Kamila Larasati, seorang gadis cantik yang pintar, kritis, keras kepala dan punya pendirian kuat persis seperti ayahnya yang seorang Jendral TNI. Kamila menentang perjodohan yang dilakukan ayahnya dengan bawahannya. Dia tidak ingin mengikuti jejak kakaknya yang kehidupan pernikahannya terlalu banyak aturan.
Kamila masih sangatlah muda. Dia masih ingin bebas menikmati masa mudanya dengan berbagai pengalaman yang bermakna.
Sampai pada suatu hari, dia bertemu dengan Mahardika Pratama yang seorang preman kampung. Kejadian yang tak terduga menjadi awal pertemuan mereka hingga seiring berjalannya waktu tumbuhlah rasa cinta diantara mereka. Tapi ada sebuah rahasia yang sempat menggoyahkan perasaan Kamila. Apakah akhirnya cinta mereka akan bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akira Fan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Hanya Permainan
Dika mengajak Kamila ke sebuah wahana permainan yang untuk semua umur. Kamila hanya melongo menyaksikan permainan yang memicu adrenalin tersebut karena ketinggiannya. Kamila menggelengkan kepalanya kecil.
"Kenapa? Kamu takut ketinggian ya?," tanya Dika saat melihat ekspresi Kamila saat melihat wahana tersebut. Sedang Kamila hanya mengangguk saja.
"Tenang, ada aku disini," ucap Dika meyakinkan.
"Kita tunggu Veni aja ya? Pasti dia nyariin kita," Kamila merasa canggung jika harus naik wahana berdua saja dengan Dika.
"Baiklah," jawab Dika datar, seperti ada rasa kecewa dengan sikap Kamila.
Kamila mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi Veni. Setelah menunggu beberapa saat Veni dan yang lainnya datang.
"Kirain kemana tadi? Aku nyariin tau," gerutu Veni dengan wajah cemberutnya.
"Hee, maaf," Kamila hanya nyengir kuda. Nggak mungkin juga dia bilang kalau Dika yang mengajaknya.
Sementara Dika mengusap tengkuknya kikuk, andai Veni tahu kalau sebenarnya Dika sedang PDKT dengan Kamila pasti dia akan malu sekali.
"Aku tahu tadi kamu sengaja kan narik dia kesini? Jangan-jangan kamu naksir Kamila nih," bisik Aldo ditelinga Dika.
Dika hanya tersenyum tipis, karena memang benar apa yang sudah dikatakan temannya itu. Tapi karena sepertinya Kamila masih malu dengannya akhirnya dia pasrah saja ketika Kamila memanggil Veni tadi.
Mereka berlima naik wahana bianglala. Karena kabinnya kecil yang hanya cukup untuk 2-3 orang maka mereka harus membagi menjadi 2 tim.
"Aku temenin kalian, biar ada yang jagain," tawar Dika kawatir kalau mereka kenapa-kenapa.
"Biar aku aja. Aku sudah temenan sama Veni sejak kecil. Kamu cuma orang asing," sergah Alvin nggak terima. Sejak awal Alvin kurang suka dengan Dika dan Aldo.
"Iya mas, kita ditemenin Alvin aja," ucap Veni menengahi sebelum terjadi keributan. Kamila hanya mengangguk menyetujui.
"Baiklah, kalian hati-hati ya," akhirnya Dika memutuskan untuk mengalah.
Hal ini merupakan pengalaman Kamila yang pertama kalinya. Dia sempat takut saat belum naik tadi. Setelah naik dan melihat pemandangan dari atas diapun menjadi antusias. Terlihat dari atas wahana lampu berkerlap kerlip, orang lalu lalang yang terlihat begitu kecil. Angin malam tertiup pelan memberi suasana nyaman bagi mereka.
"Sepertinya si Alvin itu nggak suka sama kita," celetuk Aldo sambil mengamati kabin Kamila dan teman-temannya.
"Udah biarin aja, kita memang baru kenal kan. Jadi sabar," Dika berusaha bersikap tenang walau sebenarnya batinnya juga nggak terima.
Selesai naik bianglala, mereka mencoba permainan lain. Dika mengajak mereka untuk bermain lempar dart. Disini Aldo yang terlihat bersemangat. Karena permainan itu kesukaannya.
"Gimana? Siapa duluan nih yang main?," tanya Dika.
"Aku duluan," jawab Aldo cepat. Masih tersisa satu tempat lagi.
"Aku mau coba," ucap Alvin sambil melirik ke arah Aldo.
"Oke, kalian duluan," ucap Dika.
Aldo dan Alvin melempar dart bersamaan setelah hitungan ketiga. Lemparan pertama Aldo lebih unggul, dart nya hampir mengenai pusat lingkaran. Lemparan kedua Alvin lebih unggul, sedang lemparan ketiga kembali Aldo lebih unggul dari Alvin. Dia pun tersenyum penuh kemenangan.
"Kalian mau coba?," tanya Dika pada Kamila dan Veni.
"Emm, boleh," jawab Kamila dengan senyum mengembang diwajah cantiknya.
Kamila dan Veni bersiap untuk melempar. Veni terlihat sedikit ragu karena ini baru pertama kalinya, berbeda dengan Kamila yang terlihat lebih tenang.
Lemparan pertama Kamila unggul, lemparannya hampir mengenai pusat. Dika dan yang lainnya bersorak melihat kemampuan Kamila tadi. Hingga lemparan terakhir Kamila tetap unggul dari Veni. Sepertinya permainan ini sudah biasa untuk Kamila.
"Wow, nggak nyangka kamu hebat juga main lempar dart," puji Aldo pada Kamila.
"Kebetulan aja dirumah aku sering main permainan ini dengan Papa," ucap Kamila jujur.
"Wajar sih, anak orang kaya," timpal Aldo di ikuti tawa yang lainnya. Sedang Alvin hanya tersenyum sinis mendengar penuturan Aldo tadi.
Entah apa yang difikirkan Alvin, sejak pertama bertemu dengan Aldo dia terlihat tidak suka dengannya.
"Eh tinggal Mas Dika nih, ayo tunjukin kemampuanmu dong," panggil Veni kepada Dika dan dibalas anggukan olehnya.
"Ayo Dik, tunjukkin kemampuan kita pada mereka," dukung Aldo pada sahabatnya.
Dika sudah bersiap ditempatnya. Lemparan pertama berhasil dengan sempurna mengenai pusat lingkaran. Semua orang menganga melihat keahlian Dika tersebut. Dan ternyata tidak sampai disitu saja, lemparan lemparan selanjutnya berhasil dilakukan Dika dengan sempurna lagi. Benar-benar bakat yang luar biasa.
"Wah, baru tahu aku bro kalau kamu sehebat ini," ucap Aldo nggak percaya temannya itu ternyata jago main dart. Selama ini Dika nggak pernah menunjukkan skill nya itu didepan teman-temannya sesama preman.
"Biasa aja Bro, hanya permainan aja kok," balas Dika merendah.
"Tapi beneran lho Mas, semuanya sempurna. Papa aku aja belum pernah berhasil berturut-turut seperti ini," imbuh Kamila ikut memuji Dika.
"Wah, sepertinya aku menemukan seseorang yang bisa ngalahin Papa nih," batin Kamila sambil tersenyum nggak jelas.
"Setuju, boleh dong diajarin mas," Veni ikutan nimbrung.
Hanya Alvin saja yang masih bersikap datar. Sepertinya kepribadian cowok itu memang dingin seperti itu.
"Kamu kok diem aja sih Vin, dari dulu nggak berubah," sewot Veni melihat sikap Alvin yang hanya ditanggapi Alvin dengan sikap masa bodo.
"Selanjutnya aku yang menentukan wahanya ya?," ucap Veni terlihat bersemangat.
"Apa Ven?," tanya Kamila dan Alvin berbarengan.
"Rumah Hantu," jawab Veni santai. Yang lain saling berpandangan dengan mengerutkan dahinya mendengar penuturan Veni.
Karena Veni kekeh ingin ke Rumah Hantu, akhirnya mereka semua mau tidak mau pun ikut. Kamila menelan salivanya dengan susah payah. Melihat dari luar saja sudah lumayan menyeramkan, bagaimana saat didalam nanti fikirnya.
"Ayo masuk, nggak usah takut Mil. Hantunya nggak beneran kok, hanya permainan saja," Veni mengerlingkan sebelah matanya pada Kamila.
"Nggak ada wahana lain apa yang kamu pengenin?," tanya Aldo heran.
"Kamu takut?," tantang Veni dan diikuti senyum sinis Alvin.
"Nggak, si-siapa takut," jawab Aldo sedikit tergagap. Dika hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah temannya itu.
"Badan doang gede, tapi penakut," cibir Alvin pada Aldo yang dibalas pelototan mata kesalnya Aldo.
Akhirnya setelah perdebatan yang cukup lama, mereka semua pun masuk. Kamila menggandeng tangan Veni, dia melihat sekeliling dengan perasaan was-was takut sesuatu tiba-tiba muncul dihadapannya.
Dika, Aldo dan Alvin mengikuti mereka dibelakang. Aldo merasakan bulu kuduknya meremang. Dia pun menggandeng tangan Dika karena ketakutan.
"Cemen kau Do," ucap Dika dengan tingkah Aldo.
"Belum apa-apa sudah takut, preman apaan kayak gitu," imbuh Alvin menertawakan Aldo.
"Diam kau," balas Aldo sewot pada Alvin yang selalu saja mengejeknya.
Mereka kembali berjalan semakin masuk kedalam. Terdengar suara orang tertawa cekikikan kemudian disusul dengan perempuan menangis. Kamila semakin mengeratkan pegangannya pada Veni dan tiba-tiba saja ada sesuatu yang muncul dari balik pintu disamping Kamila.
"HUWAAA...," Kamila dan Veni kaget karena ada sesuatu yang mirip tengkorak manusia tiba-tiba muncul didepan mereka.
Sontak saja, Aldo juga ikut berteriak karena mendengar teriakan Kamila dan Veni tadi saking takutnya. Hanya Dika dan Alvin yang terlihat biasa-biasa saja.