NovelToon NovelToon
Dunia Akan Lebih Baik Jika Kita Bersama

Dunia Akan Lebih Baik Jika Kita Bersama

Status: tamat
Genre:Romantis / Poligami / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Tamat
Popularitas:108.5k
Nilai: 5
Nama Author: Liu woile

Denisa tak menduga perjalanan cinta jarak jauhnya dengan Rayend berakhir dengan kenyataan kalau Denisa lah menjadi orang ketiga di pernikahan Rayend. Lalu pertemuan tidak sengaja dalam sebuah kecelakaan membawa Denisa bertemu sosok lelaki yang selanjutnya selalu muncul tiap Denisa mengalami kesusahan. Lelaki itupun mulai menunjukkan ketertarikan kepada Denisa. Namun Disisi lain lelaki itu juga mempunyai trauma masa lalu yang kelak akan mempengaruhi hubungan cintanya dengan Denisa. Sanggupkah mereka terus bersama menghadapi setiap masalah yang silih berganti menggoyahkan hubungan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liu woile, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 14 Suka duka 2

Catra tersenyum melihat wajah merana yang kaget itu. " Tak bisa buka sendiri kan, aku bantu, jangan khawatir. Aku tak akan apa apa. Sejujurnya kamu bukan tipe ku " Catra berusaha menenangkan Denisa agar mau dibantu melepas sweater nya.

Akhirnya Denisa pasrah sedikit air mata sudah mengalir dari sudut matanya. Menahan perih yang terasa ketika berusaha membuka sweater sendiri. Dengan lembut Catra membuka sweater Denisa, melewati tempat yang luka dengan hati hati. Sangat pelan lembut dan hati hati.

Denisa dapat merasakan hal itu. Setelah Denisa membuka sweater tampak lah dihadapan Catra penampakan Denisa yang hanya memakai tank top. Sejujurnya tidak terlalu buruk dengan kulit Denisa yang sawo matang cenderung gelap. Terlihat tubuh bagian atas yang langsing dan tangan nya terlihat kencang seperti nya Denisa suka berolahraga. Dan dadanya berukuran lumayan untuk tubuh langsingnya.

Denisa berdehem dan sejenak menyadarkan Catra dari lamunan penilaian nya terhadap tubuh Denisa.

" Kaosnya" Denisa kembali berbicara.

Catra hanya bisa mengutuk dirinya yang sedikit melamun sementara mata tertuju jelas ke arah tubuh Denisa. Apakah ini yang dinamakan pikiran mesum. Dengan gugup Catra meraih kaos dan memakai kan di tubuh Denisa.

" Terima kasih " ujar Denisa

" Celananya, apakah nyaman? aku tidak punya celana bawahan di mobil "

Denisa menatap kaki nya dengan frustasi. celana panjang nya sudah terlipat sebatas lutut sedemikian rupa ketika lutut lecetnya diobati tadi. Kalau mau buang air kecil nanti pasti akan perih tergesek . Saat ini berjalan juga sulit. Turun ranjang sulit apapun sulit. Memikirkan nya membuat Denisa terisak sedih.

" Kenapa kamu nangis? Ada yang terasa sakit?" tanya Catra khawatir. Dia mendekatkan wajahnya ke tubuh Denisa mencari mana yang sakit.

" Tidak sakit, cuma sedih."

Catra menatap Denisa dengan iba.

" Kamu bisa duduk disebelah ku sini?" tanya Denisa pelan.

Catra menuruti permintaan Denisa. Perlahan dia menggeser tubuhnya duduk di samping Denisa.

"Hadap sana ya." pinta Denisa.

Catra menuruti permintaan Denisa.

" Maaf, aku pinjam sebentar bahu kamu ya" ujar Denisa tanpa aba-aba kedua tangan nya menelusup ke pinggang Catra dan memeluknya dari belakang. Menyandarkan wajahnya dipunggung itu perlahan isak nya semakin keras.

Sesaat Catra bingung mau melakukan apa. Sesungguhnya Catra bingung bagaimana menghadapi wanita jika menangis seperti ini. Seumur ini dia tak pernah dekat dengan wanita.

Jangan kan menjalin hubungan sekedar berdekatan dengan wanita saja ada perasaan enggan dan takut. Selama hidup nya dekat dengan wanita hanya Bu Ratni dan Ricka sekretaris nya. Dan butuh waktu lama untuknya buat merasa biasa saja didekat Ricka.

Catra sibuk dengan perasaannya sendiri. Jadi dia mendiamkan apapun yang Denisa lakukan kepadanya. Mendengar Isak Denisa yang sepertinya semakin berat membuat Catra melepaskan tangan Denisa di pinggangnya dan membalikkan badan ke arah Denisa dan merengkuh kepala Denisa dalam pelukan nya. Dan kedua tangan Denisa kembali memeluk pinggangnya erat. Isak nya semakin terdengar seiring basah di kemeja depan Catra. Catra mengelus kepala Denisa.

" Sudah lah jangan menangis lagi. Sebenarnya apa yang membuat kamu sesedih ini? Apakah ada sakit yang kamu rasakan? " tanya Catra kepada Denisa. Perlahan tangis Denisa mereda.

" Aku bingung kalau kamu pergi, aku gimana sendirian disini?" ujar Denisa masih didalam pelukan Catra.

" Aku juga tidak akan ninggalin kamu disini sendiri. Aku juga tidak tega " ujar Catra sambil tersenyum. " Jangan menangis lagi ya "

" Terima kasih " Denisa melepaskan pinggang Catra dan menghapus air matanya.

" Aku bantu kamu lepas celana panjang kamu ya. ganti pakai handuk saja "

" Tapi... "

" Please jangan mikir macem macem. Daripada nanti kamu keburu kebelet pipis celana susah dibuka kena yang sakit. Malah aku nanti masuk ke kamar mandi bukain kamu celana, Apa tidak lebih ribet dan malu."

Perkataan Catra benar adanya jadi Denisa tidak membantah lagi. Catra beranjak mengambil handuk dan dipakai menutupi pinggang dan paha Denisa. Perlahan dengan penuh kelembutan Catra melepaskan celana panjang Denisa. Tentu saja konsekuensi nya sebagian paha Denisa terekspos tapi Denisa mencoba pasrah. Sambil menahan malu yang teramat sangat.

Entah kenapa adegan itu terasa lama sekali. Tentunya karena canggung dan malu yang menguasai nya. Setelah celana berhasil dilepas Denisa menarik nafas lega.

" Ya sudah mari kita istirahat ini sudah hampir pagi, kamu bangunin aku kalau mau apa apa ya. Jangan merasa sungkan. " ujar Catra dan Denisa hanya bisa mengangguk. Catra merebahkan badannya disamping Denisa.

Walau lelah mata Denisa tidak bisa langsung terpejam. Dia sama sekali tak berani menatap Catra disebelahnya. Sesaat setelah nya terdengar suara nafas teratur disampingnya. Saat itu lah Denisa yakin kalau Catra sudah tertidur. Barulah Denisa berani menoleh ke arahnya.

Laki laki ini bisa bisa nya menemukan dia yang sedang celaka. Apakah ini yang dinamakan takdir. Kemarin mereka saling membantu ketika kecelakaan kereta dan kini saat Denisa kecelakaan motor tunggal tiba tiba Catra muncul menolongnya. Sampai sejauh ini Denisa mengucap syukur dalam hati.

Laki laki baik ini tanpa pamrih kah menolong nya. Denisa berharap kebaikan Catra benar benar tulus. Selama ini Denisa jarang punya teman baik atau sahabat. Setelah berfikir kesana kemari akhirnya Denisa pun terlelap.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Catra POV

Aku merasakan pergerakan ditempat ku berada. Seketika aku terbangun di tempat asing. Aku berusaha mengingat ada dimana sekarang. Kulihat seorang wanita sedang bergerak pelan hendak turun tempat tidur. Sambil wajahnya meringis menahan sakit. Aku pun segera sadar kalau ini di hotel dan wanita itu Denisa yang sedang terluka.

" Mau kemana ? " tanya ku membuatnya menoleh ke arahku

" Ke kamar mandi , Ini luka lecet nya kenapa pas di lutut ya. Jadi susah bergerak masih sakit sekali " ujarnya sambil meniup lukanya. Aku segera bangun dan berdiri di depan Denisa.

" Aku gendong ya "

" Apa ?.. " wajahnya terkejut sekali

" Iya aku gendong ya, " ulang ku

" Tidak.. . tidak.. aku berat. Bantu jalan saja " kulihat dia menggeleng. Aku membantu menurun kan kaki nya ke lantai. Lalu menjulurkan kedua tangan ku arahnya dia menyambut tanganku dan menggenggam nya. Perlahan tubuhnya mulai mencoba berdiri. Wajahnya meringis luka lecet di lutut kanannya membuatnya tak mampu menapakkan kaki dengan sempurna.

" Kemana perginya jiwa pemberani yang membantu aku kluar dari kereta 2 Minggu lalu " ledek ku.

" Tapi ini sakit beneran. Andai bukan di lutut pasti aku kuat " ujarnya sambil berusaha tertawa tapi berganti lagi dengan wajah kesakitan.

" Gendong ya "

" Tidak "

" Katanya sakit. Aku gendong aja pasti aman "

" Sini pinjam pinggang nya buat bantu jalan " ujarnya sambil melepaskan tanganku dan tangannya memeluk pinggangku dan dia mulai berjalan tertatih bertumpu pada pinggang ku. Dan astaga perasaan apa ini sekarang yang menguasai ku.

Aku mencoba tidak menghiraukan perasaanku untung jarak ke kamar mandi tidak begitu jauh jadi aku tak perlu lama dipeluk olehnya. Dia duduk di atas kloset duduk yang ditutup .

" Aku tinggal ya " ucapku

"Iya lah masa mau tetap disini aja "

" Jangan kunci pintu nya, aku tidak akan macam macam, kamu jangan khawatir "

" Baik " ucapnya dan aku meninggalkan dikamar mandi dan menutup pintu nya. Lalu aku menelepon ke rumah memberi tahukan ke Bu Ratni tentang tidak pulang nya aku semalam dan meminta pak Dino membawakan pakaian ganti lengkap untukku ke hotel ini.

Setelah itu aku memberi tahukan Ricka kalau aku tidak kekantor hari ini. Selesai telepon aku menunggu Denisa mandi dan sambil menonton berita pagi. Setelah setengah jam tidak ada tanda tanda ia akan keluar. Aku menjadi khawatir aku pun mengetuk pintu kamar mandi.

" Denisa.. udah selesai belum?" tanyaku

" Belum, sebentar lagi " jawabnya

" Oke " jawabku , lalu melanjutkan menonton tv. Ketika pintu kamar mandi terbuka sedikit dari dalam aku segera turun ranjang menghampiri nya. Hanya wajah Denisa yang menyembul itu pun tak berani menatap ku

" Ada apa, ayo keluar " ajak ku

" Maaf aku mau minta bantuan mu lagi " wajahnya memerah Ketika mengatakan hal itu.

" Bantuan apa ?"

" Hmmm , maaf sebelumnya. maaf banget kalau kamu tidak berkenan " ujarnya masih menunduk malu

" Iya apa " tanya ku mulai tak sabar

" Belikan aku pembalut dan ****** ***** wanita " ujarnya sambil langsung menutup pintu rapat rapat. Aku terbengong ria didepan kamar mandi tak menyangka akan mendengar permintaan tersebut.

Sesaat aku hanya terbengong di depan pintu sambil bolak balik. Dan setelah berfikir dan menimbang nimbang akhirnya aku menelpon resepsionis dan meminta tolong untuk membelikan sesuatu yang diminta Denisa. Aku belum punya nyali untuk membeli sendiri di mini market sebelah hotel.

1
Elly Supriaty
Bravo Author dari pertama baca sampe akhir aku sangat suka novel mu thor ,....
smg sll sehat thor ,sll sukses dengan karya mu yg semangkin greget ,ku tunggu karya mu yg lain ...
Author its the best 💪💪💪👍👍👍❤❤❤❤
Wahyu Dwi Ardiah Miswari
Trimakasih atas karyanya author......semakin maju n sukses dlm berkarya, saya tunggu karya selanjutnya.
Wina Faujji
dari awal sampe akhir cerita nya saya suka, saya tunggu karya mu yg baru...
Yuli Yuliah
sukses buat author,happy ending
Wahyu Dwi Ardiah Miswari
saya suka....saya suka ceritanya Thor. Sukses sll ya thor. gbu
Yuli Yuliah
Thor kemana dirimu
Isri Nurhidayah
hamil kali Denisa nya
Wina Faujji
ngak ada visual nya ya thor
Yossi Yosvizar
Haadeh delisa kenapa dibikit ribet sendiri pikiran jelek hrs segera di konfirmasi jd ngga salah paham .rumah tangga hrs salibg terbuka dgn apa yg mengganjal dihati dan pikiran 😔😔😔
Yossi Yosvizar
thor catra jgn dibikin jd orang yg ribet kasian denisa hrs sabar dan kuat.😔😔
Isri Nurhidayah
semoga bukan masalah baru
Wahyu Dwi Ardiah Miswari
ceritanya bagus....semangat thor .
Yossi Yosvizar
Denisa tipe perempuan hebat tp ngga sadar kalau dia hebat walau penuh kekurangan
Wahyu Dwi Ardiah Miswari
aku suka thooor
Yuli Yuliah
kok blm up Thor,aku dah bolak balik intip nih
Tera Dwi Retina
selaluuuu menungguuu
Wahyu Dwi Ardiah Miswari
ikut seneng baca nya thor.....
Wahyu Dwi Ardiah Miswari
banjiiiiirrrr......tapi seneng
Tera Dwi Retina
akhirnya aaaaaa
Wina Faujji
akhirnyaaa ..... semangat terus ya thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!