NovelToon NovelToon
ISTRI CADANGAN SANG MAFIA

ISTRI CADANGAN SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Istri Cadangan Sang Mafia

Di hari pernikahan, Selena Kustiono menghilang.
Demi menyelamatkan keluarganya, Serina Kustiono dipaksa menggantikan sang kakak menikahi Vincent Timothy, bos mafia paling berkuasa sekaligus ayah tunggal dari Viren, putra genius yang menolak kehadiran ibu baru.
Pernikahan mereka hanyalah kesepakatan.
Tak ada cinta.Tak ada pilihan.

Namun saat Viren mulai memanggil Serina "Mama", Vincent menyadari satu hal—musuhnya kini tak lagi mengincar kekuasaannya, melainkan keluarganya.

Mampukah seorang istri cadangan bertahan di sisi pria yang seluruh hidupnya dipenuhi darah, pengkhianatan, dan rahasia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Sedan hitam melaju membelah jalan tol yang mulai lengang.

Di balik kemudi, Daniel mengemudi dengan tenang. Nathan duduk di kursi depan sambil menatap layar tablet yang menampilkan peta kawasan pelabuhan.

Sementara itu, Vincent memilih diam di kursi belakang. Tatapannya tertuju ke luar jendela.

Dua jam perjalanan berlalu tanpa banyak percakapan. Keheningan di dalam mobil justru terasa semakin menekan.

Beberapa kali Nathan menerima laporan melalui alat komunikasi, lalu menjawab singkat sebelum kembali menatap layar.

Tak lama kemudian, sedan memperlambat laju di sebuah rest area yang telah ditentukan.

"Berhenti di sini," ujar Vincent. Daniel segera menepikan mobil.

Nathan mematikan tablet, lalu menoleh. "Bos."

Vincent hanya mengangguk sekali. "Jalankan sesuai rencana."

"Baik." Nathan turun dari mobil tanpa banyak bicara. Tak jauh dari sana, sebuah mobil van hitam telah menunggunya.

Begitu pintu terbuka, Nathan langsung masuk bersama beberapa orang kepercayaannya. Tak sampai satu menit, van itu melaju ke arah yang berbeda.

Daniel memperhatikan melalui kaca spion. "Bos, bagaimana kalau Adrian curiga?"

Vincent tetap memandang lurus ke depan. " Tidak akan, Ia merasa sedang mempermainkanku. Padahal...dialah yang sedang kupermainkan."

Daniel tidak bertanya lagi. Ia menginjak pedal gas. Sedan hitam kembali melaju

Satu jam kemudian, mobil memasuki kawasan industri. Namun Daniel tidak langsung menuju Pelabuhan Timur. Sedan berbelok ke sebuah gedung pergudangan milik perusahaan logistik Vincent. "Bos, kita sudah sampai."

Vincent turun tanpa tergesa. Ia memasuki ruang kerja sederhana di lantai dua.

Daniel menyuguhkan secangkir kopi hitam.

Vincent melirik jam tangannya. "Nathan butuh waktu sekitar empat puluh menit."

Di kejauhan, sebuah sosok telah menunggu di antara tumpukan kontainer.

Adrian Barent.

Pertemuan yang tak bisa dihindari akhirnya dimulai.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Malam menyelimuti Pelabuhan Timur. Suara ombak bercampur dengan derit rantai kontainer yang tertiup angin.

Di antara tumpukan peti baja, Vincent berdiri dengan tenang.

Di hadapannya, Adrian Barent bersandar pada sebuah kontainer sambil tersenyum puas.

"Tiga kontainer hilang."

Adrian membuka tangannya. "Gudangmu terbakar. Anak buahmu terluka. Jalur distribusimu mulai terganggu."

Ia melangkah mendekat. "Sepertinya kau sudah mulai kehilangan kendali, Vincent."

Vincent hanya menatapnya datar. "Sudah selesai?"

Adrian mengerutkan dahi. "Kau masih bisa bersikap tenang? Harusnya kau sadar. Aku memberimu kesempatan."

Vincent mengangkat alis sedikit. "Kesempatan?"

"Untuk menyerah." Senyum Adrian melebar.

"Tinggalkan dunia ini. Tinggalkan organisasi yang kau bangun. Jalani hidupmu sebagai CEO biasa. Karena cepat atau lambat, aku akan mengambil semuanya."

Keheningan sesaat. Lalu Vincent tertawa kecil.

Bukan karena lucu. Melainkan karena ucapan Adrian terdengar begitu mustahil. "Kau pikir...hanya dengan membakar satu gudang dan mengambil tiga kontainer, kau sudah menang?"

Vincent melangkah maju. "Kau hanya bermimpi, Adrian." Tatapannya berubah dingin. "Selama aku masih berdiri...kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku."

Adrian tersenyum tipis. "Percaya diri sekali."

Vincent berhenti tepat di depannya. "Dan satu hal lagi."

"Apa?"

"Pastikan kau siap menerima akibat dari apa yang sudah kau lakukan."

Sebelum Adrian sempat menjawab... Ponselnya bergetar. Senyumnya perlahan menghilang saat melihat nama yang muncul di layar.

"Bos..." Dari seberang, suara anak buahnya terdengar panik. "Ada masalah."

Adrian menjauh beberapa langkah. "Apa?"

"Gudang penyimpanan cadangan kita... Kosong."

Wajah Adrian berubah. "Apa maksudmu?"

"Seluruh isinya hilang. Senjata, dokumen, dan data transaksi... Semuanya diambil."

Adrian terdiam. Matanya perlahan beralih kepada Vincent. Pria itu masih berdiri di tempat yang sama. Tenang. Tidak terkejut. Seolah sudah mengetahui semuanya.

Adrian mengepalkan tangan. "Kapan?"

Anak buahnya menjawab dengan suara bergetar.

"Sekitar satu jam yang lalu."

Adrian menyadari sesuatu. Serangan terhadap gudangnya... Terjadi sebelum pertemuan ini.

Artinya... Vincent tidak datang untuk membalas.

Vincent datang setelah memastikan Adrian sudah kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar.

Vincent menatapnya. "Jangan hanya melihat apa yang hilang dariku. Belajarlah melihat apa yang sudah hilang darimu."

Wajah Adrian mengeras. Urat di pelipisnya tampak menonjol. Ia menutup panggilan dengan kasar. "Sial."

Tatapannya kembali mengarah kepada Vincent.

"Kau sudah merencanakan ini."

Vincent tidak menjawab. Keheningannya justru menjadi jawaban paling menyakitkan.

Adrian tertawa pendek. "Bagus. Sudah lama tidak ada orang yang membuatku semarah ini."

Ia melangkah mundur beberapa langkah. "Menanglah hari ini. Simpan rasa banggamu."

Senyumnya kembali terukir, tipis namun penuh ancaman. "Karena akan tiba saatnya, aku mengambil semuanya darimu."

Vincent tetap berdiri tanpa sedikit pun berubah ekspresi. "Aku akan menunggumu."

Adrian menggeleng pelan. "Bukan. Kau yang akan menungguku." Ia berbalik meninggalkan pelabuhan. Anak buahnya segera mengikuti dari belakang.

Suara deru mesin mobil memecah keheningan malam hingga rombongan Adrian menghilang di balik gelapnya dermaga.

Daniel mengembuskan napas lega. "Bos, apa kita perlu mengejar mereka?"

Vincent menatap laut yang gelap. "Tidak. Biarkan dia pergi."

Daniel sedikit heran. "Kenapa?"

Vincent menjawab dengan tenang, "Orang yang baru kalah, selalu ingin membalas dengan cara yang lebih besar."

Ia menyelipkan kedua tangan ke dalam saku jasnya. "Dan saat dia kembali, kita akan mengakhirinya."

Vincent berbalik menuju mobil. Di balik langkahnya yang tenang, ia sudah mengetahui satu hal. Malam ini bukan akhir dari perseteruan mereka. Melainkan awal dari perang yang jauh lebih besar.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Satu jam sebelumnya...

Langit mulai gelap saat tiga mobil van tanpa tanda memasuki kawasan pergudangan milik Adrian Barent.

Nathan duduk di kursi depan. Tatapannya tertuju pada denah gudang di tablet.

"Tim Alpha, amankan pintu utara. Tim Bravo, matikan seluruh jaringan CCTV. Tim Charlie, ikut denganku. Jangan ada tembakan sebelum aku memberi perintah."

"Dimengerti."

Beberapa menit kemudian... Seorang anak buah Nathan sengaja menjatuhkan sebuah drum besi di sisi timur gudang.

Brang!

Suara keras itu langsung mengundang perhatian para penjaga. "Apa itu?"

"Tolong periksa!" Empat penjaga berlari menuju sumber suara.

Tanpa mereka sadari, di sisi barat gudang, Nathan dan timnya telah menyusup melalui pintu servis yang sengaja dibiarkan terbuka oleh orang dalam.

Dalam hitungan detik... Dua penjaga dilumpuhkan tanpa suara. Seorang teknisi segera mencabut sambungan listrik menuju ruang pemantauan. Layar-layar CCTV mendadak padam. "Zona aman."

Nathan mengangguk. "Mulai evakuasi."

Puluhan peti besi berisi senjata, dokumen transaksi, dan data jaringan dipindahkan ke truk yang telah menunggu di luar.

Seluruh operasi berlangsung tanpa suara tembakan. Kurang dari dua puluh menit... Gudang itu telah kosong.

Nathan berdiri di ambang pintu sambil memandang ruangan yang kini hanya menyisakan rak-rak kosong. Ia mengangkat alat komunikasinya. "Operasi selesai. Target berhasil diamankan."

Di seberang, suara Vincent terdengar tenang. "Tarik semua pasukan."

"Baik, Bos." Nathan menoleh untuk terakhir kalinya ke arah gudang milik Adrian. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Kali ini, biar Bos yang menyampaikan kabar buruk itu langsung kepada Adrian."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Malam telah larut ketika mobil Vincent memasuki halaman mansion. Mesin mobil dimatikan. Daniel turun lebih dulu untuk membukakan pintu. "Selamat malam, Bos."

Vincent hanya mengangguk singkat, lalu melangkah menuju pintu utama. Suasana mansion begitu tenang. Hanya beberapa lampu yang masih menyala.

Saat hendak masuk, tanpa sengaja pandangannya terangkat ke lantai dua.

Di balik jendela besar yang menghadap halaman... Terlihat siluet seorang wanita. Rambut panjangnya terurai. Ia berdiri diam membelakangi jendela, seolah sedang memandangi langit malam.

Langkah Vincent mendadak terhenti. Tatapannya membeku. Napasnya terasa tercekat. Bibirnya bergerak pelan, nyaris tak terdengar. "...Jesika?"

Siluet itu perlahan menoleh. Mata Vincent membelalak. "Mustahil..."

Bersambung...

1
Kayla Rane
Vincent kayak gak suka Ibunya. apa jangan² ada sesuatu dibalik itu
Kam1la
ibu tirinya Vincent...kak
Kayla Rane
neneknya viren kah? orangtuanya ibunya viren🤭
Kayla Rane
serina mah tipe cewek yang gak kegatelan mandiri juga. mungkin itu yg di sukai vincent🤭
Anonim
Lanjut 💪💪💪
Anonim
Heeemmm😍😍
Anonim
Semakin menarik 🤭🤭🤭
Anonim
Lanjut 💪💪💪
Kayla Rane
kereen
Anonim
Lanjut 🤭🤭🤭
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Iya, iya, yuk.
Tio Buki
Iya lengkaplah, kan udah tersedia
Tio Buki
Iya sama sama.
Tio Buki
Jangan tanya aku, aku juga tidak tau
Tio Buki
Minumlah
Tio Buki
Itu cuma secara kebetulan saja
Tio Buki
Itu kamar namanya, kalau rumah, ada diluarnya🤣🤣
Tio Buki
Biarkanlah
Tio Buki
Oh begitu ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!