kebetulan cuma perusahaannya papa yang membuka lowongan pekerjaan."
"Kenapa aku tidak pernah melihat kamu di kantor ya?" Dicko mengerutkan dahinya penasaran
Bram tertawa kecil mendengar pertanyaan dari kakaknya itu.
"Sudah beberapa kali ibu-ibu gendut itu minta aku membuatkan kopi untuk Kakak, tapi aku selalu menolak. Oh ya, masih ingat tentang kopi pahit itu? Harusnya aku yang bikin dan membawakan kopi itu untuk Kakak, tapi malah Aruna yang kena sial."
Tiba-tiba raut wajah Bram berubah seketika. Sesaat terbayang wajah ketakutan Aruna. Dalam hatinya dia masih sangat mengkhawatirkan Aruna. Entah bagaimana keadaannya kini.
Meski hanya sepintas namun Dicko sempat menangkap perubahan itu.
"Ada apa?" tanya Dicko
"Tidak ada apa-apa," jawab Bram sembari tersenyum lemah.
Sebenarnya saat mendengar kabar bahwa ayahnya sedang sakit, Bram cukup khawatir. Kebetulan saat itu TRF sedang membuka lowongan. Maka Bram pun tidak melewatkan kesempatan itu. Hanya untuk sekedar mengetahui kabar mengenai kondisi ayahnya saat itu.
***
Sementara itu ditempat yang berbeda, Aruna sedang duduk di tepi ranjangnya sambil memandangi foto kedua orangtuanya.
Setitik air mata mulai jatuh dari kedua sudut matanya. Jika saja orangtuanya masih hidup, dia tidak akan mengalami semua ini. Keluarga mereka hidup berkecukupan saat ayahnya mulai membuka usaha kecil - kecilan dengan bermodalkan pinjaman dari Bank.
Namun naas, setelah kecelakaan malam itu kehidupan yang dijalaninya menjadi begitu sulit. Rumah peninggalan orangtuanya terpaksa dijual untuk melunasi pinjaman bank. Dan sekarang dia harus banting tulang demi rupiah.
"Runa ..." Panggil Om Heru dengan menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar Aruna.
"Ada apa Om?" Sahut Aruna sembari mengusap air mata dipipinya.
Melihat hal itu membuat pamannya jadi iba lalu kemudian masuk dan ikut duduk ditepi ranjang disamping Aruna.
"Ada apa Run? kamu kangen mama papamu?" Tanya Om Heru dengan tatapan penuh iba.
Aruna mengulas senyum hampa. Kejadian tadi cukup membuatnya shock hingga dia merasa enggan untuk menceritakannya pada pamannya.
"Teddy sudah cerita soal kejadian tadi sore. Besok kamu tidak usah kerja dulu. Biar Teddy yang minta ijin. Boss kamu itu pasti ngerti kok."
"Tidak enak Om sama yang lain, belum lagi aku karyawan baru. Masa sudah bolong - bolong kerjanya."
"Kan ijin, sehari saja. Biar Om yang kasih tau Teddy. Udah, sekarang kamu istirahat. Di warung sudah ada Tante mu dan Alika. Ya sudah, Om narik dulu. Kamu istirahat aja, ya?" Om Heru pun berjalan keluar meninggalkan Aruna yang masih duduk diam terpaku.
Pekerjaan pamannya sebagai supir ojol membuat pamannya jadi jarang berada di rumah.
Drrrtttttt.....drrrrrtttttt......
Ponsel Aruna bergetar. Sengaja dia memasang mode silence di ponselnya itu.
Aruna lalu meraih ponselnya itu dari nakas kecil di sisi ranjangnya.
Sebuah pesan chat dari seseorang yang dikenalnya.
Jaka
Lagi ngapain? 😊
Aruna
Lagi tidur 😴
Jaka
😅😅😅 Hebat ya,udah tidur tapi masih bisa balas chat
Aruna
Makasih 😊
Jaka
Buat apa ? 🙄
Aruna
Buat yang tadi sore 🙁
Sepenggal percakapan via chat Aruna dan Bram yang masih dikenalnya dengan nama Jaka.
Meskipun hanya mengobrol via chat tapi Aruna sudah merasa sedikit terhibur. Hingga malam sudah larut tapi mereka masih asyik dengan obrolannya itu,hingga Aruna tak menyadari kehadiran Alika yang kini telah berbaring di sampingnya.
****
Bersambung.......
______________________________________________
Terima kasih sudah membaca karyaku yang tidak seberapa ini 🙏
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya 😊
like😍