Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.
Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14 Luka
Suasana dapur yang berantakan itu mendadak sunyi setelah Hana meletakkan silet kecil miliknya di atas meja.
Roti gandum yang gosong jatuh berantakan di lantai. Pantry yang mewah ini berubah total.
Napas Reigan masih menderu, sementara matanya masih menatap silet itu.
Hana mencoba melangkah mundur, namun ia meringis kecil—sebuah ekspresi yang sangat jarang ia tunjukkan. Ia merasa sakit di punggungnya. Bola matanya melirik ke roti gandum yang berserakan dilantai.
"Roti itu benar-benar tidak akan pernah bisa aku makan," sesal Hana. Dia merapikan rambutnya dan pakaiannya. Lalu berjalan pelan menuju meja. Masih ingin membereskan kekacauan akibat tadi.
Reigan mulai melepas kewaspadaannya karena sadar wanita ini sudah lumpuh. Darah dari bibir Reigan yang tersayat silet tadi masih terasa asin di lidahnya. Ia menyekanya dengan ibu jari. Matanya tidak lepas dari punggung Hana yang kini membungkuk sedikit untuk memungut loyang roti yang terjatuh.
"Berhenti," perintah Reigan singkat. Suaranya berat, bergema di antara dinding marmer dapur yang kini terasa mencekam.
Hana menghentikan gerakannya. Ia tidak menoleh, namun bahunya tampak kaku.
"Ini rumahmu, Reigan. Aku hanya ingin membersihkan kekacauan yang kau buat." Meski bicara terdengar santai, Hana mendesis samar. Lalu mulai merapikan dapur sebisanya. Namun perih di punggungnya makin menjadi.
"Kau tidak ingin melanjutkan pertarungan tadi, kan?" tanya Hana memastikan.
Reigan tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, mengawasi setiap gerak-gerik Hana dengan mata yang tajam, seperti predator yang sedang menilai apakah mangsanya benar-benar sudah tidak berdaya atau hanya sedang memasang perangkap baru.
"Ijinkan aku ke kamar kalau kamu tidak ingin melanjutkan pertarungan," lanjut Hana.
Namun Reigan masih bungkam. Dia memperhatikan setiap gerak-gerik Hana dengan seksama. Meski wanita itu berusaha mempertahankan nada bicaranya yang santai, dia mulai menyadari. Ada yang salah.
"Diam artinya iya. Terima kasih sudah menghentikan pertarungan. Aku akan ke kamar." Hana memilih mengambil kesimpulan sendiri. Dia melangkah menjauh dari pantry. Mencoba berjalan menuju kamarnya, mengabaikan rasa perih yang kini mulai berdenyut hebat di punggungnya.
Kakinya berhenti mendadak.
"Aku janji akan segera membersihkan dapur setelah ini. Berikan aku beberapa menit." Setelah mengatakan itu, ia masuk ke kamarnya.
Bola mata Reigan menemukan darah yang ia yakini itu bukan miliknya. Darah yang mengalir miliknya hanya dari bibir. Sementara itu ada di meja marmer. Berarti itu milik Hana.
Kaki Reigan melangkah lebar menuju kamar Hana.
BRAKK!
Tanpa permisi, dia masuk ke kamar wanita itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Hana datar. Dia tidak berteriak.
Reigan tidak menjawab. Matanya yang tajam langsung mengunci sosok di depannya, mengabaikan segala bentuk etika yang seharusnya ada di antara pria dan wanita. Apa yang dilihatnya membuat Reigan terdiam.
Hana sedang membelakangi pintu, berdiri di depan cermin besar yang memantulkan bayangan remang kamar itu. Ia telah menanggalkan blusnya, hanya menyisakan penutup dada hitam yang membalut tubuh rampingnya.
Tangan kanannya memegang botol alkohol, sementara tangan kirinya berusaha menjangkau sudut sulit di bawah belikatnya menggunakan kapas.
Reigan terpaku. Kemarahan yang tadi sempat mereda kini berubah menjadi hantaman hebat di dadanya.
"Kau terluka." Suaranya rendah, tidak lagi meledak-ledak, tapi penuh intimidasi yang berbeda.
"Bukan urusanmu," sahut Hana pendek. "Keluar, Reigan," lanjut Hana tanpa menoleh. Suaranya setipis es, namun tangannya yang memegang kapas sedikit gemetar.
Reigan tidak bergeming. Alih-alih keluar, ia justru melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang final. Matanya tidak bisa beralih dari pemandangan mengerikan yang menghiasi punggung putih itu.
Hana diam dengan tatapan tajam tanpa mundur selangkahpun.
Ia berhenti tepat di belakang Hana, begitu dekat hingga Hana bisa merasakan radiasi panas dari tubuh pria itu menyentuh kulit punggungnya yang terekspos.
"Apa yang ingin kau lakukan?" desis Hana.
Tanpa permisi, tangan Reigan yang besar dan kasar terulur, merebut botol alkohol dan kapas dari jemari Hana.
"Jangan ikut campur."
"Diam," perintah Reigan rendah, sebuah perintah militer yang mutlak.
Hana mencoba menarik bahunya, namun Reigan menggunakan tangan lainnya untuk mencengkeram pinggang wanita itu, menguncinya di tempat. Tatapan mereka bertemu di pantulan cermin.
Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, Reigan bisa melihat lebih jelas 'peta trauma' di punggung Hana. Bekas jahitan yang kasar dan sayatan lama kini dihiasi aliran darah segar yang merembes keluar dari luka yang terbuka kembali.
Dada Reigan berdesir hebat. Rasa panas yang asing menjalar di jantungnya. Amarah dan iba campur aduk.
Hana hanya menatap lurus ke depan, wajahnya kembali menjadi topeng es yang kaku.
"Ini bukan luka biasa," ujar Reigan.
"Hantamanmu ke dinding tadi hanya mempercepat apa yang memang sudah seharusnya terbuka. Jadi diamlah. Obati saja jika tidak ingin sprei sutra ini berdarah," tukas Hana.
Reigan mulai membersihkan luka itu dengan alkohol. Ia sengaja menekan kapasnya sedikit lebih keras.
Hana mencengkeram celananya. Tidak ada suara. Hanya napasnya yang sedikit memberat. Mata Reigan kembali menyisir peta trauma di punggung itu.
Hana tahu lukanya sedang diperhatikan. "Luka itu tidak akan hilang meskipun kau mengamatinya selama mungkin, Reigan. Jadi berhenti melihat luka ku."
Reigan mendengus. Dia tahu itu sindiran untuknya.
"Kau menyimpan silet di mulut, dan punggungmu penuh dengan bekas luka... kau ini sebenarnya apa, Hana?" bisik Reigan di dekat telinga Hana. "Kau bukan sekadar wanita yang butuh suami, kan?"
Hana ikut mendengus mendengar lelucon Reigan. Hana mendengus samar, sebuah suara yang terdengar hampir seperti tawa kering—dingin dan tak bernyawa. Ia melirik Reigan melalui pantulan cermin, matanya tidak menunjukkan sedikitpun keraguan.
"Dan kau, Reigan ... kau bukan sekadar pria yang butuh pendamping untuk pameran kekuasaanmu, kan?" Hana balik bertanya. "Kita berdua hanya dua pembohong yang dipaksa tidur di bawah atap yang sama."
"Kenapa aku juga jadi pembohong?" tanya Reigan dengan senyum remeh.
"Bukannya kamu menyetujui pernikahan ini demi terlihat berbakti pada Kakekmu?" Dia tahu karena pria ini berkata pernikahan mereka bukan pernikahan sungguhan.
Reigan terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, menciptakan garis tajam yang terpantul di cermin. Ia tidak suka rahasianya dibongkar semudah itu oleh wanita yang baru ia temui semalam.
"Dan aku tidak menyesal dengan baktiku pada kakek," ujar Reigan dengan menyeringai.
Tangannya justru menekan kapas alkohol itu lebih dalam, menatap Hana yang bahkan tidak berkedip menahan perihnya. Wanita itu justru menatap tajam pada dirinya dari pantulan cermin.
Pada detik itu, Reigan tahu; ia tidak hanya ingin memiliki wanita ini, ia ingin membongkar setiap lapisan rahasia yang Hana sembunyikan di balik kulit putihnya yang hancur itu.
semangattttt
lanjutttt😄💪
lanjuttt
smangattt💪😄