Hidup seorang wanita hancur dalam satu malam setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan orang terdekatnya. Dalam kondisi patah hati dan mabuk berat, dia tidak sengaja menghabiskan malam yang penuh gairah dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel mewah. Pria itu ternyata adalah seorang CEO muda terkaya yang terkenal sangat dingin, kejam, dan berkuasa di dunia bisnis.
Keesokan paginya, wanita itu kabur karena panik dan memilih menghilang tanpa jejak. Enam tahun kemudian, dia terpaksa kembali ke ibu kota demi menghidupi anak kembar hasil dari malam itu. Tanpa diduga, anak kembarnya malah tidak sengaja bertemu dengan sang CEO karena wajah mereka yang sangat mirip.
Sang CEO yang selama ini terobsesi mencari wanita misterius dari masa lalunya langsung bergerak cepat. Begitu tahu kebenarannya, dia langsung menjerat wanita itu masuk ke dalam hidupnya kembali melalui pernikahan paksa demi hak asuh anak. Dari sinilah hubungan mereka yang penuh gengsi, rahasia, dan ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Pengkhianatan
Xavier perlahan melonggarkan cengkeramannya di pinggang Eli, memberikan ruang bagi wanita itu untuk bernapas, meski sepasang mata elangnya tetap mengunci pergerakan Eli dengan intensitas yang tidak berkurang sedikit pun. Rasa intimidasi yang pekat itu seolah melekat di kulit Eli, membuatnya merinding bahkan setelah jarak di antara mereka kembali melebar.
"Pikirkan baik-baik semua perkataanku, Eli," ujar Xavier dengan nada baritonnya yang rendah namun sarat akan ancaman yang mutlak. "Penjahit akan datang dua jam lagi. Pastikan kamu sudah siap dan tidak membuat masalah."
Tanpa menunggu jawaban dari Eli, Xavier berbalik dan melangkah pergi dengan keangkuhan seorang penguasa yang baru saja memenangkan sebuah perundingan bisnis. Langkah kakinya yang tegas berdentum pelan di atas lantai marmer, sebelum akhirnya sosok tinggi tegap itu menghilang di balik pintu ganda ruang tengah, meninggalkan Eli sendirian dalam keheningan yang menyesakkan.
Eli perlahan merosot ke atas sofa kulit beludru yang mewah. Dia menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya, membiarkan air mata yang sejak tadi ditahannya runtuh perlahan. Dadanya terasa begitu sesak, dihantam oleh kenyataan pahit yang berputar terlalu cepat. Baru kemarin dia memikirkan bagaimana cara membayar biaya sekolah taman kanak-kanak untuk Kenji dan Kiana di kontrakan sempit, dan hari ini, dia telah resmi menyandang status sebagai Nyonya Arisatya—istri dari pria paling berkuasa sekaligus paling ditakuti di ibu kota.
Namun, di antara semua ketakutan terhadap Xavier, ada satu hal lagi yang membuat darah Eli mendadak berdesir dingin. Ucapan Xavier tentang Adrian dan Valencia terus terngiang-ngiang di kepalanya seperti kaset rusak.
Adrian dan Valencia sedang mencarimu ke mana-mana...
Ingatan Eli seketika terlempar kembali ke malam kelam enam tahun lalu. Malam yang menjadi titik awal kehancuran sekaligus perubahan total dalam hidupnya.
Saat itu, Eli adalah seorang gadis polos yang sangat mempercayai cinta. Dia telah bertunangan dengan Adrian, pria yang dia kira akan menjadi pelindung hidupnya. Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun perusahaan keluarga mereka, Eli mendapati sebuah kenyataan yang menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping. Dengan mata kepalanya sendiri, di dalam salah satu kamar hotel tempat acara berlangsung, Eli melihat Adrian sedang bergelung mesra di atas ranjang bersama Valencia, saudara tirinya yang selama ini selalu bersikap manis di depan ayahnya namun menaruh racun di belakangnya.
Tidak berhenti di situ, pengkhianatan mereka ternyata jauh lebih keji. Valencia dan Adrian sengaja menjebak Eli dengan memasukkan obat perangsang ke dalam minumannya, berniat untuk membuat skandal palsu agar Eli dicap sebagai wanita murahan, sehingga hak waris dari mendiang ibu kandung Eli bisa jatuh sepenuhnya ke tangan mereka.
Dalam keadaan setengah sadar, dengan tubuh yang membara akibat efek obat jahat itu, Eli berusaha melarikan diri. Dia terhuyung-huyung menyusuri lorong hotel, salah membaca nomor kamar akibat pandangannya yang mengabur, dan berakhir menyusup ke dalam Kamar 909—kamar yang ternyata disewa oleh Xavier Arisatya. Malam panas yang tidak disengaja itu terjadi, menyisakan penyesalan, pelarian, dan sepasang anak kembar yang kini menjadi taruhan hidupnya.
"Ibu...?"
Sebuah suara lembut yang sangat familier memecah lamunan kelam Eli. Dia tersentak, dengan cepat menghapus air mata di pipinya menggunakan punggung tangan, lalu mendongak. Di ambang pintu ruang tengah, Kenji sedang berdiri diam. Bocah kecil itu memegang sebuah buku cerita bergambar, menatap ibunya dengan sepasang mata elang yang sangat cerdas—mata yang begitu mirip dengan milik Xavier.
Eli memaksakan sebuah senyuman hangat, lalu merentangkan kedua tangannya. "Kenji... kemari, Nak."
Kenji melangkah mendekat dengan ritme yang tenang, sangat berbeda dengan anak-anak seusianya yang biasanya berlarian. Dia naik ke atas sofa dan langsung menyandarkan tubuh mungilnya ke pelukan Eli. Tangan kecilnya bergerak menyentuh sudut mata Eli yang masih basah.
"Ibu menangis lagi karena Paman galak itu?" tanya Kenji, suaranya terdengar datar namun sarat akan nada protektif yang begitu kentara.
Eli menghela napas pelan, mengusap rambut hitam legam putranya dengan penuh kasih sayang. "Tidak, Sayang. Ibu hanya... hanya sedang merindukan rumah lama kita. Kenji tidak perlu khawatir, ya? Ibu baik-baik saja di sini selama ada Kenji dan Kiana."
Kenji terdiam sejenak, matanya menatap lurus ke depan, seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat serius di dalam kepala kecilnya. "Aku tidak suka Paman itu, Ibu. Dia sangat sombong. Dia memaksa kita memanggilnya Papa. Tapi..." Kenji menggantung kalimatnya, membuat Eli menunduk menatapnya heran. "Tapi, orang-orang di rumah ini memakai baju yang sama seperti orang-orang yang mengejar kita di mal kemarin. Paman itu pasti orang yang sangat penting, kan?"
Eli tersenyum getir. Ketajaman analisis Kenji terkadang membuat Eli merasa ngeri sekaligus bangga. "Iya, Kenji. Dia adalah orang yang sangat berkuasa. Makanya, untuk sementara waktu, kita harus menuruti apa katanya, oke? Jangan menantangnya seperti di meja makan tadi. Ibu takut... Ibu takut dia akan memisahkan kita jika dia marah."
Kenji mendongak, menatap lekat mata ibunya. "Dia tidak akan bisa memisahkan kita, Ibu. Kalau dia mencoba melakukannya, aku akan membawa Kiana lari dan menjemput Ibu."
Mendengar janji polos namun berani dari putra sulungnya, air mata Eli kembali menggenang. Dia mendekap Kenji lebih erat, menyembunyikan wajahnya di bahu kecil sang putra. Di tengah sangkar emas yang menakutkan ini, anak-anaknya adalah satu-satunya alasan mengapa dia masih sanggup berdiri tegap menghadapi badai.
Dua jam berlalu dengan cepat. Seperti yang dikatakan Xavier, seorang asisten rumah tangga mengetuk pintu ruangan untuk memberi tahu bahwa tim penjahit eksklusif dari butik ternama ibu kota telah tiba di mansion. Eli terpaksa menyudahi momen tenangnya bersama Kenji dan melangkah menuju ruang pas di lantai dua.
Di sana, beberapa wanita paruh baya dengan meteran kain melingkar di leher mereka sudah menunggu dengan sikap yang sangat takzim. Mereka memperlakukan Eli bak seorang ratu, menunduk dalam dan tidak berani menatap matanya secara langsung. Selama satu jam penuh, tubuh Eli diukur dengan sangat detail. Kain-kain sutra premium, renda prancis, dan beludru impor digelar di hadapannya untuk dipilih sebagai bahan gaun yang akan dia kenakan dalam konferensi pers minggu depan.
Saat proses pengukuran hampir selesai, Daniel masuk ke dalam ruangan dengan membawa sebuah kotak beludru hitam berukuran sedang. Dia membungkuk hormat di hadapan Eli.
"Nyonya Arisatya, Tuan Xavier mengirimkan ini untuk Anda. Beliau meminta Anda untuk mengenakannya mulai hari ini," ucap Daniel dengan nada profesional yang sopan.
Eli menerima kotak tersebut dan membukanya. Di dalam sana, di atas bantalan sutra putih, terletak sebuah cincin berlian raksasa dengan potongan emerald yang sangat memukau, dikelilingi oleh deretan berlian kecil yang berkilau mewah di bawah cahaya lampu. Cincin pernikahan. Sebuah simbol pengikat yang mempertegas bahwa dia kini telah menjadi hak milik mutlak dari seorang Xavier Arisatya.
Eli menatap cincin itu dengan perasaan campur aduk yang menyesakkan dada. Kilauan berlian itu tidak tampak indah di matanya; melainkan terlihat seperti mata rantai borgol tak kasatmata yang siap mengunci kebebasannya seumur hidup.
Sementara itu, di tempat lain, di sebuah kantor agensi properti yang mulai bangkrut di sudut kota, seorang pria dengan penampilan berantakan sedang membanting gelas kopinya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Pria itu adalah Adrian, mantan tunangan Eli. Di sampingnya, Valencia sedang duduk sambil menggigit kuku jarinya dengan cemas, wajah cantiknya tampak kusam karena stres yang mendalam.
"Sialan! Ke mana jalang itu pergi?!" umpat Adrian dengan napas memburu, matanya memerah karena amarah dan frustrasi. "Enam tahun dia menghilang tanpa jejak, dan sekarang saat perusahaan kita di ambang kehancuran karena audit pajak, orang-orangku melihatnya di sebuah mal di pusat kota! Kita harus menemukan Eli secepatnya! Hanya tanda tangannya di surat kuasa warisan ibunya yang bisa menyelamatkan kita dari penjara!"
Valencia mendongak, matanya berkilat penuh kebencian. "Aku yakin wanita sialan itu sengaja bersembunyi untuk melihat kita hancur, Adrian! Tapi tunggu... orang-orangmu bilang dia bersama dua anak kecil kemarin? Anak siapa itu? Apakah dia menjual dirinya setelah kabur dari kita dulu?"
Adrian mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. "Aku tidak peduli dia punya anak dengan siapa pun! Yang aku peduli adalah dia harus menandatangani surat itu! Cari terus, Valencia! Kerahkan semua orang yang kita punya! Eli tidak boleh lolos lagi kali ini!"
Mereka berdua tidak pernah tahu bahwa wanita yang sedang mereka buru dengan keji kini telah berada di dalam perlindungan mutlak dari seorang predator tertinggi di dunia bisnis—Xavier Arisatya. Dan saat jalan mereka kembali bersilangan nanti, Xavier tidak akan segan-segan menggilas mereka hingga hancur tanpa sisa demi melindungi sangkar emas dan properti berharganya: Eli serta anak-anak kembarnya.