Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.
Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.
Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.
Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Setelah berjam-jam berkendara menembus kegelapan, mobil aurora akhirnya melambat saat memasuki kawasan pegunungan yang sunyi. Pepohonan besar di kanan-kiri jalan tampak seperti raksasa yang mengawasi perjalanan kami, dan kabut tipis mulai turun menyelimuti jalanan yang berkelok tajam.
" Kita tidak bisa lanjut sampai pagi, ca. Jalur hutan di depan cukup berbahaya kalau gelap begini," ujar Aurora sembari memutar setir memasuki jalan setapak berbatu.
Di hadapan kami, berdiri sebuah bangunan yang tersembunyi di balik rimbunnya pinus. Itu adalah villa milik Aurora, tempat peristirahatan keluarga yang sudah bertahun-tahun tidak terjamah. Bangunan bergaya klasik itu tampak megah sekaligus mencekam dalam balutan malam.
Begitu mobil berhenti, suasana hening yang mutlak langsung menyergap. Hanya terdengar suara jangkrik dan gesekan dedaunan. Aurora segera mematikan lampu mobil, membiarkan kegelapan merayap di sekeliling kami.
" Tenang saja, ca," bisik Aurora saat kami turun dari mobil, " Tempat ini terlalu terpencil untuk ditemukan siapa pun. Kita aman di sini untuk malam ini."
Aku menatap bangunan itu dengan perasaan campur aduk. Villa ini mungkin menawarkan keamanan, namun entah mengapa, suasana di sini justru terasa lebih sunyi dan tertutup dibanding tempat mana pun yang pernah kutinggali. Kami berjalan beriringan menuju teras, langkah kami teredam oleh rerumputan yang mulai meninggi. Saat Aurora menyalakan senter ponselnya dan mencoba membuka pintu besar yang sudah berdebu, aku tak bisa menahan diri untuk terus menoleh ke belakang, ke arah hutan gelap yang baru saja kami lewati, seolah ada sesuatu yang sedang mengikuti kami dari balik pepohonan.
Begitu daun pintu yang berat itu berderit terbuka, kami dikejutkan oleh sorot lampu senter yang menyapu wajah kami. Aku tersentak, refleks mencengkeram lengan Aurora. Namun, sosok di balik cahaya itu ternyata seorang pria paruh baya dengan pakaian rapi namun sederhana Pak Brata, penjaga villa yang selama ini setia merawat tempat ini.
" Lho, non? Dan ini... benar non rora ? " suaranya terdengar ramah, meski ada nada keheranan yang kental di sana. Ia meletakkan alat pembersihnya dan sedikit membungkuk hormat.
" Pak Brata? " Aurora tampak sedikit terkejut, namun ia segera menguasai diri. " Ya, Pak. Kami memutuskan untuk datang secara mendadak."
Pria tua itu mengangguk-angguk, namun tatapannya masih tertuju pada kami berdua dengan dahi yang berkerut dalam. Ia lalu menghela napas panjang, seolah ada beban yang terpendam di balik sikap tenangnya.
" Sudah lama sekali villa ini tidak kedatangan penghuni," ujar Pak Broto sambil melangkah untuk membukakan jalan bagi kami lebih lebar. " Saya sudah tiap hari membersihkan setiap sudut ruangan, berharap pintu ini akan terbuka kembali. Kenapa lama sekali tidak kemari ? Bahkan sudah hampir lima tahun sejak terakhir kali non Aurora menapakkan kaki di sini."
Pertanyaan Pak Brata menggantung di udara, membuat suasana seketika terasa menyesakkan. Aku terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.
Aurora melirikku sekilas, lalu beralih kembali ke Pak Brata dengan senyum tipis yang dipaksakan. " Ada banyak hal yang terjadi di luar sana, Pak. Dan sekarang, kami hanya butuh tempat untuk menenangkan diri."
Pak Brata tidak mendesak, namun matanya menatap kami dengan tatapan yang seolah tahu bahwa kedatangan kami bukanlah sekadar kunjungan biasa.
Kami melangkah masuk ke dalam villa, disambut oleh aroma kayu tua dan debu tipis yang menari-nari di bawah sorotan lampu ruang tengah. Pak Brata dengan sigap menyalakan perapian, menciptakan kehangatan semu di tengah dinginnya malam pegunungan.
" Silakan beristirahat dulu, non. Saya akan menyiapkan teh hangat di dapur," ucap Pak Brata sopan, sebelum ia berbalik dan melangkah pergi menuju bagian belakang villa.
Aku menghela napas lega, membiarkan tubuhku jatuh ke sofa beludru yang terasa sedikit lembap. " Akhirnya," bisikku pada aurora, " setidaknya di sini kita bisa tidur dengan tenang."
Namun, di balik dinding dapur yang terbuat dari kayu jati tua, Pak Brata tidak sedang menyeduh teh. Ia berdiri di sudut yang gelap, merogoh saku dalam jaketnya dan mengeluarkan sebuah ponsel jadul yang tidak pernah ia perlihatkan di hadapan kami. Jemarinya dengan gesit menekan tombol panggil.
Panggilan itu tersambung hampir seketika. Tanpa basa-basi, suara Pak Brata berubah menjadi rendah dan patuh, sangat kontras dengan nada hangatnya tadi.
" Tuan," bisiknya pelan, hampir tak terdengar di balik gemeretak api perapian. " Mereka baru saja tiba. Adik Anda dan tunangan anda... mereka ada di villa sekarang."
Keheningan sesaat di seberang sana justru terasa lebih mengancam daripada teriakan apa pun. Pria itu sosok dingin yang selama ini menjadi bayang-bayang dalam hidupku pasti sedang tersenyum tipis di balik sana. Pak Brata menutup sambungan, menyembunyikan kembali ponselnya, lalu dengan tenang melanjutkan tugasnya seolah-olah tidak ada rahasia besar yang baru saja ia sampaikan.
Kami berdua, yang merasa sudah berada di tempat perlindungan terakhir, sama sekali tidak menyadari bahwa jerat yang kami coba hindari justru semakin mengencang tepat di atas kepala kami.
Teh hangat yang disajikan Pak Brata terasa begitu menenangkan di tenggorokan, namun ada sensasi aneh yang tertinggal rasa pahit yang samar dan sedikit logam yang tertinggal di lidah.
Tak berselang lama setelah menghabiskannya, mataku terasa sangat berat, seolah kelopak mataku ditarik oleh beban yang tak terlihat. Aurora yang duduk di sampingku pun tampak berjuang melawan kantuk, kepalanya terkulai hingga akhirnya ia terlelap dalam posisi duduk.
Kesadaran kami lenyap begitu saja, terhisap ke dalam kegelapan yang pekat. Kami tidak lagi mendengar suara kayu perapian yang retak, ataupun derap langkah kaki yang masuk ke dalam ruangan.
Entah berapa lama kami tak sadarkan diri. Saat kesadaranku mulai kembali sedikit demi sedikit, aku merasakan guncangan halus. Tubuhku terasa sangat lemas, seolah seluruh tenagaku telah terkuras habis. Samar-samar, aku mendengar suara langkah sepatu bot yang tegas menghantam lantai kayu villa.
Abhi " Bawa dia sekarang," suara yang sangat dingin dan berat itu menggetarkan ruangan. Suara yang selama ini menghantui mimpi burukku.
Aku mencoba membuka mata, meski hanya secelah. Di remang cahaya bulan yang menembus jendela, aku melihat sosok pria itu tampang dinginnya tampak seperti pahatan batu berdiri menatap kami. Dua orang pria bertubuh besar dengan setelan serba hitam sudah berada di sisi sofa, bergerak dengan sigap dan terencana.
Mereka tidak menyentuhku. Fokus mereka hanya satu. Salah satu bodyguard itu menggendong tubuh Aurora yang masih terkulai tak berdaya dan membawanya keluar menuju mobil yang terparkir di depan villa.
Abhi " Jangan bangunkan dia sebelum kita sampai di kota," perintah pria itu dengan datar, suaranya sedingin es.
Aku ingin berteriak, ingin memanggil nama Aurora, namun suaraku tersangkut di tenggorokan. Tubuhku seakan lumpuh akibat pengaruh minuman tadi. Aku hanya bisa berbaring tak berdaya di sofa, menyaksikan mereka membawa pergi satu-satunya harapanku, meninggalkanku sendirian dengan Abhinav di villa yang sunyi ini dalam kondisi yang jauh lebih buruk dari sebelumnya.