NovelToon NovelToon
Sekar

Sekar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.

Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seorang ibu yang kehilangan anaknya

Bu Ratmini masih berdiri terpaku di depan kantong jenazah itu.

Air matanya terus mengalir tanpa mampu dia tahan.

Tangannya menutupi mulutnya sendiri.

Seolah dengan begitu dia bisa menahan isak yang mulai naik ke tenggorokannya.

"Itu... baju Sekar..." Ucapnya dengan suara bergetar.

Kerumunan warga langsung saling berpandangan.

Bisik-bisik mulai terdengar di antara mereka.

Nama Sekar yang selama ini menjadi bahan pembicaraan di desa kembali disebut.

Namun kali ini bukan karena kabar dirinya melarikan diri.

Di samping Bu Ratmini, Pakde Banyu tampak membeku.

Wajahnya pucat, matanya tidak lepas dari jenazah itu.

Sementara itu, Pak Nanang yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka memandang iba pada Bu Ratmini.

Sejak mayat itu pertama kali diangkat dari dalam sumur, Pak Nanang tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pakaian yang melekat pada tubuh tersebut.

Ada sesuatu yang terasa sangat familiar, sangat dekat dengan ingatannya.

Namun, dia belum bisa mengingat dengan pasti.

Saat petugas membuka kantong jenazah untuk pertama kalinya dan memperlihatkan pakaian yang masih menempel pada tubuh korban, Pak Nanang terus memperhatikannya.

Motif kain itu.

Warnanya.

Semuanya terasa pernah dia lihat.

Berkali-kali dia memaksa dirinya mengingat.

Namun ingatan itu seperti berada tepat di ujung pikirannya.

Terasa dekat, tetapi belum bisa diraih.

Sementara warga terus berdatangan, Polisi melakukan pemeriksaan.

Dan petugas damkar membereskan peralatan mereka.

Pak Nanang masih berdiri memandangi jenazah itu.

Sampai akhirnya sebuah kenangan tiba-tiba muncul di benaknya.

Malam hujan deras itu, malam ketika dia pulang dari kebun.

Malam ketika dia melihat seorang perempuan berdiri di tengah jalan setapak yang diguyur hujan.

Sekar.

Mata Pak Nanang langsung membelalak.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Dia ingat sekarang.

Dia ingat dengan sangat jelas.

Baju itu.

Baju yang melekat pada mayat tersebut.

Itulah baju yang dikenakan Sekar saat dia bertemu dengannya beberapa hari yang lalu.

Pak Nanang masih mengingat bagaimana hujan membasahi pakaian itu hingga menempel di tubuh Sekar.

Dia masih mengingat warna dan motifnya.

Tidak mungkin salah. Meskipun dia sudah tua, tapi ingatannya tidak salah.

Tubuh Pak Nanang mendadak terasa dingin.

Napasnya menjadi berat.

Jika itu benar baju Sekar.

Lalu mengapa pakaian itu sekarang berada di tubuh yang ditemukan di dasar sumur?

Dan yang lebih mengerikan lagi...

Bukankah dia baru bertemu Sekar beberapa hari yang lalu?

Pak Nanang menatap kembali jenazah itu.

Perasaannya mulai tidak tenang.

Semakin lama semakin tidak tenang, karena itulah dia meminta Santa agar memanggil Bu Ratmini dan Pak Banyu.

"Nda mungkin ..." lirih Bu Ratmini sambil menggeleng.

Tatapannya terus tertuju pada baju yang sudah kusam dan kotor itu.

"Itu... itu bukan Sekar..." Suaranya bergetar.

Bu Ratmini menutup mulutnya dengan kedua tangan, lalu menangis semakin keras.

"Itu bukan Sekar..." Ulangnya.

Pakde Banyu segera memegang pundaknya agar tidak jatuh.

"Rat... tenangkan dirimu dulu."

"Nda!" seru Bu Ratmini sambil menggeleng kuat-kuat.

"Itu bukan Sekar! Bajunya saja yang sama!"

Tangisnya pecah.

"Di pasar banyak orang yang punya baju seperti itu. Itu bukan Sekar!"

Orang-orang yang berdiri di sekitar sumur hanya terdiam.

Tak ada yang sanggup berkata apa-apa.

Bahkan Pak Nanang yang sejak tadi berdiri di dekat polisi hanya menundukkan kepala.

Bu Ratmini maju selangkah.

Matanya tak lepas dari pakaian yang dikenakan mayat itu.

"Itu bukan anakku..."

Suaranya kini melemah, seolah lebih banyak berbicara pada dirinya sendiri.

"Sekar masih hidup..."

Air matanya mengalir semakin deras.

"Sekar pasti masih hidup."

Pakde Banyu menatap mayat itu dengan wajah tegang.

Jujur saja, di dalam hatinya mulai tumbuh ketakutan yang sama.

Namun melihat keadaan Bu Ratmini, dia memilih tetap tegar.

"Benar." Katanya pelan.

"Kita belum tahu pasti. Wajahnya juga sudah Nda bisa dikenali."

Bu Ratmini langsung mengangguk cepat.

"Iya... iya..."

Seolah menemukan secercah harapan, dia kembali berkata,

"Itu bukan Sekar."

"Anakku pasti masih hidup."

"Dia pasti akan pulang."

Tangisnya kembali pecah.

Polisi yang berada di dekat mereka saling berpandangan.

Salah seorang petugas kemudian berkata dengan hati-hati.

"Bu, kami mengerti perasaan Ibu. Karena kondisi jenazah sudah sulit dikenali, kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut."

Bu Ratmini tidak menjawab.

Dia hanya terus menangis sambil menggeleng.

Dalam benaknya, dia menolak menerima kemungkinan terburuk itu.

Baginya, selama belum ada bukti yang benar-benar pasti, maka mayat itu bukan Sekar.

Anaknya masih hidup.

Anaknya pasti masih hidup.

Namun, harapan yang sejak tadi mati-matian dipertahankan Bu Ratmini akhirnya runtuh.

Salah seorang petugas yang memeriksa jenazah memperhatikan sebuah cincin yang masih melingkar di jari mayat yang telah membengkak.

Petugas itu membersihkan lumpur dan kotoran yang menempel di permukaannya.

Bu Ratmini yang masih menangis awalnya tidak terlalu memperhatikan.

Namun ketika pandangannya jatuh pada cincin itu, tubuhnya mendadak membeku.

Waktu seolah berhenti.

Matanya terpaku.

Napasnya tercekat.

Jantungnya seperti berhenti berdetak.

Tidak.

Tidak mungkin.

Dia mengenali cincin itu.

Sangat mengenalinya.

Cincin pertunangan.

Cincin yang disematkan Lindu ke jari Sekar pada hari pertunangan mereka.

Tangannya mulai gemetar hebat.

"Nda mungkin ..."

Suara itu keluar seperti bisikan.

Matanya semakin membelalak.

"Nda mungkin ..."

Air mata kembali mengalir deras. Kepalanya menggeleng berkali-kali.

Seolah dengan menggeleng, kenyataan itu bisa menghilang.

"Nda mungkin..."

Tubuhnya mulai limbung.

Tangisnya pecah.

"SEKAR...!"

Teriakan itu keluar begitu keras hingga membuat beberapa warga terkejut.

Bu Ratmini jatuh berlutut di tanah.

Tubuhnya terguncang hebat oleh tangisan.

"SEKAR...!"

Suara tangisnya begitu menyayat.

Begitu penuh luka, seolah seluruh kesedihan yang selama ini ditahannya tumpah dalam satu waktu.

"Kenapa jadi begini, Nak...?"

Tangannya terulur ke arah jenazah.

Gemetar.

Seakan ingin memastikan bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk.

"Ibu menunggumu setiap hari nduk."

"Setiap hari..."

Air mata terus mengalir tanpa henti.

"Tapi bukan kepulanganmu ini yang ibu harapkan..." Sungguh luka yang begitu dalam yang di rasakan seorang ibu.

Beberapa warga mulai ikut mengusap air mata mereka.

Tak ada yang sanggup memandang langsung ke arah Bu Ratmini.

Tangisnya terus pecah.

"Ibu selalu masak lebih banyak..."

"Kalau-kalau kamu tiba-tiba datang karena lapar..." Suaranya kini hampir habis.

"Tapi kenapa kamu pulangnya begini, Nak...?" Tangisan penuh luka kehilangan itu terus terdengar.

"Kenapa...?"

Bu Ratmini memukul dadanya sendiri.

Seolah rasa sakit di dalam hatinya sudah terlalu besar untuk ditanggung.

"Harusnya Ibu yang mati duluan..."

"Harusnya bukan kamu..."

"Harusnya bukan kamu..."

Pakde Banyu segera memegang kedua tangan adiknya agar tidak melukai dirinya sendiri.

Namun bahkan pria tua itu tak mampu lagi menahan air mata.

Wajahnya basah.

Bibirnya bergetar.

Sementara Bu Ratmini terus menangis memanggil nama Sekar berulang kali.

Nama yang selalu dipanggilnya dalam doa.

Nama yang selalu ditunggunya untuk menjawab dari balik pintu rumah.

Kini akhirnya ditemukan.

Namun bukan dalam keadaan pulang dengan senyum, melainkan terbujur kaku di hadapannya.

Dan pada saat itu, hati seorang ibu benar-benar hancur.

Tangisan Bu Ratmini menggema di sekitar sumur tua itu.

Tangisan seorang ibu yang kehilangan anaknya.

Tangisan yang begitu pilu hingga menusuk ke dalam hati siapa pun yang mendengarnya.

Suasana yang sejak tadi sunyi kini dipenuhi isak tangis.

Beberapa ibu tak lagi mampu menahan air mata mereka.

Mereka menundukkan kepala sambil mengusap pipi yang basah.

Bahkan para lelaki yang biasanya tampak tegar pun terlihat memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan mata mereka yang memerah.

Tak sedikit yang menggeleng pelan. Seolah masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada di depan mata.

Sekar.

Nama itu begitu dikenal di desa.

Perempuan yang sejak kecil tumbuh di tengah mereka.

Perempuan yang mereka lihat bermain di jalan-jalan kampung dan tumbuh menjadi gadis yang cantik serta ramah.

Tak ada yang menyangka kisahnya akan berakhir seperti ini.

"Sekar..." Gumam salah seorang warga tua.

Dia menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca.

"Kasihan sekali..."

Warga lain mengangguk pelan.

Mereka masih sulit mempercayainya.

Baru sebulan yang lalu, desa itu dihebohkan oleh kabar kepergian Sekar.

Perempuan yang meninggalkan pernikahannya.

Perempuan yang memilih pergi bersama pria lain dan menghilang tanpa jejak.

Selama sebulan terakhir, namanya menjadi bahan pembicaraan di mana-mana.

Ada yang marah padanya.

Ada yang kecewa.

Ada yang menyalahkannya.

Namun pada saat itu, semua perasaan itu lenyap begitu saja.

Yang tersisa hanyalah duka.

Karena di hadapan mereka kini bukan lagi Sekar yang mereka kenal.

Bukan gadis yang pernah tersenyum dan menyapa mereka setiap pagi.

Melainkan sesosok jenazah yang ditemukan di dasar sumur, terkubur dalam gelap dan kesunyian selama entah berapa lama.

Seorang ibu memeluk anaknya erat-erat.

Seolah takut kehilangan.

Seorang bapak tua mengusap matanya diam-diam.

Bahkan beberapa petugas yang berada di lokasi tampak terdiam, memberi ruang bagi kesedihan keluarga itu.

Sementara itu, Bu Ratmini masih menangis di samping jenazah putrinya.

Tangisnya semakin melemah.

Namun justru terdengar lebih menyakitkan.

Karena kini bukan lagi tangisan histeris.

Melainkan tangisan seorang ibu yang perlahan menyadari bahwa penantian panjangnya telah berakhir.

Bukan dengan kepulangan yang selama ini diharapkannya.

Melainkan dengan perpisahan yang tak pernah siap dia terima.

Di bawah langit desa yang mendung, tak seorang pun berbicara.

Yang terdengar hanyalah suara tangis.

Tangis seorang ibu yang begitu mencintai anaknya.

1
Siti Yatmi
apa ada diantara mereka yg air mata buaya????
Siti Yatmi
itu Sekar pa .dia mau minta tolong sebenernya..cuma udh ga bisa ngomong...
Nurr Tika
lanjut
Siti Yatmi
sedihhhhhh.......huaaaa.......
Yulia Lia
akhirnya Sekar di temukan ,tapi sudah menjadi mayat😭😭😭
Mega Arum
typo Thor... kalimat Nda...sebaiknya tidak, msl tdk mungkin...
Nurr Tika
itu arwah sekar
Mega Arum
menarik
Rini Yunita
q curiga kl wulan adalah pelakunya
Nurr Tika
sedihnya smpe sini
Siti Yatmi
duh ..Thor .betapa hancur hati seorang ibu .tiap hari berharap anaknya pulang, tapi malah mayat yg ditemukan, ga sanggup deh, bayangin nya ..
M.S Inisial
Suka banget sama karya author satu ini
Yulia Lia
ceritanya bagus
Riska Salahudin
seru kak
Yulia Lia
lanjut KK ,,nah yg kmaren ngatain sekar lari SM laki2 lain taunya dia ada di dlm sumur
Yulia Lia
lanjut ya kk
Yulia Lia
mudah2 itu Sekar biar gosip yg berenar gk bener
Nurr Tika
warga heboh knp sekar mati
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
harusnya tdi di angkat sekalian yah, gara" takut akhirnya lupa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!