Kehidupan seorang pengacara tampan yang sukses dan termuda begitu banyaknya rintangan untuk menghadirkan buah hatinya. Setelah sang istri mengalami keguguran dan hampir meninggal, membuat pria itu trauma untuk memiliki anak lagi.
Dan setelah banyaknya rintangan yang kedua pasangan itu lewati akhirnya Tuhan memberikan buah hati yang tidak terduga. Keluarga Syein begitu lengkap dengan hadirnya penerus keluarga Syein Biglous yang kembar tiga.
Bagaimanakah nasib Jeerewat ketika ia melewati masa-masa kehamilan yang di kelilingi dengan keluarga yang sangat posesif padanya ?
Apakah kehidupan mereka akan tetap bahagia kedepannya atau sebaliknya, silahkan simak cerita ini yah.
Cerita ini adalah lanjutan dari cerita "Istri Seksi Milik Pengacara Tampan".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelahiran Bayi Penerus Syein Biglous
Tuan Farhan yang tidak menyangka dengan tingkah menantunya kini naik dari pinggir pantai. Ia berdiri di depan Jac dengan tatapan penasarannya merasa heran apa yang bisa membuat Jac bisa seberani itu menatap mata mertuanya kali ini.
"Ada apa? mengapa pulang tiba-tiba?" tanya Tuan Farhan yang tampaknya sudah ketinggalan berita tentang putrinya.
"Syanin hamil, Pah." jawab Jac yang enggan berbasa basi lagi.
Tuan Farhan terbelalak tidak percaya dengan ucapan Jac, ia mematung seketika lalu menepuk kedua lengan menantunya. Kemudian Tuan Farhan pun memeluk tubuh Jac dengan eratnya.
"Benarkah? kau tidak berbohong padaku, Jac?" tanya Tuan Farhan meyakinkan dirinya.
"Iya, Pah." jawab Jac yang tersenyum kaku.
Tuan Farhan pun memeluk erat tubuh menantunya ia begitu bahagia mendengar putrinya yang akan memberinya cucu. Momen ini adalah momen yang paling di tunggu-tunggu Tuan Farhan sejak lama.
Setelah Jac berhasil meyakinkan mertuanya kini mereka pun bersiap untuk segera pulang. Suster Syanin yang baru ingin mengemasi barangnya tiba-tiba di tepis tangannya oleh Jac yang tengah menggenggam koper.
"Diamlah di atas sofa sana. Biar aku saja yang melakukannya." ucap Jac membuka lemari baju.
Matanya menatap bingung dengan pakaian istrinya, bahan yang licin begitu sulitnya untuk di tata. Beberapa kali Jac berusaha melipatnya pelan namun kembali terhambur. Suster Syanin yang memperhatikan gerakan suaminya hanya tersenyum lucu.
Jac tidak mau menyerah begitu saja, setelah lelah ia terus melipat kembali akhrinya pria itu menggulung baju suster Syanin di tangannya dan menekan ke dalam koper. Setelah selesai masuk semua baju istrinya kembali matanya menatap beberapa bra dan dalaman yang masih tertata rapi di lemari.
"Berikan padaku." suster Syanin yang ingin merebut beberapa benda namun di tahan oleh Jac.
"Duduk di sana." pintah Jac dengan menatap tajam pada istrinya.
Suster Syanin yang merasa malu kini duduk dengan menundukkan wajahnya yang memerah. Jac menoleh sekali pada istrinya kemudian ia memperhatikan bentuk benda yang seperti kaca mata itu. Ada tulisan nomor tiga puluh delapan.
"Besar juga ternyata." gumam Jac yang melihat angka menempel di br* suster Syanin. Melihat tatapan Jac pada benda yang ada di tangannya dan bergantian menatap ke arah milik suster Syanin membuat wanita itu merasa risih.
Tangannya segera melindungi kepemilikannya meskipun tidak bisa menutupi keseluruhannya. "Ada apa sih?" pekik suster Syanin yang terdengar ketus.
"Hah...tidak, tidak apa-apa." jawab Jac berbohong.
Suster Syanin yang tidak lagi bisa menahan malu segera merampas kasar semua miliknya yang ada di tangan suaminya. "Berhenti memperhatikannya." ucap suster Syanin.
Setelah cukup lama keduanya saling tarik menarik Jac kembali mencengkram erat lengan istrinya. "Menurut padaku kali ini." ucap Jac terdengar tegas.
"Biarkan aku yang membereskan ini semua." bantah suster Syanin menunjuk semua miliknya yang berhamburan di atas koper karena jatuh dari genggamannya.
"Yasudah kita berdua saja melakukannya." ucap Jac yang tidak mau kalah dengan istrinya. Kali ini Jac akan lebih keras kepala sepertinya dari yang suster Syanin kenal.
Selesai keduanya bersiap kini Jac membawa koper itu keluar, mereka melihat kehadiran Tuan Farhan di depan. Mereka kini pulang bersama ke rumah Tuan Farhan sebelum Jac membawa suster Syanin kembali ke rumah Tuan Reindra.
***
Tuan Indrawan yang baru saja tiba di Indonesia setelah perjalanan yang cukup panjang merasa begitu sangat lelah. Beruntung anak angkatnya ini menjemputnya di bandara tepat waktu, yah Fiky begitu antusias menantikan kehadiran Tuan Indrawan dan Nyonya Flora.
"Wah wah wajah calon pengantin begitu cerah yah?" ejek Tuan Indrawan tertawa.
"Papi bisa saja." ucap Fiky tersenyum malu.
Andai Tuan Indrawan dan Nyonya Flora tahu perbuatan Fiky mungkin mereka tidak akan mau menghadiri acara pernikahan Fiky.
Fiky pun mengantar Tuan Indrawan dan Nyonya Flora menuju kediaman Syein Biglous. Semua begitu berjalan lancar, tinggal menunggu hari saja Fiky akan mengganti statusnya.
Beberapa hari penantian Fiky kini akhrinya tibalah kebahagiaan yang di harapkan, berbeda dengan Dara yang tampak sedang bermimpi buruk hari itu. Di hotel mewah Fiky sudah mempersiapkan segalanya dengan sempurna.
Acara begitu meriah dan berjalan lancar kedua keluarga yang mewakili tampak bahagia menyaksikan acara FIky dan Dara. Tidak ada rasa curiga sedikit pun di benak mereka karena Fiky selalu menjahili Dara di depan.
"Anak sekarang memang seperti itu yah, Mi? pura-pura tidak suka tapi menginginkan juga." ucap Tuan Indrawan pada Nyonya Flora.
"Papi ini." sahut Nyonya Flora.
Tidak ada yang tahu setelah acara pernikahan berakhir Dara terus mengurung diri di kamar tanpa mau melayani Fiky, begitu juga dengan Fiky yang tidak ingin memaksa istrinya lagi. Bagi Fiky bersama Dara kali ini sudah menjadi hal yang sangat patut di syukuri.
Tidak ada lagi yang harus ia paksakan kali ini selain hidup bersama dengan wanita yang ia cintai. Pernikahan yang berlandaskan dengan paksaan hanya Dara dan Fikylah yang bisa mengetahui bagaimana kehidupan mereka kedepannya.
Beberapa bulan berlalu setelah momen pernikahan Fiky dan Dara tiba-tiba di London Jee yang sudah mulai merasakan kesakitan di perutnya terus berteriak. Alfy tampak panik dan terbangun dari tidurnya, ia berlari keluar kamar menghampiri Dokter dan suster yang siap siaga.
"Istri saya kesakitan, Dok. Cepat periksa bayiku." teriak Alfy yang sudah berlari kembali masuk ke kamar Jee.
Dokter pun segera berlari menyusul Alfy ke kamarnya, sedangkan para suster begitu sigapnya menyiapkan segala yang di perlukan untuk bersalin. Ruang bersalin yang sudah di tata sebegitu nyamannya kini siap menerima kedatangan Jee dan buah hati.
"Bertahanlah, Sayang. Kita akan berpindah ke ruang bersalin." ucap Alfy menggenggam erat tangan Jee.
"Aku tidak kuat, sakiiiiit." rintihan Jee membuat semuanya tampak panik kecuali Dokter.
Alfy meneteskan air mata tidak tega melihat kesengsaraan istrinya. "Dok, cepat lakukan sesuatu."
"Tuan, kami harap anda tenang." ucap Dokter yang merasa sulit konsentrasi dengan adanya Alfy.
"Fy, tenanglah. Kau harus memberi semangat pada Jee jangan ikut panik seperti ini." ucap Nyonya Syein yang mengusap bahu putranya.
Kini Jee di dorong ke arah kamar ruang bersalin. Suasana yang begitu nyaman membuat ketegangan Jee mulai mereda. Ia hanya tetap fokus menggenggam erat tangan Alfy dan menatap suaminya.
Alfy tersenyum meskipun ada setetes air mata yang berusaha ia tahan saat ini. Demi istri dan buah hatinya kali ini Alfy harus bertingkah waras.
"Tuan Reindra dan Nyonya Syein yang menunggu di luar hanya saling berpelukan memberi semangat. Sementara Tuan Indrawan dan Nyonya Flora yang sudah mendengar kabar dari baesannya begitu tampak gelisah menanti kabar selanjutnya.
"Tenang, Mi. Jee akan baik-baik saja." ucap Tuan Indrawan.
"Mami takut, Pi. Bagaimana kalau anak kita tidak kuat? Jee memiliki riwayat penyakit." jelas Nyonya Flora begitu cemasnya.
Di dalam ruangan Jee yang sejak tadi sudah mengejan tiba-tiba terdiam tanpa suara. Alfy kaget dengan reasksi istrinya. Beberapa kali tangannya menepuk wajah Jee lembut.
"Sayang...sayang, bangun. Ada apa ini Dokter?" Alfy begitu ketakutan melihat Jee terdiam.
"Tenang, Tuan." jawab Dokter yang berusaha menggoyang-goyang tubuh Jee.
Beberapa waktu setelah terdiam Jee kini mulai membuka matanya kembali. Alfy yang menyadari istrinya sadar kembali mengec*p kening Jee.
"Sayang, kau bangun?" tanya Alfy yang tersenyum cemas.
"Sepertinya Nyonya kelelahan Tuan dan tadi mungkin ia tertidur tanpa sadarnya." jelas Dokter terdengar tenang dan fokus kembali meminta Jee mengeluakan tenaganya karena bayi mereka sudah mulai terlihat.
Seisi ruangan kini kembali terasa menegang karena Jee terus mengejan mengeluarkan semua tenaganya. Wajahnya terlihat berkeringat, Alfy yang terus meniru gaya Jee mengejan seakan memberi semangat di ruangan itu pada istrinya.
Sungguh hal langka kali ini melihat Alfy bertingkah konyol seperti itu. "Ayo sayang, ayo." teriak Alfy mensuport istrinya dan ikut mengejan panjang kali ini.
Dokter terus memberi arahan untuk Jee ikut mengejan kembali. Sampai akhirnya terdengarlah tangis bayi pertama yang berhasil keluar dengan selamat.
"Pah, cucu kita." ucap Nyonya Syein tersenyum bahagian mendengar suara tangis bayi.
Setelah beberapa waktu kembali terdengar suara bayi menangis kedua dan berjarak tidak lama lagi kembali terdengar suara tangis ketiga. Nyonya Syein berpelukan bahagia dengan suaminya menyaksikan suara bayi yang lengkap di dalam sana.
Terlihat tangis haru di mata Tuan Reindra yang di usapnya kasar. Hari bahagia yang di nanti kini tiba sayangnya ia tidak bisa berpelukan dengan sahabatnya karena Tuan Indrawan sudah lebih dulu di Indonesia.
Alfy yang berkali-kali memeluk tubuh istrinya menangis tanpa bisa ia kendalikan lagi. "Terimakasih sayang, kau sudah memberikanku kebahagiaan yang sempurna." bisik Alfy lirih di telinga istrinya.
Jee yang sudah sangat lelah kini kembali menutup matanya dan terlelap di pelukan Alfy. "Tuan, biarkan Nyonya tidur sebentar ia sangat lelah." ucap Dokter yang mengerti dengan keadaan pasiennya kali ini.
Sementara di bawah sana Dokter yang tengah sibuk membersihkan kepemilikan Jee begitu telitinya. Ketiga bayi mereka sudah di bawa ke ruang khusus bayi.
"Tuan, semua sudah selesai anda bisa menemani istri anda beristirahat setelah ini." ucap Dokter
dengerin novel ini aja bisa nangis anjai
sedih banget menusuk hati kepergian jee
ya ampunn
jee
plis bikin prart ke 3 jee
bikin sakit keritis dan sembuh kembali aja
gak rela jee meningal ya tuhan